NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 19 Salah Paham yang Tidak Profesional

Apartemen Gavin Mahendra terasa hangat saat mereka akhirnya sampai.

Hujan masih turun di luar.

Rania baru saja membuka seatbelt ketika Gavin membuka dashboard mobil.

Mengambil sesuatu kecil.

Kantong obat lambung.

Ia mengulurkannya begitu saja.

“Kalau perutmu sakit gara-gara pedas, minum ini.”

Rania mengernyit.

“…Aku nggak selemah itu.”

Gavin menutup dashboard.

“Jam sebelas nanti biasanya baru nyesel.”

Sunyi.

Rania menoleh pelan.

“Kamu—”

Berhenti.

Karena pertanyaannya mendadak terasa terlalu aneh untuk diucapkan:

Sejak kapan kamu memperhatikan hal beginian?

Namun Gavin sudah membuka pintu mobil.

“Masuk. Hujan.”

Begitu saja.

Seolah perhatian kecil itu sesuatu yang normal.

Padahal—

justru itu masalahnya.

Karena semua hal kecil ini mulai terasa terlalu… nyata.

Terlalu seperti pasangan sungguhan.

Dan itu membuat sesuatu di dada Rania terasa tidak nyaman.

Bukan buruk.

Justru sebaliknya.

Dan mungkin—

itu yang menakutkan.

___

Malam itu seharusnya terasa biasa.

Tapi entah kenapa— semuanya terasa sedikit bergeser.

Bukan canggung habis ciuman.

Bukan juga karena mereka baru saja makan mie ayam di pinggir jalan seperti pasangan menikah yang pulang kerja.

Tapi karena—

Rania Azarina mendadak terlalu banyak berpikir.

Dan itu selalu berbahaya.

Pintu apartemen tertutup pelan.

Sepi.

Hangat.

Lampu ruang tamu menyala redup.

Biasanya—

kalau pulang malam seperti ini—

Rania akan langsung mengeluh soal kerjaan.

Atau nyinyir soal revisi.

Atau protes kalau Gavin terlalu diam.

Hari ini?

Tidak.

Karena sejak di warung mie ayam—

otaknya sibuk replay satu hal.

Suaminya perhatian banget ya, Mbak.

Dan—

Gavin tidak membantah.

Sama sekali.

Bagus.

Sangat bagus.

Rania langsung berjalan ke dapur.

“Thanks… buat makan malamnya,” gumam Rania akhirnya.

Terlalu formal.

Terlalu seperti orang menjaga jarak.

Gavin sedikit mengernyit.

Melepas jam tangan.

“Hm.”

Biasanya mereka sudah saling sindir.

Hari ini—

aneh.

Karena Rania terlalu sadar diri.

Dan Gavin—

entah kenapa—

terlihat seperti sedang memperhatikan sesuatu.

“Kamu capek?” tanyanya akhirnya.

Refleks.

Natural.

Dan justru itu masalahnya.

“Iya.”

Jawaban terlalu cepat.

“Tidur cepat.”

“Oh.”

Jeda.

“Aku ke kamar dulu.”

Pertama kalinya—

Rania pergi duluan.

Tanpa debat.

Tanpa ngomel.

Tanpa rebutan remote TV.

Dan—

anehnya—

apartemen langsung terasa terlalu sepi.

Gavin berdiri beberapa detik.

Mengernyit kecil.

Aneh.

Biasanya perempuan itu masih ribut soal kerjaan.

Atau nyuri camilan di dapur.

Atau ngomel kalau dia terlalu dingin.

Tapi malam ini—

tidak ada.

Dan itu meninggalkan sesuatu yang tidak nyaman.

Menyebalkan.

Hari berikutnya.

Kantor.

Pagi Hari.

Pukul delapan lewat tiga belas menit.

Semalaman Rania hampir tidak tidur.

Karena semakin dipikir— semakin terasa berbahaya.

Solusinya sederhana: jaga jarak.

Dan sesuatu terasa… off.

Karena sejak datang—

Rania terlalu profesional.

“Pagi, Pak Gavin.”

Pak Gavin.

Bukan Gavin.

Bukan kamu.

Pak Gavin.

Dingin.

Formal.

Jarak.

Gavin menatap beberapa detik.

“…Pagi.”

Lift terasa canggung.

Parah.

Biasanya—

Rania akan mengeluh kopi kantor jelek.

Atau ngatain meeting Theo sebagai hukuman sosial.

Hari ini?

Diam.

Sangat diam.

Saat pintu lift terbuka—

Rania langsung keluar duluan.

“Terima kasih meeting semalam.”

Meeting?

Gavin mengernyit.

Makan malam mereka sekarang meeting?

“…Rania.”

Perempuan itu berhenti.

Namun tidak menoleh penuh.

“Iya?”

“Kamu kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Kamu aneh.”

Rania tersenyum tipis.

Profesional.

Senyum paling berbahaya.

“Tidak kok.”

Lalu pergi.

Begitu saja.

Dan anehnya—

hal itu mengganggu sekali.

Pukul sebelas siang.

Kevin masuk ruangan tanpa izin.

Tentu saja.

“Bro.”

Gavin tidak mengangkat kepala.

“Keluar.”

“Wah gila.”

Kevin duduk seenaknya.

“Lo berantem ya?”

Kini Gavin menoleh.

“…Apa?”

“Lo mukanya kayak habis dicuekin pacar.”

Tatapan Gavin berubah dingin.

“Kerjaan lo selesai?”

Kevin mengangkat tangan.

“Oke tapi serius.”

Dia menunjuk keluar kaca.

“Bu Rania formal banget dari pagi.”

Kevin menyipitkan mata.

“…Lo ngapain semalam?”

Gavin diam.

Sebentar.

Lalu—

“Tidak ada.”

“Mustahil.”

Kevin menunjuk dramatis.

“Cewek tuh nggak tiba-tiba dingin tanpa alasan.”

Gavin kembali ke laptop.

Namun—

untuk pertama kalinya—

ia tidak benar-benar fokus.

Karena Kevin mungkin benar.

Pukul dua siang.

Pantry lantai marketing.

Rania sedang membuat kopi.

Kopi hitam.

Tanpa gula.

Sama seperti biasanya.

Sama seperti—

yang Gavin hafal.

Sial.

Kenapa jadi kepikiran lagi?

“Bu Rania?”

Dua staf marketing langsung tersenyum.

“Cocok banget loh sama Pak Gavin.”

Rania hampir tersedak kopi.

“…Apa?”

“Iyaaa.”

“Beliau sekarang sering senyum.”

“Padahal dulu dingin banget.”

“Bu Clarissa aja kalah vibes.”

Jantung Rania langsung terasa aneh lagi.

Clarissa.

Lagi.

“Bu Clarissa tadi meeting sama Pak Gavin lagi ya?” salah satu staf berbisik kecil.

“Iya. Lama banget.”

Rania diam.

…Apa?

“Tadi aku lihat Bu Clarissa bawain kopi juga.”

“Normal kali.” Yang satu terkekeh kecil. “Dia kan dari dulu paling ngerti selera Pak Gavin.”

“Iya ya… dulu juga mereka deket banget.”

Selesai.

Mood rusak.

Bagus.

Sangat bagus.

Sejak kembali dari pantry tadi— fokus Rania berantakan.

Dua kali salah revisi.

Tiga kali kehilangan fokus saat nama Gavin muncul di grup direksi.

Menyebalkan.

Sangat menyebalkan.

Sore hari.

Pukul lima lewat dua puluh menit.

Rania baru selesai meeting.

Koridor lantai direktur sepi.

Langkahnya melambat.

Karena suara dari ruang kerja Gavin sedikit terbuka.

Dan—

tanpa sengaja—

ia mendengar sesuatu.

“…enam bulan cukup.”

Suara Gavin.

Datar.

Tenang.

Rania membeku.

Tenggorokannya mendadak terasa kering.

Enam bulan.

Jadi memang dari awal— semuanya punya batas waktu.

Dan bodohnya— ia hampir lupa.

Suara lain menyusul.

“Kalau setelah itu selesai?”

Clarissa.

Jantungnya mendadak tidak nyaman.

Lalu Gavin berkata—

“Kita lihat nanti.”

Rania membeku.

Dunia terasa terlalu hening.

Enam bulan.

Selesai.

Kontrak.

Oh.

Benar juga.

Ini kontrak.

Yang membuatnya kesal bukan Gavin.

Tapi dirinya sendiri.

Karena untuk pertama kalinya— ia mulai menunggu chat Gavin.

Mulai memperhatikan hal-hal kecil.

Mulai terlalu sadar saat pria itu dekat.

Dan itu buruk.

Karena orang yang lupa ini kontrak— pasti akan jadi pihak yang terluka duluan.

Apa yang dia pikirkan?

Kenapa sempat merasa—

semua perhatian itu berarti sesuatu?

Bodoh.

Sangat bodoh.

Rania mundur pelan.

Tidak jadi mengetuk pintu.

Tidak jadi masuk.

Tidak jadi apa-apa.

Lalu berjalan pergi.

Cepat.

Terlalu cepat.

Sementara di dalam ruangan—

Gavin menutup file kerja sama regional Singapore.

“Jadi kontrak venue enam bulan cukup?” tanya Clarissa lagi.

“Ya.”

Ponselnya bergetar.

Nama Rania muncul di layar.

Namun—

tidak ada pesan.

Aneh.

Karena biasanya—

kalau lembur—

perempuan itu pasti mengomel dulu.

Entah kenapa—

perasaan tidak enak mendadak muncul.

Gavin merasa:

ada sesuatu yang salah.

Biasanya—

pukul lima lewat tiga puluh menit—

nama Rania sudah muncul di layar:

Saya masih revisi. Jangan cerewet.

Hari ini?

Tidak ada apa-apa.

Dan anehnya— untuk pertama kalinya— apartemen mendadak terasa terlalu jauh.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!