NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tertinggal

Daftar panjang kesialan di akhir pekan itu rasanya kian lengkap saat Alana membalikkan tubuh, mendapati langkah kakinya terasa begitu berat dan gemetar akibat sisa ketakutan dari intimidasi barusan. Sambil menggenggam erat ponselnya yang retak seribu, ia melangkah lebar menuju meja kasir.

Plak!

Alana mengenyakkan dompet lipat kecilnya ke atas meja konter kasir dengan napas yang masih memburu.

"Mbak, mau top up dompet digital. Lima ratus ribu ya," ujar Alana, berusaha keras menahan getaran kesal di suaranya.

Kasir supermarket itu sempat tersentak, lalu menatap Alana dengan pandangan heran sebelum menekan keyboard komputernya. "Baik, Kak. Bisa sebutkan nomor ponselnya?"

Alana mendiktekan deretan angkanya dengan cepat. Sembari jemari kasir bergerak mengetik, Alana merogoh kantong kaus oblongnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu hasil jerih payahnya sore tadi. Sambil menyodorkan uang itu, mulutnya tidak bisa berhenti berkomat-kamit.

"Dasar dosen kutub! Sombong banget jadi orang!" gerutu Alana setengah berbisik.

"Maaf, Kak? Bagaimana?" tanya si kasir, menghentikan gerakannya karena mengira Alana berbicara kepadanya.

Alana buru-buru mengibaskan tangan, melempar senyum canggung yang dipaksakan. "Eh, enggak, Mbak. Bukan buat Mbak kok. Lanjut aja."

Begitu kasir itu kembali fokus ke layar, Alana melanjutkan omelannya dengan volume yang jauh lebih lirih, "Mentang-mentang punya jabatan, jalannya kayak yang punya ini supermarket. Mata aja kayak elang, tapi kelakuan kayak beruang es. Nggak ada ramah-ramahnya sama sekali!"

"Sudah masuk ya, Kak, saldo dompet digitalnya. Ini struknya," potong kasir ramah seraya menyerahkan selembar kertas kecil.

"Oh, iya. Makasih ya, Mbak."

Alana segera menyambar ponsel, dompet, dan struknya, lalu berjalan cepat keluar dari pintu kaca supermarket.

Begitu melangkah ke pelataran, angin malam yang berembun langsung menerpa wajahnya. Ia menunduk, menatap nanar pola retakan baru di layar ponselnya sambil berjalan menyusuri trotoar menuju gang kedainya.

Sepanjang jalan, rasa jengkel di dadanya justru makin menjadi-jadi.

Alana menendang kerikil kecil di depannya dengan gemas. "Awas aja kalau ketemu di kampus besok. Aku doain ban mobilnya kempes di tengah jalan biar tahu rasa!"

Ia mendengus keras, membayangkan wajah kaku pria tadi. "Kasihan banget yang jadi istrinya. Suami kok kayak gitu, apa enggak mati berdiri tiap hari hadapin kulkas berjalan?" gerutu Alana jengkel, sama sekali tidak menyadari takdir apa yang sedang menantinya di masa depan.

...----------------...

Sementara di belahan jalan yang berbeda, suasana di dalam kabin mobil sedan mewah milik Arsen justru terasa berbanding terbalik.

Hanya ada suara dengung halus mesin yang konstan dan ketukan ritmis lampu sen saat mobil itu berbelok di persimpangan jalan protokol yang lengang.

Arsen duduk di balik kemudi, sebelah tangannya menopang dagu di ambang jendela pintu mobil.

Tangan kirinya mengendalikan setir dengan santai, namun fokus matanya sama sekali tidak tertuju pada aspal di depannya.

Bayangan seraut wajah gadis berkemeja longgar dan bersandal jepit yang menabraknya tadi mendadak melintas begitu saja di kepala.

"Gadis itu..." gumam Arsen, dahinya berkerut dalam di tengah remang cahaya dasbor mobil. "Alana Kirana Putri."

Rahang Arsen seketika mengeras begitu otaknya berhasil mencocokkan wajah tadi dengan sebuah nama.

Dia bukan mahasiswi asing.

Dia adalah salah satu mahasiswi di fakultasnya yang sudah masuk sejak awal ke dalam daftar hitam Arsen.

"Ternyata di luar kelas pun kecerobohannya tidak berkurang sama sekali," desis Arsen dingin.

Arsen mendengus sinis ke arah kaca depan. Ia merasa bodoh karena sempat mengira mata bulat gadis itu tampak bersih tanpa kepalsuan saat berjongkok tadi.

Di matanya, Alana tetaplah perwujudan dari mahasiswi bermasalah; ceroboh, suka terlambat, pemalas, dan hobi mengabaikan tugas akademis demi urusan tidak penting di luar kampus.

Arsen menginjak pedal gas lebih dalam, memutuskan untuk mengubur rapat-rapat kejadian mengesalkan itu dari kepalanya.

Bzzzt.

Gerbang besi tinggi kediaman mewahnya terbuka secara otomatis begitu mobil Arsen mendekat.

Setelah memarkirkan kendaraannya di dalam garasi yang luas, Arsen melangkah keluar, menyampirkan jas kerjanya di bahu dengan gerakan lelah.

Namun, begitu kakinya melewati pintu utama, Arsen langsung menghentikan langkah. Ia mengernyitkan dahi samar, menatap sekeliling koridor menuju ruang tengah. Rumah megah berarsitektur modern itu terasa begitu mati.

Biasanya, jam sebegini area karpet tengah selalu berantakan oleh mainan yang berserakan, atau minimal ada suara bising dari televisi.

Arsen memang tidak peduli dan tidak pernah berniat mencari keberadaan kedua anaknya, Axel dan Elio.

Namun, atmosfer rumah yang mendadak terasa jauh lebih senyap dari biasanya tetap saja membuat pria itu merasa heran.

Arsen melangkah acuh tak acuh menuju area dapur bersih, berniat mengambil segelas air dingin untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

Di balik meja bar, ia mendapati Bi Sumi; asisten rumah tangganya sedang sibuk menata beberapa stoples kaca ke dalam lemari gantung.

"Bi Sumi," panggil Arsen datar.

Bi Sumi tersentak kaget sampai hampir menjatuhkan stoples di tangannya. Wanita paruh baya itu buru-buru berbalik dan membungkuk hormat. "Eh, Tuan Arsen. Sudah pulang? Mau saya siapkan makan malam atau air hangat untuk mandi, Tuan?"

"Tidak usah," tolak Arsen pendek. Ia menuangkan air dingin dari teko kaca ke dalam gelasnya sendiri. "Kenapa rumah sepi sekali?"

Bi Sumi menepuk dahinya pelan, wajahnya tampak tidak enak hati. "Oh, astaga, saya sampai lupa memberi tahu Tuan Arsen. Sore tadi, Den Axel sama Den Elio dijemput oleh Nyonya Besar."

Gerakan tangan Arsen yang hendak membawa gelas ke bibirnya mendadak terhenti di udara.

Rahangnya tampak mengeras mendengar nama ibunya disebut. "Mama ke sini? Kenapa tidak ada yang memberi tahu saya terlebih dahulu?"

"Nyonya Besar bilangnya mendadak, Tuan. Katanya kangen sekali sama cucu-cucunya, jadi mau diajak menginap di rumah utama untuk akhir pekan ini," jelas Bi Sumi agak takut-takut, suaranya mengecil melihat perubahan drastis pada raut wajah Arsen yang kian menegang. "Saya mau telepon Tuan Arsen tadi sore, tapi Nyonya Besar melarang. Katanya tidak mau mengganggu kerjaan Tuan Arsen di kantor."

Arsen meneguk air dinginnya sampai tandas dalam sekali tenggak, lalu meletakkan gelasnya kembali ke atas meja dengan ketukan yang cukup keras. "Ya sudah. Biarkan mereka di sana malam ini. Besok mereka pasti pulang sendiri."

"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu," pamit Bi Sumi cepat-cepat, buru-buru melangkah pergi sebelum terkena imbas aura menyeramkan sang majikan.

Setelah Bi Sumi menghilang di balik pintu dapur kotor, Arsen berdiri termenung sendirian di tengah ruangan yang sunyi.

Matanya melirik sekilas ke arah deretan foto di atas bufet kayu—foto Axel dan Elio yang sedang tersenyum lebar.

Arsen hanya menatap foto itu dengan pandangan datar, seolah sedang melihat foto anak orang lain.

Sejak pengkhianatan Clarissa di masa lalu, Arsen benar-benar berubah menjadi pria yang abai dan menutup seluruh hatinya.

Rumah megah ini tak ubahnya seperti hotel tempatnya menumpang tidur, dan kedua anaknya tak lebih dari sekadar pelengkap yang hidup layaknya orang asing di bawah atap yang sama.

Kaku, dingin, dan penuh dengan batasan tak kasat mata. Arsen tidak pernah tahu—dan tidak mau tahu—apa yang anak-anaknya sukai, sementara kedua anak itu pun selalu memandangnya dengan ketakutan yang teramat sangat.

Dengan langkah berat, Arsen berjalan ke ruang tengah. Ia melemparkan jas dan dasinya ke atas sofa beludru secara asal, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari memejamkan mata rapat-rapat.

Hari ini benar-benar melelahkan baginya; dimulai dari pengkhianatan bisnis Keisha, suasana rumah yang selalu asing, hingga gangguan kecil dari mahasiswi pemalas yang menabraknya di supermarket tadi. Semua itu seolah berputar menjadi satu, memenuhi isi kepalanya yang mulai terasa pening.

1
Ulfatut Tho'ah
nangis bombai banget bab ini 😢😢😢🥹🥹🥹😭😭😭
rokhatii: doakan terus Alana supaya bisa hidup lebih damai
total 1 replies
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!