NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kota Avalon

Terjebak Di Kota Avalon

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19.Kilas balik pembawa badai dan kota diatas awan.

Di dalam kereta kuda yang bergoyang pelan, mata Luna ria perlahan terpejam. Namun, pikirannya tidak kosong. Gambar demi gambar, kenangan demi kenangan mulai berputar di kepalanya seperti sebuah film lama yang diputar ulang.

Ia sadar, jiwa yang kini menempati tubuh rapuh ini bukanlah jiwa dari gadis penakut bernama Luna ria Star born. Jiwa ini milik seseorang yang jauh lebih keras, jauh lebih tajam, dan telah melihat sisi gelap dunia sejak ia masih berusia belia.

HONGARIA, TAHUN 1975 - MASA KECIL

Dunia tidak pernah ramah terhadap gadis kecil bernama Luna. Sejak ia masih bayi, ia sudah menjadi yatim piatu. Tidak ada yang menginginkannya, tidak ada yang peduli apakah ia hidup atau mati. Hingga suatu hari, seorang pria besar dengan tato serigala di lengannya menemukannya di pinggiran jalan yang beku.

Namanya Marco.

Marco bukanlah orang baik di mata hukum. Ia adalah pemimpin geng paling ditakuti, The White Wolves. Darah dan kekerasan adalah bahasa sehari-harinya. Namun, entah kenapa, saat melihat mata Luna yang tajam meski penuh kelaparan, pria kejam itu merasa ada sesuatu yang tersentuh.

"Anak kecil macammu tidak cocok menangis. Di sini, ikut dengan ku," ujar Marco saat itu, mengangkat tubuh kecil Luna ke dalam pelukannya. "Mulai hari ini, kau anakku. Dan kau akan tumbuh menjadi orang kepercayaan ku."

Dan benar saja. Masa kecil Luna sangat berbeda dengan anak perempuan lainnya.

Sementara teman-teman sebayanya bermain rumah-rumahan dengan boneka kain dan piring-piringan plastik, Luna duduk di lantai gudang yang dingin. Di tangannya bukan boneka, melainkan sebuah pistol mainan yang beratnya hampir seukuran kepalanya, dan pisau lipat tajam yang diajarkan cara membuka dan menutupnya dengan satu gerakan cepat.

"Jangan main-main dengan ini, Luna. Ini bukan mainan. Ini adalah alat untuk mempertahankan hidup," suara Marco terdengar tegas.

Hari-harinya diisi dengan latihan fisik yang menyiksa. Saat anak lain tidur nyenyak, Luna sudah bangun sebelum subuh untuk lari mengelilingi kota, berlatih tinju, bela diri, hingga belajar cara membongkar dan memasang kembali senjata api dalam waktu kurang dari sepuluh detik.

Ia belajar cara bertarung, cara memukul tepat di saraf, cara melumpuhkan lawan dengan sekali serangan, dan yang paling penting—cara tidak pernah menunjukkan rasa takut.

"Wanita lembut hanya akan diinjak-injak, Luna. Jadilah singa betina, agar semua orang gentar mendekat," nasihat Marco yang selalu terngiang di kepalanya.

Luna tumbuh bukan menjadi gadis yang manis dan lembut. Ia tumbuh menjadi sosok yang dingin, tegas, cerdas, dan sangat berbahaya. Ia adalah tangan kanan Marco, kepercayaan ayah angkatnya itu melebihi siapapun. Orang-orang di dunia bawah tanah memanggilnya "Putri Iblis". Tidak ada yang berani main mata dengannya.

Waktu berlalu, Marco mulai menua. Kesehatan pria tangguh itu mulai menurun. Ia memiliki seorang putra kandung bernama Jackson.

Jackson berbeda dengan ayahnya atau Luna. Jackson adalah pria yang lembut, baik hati, dan tidak suka kekerasan. Marco sangat menyayangi putranya, tapi ia khawatir. Jackson terlalu baik untuk hidup di dunia yang kejam ini. Ia butuh seseorang yang kuat untuk melindunginya dan menjaga warisan geng White Wolves.

Dan satu-satunya orang yang Marco percaya adalah Luna.

Suatu malam di ruangan yang remang-remang, Marco yang sudah terbaring lemah memegang tangan Luna erat-erat.

"Luna... Ayah tidak akan lama lagi," suara Marco serak. "Ayah punya satu permintaan terakhir. Satu janji yang harus kau tepati."

"Apa pun, Ayah. Luna akan lakukan," jawab Luna tegas.

"Nikahi Jackson. Jadikan dia suamimu. Jagalah dia, jagalah wilayah ini, dan jagalah nama baik keluarga kita. Hanya kau yang mampu, Luna. Hanya kau yang cukup kuat untuk menjadi pemimpin di belakangnya."

Luna terkejut. Ia tahu Jackson selama ini dekat dengan seorang wanita bernama Lula. Wanita itu cantik, berwajah polos, suaranya lembut, dan selalu terlihat seperti bidadari tak bersayap. Semua orang menyukainya, termasuk Luna sempat berpikir Lula adalah wanita baik-baik.

Tapi Luna tidak bisa menolak permintaan terakhir ayah angkatnya. Ia berhutang budi hidup pada Marco.

"Baik, Ayah. Aku janji. Aku akan menikah dengannya," ucap Luna mantap.

Luna pun memaksa Jackson untuk menerima pernikahan itu. Bukan karena cinta, tapi demi tanggung jawab. Jackson terpaksa menerima, meski hatinya tetap pada Lula.

Namun, di balik wajah manis Lula, tersimpan racun yang mematikan. Lula tidak terima. Ia merasa Luna merebut Jackson darinya. Rasa cemburu itu mengubah kecantikannya menjadi kejahatan yang mengerikan.

"Kau pikir Jackson bahagia denganmu?!" teriak Lula saat mereka bertemu di tepi Danau Balaton yang gelap. "Dia hanya takut padamu! Dia benci kekerasanmu! Dia mencintaiku! Hanya aku!"

"Janji adalah janji, Lula. Ini bukan soal perasaan, ini soal kehormatan," jawab Luna dingin, tidak mau berdebat panjang lebar.

Tapi Lula sudah kehilangan akal sehatnya. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka Luna tidak boleh hidup! pikirnya gila.

Dengan kekuatan penuh, Lula mendorong Luna sekuat tenaga.

"SELAMAT TINGGAL, LUNA!!"

BRUK!

Luna yang tidak siap, kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhempas mundur dan jatuh meluncur ke dalam danau yang dingin dan gelap.

Air yang dingin menyergap seluruh tubuhnya. Ia mencoba berenang, tapi beban pakaiannya dan kaget membuatnya perlahan tenggelam. Ia melihat wajah Lula yang tersenyum puas di atas permukaan air sebelum akhirnya gelap total menyelimuti kesadarannya.

KEMBALI PADA KENYATAAN

BR..UM... BR..UM...

Goyangan kereta dan suara derap kuda yang teratur membangunkan Luna ria dari lamunan panjang itu. Ia membuka matanya perlahan. Napasnya sedikit memburu, keringat dingin sedikit membasahi pelipisnya.

"Jadi... itu semua bukan mimpi ya..." gumamnya pelan. "Itu adalah kehidupanku yang sebenarnya. Dan sekarang... aku ada di sini."

Ia menunduk menatap tangannya sendiri. Tangan kecil, putih, dan rapuh. Bukan tangan yang pernah memegang senjata, bukan tangan yang pernah berlumuran darah. Tapi Luna tahu, di dalam tubuh kecil ini, ada jiwa singa betina yang siap menerkam siapa saja yang berani menghalanginya.

"Nona... Nona Luna ria?"

Suara lembut Ivy memanggil dari samping membuat Luna ria menoleh.

"Nona tersenyum sendiri dari tadi. Apakah Nona mengantuk?" tanya Ivy penuh perhatian.

Luna ria menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. Senyum yang membuat Ivy sedikit merinding karena terlihat sangat misterius dan berwibawa.

"Tidak, Ivy. Aku hanya... mengalami mimpi yang seperti nyata" jawab Luna ria pelan. "Jangan khawatir. Aku baik-baik saja."

"Aku kira nona sedang tidak enak badan. "

Lalu tatapan Luna berpaling kearah jendela kereta.

Ia menoleh ke arah jendela kereta. Kereta kini sudah memasuki batas kota. Dan apa yang ia lihat di luar sana membuat matanya sedikit membelalak, terpukau oleh keajaiban yang belum pernah ia lihat di kehidupannya yang dulu.

Kereta kuda itu terus melaju, meninggalkan jalanan tanah dan masuk ke jalanan yang diaspal dengan batu-batu berwarna perak yang berkilauan.

Pemandangan di depan mata Luna ria benar-benar luar biasa.

Ini bukan sekadar kota biasa. Ini adalah Avalon, kota sihir yang melayang.

Bangunan-bangunan menjulang tinggi menembus awan, bukan terbuat dari beton atau bata biasa, melainkan dari kristal, marmer berwarna-warni, dan kayu-kayu ajaib yang bercahaya. Arsitekturnya memadukan keanggunan istana dengan teknologi sihir yang canggih.

Di jalanan, bukan hanya kereta kuda yang lalu lalang, tapi juga kendaraan-kendaraan aneh yang melayang di udara, ditarik oleh energi sihir. Orang-orang berjalan dengan anggun, dan di setiap gerakan mereka, selalu ada efek magis yang memukau.

"Woahhh... lihat itu, Master!" seru Bimo yang duduk di dekat jendela lain, matanya berbinar-binar. "Itu sungainya mengalir ke atas!"

Luna ria melihat ke arah yang ditunjuk Bimo. Benar saja! Sebuah sungai kecil yang airnya berpendar biru muda mengalir menanjak naik di atas jembatan yang melintang di udara, seolah-olah hukum gravitasi tidak berlaku di sana.

"Itu sungai energi, Nona," jelaskan Ivy dengan bangga. "Airnya mengandung mana yang sangat murni. Di Avalon, sungai bisa mengalir ke mana saja sesuai keinginan penyihir yang mengendalikannya."

Luna ria terdiam. Di dunia lamanya, teknologi adalah mesin, listrik, dan senjata api. Tapi di sini... sihir adalah segalanya. Sihir adalah listrik, sihir adalah air, sihir adalah jalanan, dan sihir adalah kekuatan.

Kereta melintas di bawah sebuah gerbang besar yang terbuat dari emas dan kristal raksasa. Di atas gerbang itu terpahat tulisan besar dengan huruf-huruf yang bersinar:

WELCOME TO AVALON - THE CITY OF STARLIGHT

Suasana di dalam kota sangat hidup. Cahaya-cahaya lentera magis mulai menyala satu per satu seiring matahari yang mulai terbenam, menciptakan pemandangan seperti ribuan bintang yang jatuh ke bumi.

Namun, di balik keindahan yang memukau itu, Luna ria bisa merasakan sesuatu yang lain. Ia bisa merasakan aliran energi yang padat di udara. Setiap orang yang lewat memancarkan aura yang berbeda-beda. Ada yang hangat, ada yang dingin, ada yang kuat, dan ada yang lemah.

Tapi anehnya... tubuhnya tidak merasakan apa-apa. Ia tidak bisa merasakan aliran sihir itu mengalir di dalam dirinya seperti orang lain. Ia tetaplah ruang hampa.

"Ini seperti surga..." gumam Luna ria pelan, menyentuh dadanya sendiri. "Sayangnya aku tidak punya kekuatan sihir."

Tiba-tiba sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang penuh percaya diri.

"Nona, jangan sedih. " Ucap Ivy.

"Benar master, walaupun nona tidak punya sihir. Tapi nona lebih hebat dari penyihir di kota. "Ucap Lira.

" Iya master, master orang paling hebat diantara penyihir kota. "Ucap Rian.

Bimo walaupun tidak menghiburnya dia hanya mengangguk, mengiyakan semua ucapan temannya.

Luna hanya tersenyum, didalam kereta mereka berlima bercanda tanpa ada beban.

1
Frida
seru, ada romantisnya juga..buat deg2 an yg baca dan senyum2 sendiri.... kelanjutannya segera up banyak2 dong author please....😍👍
Kusii Yaati
mau seburuk apa riasan mu luna itu tak akan mempan buat pangeran KA El karena dia sudah pernah lihat wajahmu... tapi tidak apa" yang penting sakit hatimu sudah kau balas dengan mempermalukan wajah ayahmu yg kejam itu.semangat Thor nanti up lagi ya Thor 😁💪😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😁😁😁
Kusii Yaati
wah Luna ria hebat, walau tidak punya sihir tapi tubuhnya kebal akan serangan sihir 😱
Kusii Yaati
up lagi Thor yg banyak... penasaran gimana reaksi keluarga Luna ria melihat putri yang di buang menjadi Badas dan kuat 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor seru nih ceritanya 💪💪💪😘😘😘
Rubiyata Gimba
sepertinya ceritanya bagus thor abdit cepat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!