NovelToon NovelToon
Penyesalan Yang Terlambat

Penyesalan Yang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:577
Nilai: 5
Nama Author: Amak Mpis

"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."

"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."

Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjahili Doni.

CAFE ANELON.

Sedih tak selamanya akan bertahan, kadang bisa berganti dengan pening yang dibikin sama seseorang yang tak bisa kita lawan, hanya bisa tersenyum sambil mengangguk, tak lupa mulut berkata iya meskipun hati sudah siap dengan kalimat untuk memaki. 

“Pak, ini bill nya,” Ucap seorang pelayan sembari menyerahkan kertas bill. 

“Kalian mau memeras saya? Saya tidak memesan makanan sebanyak ini.” Protes Doni setelah melihat bill yang diberikan pelayan itu. 

“Bapak memang tidak memesan semua itu tapi anak bapak yang memesannya,” Jawab pelayan itu sambil menunjuk meja seorang perempuan yang dia sebut anaknya Doni. 

Doni menoleh dan dia kaget dengan siapa yang pelayan itu sebut anak. “Halo pa, bolehkan nurutin ngidamnya cucu papa?” Tanya Black sambil tersenyum, disini Black tidak hanya berlima tapi semua karyawan butik juga dia bawa sampai menghabiskan lima puluh juta sendiri. 

“I-iya boleh.” Dengan berat hati Doni mengeluarkan kartu dan membayar semua tagihan Black. 

“Itu anak bapak?” Tanya client yang sebelumnya sudah menolak ajakan kerja sama dari Doni. 

“I-iya itu anak saya.” Doni tersenyum kikuk, pasalnya dia bingung dengan apa yang sekarang sedang Black rencanakan. 

“Oh yasudah kalau gitu saya akan menyetujui kerja sama kita tapi tolong jangan kasih tahu anak bapak kalau saya sebelumnya sempat menolak ajakan kerja sama dari bapak ya.” Orang itu membuka kembali dokumen dan menandatangani perjanjian kerja sama, sementara Doni masih bengong dan bingung. 

“Bapak serius?”

“Iya saya serius, kalau gitu saya permisi dulu, nanti kita bisa berkabar lagi tapi jangan ajak anak bapak lagi ya,” ucap orang itu lalu pergi setelah melirik Black yang kini masih tersenyum sambil menatapnya. 

“Lo kenal dia, Black?” tanya Sandra yang seakan tahu apa arti dari senyuman Black. 

“Iya gue tau, lo ingat kasus minggu lalu di butik kita?”

“Iya gue ingat, kasus yang seorang ibu-ibu merusak salah satu gaun khusus di butik kita. Jangan bilang itu suaminya?”

“Yup bener, cuma untuk urusan mereka berdua gue sebenarnya gak tahu cuma kebetulan aja jadi kaya gue yang nolongin Doni.”

“Gak jadi ngerjain dong?”

“Tenang, otak gue masih punya ide untuk bikin dia lebih kesal lagi.” Black tersenyum, senyum yang Sandra yakini jika senyum itu menyimpan sebuah ide yang sangat jail. 

Black pergi keluar diikuti dengan semua karyawannya dan tak ketinggalan Doni juga ikut keluar mengejar Black. 

“Black, tunggu.” Black berhenti dan itu sudah ada dalam rencananya untuk menjalankan ide selanjutnya. 

“Iya ada apa om?”

“Terima kasih, berkat kamu saya jadi bisa bekerja sama dengan pak Lim.”

“Ini gak gratis, bayaran barusan gak cukup loh om.”

“Kamu mau apa biar saya belikan?”

“Apapun yang saya mau?”

“Iya apapun.”

“Ok, ayo ikut kita, pokoknya apapun yang saya mau harus dibelikan ya, om.”

“Iya apapun yang kamu mau.” Black kembali tersenyum dan setelah itu dia menyuruh beberapa karyawannya kembali ke butik sedangkan empat serangkai tetap ikut sama Black dan Doni. 

Satu jam perjalanan akhirnya Black sampai di sebuah mall dan disini Doni sudah sedikit mengerti arah pikiran Black. 

‘Sepertinya gue akan menanam modal yang jauh lebih besar dari keuntungan gue nanti,’ batin Doni sembari mengikuti Black. 

“Black, lo duduk disini saja biar kita yang keliling, nih gue udah beliin lo makanan, disini saja diem nanti lo capek,” Ucap Gio sambil mendudukkan Black dikursi yang ada di dekat sana sambil memberikan kantong plastik berisi makanan yang Gio yakin mungkin akan cukup sampai mereka selesai keliling. 

“Bapak temani Black saja, nanti tinggal bayar, biar karyawannya yang datang kesini, jangan bikin Black kesal, kita masih mau hidup,” pinta Safi sedikit mengancam, Doni disini belum tahu kalau Black adalah cucu kakek Ares pemilik AD CORP. 

Doni sedikit diam, se berbahaya apa Black sampai karyawannya saja sangat takut padanya. 

“Om, sini duduk kita makan sama-sama biar mereka yang keliling, capek.” Entah kenapa perintah Black serasa seperti perintah yang harus Doni turuti.

“Om, kenapa kok mau menuruti perintah saya, padahal om bisa saja loh asal Terima kasih lalu pergi seperti apa yang om lakukan dulu sama Rain?” Tanya Black tanpa sadar jika pertanyaan itu membuat Doni sedikit kaget, Black memang sudah mencari tahu tentang perilaku Bintang dan keluarganya, hanya dia tak memaksa otaknya untuk mengingatnya. 

“Saya sudah pernah bilang jika saya akan berubah, kamu sudah membantu saya, sudah sepatutnya saya membalas kebaikan kamu.”

“Membayar tagihan saya di cafe sudah cukup kok, itu sudah jauh lebih mahal dari hanya sekotak coklat yang om beli di supermarket.” Sekali lagi sindiran terlontar dari mulut Black. 

“Membayar tagihan kamu itu cara kamu menolong saya tapi kalau sekarang adalah hadiah.”

“Bukankah dulu sekotak coklat itu juga cara untuk membantu bukan hadiah?” Keringat menetes dari pelipis muka Doni. Lidahnya terasa kelu, apapun jawabannya sekarang nantinya Black akan bisa untuk menjawabnya lagi yang akhirnya jauh lebih membuat mentalnya tertekan. 

“Kok gak jawab om? Apa yang saya ucapkan benar ya?”

Doni sudah tidak bisa berkata apapun lagi, suaranya saja sudah sangat sulit keluar, keringat sudah keluar sangat deras padahal dia hanya duduk saja. 

“Gak usah tegang gitu kali om, itu bayar dulu sudah ada empat orang yang menunggu.”

Saking tegangnya dia tak sadar jika dia sudah ditunggu oleh empat orang didepannya. Doni dengan pasrah membayar semua belanjaan Black tanpa berbicara apapun. 

“Terima kasih om, oh iya kalau boleh minta satu hal lagi, boleh gak beliin saya bubur ayam, tapi ayamnya pakai ayam kampung, kayaknya di mall ini ada yang jual di lantai atas, tapi om jangan naik lift ataupun eskalator, naik tangga, kayaknya saya lagi ngidam itu deh om.”

“Yang jual bubur ada di lantai paling atas, bisa encok kalau saya harus naik tangga sampai lantai atas.”

“Om gak mau?”

Doni menarik nafas panjang sebelum menjawab, “Iya, saya mau, saya akan belikan kamu bubur, tapi apa kamu gak apa-apa saya tinggal sendiri?”

“Gak apa-apa, sebentar lagi paling mereka datang kok.”

“Ya Sudah kalau gitu saya pergi dulu,” Doni pergi dan meninggalkan Black sendiri. 

“Sayang, lihat opa sekarang sedang membelikan kalian bubur, sabar ya,” Ucap Black sambil mengelus perut buncitnya. 

Tak berselang lama, empat sekawan datang dan mereka bingung kenapa Black sendirian. “Kok sendirian, Black? Mana bapak tadi?” Tanya Sandra sambil menenteng beberapa cemilan. 

“Lagi gue suruh beli bubur ayam ke atas naik tangga.”

“Gila, naik tangga?”

“Iya, orang anak gue yang mau, dianya juga mau yaudah biarin aja, kalau hanya uang siapa saja bisa tapi kalau dengan tenaga gue akan lebih puas lagi mengerjainya.” Black tertawa mengingat betapa capeknya Doni sekarang, ada sisi dia yang kasihan tapi rasa kesalnya jauh lebih menutupi perasaannya itu, dia hanya ingin sedikit membalas perlakuan Doni dulu padanya.

BERSAMBUNG. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!