NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 18 : Pengkhianatan di dalam Benteng

Naga air itu meraung tanpa suara, tubuhnya yang transparan memantulkan cahaya matahari menjadi ribuan pelangi kecil yang menipu mata. George tetap berdiri tegak di tengah pasir putih arena, pedang hitamnya masih tersarung di pinggang. Ia hanya mengangkat tangan kristalnya, membiarkan pendaran putih mutiara mulai menyelimuti jemarinya.

"Hanya berdiri diam seperti itu, Jenderal? Naga air ini tidak memiliki belas kasihan seperti prajurit manusia," teriak Seraphina dari tribun dengan nada meremehkan.

"Aku tidak melihat alasan untuk mencabut pedang hanya untuk menghadapi air yang gelisah, Putri," balas George dengan suara tenang namun menggema.

"Gelisah? Mari kita lihat apakah kau masih bisa bicara begitu setelah ia mengunci napasmu!" Seraphina menggerakkan jemarinya, dan naga air itu melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa.

Celestine yang duduk di samping Theodore mencengkeram pegangan kursi emasnya. "George, fokus! Dia mencoba mencari celah getaran di lenganmu!"

Naga air itu menghantam tanah tepat di depan George, menciptakan ledakan air yang sangat besar. Namun, saat uap air mulai menipis, terlihat George masih berdiri di posisi yang sama. Hanya saja, kakinya kini berpijak di atas lapisan es tipis yang menjalar dari telapak sepatunya, membekukan air yang seharusnya membasahinya.

"Bagaimana mungkin? Air itu memiliki tekanan alkimia tingkat tinggi. Seharusnya ia menghancurkan apa pun yang mencoba membekukannya secara paksa," gumam Seraphina dengan mata membelalak.

George menatap ke arah tribun. "Air di kerajaanmu mungkin bebas mengalir, tapi di hadapanku, ia harus belajar untuk diam."

"Jangan sombong! Gunakan teknik resonansi samudera sekarang!" perintah Seraphina kepada para penyihir Azure di bawah.

Tiba-tiba, suara dengungan rendah mulai terdengar dari arah kolam. Bola kristal Orbis Aquaris yang diletakkan di pinggir arena mulai bergetar hebat. Udara di sekitar George terasa seperti ditekan oleh ribuan gelombang suara yang tak terlihat. George merasakan tangan kristalnya mulai berdenyut sakit, seolah-olah ada palu yang memukul-mukul strukturnya dari dalam.

"Argh," George berlutut satu kaki, tangan kristalnya mulai mengeluarkan retakan cahaya ungu yang samar.

"George!" teriak Celestine. Ia berdiri dan mencoba merapal mantra, namun Theodore menahan tangannya.

"Tunggu, Celestine. Jika kau membantu sekarang, kita akan dianggap kalah secara diplomatis," bisik Theodore dengan raut wajah cemas.

"Tapi dia sedang mencoba menghancurkan tangan George!" balas Celestine geram.

Di tengah arena, Seraphina tersenyum puas. "Inilah fleksibilitas yang kukatakan, Jenderal. Kau terlalu kaku. Dan sesuatu yang kaku akan selalu retak di hadapan frekuensi yang tepat."

George mendongak, wajahnya dipenuhi keringat namun matanya tetap tajam. "Frekuensi yang tepat? Kau pikir aku hanya bongkahan es mati yang bisa kau pecahkan sesukamu?"

"Buktikan sebaliknya jika kau bisa!" tantang Seraphina.

George memejamkan mata. Ia tidak lagi mencoba melawan getaran itu dengan kekerasan. Ia teringat sesi meditasi semalam bersama Celestine. Ia membayangkan kehangatan matahari yang menetap di inti kristalnya. Perlahan, ia mulai menyelaraskan detak jantungnya dengan pendaran platinum yang diberikan Celestine.

"Celestine, berikan aku sinkronisasi sekarang," gumam George dalam hati.

Seolah mendengar panggilan itu, Celestine memejamkan mata dan menggumamkan mantra penyatuan. Cahaya keemasan tipis melesat dari tribun, menyentuh pundak George tanpa terlihat oleh orang awam. Seketika, denyut menyakitkan di tangan George berubah menjadi aliran energi yang hangat dan stabil.

George berdiri kembali dengan perlahan. Ia mengangkat tangan kristalnya tinggi-tinggi. Getaran dari Orbis Aquaris masih ada, namun kini kristal di lengannya justru menyerap getaran itu dan mengubahnya menjadi pendaran cahaya yang jauh lebih menyilaukan.

"Apa yang terjadi?" tanya Seraphina, kepanikannya mulai terlihat. "Kenapa resonansinya tidak bekerja? Seharusnya ia sudah hancur!"

"Karena es ini tidak lagi berdiri sendiri, Putri," jawab George. Ia melangkah maju mendekati naga air yang sedang bersiap menyerang lagi. "Es ini memiliki jiwa matahari. Dan matahari tidak akan pernah tunduk pada dinginnya air lautmu."

George menghujamkan telapak tangan kristalnya ke arah naga air itu. "Pemurnian Fajar: Pembekuan Absolut!"

Bukan ledakan yang terjadi, melainkan keheningan yang mencekam. Dari titik sentuhan tangan George, es berwarna putih mutiara merambat dengan kecepatan kilat, membekukan seluruh tubuh naga air raksasa itu dalam sekejap mata. Naga yang tadinya bergerak lincah kini menjadi patung kristal raksasa yang sangat indah, diam mematung di tengah arena.

"Tidak mungkin! Aqua Vitalis tidak bisa dibekukan sepenuhnya!" Seraphina berteriak sambil berdiri dari kursinya.

George berjalan mendekati patung naga itu dan menyentuhnya dengan ujung jari. "Di Valley, kami tidak menghancurkan keindahan. Kami menyempurnakannya. Air ini sekarang jauh lebih stabil daripada saat ia berada di dalam kolammu."

Seluruh arena terdiam selama beberapa detik sebelum sorak-sorai yang luar biasa meledak dari tribun rakyat Valley. Theodore berdiri dan bertepuk tangan dengan bangga, sementara Celestine mengembuskan napas lega yang panjang, air mata kebahagiaan hampir menetes di pipinya.

George berjalan menuju bawah tribun kehormatan dan memberikan hormat ksatria kepada Theodore, lalu beralih menatap Seraphina. "Ujian selesai, Putri Seraphina. Apakah airmu masih ingin mencoba mencari celah di esku?"

Seraphina tampak gemetar, wajahnya yang tadi tenang kini dipenuhi rasa malu dan kekaguman yang campur aduk. Ia perlahan duduk kembali di kursinya. "Aku... aku mengakui kekalahan teknis ini, Jenderal. Ternyata benar apa yang mereka katakan. Valley telah menemukan sesuatu yang melampaui logika alkimia kami."

"Bukan Valley yang menemukannya, Seraphina," potong Celestine dengan suara lantang. "Tapi hubungan antara dua orang yang saling percaya. Itulah sihir yang paling kuat di benua ini."

Theodore berdiri dan menenangkan massa. "Hadirin sekalian! Hari ini kita telah menyaksikan bahwa persahabatan antara Kerajaan Valley dan Kerajaan Azure tetap kokoh, sekuat kristal yang baru saja diciptakan oleh Jenderal George. Mari kita lanjutkan perayaan ini dengan jamuan teh di taman atas!"

Saat semua orang mulai meninggalkan tribun, Celestine berlari turun ke arena. Ia tidak peduli lagi dengan pandangan para bangsawan. Begitu sampai di depan George, ia langsung memeluk pria itu dengan erat.

"Kau luar biasa, George! Kau benar-benar melakukannya!" seru Celestine di pelukan George.

George membalas pelukan itu dengan tangan kirinya yang masih manusiawi, sementara tangan kristalnya tetap terasa sejuk di punggung Celestine. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu. Lapisan pelindungmu tadi... itu menyelamatkanku saat resonansi itu hampir memecahkan tulangku."

"Aku sudah bilang, kan? Aku tidak akan membiarkanmu retak," bisik Celestine.

"Jenderal George," suara Seraphina terdengar dari belakang mereka. Ia telah turun ke arena sendirian, tanpa pengawalnya.

George dan Celestine melepaskan pelukan mereka. George membungkuk hormat. "Putri Seraphina."

"Aku datang untuk meminta maaf secara pribadi," kata Seraphina, matanya kini terlihat lebih tulus. "Tujuanku awalnya memang ingin menguji batas kekuatanmu agar Azure memiliki posisi tawar yang lebih tinggi dalam aliansi dagang. Tapi setelah melihat apa yang kau lakukan tadi... aku menyadari bahwa kekuatanmu bukan untuk diperdagangkan. Itu adalah sesuatu yang suci."

"Terima kasih atas kejujuranmu, Putri," sahut George.

"Putri Celestine," Seraphina menatap Celestine. "Kau menang. Bukan hanya soal teknik alkimia, tapi kau memenangkan hati seorang ksatria yang paling teguh yang pernah kutemui. Jaga dia baik-baik."

"Aku akan selalu menjaganya, Seraphina. Tanpa kau minta pun," jawab Celestine dengan senyum kemenangan yang ramah.

Seraphina mengangguk, lalu ia berjalan pergi menuju kapalnya yang bersiap lepas landas. Theodore mendekati George dan Celestine, menepuk bahu mereka berdua dengan bangga.

"Nah, sekarang dunia tahu bahwa Valley bukan hanya kerajaan emas, tapi juga kerajaan yang memiliki pelindung yang tak terkalahkan," kata Theodore. "Bagaimana kalau kita merayakan ini dengan kue cokelat favoritmu, Celestine? Aku rasa Jenderal kita juga sudah sangat lapar setelah 'membekukan' ego Putri Azure."

George tertawa kecil. "Aku sangat setuju dengan bagian kue cokelat itu, Yang Mulia."

Mereka berjalan bertiga meninggalkan arena yang kini dihiasi oleh patung naga kristal abadi yang memantulkan cahaya matahari sore. Bab 18 ditutup dengan kedamaian yang kembali menyelimuti istana, namun kali ini dengan posisi George yang semakin kuat dan tidak tergoyahkan di hati rakyat maupun di samping sang putri matahari.

"George," panggil Celestine saat mereka berjalan di koridor menuju istana.

"Ya?"

"Besok kita mulai latihan akademi yang sebenarnya, ya? Tanpa ada lagi gangguan dari kerajaan lain."

"Tentu, Celestine. Selama kau yang menjadi pengawas utamanya," jawab George sambil menggenggam tangan Celestine erat-emas.

Kehidupan di Valley terus berputar, namun di bawah naungan Jenderal Pelindung Fajar dan Putri Matahari, masa depan kerajaan emas itu terlihat jauh lebih cerah dan abadi daripada kristal yang paling kuat sekalipun.

Sisa uap dingin dari naga air yang membeku masih melayang rendah di permukaan pasir arena, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti kaki George dan Celestine. Meskipun Seraphina sudah menjauh, suasana di arena itu masih menyisakan aura kekuatan yang luar biasa.

George menghela napas panjang, bahunya yang sedari tadi tegang akhirnya merosot. Ia menatap telapak tangan kristalnya yang masih berpendar halus.

"Kau benar-benar tidak apa-apa, George? Tanganmu... tadi aku melihat retakannya cukup dalam," tanya Celestine sambil meraih tangan kristal itu dengan lembut, memeriksanya di bawah cahaya matahari.

"Hanya permukaannya saja, Celestine. Manamu segera menutup celah itu sebelum resonansinya merusak struktur intinya," jawab George. Ia menatap wajah Celestine yang masih terlihat pucat. "Justru kau yang mengkhawatirkanku. Kau menghabiskan banyak mana untuk melindungiku dari tribun tadi."

Celestine tersenyum tipis, jarinya mengusap permukaan kristal putih yang kini kembali mulus. "Itu harga yang murah untuk melihat wajah terkejut Seraphina. Kau lihat bagaimana dia hampir menjatuhkan kipasnya saat kau membekukan naganya?"

"Aku lebih fokus menjaga agar jantungku tidak meledak karena getaran itu," gurau George.

Theodore berjalan mendekat sambil membetulkan letak mahkota peraknya yang sedikit miring. "Kalian berdua benar-benar harus berhenti membicarakan teknis sihir di tengah arena yang mulai dikerumuni orang. George, lihat ke atas."

George mendongak. Di tribun penonton, ribuan rakyat Valley tidak beranjak. Mereka mulai melemparkan kelopak bunga mawar dan koin emas kecil ke arah arena—sebuah tradisi Valley untuk menghormati pahlawan yang baru saja memenangkan pertarungan besar.

"Mereka mencintaimu, George. Lebih dari mereka mencintai alkemis mana pun di kota ini," ujar Theodore dengan nada bangga.

"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Yang Mulia," sahut George rendah.

"Dan itulah alasan kenapa mereka mencintaimu," potong Celestine. "Kau tidak mencari kemuliaan, tapi kemuliaan itu yang mengejarmu."

Tiba-tiba, seorang perwira muda dari kavaleri lama mendekat dan bersujud di depan George. "Jenderal! Kami mohon izin untuk mengawal Anda kembali ke istana. Rakyat di luar gerbang arena sudah berkumpul untuk menyambut kemenangan Anda!"

George melirik Theodore, meminta petunjuk. Theodore hanya mengangguk sambil tersenyum misterius. "Ikuti saja jalurnya, George. Ini adalah bagian dari tanggung jawab barumu."

Mereka berjalan keluar dari arena melalui gerbang utama. Benar saja, jalanan di sekitar arena sudah dipenuhi lautan manusia. Sorak-sorai membahana saat sosok sang Jenderal dengan zirah hitam-emasnya muncul. George berjalan di samping kereta terbuka bersama Celestine, sementara Theodore mengikuti di belakang.

"George, tersenyumlah sedikit. Kau terlihat seperti sedang menuju medan perang, bukan pesta kemenangan," bisik Celestine di telinga George.

"Aku tidak terbiasa dengan keramaian seperti ini, Celestine. Di utara, kemenangan dirayakan dengan keheningan dan doa," jawab George, namun ia akhirnya mengangkat tangannya untuk menyapa rakyat, yang memicu sorakan lebih keras.

"Anggap saja ini adalah doa versi Valley. Hanya sedikit lebih berisik dan penuh warna," balas Celestine sambil melambaikan tangan dengan anggun.

Setelah melewati kerumunan yang padat, mereka akhirnya sampai di gerbang dalam istana. Theodore segera memerintahkan pengawal untuk menutup gerbang agar mereka bisa beristirahat sejenak.

"Luar biasa," gumam George saat mereka sampai di aula depan. "Aku merasa lebih lelah menghadapi orang-orang itu daripada menghadapi naga air tadi."

"Itu karena kau belum terbiasa dengan energi rakyat Valley," kata Theodore sambil melepas jubah beratnya. "Tapi hari ini kau telah mengamankan posisi Valley di mata Azure. Mereka tidak akan berani main-main dengan perjanjian dagang kita selama beberapa dekade ke depan."

"Apakah Seraphina benar-benar akan pergi besok?" tanya Celestine.

"Kapalnya sedang mengisi energi sekarang. Dia akan berangkat saat fajar," jawab Theodore. "Dia meninggalkan pesan bahwa dia ingin mengundang kalian berdua ke Azure musim panas mendatang. Tentu saja, sebagai rekan diplomatik."

"Kita lihat saja nanti," sahut Celestine dengan nada yang masih sedikit protektif.

George duduk di salah satu kursi marmer, menatap pilar-pilar istana yang megah. "Jadi, babak ini sudah selesai?"

Celestine duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu George. "Babak ini selesai, tapi buku kita masih sangat panjang, George. Besok, akademi penyihir fajar secara resmi dibuka. Dan aku sudah menyiapkan daftar latihan yang sangat berat untukmu dan murid-muridmu."

"Latihan berat? Kau yang menyiapkannya?" George menaikkan alisnya.

"Tentu saja. Seorang penyihir harus tahu cara menahan beban mana di bawah tekanan fisik. Aku akan mengawasimu dari balkon latihan setiap pagi," kata Celestine dengan senyum manis yang penuh rencana.

"Sepertinya hidupku di Valley tidak akan setenang yang kubayangkan," gumam George sambil tersenyum tipis.

"Tenang itu membosankan, Jenderal," balas Celestine. "Lagipula, kau punya aku untuk memastikan hidupmu selalu penuh kejutan."

Theodore yang berdiri di dekat air mancur anggur mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke arah mereka. "Untuk Valley, untuk perdamaian, dan untuk sang matahari yang akhirnya menemukan es abadi yang bisa ia peluk tanpa pernah mencair!"

George dan Celestine saling bertukar pandang. Di tengah kemegahan istana emas dan sejarah agung yang melingkupi mereka, mereka menyadari bahwa kemenangan hari ini bukan hanya soal mengalahkan lawan, tapi soal mengukuhkan tempat mereka di dunia yang kini terasa jauh lebih hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!