Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Botol Kosong dan Lorong Sunyi
Di bawah cahaya remang-remang lampu darurat yang memancarkan warna kuning pucat, Aura berdiri di samping Falix, yang sedang menjelaskan detail rumit tentang koleksi aneh di hadapan mereka. Mereka berada di dalam sebuah ruangan batu yang lembap dan dingin, sebuah ruang penyimpanan artefak yang lebih mirip museum biologis yang mengerikan.
Meja-meja panjang yang terbuat dari kayu jati usang berjejer, menampung puluhan botol kaca transparan, masing-masing disegel rapat dengan tutup gabus dan di dalamnya, terperangkap, ada serangga-serangga purba yang diawetkan beberapa sebesar telapak tangan, lainnya berkilauan dengan warna-warna metalik yang mencolok. Udara terasa tebal, campuran antara bau debu tua, pengawet kimia, dan sedikit aroma manis yang sulit diidentifikasi.
Falix, dengan suara yang dipenuhi gairah seorang ahli, menunjuk ke sebuah botol berisi kumbang tanduk raksasa. "Lihatlah, Nona Aura. Spesies hewan beracun yang telah punah ribuan tahun lalu. Keajaiban, bukan? Makam ini bukan hanya kuburan bagi manusia, tapi juga arsip bagi kehidupan yang hilang."
Aura hanya mengangguk tipis. Secara naluriah, ia tidak sepenuhnya percaya pada penjelasan yang begitu gamblang. Tangannya bergerak cepat. Ponsel kokoh di genggamannya berbunyi pelan, menandakan ia sedang mengambil gambar secara berurutan, mendokumentasikan setiap botol, setiap serangga. Ia membiarkan pikirannya berkeliaran, mencari anomali di tengah keteraturan. Kieran, dengan sikap waspada yang konstan, berdiri agak menjauh, matanya menyapu setiap sudut bayangan, siap bereaksi.
Saat lensa kameranya beralih dari satu barisan botol ke barisan berikutnya, mata Aura yang tajam menangkap sesuatu yang janggal. Di antara dua puluh satu botol kaca yang seharusnya terisi penuh, ada satu tepat di tengah meja terakhir yang kosong.
Dua puluh satu botol kaca yang terisi, tapi kenapa hanya satu yang tidak terisi oleh serangga ya? batin Aura, alisnya sedikit bertaut. Jumlah itu terasa terlalu ganjil untuk sebuah kesalahan penempatan atau koleksi yang tidak lengkap. Itu tampak seperti sebuah celah yang disengaja.
Ia segera berhenti mengambil gambar, fokus sepenuhnya pada botol kosong itu. Botol itu bersih, tanpa noda, seolah baru dicuci, kontras dengan botol-botol lain yang tampak berusia ribuan tahun.
Tepat pada saat itu, langkah kaki berat dan kasar mendekat. Salah satu tentara yang bertugas menjaga perimeter terdekat, seorang pria muda dengan wajah lelah, berjalan terlalu dekat ke meja. Dengan kecerobohan yang tak terhindarkan dalam suasana tegang, bahunya menyenggol botol kosong itu.
Botol kaca itu berguling, bergerak menjauh dari barisannya, dan berhenti tepat di ujung meja. Tentara itu, menyadari kesalahannya, segera meraih botol itu. Namun, bukannya meletakkannya kembali ke posisi semula di antara botol-botol yang terisi, ia meletakkan botol kosong itu di luar formasi, di sudut meja. Sebuah tindakan kecil yang sepele, tetapi melanggar keheningan dan keteraturan yang ada.
Tiba-tiba, suasana berubah drastis. Sebuah hawa dingin menjalari ruangan, seolah-olah suhu udara turun beberapa derajat dalam sekejap.
Semua mata tertuju pada tentara itu dan botol kaca kosong yang kini berada di tempat yang salah. Tentara itu, menyadari tatapan tajam dari Falix dan Kieran, segera meletakkan botol kosong itu kembali ke tengah barisan botol yang terisi.
Namun, kerusakan telah terjadi.
Suasana yang berubah itu menjadi hening yang mencekam, tebal, dan menusuk. Bahkan napas Falix, yang sebelumnya bersemangat, tertahan. Tidak ada suara, kecuali detak jantung yang terasa berdentum di telinga masing-masing.
Kieran bergerak, bukan untuk menyerang, tetapi untuk melindungi. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan, ke atas langit-langit batu, dan ke lubang-lubang ventilasi yang gelap, mencari tanda-tanda bahaya yang mungkin telah diaktifkan oleh pergeseran botol itu. Ia meraba gagang pistolnya, jari-jarinya menegang.
"Ada apa, Kieran?" bisik Falix, suaranya parau oleh ketakutan yang terpendam. "Kenapa... kenapa sunyi sekali?"
"Diam," balas Kieran dengan suara rendah dan serak. "Ini terlalu sunyi. Ada sesuatu yang menunggu."
Ketegangan itu membentang seperti tali yang ditarik hingga hampir putus. Satu menit terasa seperti satu jam. Lima menit terasa seperti keabadian. Setelah tiga puluh menit yang panjang dan terasa membekukan, semua tampak sunyi. Tidak ada gempa, tidak ada perangkap yang meledak, tidak ada suara dengungan mekanis yang menandakan aktivasi sistem keamanan.
Semua merasa lega. Falix menghela napas panjang, dan ketegangan di bahu para tentara mulai mengendur.
Tepat pada saat itu, sebuah dinding batu di belakang Aura, sebuah dinding yang tampak kokoh dan utuh, mulai berderit pelan. Batu-batu itu bergeser, saling menggesek, dan sebuah celah vertikal muncul. Dinding itu, yang menyembunyikan sebuah pintu rahasia, terbuka sepenuhnya.
Semua segera menoleh ke arah sumber suara, ke arah Aura, yang berdiri di ambang pintu yang kini terbuka itu.
Aura juga menoleh, wajahnya menunjukkan kewaspadaan yang tinggi, tetapi matanya tetap tenang. Ia tidak melompat kaget atau berteriak. Seolah-olah ia sudah tahu bahwa ketenangan itu hanyalah ilusi yang singkat.
Kieran bereaksi secepat kilat. Ia bergerak dan segera berdiri di antara Aura dan pintu yang terbuka, melindungi Aura dengan tubuhnya yang besar dan tegap. "Jauhi dia! Siapkan senjata!" perintahnya kepada para prajurit dengan nada yang tegas.
Namun, itu bukan ancaman. Di balik pintu batu itu, terhampar sebuah lorong batu yang gelap, berundak, dan tampak membentang jauh ke bawah, menuju ke lantai berikutnya Lantai Ketujuh.
Falix melongok ke dalam kegelapan lorong itu. "Ini... ini adalah jalan turun? Tapi tidak ada yang menyebutkan tentang lorong rahasia di area penyimpanan."
"Jelas lorong rahasia," jawab Aura, bergerak sedikit ke samping Kieran. "Tempat seperti ini selalu memiliki lebih dari satu jalan. Dan tempat ini ingin kita turun, itu pasti."
Mereka tidak langsung masuk. Kieran mengisyaratkan kepada Aura. Aura mengangguk dan mengeluarkan sebuah drone saku kecil. Drone itu masih berfungsi sempurna dan segera meluncur ke dalam kegelapan lorong.
Saat drone itu menjelajahi lorong, Falix melihat desain unik dari drone tersebut bodi yang tipis, baling-baling yang nyaris tak bersuara, dan lensa yang jauh lebih canggih daripada model militer standar.
"Hai, Aura," tanya Falix, suaranya kembali ke nada keingintahuan yang gembira, sedikit mengurangi ketegangan di ruangan itu. "Apa drone-mu ini pernah kamu modifikasi sebelumnya? Desainnya... unik."
Aura mengangkat bahu santai, senyum tipis terukir di bibirnya, sebuah kontras dengan suasana yang baru saja mereka alami. "Pernah sih. Sedikit penyesuaian di motor dan optik. Kenapa, apa ada masalah dengan itu?"
Falix hanya menggelengkan kepala, matanya terpaku pada layar pemantau drone. "Tidak ada masalah. Hanya saja... ini seperti mahakarya. Jauh di atas rata-rata." Rasa kagumnya terasa tulus.
Drone itu terus melaju. Di layar, lorong itu tampak baik-baik saja: tidak ada jebakan laser, tidak ada lubang jatuhan, hanya lorong yang curam dan panjang, diukir ke dalam batu.
Mereka memasuki lorong dan menuruni undakan batu yang dingin. Setelah berjalan selama beberapa menit, drone mengirimkan data baru. Lorong itu bercabang.
"Dua jalan," gumam Kieran. "Periksa keduanya."
Drone itu segera dikirim untuk memeriksa lorong sebelah kiri. Layar menunjukkan jalan itu berakhir buntu. Hanya ada dinding batu yang padat.
"Jalan buntu. Waktunya membuang tenaga," kata salah satu tentara dengan nada kesal.
"Diam," tegur Kieran. "Coba kanan."
Drone beralih ke lorong kanan. Lorong ini jauh lebih luas dan segera terbuka ke sebuah ruangan yang besar dan melingkar ruangan itu tampak seperti semacam ruang pertemuan. Di tengah ruangan itu, terdapat meja bundar besar yang terbuat dari marmer hitam, dan mengelilingi meja itu, berdirilah patung-patung prajurit yang diukir dengan detail yang luar biasa.
Patung-patung itu terbuat dari batu giok hijau gelap, masing-masing memegang senjata dan mengenakan baju besi kuno. Mereka tampak seperti penjaga abadi.
Setelah memastikan tidak ada pergerakan, tidak ada jebakan, dan tidak ada tanda-tanda bahaya yang terdeteksi, Kieran membuat keputusan. "Kita masuk. Ini adalah Lantai Ketujuh, makam itu."
Langkah kaki mereka bergema saat mereka memasuki ruangan melingkar yang dingin dan agung itu. Falix segera berjalan menuju meja bundar, matanya berkilat-kilat karena penemuan.
"Ini... ini adalah Ruang Dewan! Mungkin peta, atau kunci untuk lapisan yang lebih dalam, tersimpan di sini!" serunya, suaranya bergema di antara patung-patung prajurit giok.
Sementara Falix sibuk mengamati meja, dan Kieran memberi perintah kepada para tentaranya untuk mengamankan perimeter, Aura berjalan perlahan. Ia tidak melihat ke meja, tetapi ke patung-patung di sekitarnya. Patung-patung itu tampak terlalu hidup. Detail mata mereka, lekukan otot mereka, semuanya terasa salah untuk patung mati.
Saat ia berjalan di antara dua patung prajurit, sebuah sensasi dingin, lebih dalam dari suhu ruangan, menjalar di punggungnya. Sensasi itu menusuk, seperti jarum es yang ditusukkan tepat di sarafnya.
Aura berhenti di tengah langkahnya. Detak jantungnya tiba-tiba berpacu kencang, sebuah alarm biologis berteriak di benaknya. Ia merasakan bahaya yang akan menghampiri mereka. Bukan bahaya fisik yang terlihat, bukan jebakan tali atau lubang, melainkan sesuatu yang jauh lebih halus, lebih dingin, dan lebih mematikan.
Ia mencoba fokus, mencoba mengidentifikasi sumber ancaman itu getaran di lantai? Perubahan arus udara? Aroma aneh?
Tidak ada.
Ia hanya memiliki perasaan yang sangat kuat, sangat visceral, bahwa patung-patung giok hijau yang berdiri diam di sekitar mereka itu... bukanlah patung biasa.
Ada yang salah. Ini bukan akhir lantai, ini adalah jebakan, dan itu sudah aktif.
Aura mengepalkan tangannya di samping tubuhnya, mencoba memastikan instingnya, tetapi ia tidak bisa memastikannya dengan baik apa itu. Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi ancaman ini membuatnya merasa frustrasi dan ketakutan yang dingin.
"Kieran!" panggilnya, suaranya sedikit tegang. "Kita harus keluar dari sini. Sekarang!"
Kieran berbalik, wajahnya bingung melihat kepanikan yang nyaris tidak terlihat di mata Aura. "Ada apa, Aura? Kami sudah mengamankan..."
Sebelum ia selesai bicara, salah satu patung prajurit yang berdiri di belakang Falix, patung yang paling dekat dengan pintu masuk, perlahan-lahan memiringkan kepalanya. Gerakannya lambat, nyaris tak terlihat, tetapi jelas.
Mereka telah membangunkan para penjaga.