"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat menyadari
Pertanyaan itu jatuh begitu saja. Rasti langsung terdiam. Wajahnya perlahan menegang. Jari-jemari nya saling menggenggam di pangkuannya.
"Aku..."
Rasti berhenti, mengingat-ingat kapan ia terakhir datang bulan. Dan matanya seketika melebar.
"Ma...Rasti lupa."
Mira tidak berkata apa-apa. Tapi sorot matanya sudah cukup menjelaskan.
"Siap-siap. Kita ke rumah sakit."
"Ma, Rasti baik-baik saja kok."
"Ini bukan pilihan," potong Mira tegas.
Rasti terdiam. Tangannya perlahan mendarat di perutnya. Sangat pelan, seolah tidak berani berharap.
***
Di sisi lain, Xena masih berdiri di luar kamar mandi. Air sudah berhenti mengalir. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Sandra keluar, rambutnya sedikit basah. Wajahnya lebih segar, meski masih tampak pucat.
Ia hanya mengenakan sehelai handuk di tubuhnya. Xena langsung mengalihkan pandangannya.
"Kenapa kau menghindar?" ucap Sandra pelan.
Xena berbalik, melangkah mengambil handuk kimono dan memberikan pada Sandra tanpa melihatnya.
"Pakai ini," ucap Xena lirih.
Sandra tersenyum lirih, "Lucu sekali, sudah sebulan ini kau di sini. Tapi kau masih seperti ini."
Xena tak menjawab. Beberapa saat berlalu, ponsel Xena berdering. Kali ini bukan dari seseorang yang ia tunggu. Xena melirik ponselnya sekilas dari atas meja.
"Siapa?" tanya Sandra pelan, nada suaranya sedikit menekan.
Xena tak menjawab. Ia meraih ponsel itu. Satu nama tertera di sana. Papa. Perlahan Xena mengangkat panggilan itu.
"Halo, Pa."
"Kau di mana?"
"Di kantor."
"Jangan bohong. Papa tau kau tidak di kantor."
Nada itu seperti menekan. Xena menghela nafas pelan, "Di rumah Sandra."
"Kau masih menemuinya? Tega sekali kau. Kau hanya pulang sebentar lalu kau..."
Budi terdiam sejenak, menarik nafas dalam mencoba menahan amarahnya, "Rasti di rumah sakit."
DEG
Kalimat itu seperti menghantam tanpa ampun.
"Apa?" suara Xena menegang.
Sandra yang berdiri tak jauh langsung menoleh. Wajahnya ikut menegang melihat perubahan Xena.
"Kenapa dengannya?" tanya Xena cepat.
"Papa tidak tau, Mama mu yang bawanya. Tapi kondisinya tadi lemah. Kau harus pulang sekarang."
Tanpa menunggu jawaban, sambungan terputus. Xena bergegas mengambil kunci mobil. Namun langkahnya tertahan. Tangan Sandra menariknya.
"Kau mau pergi lagi?" ucap Sandra lirih.
Hening sesaat, tapi kali ini Xena tak ingin menunda, "Aku harus pergi."
"Kau akan kembali, kan?" tanya Sandra pelan, memastikan.
Xena menghela nafas pelan, "Aku belum tau."
Sandra terdiam, "Aku menunggumu."
Kalimat yang sama, yang dulu sering ia ucapkan dengan penuh keyakinan. Namun kali ini terasa rapuh. Xena menatapnya dalam. Lama. Ada sesuatu yang berubah di sorot matanya. Bukan lagi ragu. Bukan lagi bimbang. Melainkan keputusan.
"Aku tidak akan kembali, Sandra."
Wajah Sandra langsung memucat. Tangannya yang tadi menggenggam lengan Xena perlahan mengendur.
"Apa maksudmu?" suaranya bergetar.
Xena menarik nafas panjang, " Selama ini aku sudah menjagamu, hingga aku lupa...lupa jika aku meninggalkan Rasti begitu lama."
Sandra menatapnya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Kau bilang apa?"
Xena mengalihkan pandangan. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia benar-benar terlihat tegas tanpa celah.
"Aku sudah menyelesaikan bagian ku di sini. Aku tinggal karena tanggungjawab, bukan karena aku ingin kembali seperti dulu." Xena diam sejenak.
"Dan satu lagi...Itu karena aku tidak ingin meninggalkanmu dalam kondisi seperti itu," potong Xena cepat.
Kalimat itu terasa dingin. Terlalu jujur dan itu yang paling menyakitkan.
Sandra tertawa pahit, "Ternyata aku masih bodoh. Kenapa aku masih berharap?"
Xena tak menjawab.
"Aku pikir... kecelakaan itu bisa membawa kembali. Tapi ternyata...itu hanya menunda perpisahan" ucap Sandra, suaranya pecah.
Hening lagi. Xena menggenggam kunci mobil lebih erat, "Aku harus pergi."
Sandra tidak menahannya kali ini, "Kalau kau keluar dari pintu itu, kau benar-benar pergi dari hidupku."
Langkah Xena sempat terhenti. Beberapa detik. Namun ia tidak berbalik, "Jaga dirimu."
***
Di rumah sakit, Rasti duduk di ranjang periksa. Tangannya masih menggenggam ujung bajunya. Wajahnya pucat tapi matanya penuh ketegangan. Mira berdiri di sampingnya. Wajahnya serius, tapi kali ini tidak dingin. Tak lama seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan sambil membawa hasil.
"Bagaimana, Dok?" tanya Mira langsung.
Dokter tersenyum tipis, "Selamat, Bu. Pasien sedang hamil."
Rasti membeku, "H... hamil?" suaranya lirih, hampir seperti bisikan.
"Iya, kurang lebih usia kandungan sekitar lima minggu."
Air mata langsung memenuhi mata Rasti. Tangannya refleks berpindah ke perutnya. Perlahan, seolah memastikan. Mira menatap Rasti. Tatapannya melembutkan. Tangannya mengusap bahu Rasti pelan.
"Kau dengar itu?" ucapnya lirih.
Rasti mengangguk...sambil menangis.
"Kita harus memberitahu Xena. Anak sialan itu..."
Namun entah kenapa Rasti menahan Mira saat Mira ingin mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Ma... biar aku saja yang memberitahunya nanti. Untuk saat ini biarkan saja." ucap Rasti pelan.
"Tapi..."
Rasti menggeleng. Ia belum bisa memastikan perasaan Xena sebenarnya. Ia tidak ingin sesuatu terjadi di luar kekuasaan nya.
Di luar rumah sakit, mobil Xena berhenti. Ia bahkan tidak mematikan mesin. Pintu langsung dibuka.Langkahnya cepat. Nafasnya memburu. Jantungnya berdegup keras. Satu pikiran terus menghantam kepalanya.
Namun dari kejauhan, ia menatap Rasti dan Mira sedang berjalan di lorong yang panjang. Xena semakin mempercepat langkahnya.
"Rasti," panggilnya.
Langkah Rasti langsung berhenti. Suara itu terlalu ia kenal. Perlahan Rasti menoleh. Dan di sana, Xena berdiri dengan nafas memburu, wajah tegang, dan mata yang jelas mencari dirinya sejak tadi.
Mira ikut menoleh. Tatapannya langsung berubah tajam, "Akhirnya kau pulang?"
Xena tidak menjawab. Matanya hanya tertuju pada Rasti. Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Ada rasa rindu yang terpendam di hati keduanya. Rasti menggenggam ujung bajunya. Jantungnya berdegup tidak karuan.
"Apa yang terjadi?" suara Xena akhirnya keluar. Sedikit serak.
"Kenapa kau di sini?" tanyanya lagi.
Mira mendengus pelan, "Harusnya kau yang menjelaskan dulu. Belakangan ini kau hanya datang sesuka hati dan pergi tanpa mengatakan apa pun. Kemana saja kau selama ini?"
Hening. Xena mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, "Aku akan jelaskan. Tapi aku ingin tau kondisi Rasti."
Mira menatapnya tajam, seolah menimbang, namun sebelum ia bicara. Rasti lebih dulu bersuara.
"Aku tidak apa-apa."
Xena menatapnya lekat, seolah tidak percaya begitu saja.
"Jangan bohong," Xena tau ada yang mereka sembunyikan.
Rasti tersenyum tipis, "Aku hanya kelelahan."
Jawaban itu sederhana dan membuat Xena merasa asing. Xena menatap Rasti lama. Sampai Rasti merasa tidak nyaman di bawah tatapan itu.
"Maaf," ucap Xena tiba-tiba.
Rasti terhenyak. Jantungnya berdegup.
"Maaf untuk segalanya," ucap Xena lagi. nada bicaranya mengandung kejujuran dan rasa bersalah.
Mira menoleh pada putranya itu. Lalu kembali menatap Rasti yang masih tak bergeming. Xena menatap Rasti lama. Terlalu lama… sampai Rasti merasa tidak nyaman di bawah tatapan itu.