"Tanda tangani ini dan pergi! Kau hanya alat untuk menghancurkan ayahmu," ucap Elkan dingin.
Lima tahun lalu, Siska diusir dalam keadaan mengandung. Kini, ia kembali bukan sebagai istri yang lemah, melainkan sebagai pesaing bisnis yang siap menghancurkan kerajaan Elkan.
Namun, saat Siska mulai menyerang, ia menemukan rahasia kelam: Elkan sengaja menjadi iblis agar Siska tetap hidup. Di antara dendam dan cinta yang belum padam, siapakah musuh yang sebenarnya?
"Aku kembali untuk menghancurkanmu, Elkan. Bukan untuk jatuh ke pelukanmu lagi!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DI BALIK TELEPON SINGAPURA
Siang harinya, suasana di kediaman Pratama jauh lebih tenang setelah insiden pengusiran Diana. Arlan yang baru saja bangun tidur siang tampak asyik bermain dengan mainan balok susun di karpet tebal dekat ranjang Elkan. Kehadiran bocah kecil itu menjadi satu-satunya alasan mengapa kamar bernuansa abu-abu itu terasa hangat.
Elkan yang masih terbaring lemah hanya bisa memperhatikan putranya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. Sesekali, ia ikut memberikan arahan dengan suara pelan saat Arlan kebingungan menyusun baloknya.
"Papa, lihat! Arlan bikin benteng tinggi sekali untuk melindungi Papa dan Mama!" seru Arlan bangga, menunjuk menara balok yang sudah setinggi lututnya.
"Hebat anak Papa. Bentengnya kuat sekali," puji Elkan lembut, matanya berbinar penuh kebanggaan.
Di sofa seberang ranjang, Jessica sedang fokus menatap layar laptopnya. Sebagai CEO Wijaya Capital, ia tidak bisa sepenuhnya melepaskan urusan pekerjaan, terlebih setelah pengambilalihan saham Pratama Group yang membutuhkan banyak penyesuaian regulasi.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel kerja milik Jessica yang berada di atas meja kaca bergetar. Layar menampilkan sebuah nama panggilan internasional dari Singapura: Edward Wijaya.
Jantung Jessica berdegup sedikit lebih kencang saat melihat nama itu. Edward Wijaya adalah ayah angkatnya—pria konglomerat Singapura yang telah menyelamatkan nyawanya lima tahun lalu, mendanai pengobatan daruratnya saat keguguran prematur, dan mendidiknya menjadi wanita tangguh di dunia bisnis. Namun, Edward juga merupakan pria yang sangat otoriter dan memperhitungkan segala hal sebagai transaksi bisnis.
Jessica melirik ke arah Elkan dan Arlan sejenak, lalu berdiri dan berjalan keluar menuju balkon kamar untuk mengangkat telepon tersebut demi menjaga privasi.
"Halo, Ayah," sapa Jessica dengan bahasa Mandarin yang fasih dan nada suara yang sangat hormat.
"Jessica," suara berat dan dingin seorang pria paruh baya terdengar di seberang telepon. "Aku sudah membaca laporan dari bursa saham Jakarta. Kau berhasil mengeksekusi Pratama Group dengan sangat baik. Saham mereka kini berada di bawah kendali kita."
"Terima kasih, Ayah. Semua berkat bimbinganmu," jawab Jessica formal.
"Tapi..." Edward menjeda kalimatnya, nadanya berubah menjadi lebih tajam. "Aku juga mendengar kabar dari informanku di Jakarta bahwa kau tidak segera kembali ke Singapura. Kau justru tinggal satu atap dengan pria yang dulu mencampakkanmu, bahkan membawa cucuku ke sana. Apa maksud dari semua ini, Jessica?"
Jessica mengepalkan tangannya pada pagar pembatas balkon. Angin siang bertiup kencang, menerpa rambutnya. "Kondisi di Jakarta belum sepenuhnya stabil, Ayah. Putra sulung Harris sempat menculik Arlan, dan Arlan mengalami trauma psikologis yang parah. Dia hanya mau dekat dengan Elkan saat ini. Selain itu, kondisi kesehatan Elkan sangat kritis. Saya butuh waktu untuk menyelesaikan masalah domestik ini."
Terdengar tawa dingin dari seberang telepon. "Masalah domestik? Ingat identitasmu sekarang, Jessica. Kau adalah penerus Wijaya Capital. Jangan biarkan perasaan wanita lemah bernama Siska di masa lalu merusak masa depan yang sudah kubangun untukmu."
Edward mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan kalimat yang seketika membuat tubuh Jessica membeku.
"Dua minggu lagi, aku akan datang ke Jakarta bersama Adrian. Aku sudah mengatur pertemuan resmi dengan beberapa pejabat tinggi di sana. Dan seperti kesepakatan kita sebelum kau berangkat ke Indonesia... setelah proyek Jakarta ini selesai, kau harus segera bertunangan dengan Adrian untuk memperkuat aliansi bisnis kita di Asia Tenggara."
Mendengar nama Adrian disebut, dada Jessica terasa sesak. Adrian adalah putra dari salah satu rekan bisnis terbesar Edward di Singapura. Pria blasteran yang tampan, cerdas, namun memiliki ambisi yang sama dinginnya dengan Edward. Adrian adalah pria yang sempat mendekati Jessica di pesta kemarin malam sebelum Elkan menginterupsinya.
"Ayah, tapi Arlan—"
"Arlan adalah darah dagingmu, yang artinya dia adalah bagian dari keluarga Wijaya sekarang. Adrian tidak keberatan menjadi ayah sambungnya," potong Edward mutlak. "Aku memberimu waktu dua minggu untuk menyelesaikan urusanmu dengan pria sekarat itu, Jessica. Jangan mengecewakanku. Pikirkan baik-baik tentang posisimu."
Klik.
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Edward.
Jessica perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Matanya menatap kosong ke arah halaman depan rumah. Perasaannya mendadak campur aduk. Di satu sisi, ia berutang budi yang teramat sangat besar pada Edward Wijaya atas nyawa dan posisinya saat ini. Di sisi lain, hatinya yang sempat membeku kini mulai mencair kembali untuk Elkan, pria yang ternyata telah mengorbankan segalanya demi melindunginya.
Dua minggu. Waktu yang diberikan oleh ayah angkatnya sangat singkat, sementara Elkan bahkan belum mendapatkan donor jantung yang ia butuhkan.
Saat Jessica berbalik untuk kembali ke dalam kamar, ia terkejut melihat sosok Elkan yang sudah berdiri di ambang pintu balkon. Pria itu tampaknya memaksakan diri berjalan dengan memegangi kusen pintu, wajahnya terlihat sangat tegang dan terluka.
Matanya yang sayu menatap Jessica dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Siapa... Adrian?" tanya Elkan, suaranya bergetar menahan cemburu sekaligus rasa takut yang amat sangat akan kehilangan wanita di depannya untuk kedua kali.