Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Penuh Ketegangan
Pagi pertama di mansion mewah keluarga Arisatya disambut dengan cuaca yang cerah, namun bagi Eli, atmosfer di dalam rumah megah ini terasa begitu mencekam. Setelah semalaman nyaris tidak bisa memejamkan mata karena cemas, Eli terpaksa menyeret tubuh lelahnya bangun demi menyiapkan Kenji dan Kiana. Anak-anaknya kini sudah mengenakan pakaian kasual bermerek yang tampak sangat pas di tubuh mungil mereka—semuanya disediakan oleh para pelayan atas perintah Xavier.
"Ibu, apa kita benar-benar harus makan bersama Paman galak itu?" tanya Kiana sambil memeluk boneka kelinci barunya dengan erat saat mereka berjalan menyusuri lorong lantai dua.
Eli menarik napas dalam-dalam, mencoba mengukir senyum menenangkan di wajah pucatnya. "Nama Paman itu Xavier, Sayang. Mulai sekarang... kita harus belajar terbiasa tinggal di sini. Ingat pesan Ibu semalam, kan? Jangan nakal dan tetap di dekat Ibu."
Kenji yang berjalan di sisi lain Eli hanya diam. Bocah lima tahun itu menggandeng tangan ibunya dengan sangat erat, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan waspada yang tidak mencerminkan anak seusianya.
Ketika mereka tiba di ruang makan utama di lantai dasar, pemandangan mewah langsung menyambut mereka. Sebuah meja makan panjang dari kayu mahogani berkilau dipenuhi oleh belasan jenis hidangan sarapan, mulai dari menu barat hingga menu lokal yang dimasak oleh koki profesional. Dan di ujung meja itu, duduklah sang penguasa mansion, Xavier Arisatya.
Xavier sudah rapi dengan kemeja biru navy yang pas di tubuh tegapnya, sedang membaca tablet bisnis di tangannya sambil sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula. Begitu mendengar langkah kaki mendekat, sepasang mata elangnya langsung terangkat, mengunci tatapan pada Eli dan kedua anak kembar itu.
"Duduk," perintah Xavier pendek, suaranya yang berat memecah keheningan ruangan. Dia memberi isyarat pada kursi-kursi kosong yang terletak di sisi kanannya.
Eli menuntun anak-anaknya untuk duduk. Dia sengaja mendudukkan dirinya di antara Kenji dan Kiana, menjadi tameng pembatas agar Xavier tidak bisa menatap anak-anaknya terlalu dekat. Ketegangan langsung terasa begitu pekat saat para pelayan mulai menuangkan susu ke gelas Kenji dan Kiana.
Xavier meletakkan tabletnya ke atas meja, lalu mengalihkan fokus sepenuhnya pada anak-anak. Matanya menyipit memperhatikan bagaimana Kenji mengambil sendok dengan gerakan yang sangat tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan intimidasinya.
"Bagaimana tidur kalian semalam? Apakah kasurnya cukup nyaman?" tanya Xavier. Nada suaranya terdengar agak kaku, seolah dia tidak terbiasa berbicara dengan anak kecil, namun ada usaha keras di sana untuk menekan aura dinginnya.
Kiana melirik ibunya takut-takut sebelum akhirnya menjawab dengan suara mencicit, "Ny-nyaman, Paman..."
"Panggil aku Papa," potong Xavier dengan tegas, namun matanya memancarkan kilatan posesif yang mutlak. "Aku adalah Papa kalian. Mulai hari ini dan seterusnya, itu adalah panggilan resmiku di rumah ini."
Prak.
Eli tidak sengaja menjatuhkan garpunya ke atas piring porselen hingga menimbulkan suara dentingan yang nyaring. Wajahnya menegang menatap Xavier. "Xavier, jangan memaksa anak-anak! Mereka butuh waktu—"
"Aku tidak sedang berdiskusi denganmu, Eli," tukas Xavier dingin, tatapannya beralih menatap lekat mata istrinya. "Mereka adalah anak-anakku, memanggilku Papa adalah hal yang paling mendasar. Dan untukmu, biasakan memanggilku dengan benar di depan anak-anak."
Sebelum Eli sempat membalas, suara kekanak-kanakan yang sarat akan ketegasan mendadak terdengar dari sampingnya.
"Kami tidak punya Papa," ucap Kenji datar. Bocah kecil itu meletakkan sendoknya, lalu mendongak menatap langsung ke dalam mata elang Xavier tanpa rasa takut sedikit pun. "Selama lima tahun ini, hanya ada Ibu yang merawat kami. Ibu bilang, Papa kami sudah pergi jauh. Jadi, Paman bukan Papa kami."
Suasana di ruang makan itu seketika membeku. Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan langsung menundukkan kepala dalam-dalam, menahan napas karena ketakutan. Belum pernah ada satu orang pun yang berani menantang atau mendikte seorang Xavier Arisatya seperti itu, apalagi bocah yang baru berusia lima tahun.
Eli panik, dia segera memegang bahu kecil putranya. "Kenji, jangan..."
Xavier tertegun sejenak. Alih-alih marah karena ditentang, sudut bibir pria itu perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang misterius. Keberanian dan keangkuhan alami yang ditunjukkan Kenji justru membuat Xavier semakin bangga. Bocah ini benar-benar mewarisi darahnya secara utuh.
Xavier memajukan tubuhnya, menumpu kedua tangannya di atas meja sambil menatap putra sulungnya itu dengan binar posesif yang pekat. "Penjelasan ibumu di masa lalu itu salah, Kenji. Aku tidak pergi jauh. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjemput kalian. Dan sekarang, kalian sudah berada di rumahku. Suka atau tidak suka, darah yang mengalir di tubuhmu adalah darahku. Aku adalah Papamu, dan tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu."
Kenji tidak membalas, namun dia memicingkan matanya, menunjukkan penolakan batin yang sangat kuat terhadap pria dewasa di hadapannya.
Xavier kembali menegakkan tubuhnya dan melirik jam tangan Rolex-nya yang mewah. Dia kemudian menatap Eli yang masih menatapnya dengan penuh kilatan amarah. "Hari ini, Daniel akan membawa penjahit terbaik ke mansion untuk mengukur gaun konferensi persmu. Dan setelah sarapan ini selesai, ikut aku ke ruang tengah. Ada beberapa aturan main di rumah ini yang harus kamu pahami sebagai Nyonya Arisatya."