[ Gendre: Fantasy, Petualang, Sci Fi, Petualang, Romance, Slide Life, Mafia, Militery, Fanfic dan Isekai.]
[ #Arc 1: Crazy Deluxe Hotel Dungeon.
Bab 01 - Bab 33.
# Arc 2: Dungeon Master jadi petualang.
Bab 34 - Bab 53.
**
Dungeon adalah penjara bawah tanah yang sangat gelap dan menakutkan juga berbagai monster – monster kuat yang didalamnya.
Tapi, tidak dengan Bagas Wijaya, dia pada awalnya hanyalah seorang pekerja kantoran biasa namun, dia mengalami kecelakan dan jiwa dipanggil oleh seorang Dewi Keharmonisan, Arathena.
Pada saat Bagas bertemu dengan Arathena dirinya di tawarkan untuk bekerja di dunia lain dan Bagas memilih untuk perkerjaan yang santai dan tenang yaitu Dungeon Master.
Tidak hanya itu, Bagas pun mendapatkan bonus poin yang berlimpah hingga dia menciptakan Dungeonnya menjadi sebuah tempat yang nyaman dan mewah dengan berbagai fasilitas didalamnya.
Akan tetapi, permasalahan dan peperangan terus terjadi di dunia tempat yang dihuninya tersebut.
Bagaimanakah cara Bagas untuk mempertahankan hidup mewah dan santainya?
Selamat membaca, guys!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Teman Leanne.
Bab 19.
Sudah beberapa hari Leanne tinggal di dungeon. Dia yang tetap setia menunggu rekan-rekannya untuk sadar selalu mengunjungi rekannya itu di ruang laboratorium dan Bagas memperhatikannya dari pintu masuk ruangan tabung.
Ailin yang melihat Bagas di pintu masuk maka dia pun menghampirinya.
“Master, selamat pagi!” sapa Ailin.
“Pagi juga Ailin,” jawab Bagas.
“Master, ada yang ingin aku sampaikan,” ucap Ailin.
“Baiklah, Ayo!” ucap Bagas saat melihat wajah serius dari Ailin.
Bagas dan Ailin pun pergi ketempat ruang kerja Ailin.
“Apa yang ingin kamu sampaikan, Ailin?” tanya Bagas.
“Ini master,” ucap Ailin yang memberikan silider kecil dengan cairan hitam menyala seperti bintang.
“Apa ini?” tanya Bagas yang memeriksa cairan hitam.
“Ini adalah racun keabadian, jika seseorang terinfeksi ini maka sihir penyembuh pun tidak akan berpengaruh kepada penderita,” jawab Ailin.
“Jadi begitu, pantas saja sihir penyembuh Leanne tidak bekerja kepada rekannya,” ucap Bagas.
“Satu hal lagi, Master. Racun ini hanya bisa di buat dengan fasilitas dungeon dan aku sangat yakin pelaku sebenarnya dari invansi goblin berasal dari Master Dungeon,” ucap Ailin.
“Seperti yang aku duga. Baiklah, Ailin teliti racun ini dan rahasiakan dari yang lain masalah informasi ini,” ucap Bagas.
“Baik, saya mengerti,” jawab Ailin.
Di ruangan tabung, Ailin terkejut saat melihat salah satu rekannya membuka mata.
“Siskaaa!” seru senang Leanne.
Siska yang mendengar suara Leanne, dia pun melihat arahnya.
“Ohh, Leanne. Syukurlah kamu baik-baik saja,” ucap pelan dan terbata-bata siska.
Tidak hanya Siska, Andre dan Hyna pun mulai membuka matanya.
“Andre! Hyna!” seru senang Leanne melihat rekan lainnya juga membuka mata.
Tidak lama, Ailin dan Bagas pun datang dan tersenyum saat melihat senangnya Leanne.
“Master! Dokter Ailin! mereka sudah sadar,” seru senang Leanne.
“Syukurlah,” jawab Bagas.
“Hmm … aku turut senang,” jawab Ailin.
Rekan-rekan Leanne pun dikeluarkan dari tabung oleh Ailin dan sama seperti Leanne. Bagas memberikan satu kamar VIP lagi untuk rekannya tersebut.
Awalnya mereka terkejut saat mendengar cerita dari Leanne namun, saat merasakan fasilitas dari Bagas. Mereka dengan cepat berangsur pulih dari traumanya.
Hingga pada suatu hari, mereka pun memutuskan untuk kembali. Andre, Hyna, Siska dan Leanne pergi ke lantai 40 tempat biasa Bagas bersantai.
“Master, ada yang ingin kami sampaikan,” ucap Siska yang berlutut satu kaki dihadapan Bagas.
Pergerakan itu pun diikuti oleh rekan lainnya.
“Kalian duduklah dahulu,” ucap Bagas pun berdiri dan membangun Siska dan lainnya.
“Baik, master,” jawab serentak.
Siska dan lainnya pun duduk bersama-sama dengan Bagas dan Lucy memberikan mereka teh dan kue-kue. Siska dan lainnya saling melihat dan mengangukan kepalanya.
“Master, kami sudah lama di dungeon dan kami pun sudah pulih maka dari itu Master, kami ingin kembali,” ucap Bagas.
“Tapi, tenang Master. Kami tidak akan mengatakan apapun tentang dungeon ini dan Master,” sambung Andre.
“Benar, kami hanya rindu kepada keluarga kami,” jawab Hyna.
Leanne hanya menundukan kepalanya dan terlihat sedih dari wajahnya.
“Jadi, begitu. Aku mengerti tapi, aku juga menyembuhkan kalian tidaklah gratis,” ucap Bagas.
“Tentu Master, kami akan mengumpulkan uang untuk membayar semua,” ucap tegas Andre.
“Sebenarnya aku tidak membutuhkan itu tapi ada pekerjaan yang kalian harus lakukan,” ucap Bagas.
“Apa itu Master?” tanya Siska.
“Satu, kalian harus pergi ke Guild pedagang dan sampaikan semua yang kalian alami, kedua. Leanne tetap tinggal disini karena dia sudah menjadi karyawan disini,” ucap Bagas.
Saat mendengar permasalahan Leanne, Andre dan lainnya melihat dan menatap Leanne. Leanne pun membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.
“Dan ketiga, ambilah ini untuk bekal kalian,” ucap Bagas yang memberikan mereka kotak kecil.
Siska dan lainnya yang penasaran dengan isi dari kotak itu maka dia pun membukanya dan mereka pun terkejut saat melihat isinya.
“Ini bukankah permata yang sangat langka, adamanite,” kaget Andre.
“Benar, kalian bisa menjual atau menjadinya senjata itu terserah kalian,” ucap Bagas.
“Terima kasih, master,” ucap serempak Andre dan lainnya.
Keesokan harinya, Andre, Hyna, dan Siska berpamitan untuk pulang dan mereka diantar oleh Leanne di pintu masuk gua yang dikawal oleh K2 yang berada disamping.
“Bye-bye, Leanne!” seru Siska yang melambaikan tangan.
“Selamat tinggal semua!” jawab Leanne yang membalas dengan lambaian tangan.
Andre, Hyna dan Siska pun berjalan semakin jauh hingga Leanne tidak terlihat mereka lagi.
“Nona Leanne, waktunya anda kembali!” ucap K2.
“Iya, aku mengerti,” jawab Leanne.
Leanne berbalik badan dan kembali masuk kedalam gua.
Pemasukan dari Andre dan lainnya sebesar 600 DP [Saldo DP 16.059.613.502].
Keesokan harinya, Leanne yang melihat kemampuan latihan dari para Automata dan Homunculus membuat dirinya memutuskan tekad dan dia pun pergi menghadap Bagas yang saat itu sedang berolahraga di ruang fitness.
“Master, ada yang ingin aku sampaikan,” ujar Leanne yang menundukan kepalanya.
Bagas yang mendengar itu, dia pun menghentikan aktifitasnya dan mengusap keringatnya dengan handuk yang dibawa oleh Lucy dan setelah itu diberikan lagi kepada Lucy, handuk tersebut.
“Ada apa, Leanne? Terlihat sangat serius ekpresimu,” ucap Bagas.
“Master, izinkan aku berlatih untuk mengunakan senjata api! Agar aku bisa lebih kuat, aku mohon!” ucap Leanne yang membungkukan badannya.
“Kenapa harus senjata api?” tanya Bagas.
Leanne pun menegakan kembali badannya dan melihat Bagas dengan tatapan serius.
“Master, aku memiliki tubuh dan sihir yang lemah sehingga aku tidak bisa mengunakan senjata jarak dekat dengan kuat selain itu aku merasa tidak berguna meski aku seorang penyembuh,” ucap Leanne.
Bagas tersenyum dan memegang bahu serta menatap wajah Leanne.
“Leanne, dengarkan aku! Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang tidak berguna itu hanya berdasarkan pemikiran seseorangmu saja maka kamu harus tetapkan pikiran bahwa kamu bisa berguna untuk orang lain,” ucap Bagas.
“Terima kasih, Master,” ucap Leanne yang membasuh air mata di pipinya.
“Dan satu hal lagi, aku akan mengabulkan permintaanmu juga tidak akan melepas bakatmu sebagai penyembuh,” ucap Bagas sambil menunjuk ke arah Leanne.
“Benarkah, Master! Terima kasih banyak!” ucap Leanne yang kembali membungkan badan.
Bagas pun tersenyum senang saat melihat reaksi dari Leanne.
“Master, system house terus memantau anda,” suara Alice yang berada di pikiran Bagas.
“Alice, apakah kamu bisa dikendali oleh seseorang selain aku?” tanya batin Bagas.
“Itu bisa saja, jika ada seseorang yang menembus system keamanan milik ku,” jawab telepati Alice.
“Lalu, Bagaimana solusinya agar kamu lebih kuat agar tidak bisa dikendalikan?” tanya batin Bagas.
“Upgrade system!” jawab batin Alice.
“Baiklah, Diizinkan aku akan mengupgrade mu dengan system tertinggi dengan satu syarat yaitu kamu harus setia 100 persen?!” ucap batin Bagas.
“Itu sudah pasti karena dalam tingkat 5, program royalty permanen 100 persen,” jawab batin Alice.
Leanne memiringkan kepalanya karena bingung melihat Bagas yang sedang melamun.
“Master! Master!” tegur Leanne.
Bagas pun mendengar teguran itu dan tersadar.
“Ohh, maaf, Leanne. Aku melamun dan baiklah kamu akan dilatih oleh K2 (keyto),” ucap Bagas.
“Keyto, latih Leanne!” sambung ucap Bagas terhadap K2.
K2 yang sedang berjaga di pintu membungkukan badannya.
“Baik, Master!” jawab K2.
Seusai itu K2 menegakan kembali badanny dan melihat Leanne.
“Nona Leanne, mari ikut saya!” ucap K2.
“Terima kasih, Master,” jawab Leanne yang membungkan badannya.
“Sekarang pergilah latihan!” ucap Bagas.
“Baik,” jawab Leanne yang sudah kembali menegakan badannya.
Setelah itu Leanne pun membalikan badan dan pergi dari ruangan bersama K2.
jawab nya 👎
malah jadi ngawur thor ceritanya