Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Berubah
Zahra menelepon ayahnya malam itu. Bukan untuk marah. msupun nangis han drama. Hanya ingin bicara soal foto yang sekarang ada di meja kamarnya membuat percakapan itu tidak bisa ditunda lagi.
"Pa."
"Zahra." Suara Pak Hendra terdengar hati-hati nada yang selalu dia pakai sekarang, seperti tidak tahu medan mana yang aman. "Gimana kabarnya Zah?"
"Baik." Zahra menatap foto itu. "Pa, Zahra nemu sesuatu hari ini."
"Foto Papa sama Om Rafa. Tahun 2009. Di depan gedung entah mana, kalian ketawa kayak orang gila."
Pak Hendra tidak menjawab langsung dan dari diam itu Zahra tau, ayahnya sudah tahu percakapan ini akan datang. Hanya tak tahu kapan.
"Pa kenal Om Rafa dari 2006?"
"Ya."
"Kenapa nggak pernah cerita ke Zahra."
"Zahra—"
"Pa." Ucapnya lembut. Zahra sudah lewat fase marah. "Zahra nggak nelpon buat berantem. Zahra cuma mau nanya satu hal."
"Apa?"
"Om Rafa orangnya gimana? Aslinya! Bukan versi yang Papa ceritain buat bikin Zahra setuju nikah sama dia."
Pak Hendra diam cukup lama.
"Dia..." suaranya turun, lebih personal dari yang biasa Zahra dengar dari ayahnya. "Dia orang yang paling bisa Papa percaya di dunia ini, Zahra. Setelah ibumu."
Tenggorokan Zahra terasa aneh.
"Kenapa?"
"Karena waktu ayahnya meninggal dan Papa tawarkan bantuan dia yang nolak. Bilang dia bisa urus sendiri. Tapi waktu Papa yang hampir jatuh, dia yang datang duluan, sebelum Papa sempat minta tolong."
Zahra menutup matanya sebentar.
"Papa harusnya cerita ini dari awal," kata Zahra pelan.
"Papa tau." Suara Pak Hendra retak tipis. "Maafin Papa, Nak."
.
.
.
Keesokan paginya Zahra bangun, moodnya angat bagus hari ini. ia turun jam enam.
Rafandra masih ada duduk di meja makan dengan kopi dan laptopnya, seperti biasa. Menoleh waktu Zahra muncul.
"Pagi," kata Zahra.
"Pagi."
Zahra menuang kopi, duduk. Membuka laptopnya. Mereka bekerja masing-masing dalam diam yang sudah tidak asing.
Lima menit kemudian Zahra angkat kepala. "Om."
"Hm. Kenapa zah."
"Gue mau mulai belajar nerima hal-hal yang udah terjadi." Zahra menatapnya langsung. "Yang berkaitan sama situasi keluarga, Pak Irwan, semua itu. Gue nggak mau cuma diem di pinggir dan nunggu dikasih info."
Rafandra mendongak dari laptopnya.
"Gue tau gue masih banyak yang belum ngerti," lanjut Zahra sebelum dia sempat merespons. "Tapi gue bisa belajar dan gue lebih berguna kalau tau situasinya dari pada kalau Om terus nyembunyiin gue dari informasi yang harusnya gue tau."
Rafandra menatapnya. Lama.
"Kamu serius?"
"Duarius malah. Kapan gue nggak serius kalau gue udah duduk tegak kayak gini?"
Rafandra tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Baik." Ia menutup laptopnya. "Mulai dari mana kamu mau tahu?"
"Pak Irwan dulu." Zahra sudah siap. "Siapa dia sebenernya dan kenapa namanya bikin semua orang yang kenal Om langsung waspada."
Rafandra menatapnya dengan ekspresi yang Zahra baru pertama kali lihat di sana. Sesuatu yang terlihat seperti kagum, Bahwa anak kecil yang ia jaga sedari lama sekarang udah dewasa.
"Irwan Soebrata," mulai Rafandra. "Mantan mitra bisnis ayahku—"
"Tunggu." Zahra mengambil buku catatan dari tasnya. Membuka halaman kosong. "Oke. Lanjut."
Rafandra meliht buku catatan itu. Lalu menatap Zahra dan kali ini di matanya lebih jelas, bukan kagum lagi. Lebih hangat dari itu. Yang ia tidak sembunyikan secepat biasanya.
"Irwan Soebrata," ulangnya. Lebih pelan. "Mantan mitra bisnis ayahku yang merasa haknya atas beberapa aset perusahaan tidak diselesaikan dengan adil setelah ayahku meninggal."
"Dan klaimnya valid?"
"Sebagian."
"Sebagian yang mana?"
Rafandra memiringkan kepalanya sedikit. "Kamu langsung ke intinya?"
"Gue nggak punya waktu buat muter-muter, Om!."
Rafandra mengangguk dan mulai menjelaskan. Bukan versi yang disederhanakan atau dijaga. Tapi versi yang utuh dengan angka, dengan nama, dengan konteks yang selama ini tidak pernah dia buka ke Zahra. Zahra mendengarkan, mencatat, bertanya waktu tidak mengerti, mendebat waktu tidak setuju.
Satu jam berlalu tak terasa. Rafandra sudah melewati jadwal berangkatnya dua puluh menit waktu ia menutup penjelasannya.
"Segitu dulu." Menutup laptopnya. "Sisanya nanti."
"Om udah telat."
"Aku tahu." Tapi ia tak terlihat terburu-buru.
Zahra menutup buku catatannya, penuh dengan tulisan, nama-nama, angka, tanda panah yang menghubungkan satu hal ke hal lain.
"Ini harusnya dari dua minggu lalu," kata Zahra.
"Maybe." Rafandra berdiri, mengambil jasnya dari sandaran kursi. "Tapi dua minggu lalu kamu belum siap."
Zahra mendongak, siap protes.
"Bukan karena kamu tidak mampu," Rafandra memotong, seperti tahu. "Tapi karena kamu butuh waktu untuk mengenal situasinya dulu. Sekarang kamu sudah punya konteksnya. Jadi lebih mudah."
Zahra menutup mulutnya. "Dia bener." Bukan hal yang menyenangkan untuk diakui, tapi benar.
"Oke," kata Zahra.
"Tapi mulai sekarang jangan ada lagi yang disembunyiin ya Om. Gue udah dewasa, bukan anak kecil lagi, Zahra pasti akan berusaha mencerna dengan baik." Jelasnya. "Tapi...perlahan. Hehehehe"
Rafandra memasang jasnya. Menoleh ke Zahra.
"Tidak ada yang disembunyiin," katanya Rafa. "Hanya hal-hal yang menunggu waktu yang tepat untuk disampaikan."
"Itu definisi yang sama, Om."
"Tidak selalu." Ia mengambil tasnya. Berjalan ke pintu. Berhenti sebentar. "Hasil catatanmu tadi, foto dan analisis awalmu. Kirim ke emailku malam ini. Aku ingin lihat cara berpikirmu."
Zahra mengernyit. "Buat apa?"
"Buat aku tahu seberapa jauh kamu bisa dilibatkan." Ia keluar sebelum Zahra sempat merespons.
Zahra duduk sendirian di meja makan yang terlalu panjang itu buku catatan di tangan, kopi yang sudah dingin di sisi kiri, dan di dadanya sesuatu yang baru.
Bukan perasaan terjebak. Bukan perasaan diatur. Tapi perasaan bahwa dia sedang berdiri di atas sesuatu yang lebih kokoh dari sebelumnya atas kakinya sendiri, dengan matanya sendiri, melihat dunia yang dia masuki bukan lagi sebagai orang asing yang tersesat.
"Gue berubah, sedikit lebih menerima dan dewasa" pikir Zahra. "gue nggak takut sama itu."
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼