Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk keramik menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu.
Fathan masih dengan setia menyuapi Humairah, meski setiap kata yang keluar dari bibir istrinya terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya.
Humairah menelan buburnya dengan susah payah, rasa mual di perutnya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya.
Ia menyandarkan kepala di bantal yang tinggi, menatap Fathan dengan mata yang memerah.
"Apakah Ustadz sudah menghubungi Kyai Umar kalau aku ada di sini?" tanya Humairah tiba-tiba.
Fathan menghentikan gerakannya sesaat, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Belum. Aku baru sempat mengabari bahwa kita sudah sampai di rumah Abimu. Aku belum berani menceritakan kondisimu yang drop seperti ini."
Humairah tersenyum hambar, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Lebih baik tidak usah Ustadz beritahu. Biarkan saja mereka tahu aku sedang berlibur di rumah orang tuaku."
"Kenapa, Humairah? Mereka orang tuaku juga, mereka berhak tahu," ucap Fathan lirih.
"Untuk apa?" Humairah menatap Fathan tajam.
"Nyai pasti akan mengatakan kalau aku hanya berpura-pura sakit untuk mencari perhatian. Beliau akan bilang aku wanita manja yang ingin dikasihani. Ustadz tahu itu, kan?"
Fathan terdiam. Ia teringat bagaimana ibunya, Nyai Latifah, sering menyindir Humairah di meja makan dan ia hanya diam membisu, pura-pura tidak mendengar demi menjaga label 'anak berbakti'.
"Aku lelah, Ustadz..." Humairah mulai terisak lagi, kali ini lebih pedih.
"Aku punya suami, tapi suamiku tidak pernah sekalipun membelaku saat aku dihinakan di rumahnya sendiri. Aku punya suami, tapi rasanya aku seperti janda. Aku berjuang sendiri, makan sendiri, menangis sendiri, bahkan menanggung malu pun sendiri."
Fathan meletakkan mangkuk bubur itu ke atas meja dengan tangan yang lemas.
Kata-kata Humairah—seperti janda—menghantam ulu hatinya seperti dipukul godam besar.
Ia menyadari betapa pengecutnya ia selama ini. Ia berlindung di balik gelar 'Ustadz' dan 'Anak Sholeh', namun gagal total menjadi 'Imam' yang melindungi makmumnya.
"Maafkan aku, Humairah. Aku benar-benar suami yang gagal," bisik Fathan, suaranya parau karena air mata yang sudah tak terbendung.
"Maaf tidak bisa mengembalikan waktu dua bulan yang seperti neraka itu, Ustadz," sahut Humairah dingin.
Ia memejamkan mata, memalingkan wajah ke arah tembok, memutus semua komunikasi.
Fathan hanya bisa terduduk diam, menatap punggung rapuh istrinya dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Ia menyadari bahwa memenangkan kembali hati Humairah jauh lebih sulit daripada mempelajari ribuan kitab yang pernah ia baca di Mesir dulu.
Di ruangan itu, Fathan akhirnya merasakan apa itu penyesalan yang sesungguhnya—penyesalan yang datang saat pintu hati seseorang telah tertutup rapat dan terkunci mati.
Fathan meletakkan mangkuk bubur yang masih tersisa separuh itu dengan gerakan lambat.
Ia bangkit dari duduknya, mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak melihat kondisi Humairah yang begitu hancur.
"Istirahatlah dulu. Tubuhmu butuh tenang agar demamnya turun," ucap Fathan dengan suara parau.
Ia merapikan sedikit selimut Humairah, meski tangannya sempat ragu karena takut ditolak.
"Aku ke kantin dulu sebentar, membelikanmu air mineral dan sesuatu untuk kubawa pulang."
Humairah tidak menoleh sedikit pun. Matanya tetap tertuju pada dinding putih rumah sakit yang dingin.
"Lebih baik Ustadz pulang saja. Tidak perlu kembali lagi ke sini. Aku sudah ada perawat yang menjaga."
Langkah Fathan terhenti. Ia berbalik, menatap punggung kecil istrinya yang terlihat sangat rapuh di balik baju pasien.
"Humairah, aku suamimu. Sudah kewajibanku untuk tetap di sini menjagamu."
"Suami?" Humairah tiba-tiba menoleh, menatap Fathan dengan mata yang bengkak dan penuh kemarahan yang tertahan.
"Suami hanya di atas kertas, kan?" potong Humairah cepat.
Fathan tertegun, lidahnya kelu.
"Bukankah itu yang Ustadz katakan sendiri saat malam pertama kita?" Humairah melanjutkan dengan suara bergetar, setiap kata yang ia ucapkan seolah merobek lukanya sendiri.
"Ustadz bilang, 'Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta.' Sekarang, untuk apa Ustadz bicara soal kewajiban?"
Pertahanan Humairah runtuh sepenuhnya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masih tertancap selang infus, lalu menangis sesenggukan.
Bahunya terguncang hebat, mengeluarkan suara isak tangis yang begitu menyayat hati—tangisan dari seorang wanita yang sudah mencapai titik nadir kesabarannya.
Fathan ingin sekali mendekat, merengkuh tubuh itu, dan membisikkan bahwa ia menyesal. Namun, ia sadar kehadirannya justru menjadi racun bagi Humairah saat ini.
Setiap inci keberadaannya hanya akan mengingatkan Humairah pada luka yang ia torehkan.
Dengan hati yang berat dan langkah gontai, Fathan akhirnya keluar dari kamar perawatan.
Ia menutup pintu kayu itu dengan sangat perlahan.
Begitu pintu tertutup, Fathan menyandarkan punggungnya pada tembok rumah sakit.
Dari balik pintu yang tertutup rapat, ia masih bisa mendengar jelas suara tangisan Humairah—suara tangisan wanita yang sudah ia zalimi dengan sangat kejam.
Hati Fathan serasa dicabik-cabik; ia sadar bahwa ia telah menghancurkan seseorang yang seharusnya ia muliakan, dan kini tangisan itu menjadi melodi penyesalan yang paling menyakitkan yang pernah ia dengar seumur hidupnya.
Beberapa saat setelah Fathan keluar, pintu kamar perawatan kembali terbuka.
Abi Sasongko dan Umi Mamik datang membawa tas berisi pakaian ganti dan rantang makanan rumahan yang aromanya jauh lebih menggugah selera daripada bubur rumah sakit.
Melihat mata putrinya yang sembap, Abi Sasongko hanya bisa menghela napas panjang tanpa ingin bertanya lebih jauh. Ia tahu, ada luka yang sedang menganga di sana.
Fathan, yang sejak tadi menunggu di luar, masuk dengan wajah kuyu.
"Abi, saya pamit pulang sebentar ke pesantren untuk mengambil beberapa keperluan dan berbicara dengan Abah," ucap Fathan lirih sambil mencium tangan mertuanya.
Abi Sasongko menatap menantunya dengan tatapan datar namun tegas.
"Pergilah. Selesaikan apa yang harus diselesaikan."
Fathan melajukan mobilnya menuju pondok pesantren dengan pikiran yang kalut.
Sesampainya di sana, ia langsung menuju kediaman Kyai Umar.
Di ruang tamu, Nyai Latifah sudah bersiap dengan rentetan pertanyaan dan sindiran tentang Humairah yang pulang tanpa izin lama.
"Fathan, mana istrimu itu? Benar-benar tidak punya sopan santun—"
"Abah, Fathan ingin bicara berdua di ruang kerja," potong Fathan cepat, mengabaikan ibunya.
Nyai Latifah ternganga, tangannya tertahan di udara saat hendak berkomentar lebih jauh.
Kyai Umar yang melihat raut wajah putranya sangat berantakan segera mengangguk dan menuntun Fathan masuk ke ruangan pribadinya, lalu menutup pintu rapat-rapat.
"Ada apa, Anakku? Kenapa wajahmu seperti orang yang kehilangan arah?" tanya Kyai Umar lembut sambil duduk di kursi kebesarannya.
Tanpa sanggup berkata-kata lagi, pertahanan Fathan runtuh.
Ia langsung jatuh bersimpuh di kaki ayahnya, memeluk lutut sang Kyai, dan menangis sesenggukan. Suaranya yang parau memenuhi ruangan sunyi itu.
"Abah, Fathan salah. Fathan sudah berbuat zalim," isak Fathan di sela tangisnya.
"Humairah... Humairah meminta cerai, Bah."
Kyai Umar tersentak. Beliau memegang bahu putranya.
"Cerai? Apa yang sebenarnya terjadi, Fathan? Bukankah kalian baru saja memulai?"
Fathan mendongak dengan mata merah yang penuh penyesalan.
"Fathan sudah menghinanya, Bah. Fathan dibutakan oleh masa lalu. Fathan mengatakan kalau Humairah adalah wanita murahan. Fathan juga yang menyebabkan keningnya terluka semalam."
Mendengar pengakuan itu, wajah Kyai Umar memucat. Beliau bersandar pada kursi dengan tangan gemetar.
"Astaghfirullah, Nak..." ucap Kyai Umar dengan nada yang sangat kecewa.
"Engkau seorang pendidik, engkau paham agama, tapi bagaimana bisa lisanmu menyakiti wanita shalihah dengan kata-kata sekeji itu? Engkau telah menghancurkan amanah yang Abah ambil dari ayahnya, Fathan!"
Tangisan Fathan semakin menjadi. Ia menyadari bahwa ia bukan hanya telah kehilangan cinta istrinya, tapi juga telah mencoreng kehormatan ayahnya sebagai seorang guru besar di pesantren tersebut.
Di luar pintu, Nyai Latifah yang diam-diam menguping, terdiam membeku mendengar pengakuan putranya yang selama ini ia anggap tak pernah salah.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭