"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"
Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.
Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.
Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?
Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.
Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.
Selamat membaca!
Terima kasih ya all.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman
Selamat membaca!
"Tu ... Tuan maafkan aku, karena telah salah paham dan bersikap ceroboh sampai dahimu terluka." Nisa menyentuh luka itu lalu mulai mengusapnya dengan perlahan.
Sentuhan lembut dari tangan Nisa, bagaikan sihir yang langsung merangsek ke dalam hati Ryan, karena entah bagaimana caranya, rasa sakit yang sempat menjalar di sekujur tubuhnya, kini hilang seketika.
"Tuan, tunggu sebentar ya. Aku akan mencari kotak obat untuk meredakan rasa sakit di bagian memarnya." Nisa yang hendak bangkit tiba-tiba saja tangannya kembali digenggam erat oleh Ryan yang seolah tak ingin ditinggal pergi. Tubuh Nisa yang hilang keseimbangan, langsung jatuh dalam posisi duduk di atas paha Ryan. Kini pandangan keduanya saling bertaut dalam, dengan wajah yang begitu dekat hingga membuat embusan napas keduanya saling beradu.
"Eh, ma-maaf Tuan. Kali ini aku benar-benar tidak sengaja lagi, karena kau menarik tanganku. Aku mohon, tolong jangan salah paham ya, Tuan." Nisa bangkit dan dengan cepat ia beringsut mundur beberapa langkah untuk memberi jarak di antara keduanya.
Ryan mengembangkan sebuah senyum di wajahnya melihat sikap Nisa yang salah tingkah, dengan raut wajah yang telah merona. "Ini bukan salahmu, Nisa. Aku hanya tidak ingin kamu pergi jauh dariku dan soal memar ini jangan kamu cemaskan, karena ini tidaklah parah, lagipula rasa sakitnya juga sudah hilang sejak kamu mengusapnya."
Tak bisa dipungkiri, perkataan Ryan bagaikan busur panah yang langsung menancap tepat ke lubuk hati Nisa. Wanita itu dalam sekejap melupakan semua kenangan buruk yang telah dialaminya saat di apartemen. Saat ini hatinya kian berbunga-bunga dengan raut wajah yang semakin bersemu merah.
"Apakah benar begitu, Tuan?" tanya Nisa bermaksud memastikan.
Ryan pun mengangguk. "Sungguh, aku tidak bohong. Kamu tidak perlu mencemaskan kondisiku, karena aku baik-baik saja."
Rasa gugup masih menyelimuti diri Nisa hingga kini. Terlebih ia semakin panik saat teringat, bahwa hari ini adalah pertemuan antara Ryan dan Bella akan terjadi, ia tak mau nantinya Bella akan salah paham saat mengetahui memar pada dahi Ryan. Itulah pikiran Nisa saat ini, yang masih belum mengetahui bahwa sesungguhnya Bella sudah meninggal satu tahun silam.
"Tuan, bagaimana kalau nanti saat bertemu dengan Nyonya Bella dan dia melihatmu terluka karena kesalahanku, pasti dia akan sangat membenciku, Tuan," ucap Nisa penuh rasa takut di wajahnya.
Ryan tersentak kaget mendengar ucapan Nisa, pria itu dengan cepat mengingat semua yang pernah dikatakannya sewaktu di apartemen Nisa, bahwa istrinya telah meninggal, lantas bagaimana bisa Nisa mengatakan bahwa Bella masih hidup.
"Pasti Viona sudah menceritakan pada Nisa bahwa Ibunya masih hidup, terlebih Viona sampai saat ini belum tahu, jika Bella sudah meninggal dan Nisa lebih mempercayai perkataan putriku," batin Ryan menilai setelah ia berpikir beberapa saat.
"Nisa kamu tenang saja! Bella tidak akan mungkin bisa membencimu. Percayalah padaku!" ucap Ryan coba membuat Nisa tenang.
"Sudahlah Tuan, sebaiknya lupakan semuanya. Aku sekarang harus segera keluar dan mencari Nona Viona."
Nisa kini sudah bangkit, lalu tanpa membuang waktu ia melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar, meninggalkan Ryan yang masih termangu dengan duduk di bawah lantai. Namun, pandangan matanya masih terus menatap kepergian Nisa yang semakin menjauh.
Tak lama kemudian, Ryan terkekeh lucu atas apa yang menimpanya saat ini. Pikirannya kini mulai terbuka, setelah ia berhasil menemukan jawaban atas sikap Nisa, yang terkesan menjaga jarak dengannya.
"Sekarang aku paham! Pantas saja Nisa sangat membenciku, dia pasti mengira aku adalah pria bajingan yang mengkhianati sebuah pernikahan." Ryan menggelengkan kepalanya, ada rasa tak percaya dengan semua kesalahpahaman yang saat ini sedang terjadi di antara dirinya juga Nisa.
Ryan mengusap wajahnya berkali-kali sembari mengesah kasar untuk sejenak melepas penat dalam dirinya. Namun, tiba-tiba terbesit dipikirannya, akan semua ucapan yang terlontar dari mulut Nisa sewaktu dirinya pura-pura tak sadarkan diri tadi.
"Bukannya tadi itu Nisa mengatakan padaku, bahwa dia akan berlaku baik padaku mulai saat ini, jika aku sadar. Berarti, aku masih memiliki kesempatan yang besar untuk dapat lebih dekat dengannya."
Sebuah senyuman terlukis jelas mengembang dari kedua sudut bibir pria tampan itu. Raut wajahnya kini tampak berseri, setelah ia mulai menemukan secercah harapan. Sebuah harapan untuk dapat menaklukan hati seorang Nisa.
Pria itu kini mulai bangkit dari posisi duduknya, ia kemudian berdiri menghadap ke arah cermin besar yang terletak di kamar Nisa.
"Sebentar lagi Nisa dan Viona akan mengetahui kebenaran tentang Bella. Semoga, setelah ini Nisa tidak salah paham lagi padaku dan Viona bisa kuat saat mengetahui semuanya. Aku juga akan meminta Nisa, untuk terus menemani Viona, agar putri kecilku itu bisa tetap ceria seperti sekarang ini."
Bersambung✍️