"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Mata Mr. Demir
Langkah kaki Rasyid menghantam lantai marmer koridor dengan suara yang menggema seperti detak jantung yang berpacu kencang.
Jubah hitamnya berkibar tertiup angin dari pendingin ruangan yang mendesis dingin.
Wajah albinonya yang biasanya tenang kini memerah, bukan karena malu, melainkan karena adrenalin dan amarah yang meledak.
Ia baru saja meninggalkan mimbar ceramahnya tanpa kata, mengabaikan ribuan pasang mata yang menatapnya bingung, hanya demi satu firasat yang meneriakkan nama Shanum.
“Shanum!” suaranya menggelegar saat ia mencapai ujung lorong yang buntu.
Ia melihat pintu kargo yang mengganjal. Tanpa ragu, Rasyid menghantam pintu itu dengan bahunya.
BRAKK!
Dobrakan itu begitu keras hingga engselnya menjerit. Begitu pintu terbuka, pemandangan di depannya membuat napas Rasyid tercekat.
Koridor itu sunyi, lampu di sana berkedip-kedip tidak stabil karena gangguan sinyal yang sengaja diciptakan.
Di sudut koridor, CCTV tampak berasap, hangus karena korsleting buatan yang sangat rapi.
Dan di sana, di atas lantai beton yang dingin, Shanum tergeletak tak berdaya.
Cadarnya sedikit tersingkap, memperlihatkan kulit wajahnya yang pucat. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Pelaku penculikan itu lenyap seolah ditelan bumi, meninggalkan Shanum seperti barang yang baru saja dijatuhkan dalam kepanikan.
Rasyid berlutut, menyambar tubuh Shanum ke dalam pelukannya. Tangannya yang putih pucat dan sedikit gemetar menangkup wajah istrinya.
Mata birunya yang tajam menatap liar ke seluruh sudut koridor, mencari ancaman yang mungkin masih bersembunyi.
“Zaki! Panggil dokter! Sekarang!” raung Rasyid saat rombongan panitia dan Zaki akhirnya menyusul dengan wajah pucat pasi.
Ruang Medis VIP
Suasana di ruang VIP berubah mencekam. Beberapa pejabat militer dan diplomat asing tampak berjaga di luar, sementara di dalam, Rasyid duduk di tepi ranjang medis tanpa melepas genggaman tangannya dari Shanum.
“Tekanan darahnya rendah, Kyai. Dia diberikan obat bius dosis tinggi melalui pernapasan,” jelas dokter pribadi yang didatangkan panitia.
“Tidak ada luka fisik serius, tapi efek sampingnya mungkin akan menimbulkan trauma psikis saat dia terbangun.”
Rasyid tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Shanum dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara proteksi yang dalam dan rasa gagal yang menghancurkan hatinya.
Beberapa saat kemudian, Shanum mulai merintih. Kelopak matanya bergerak gelisah sebelum akhirnya terbuka lebar.
Namun, bukan ketenangan yang ia rasakan. Begitu kesadarannya kembali, Shanum langsung terduduk dengan napas memburu.
Matanya liar, menatap setiap sudut ruangan seolah-olah bayangan Tuan Bajak Laut akan muncul dari setiap celah.
“Jangan... jangan sentuh aku!” teriak Shanum histeris saat seorang perawat mencoba mendekat untuk mengganti kompresnya.
Shanum mengalami panic attack hebat. Ia menarik napas pendek-pendek, tubuhnya gemetar seperti daun yang tertiup badai.
Ia kehilangan kemampuan untuk bicara; lidahnya kelu, hanya erangan ketakutan yang keluar dari tenggorokannya.
Namun, begitu matanya yang penuh air mata itu bertemu dengan mata biru Rasyid yang teduh, Shanum langsung menerjang.
Ia memeluk Rasyid begitu erat, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya seolah-olah itu adalah satu-satunya tempat teraman di alam semesta.
Rasyid mendekapnya, mengusap punggung Shanum dengan ritme yang menenangkan, membiarkan jubah hitamnya basah oleh air mata istrinya.
“Aku di sini, Shanum. Tidak akan ada yang menyentuhmu lagi,” bisik Rasyid, suaranya parau namun penuh kekuatan.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah yang sangat berwibawa.
Pria itu mengenakan setelan jas custom-made yang sangat mahal, dengan pin diplomatik Turki di kerahnya. Rasyid tertegun.
Ia mengenali wajah itu—pria yang tadinya bungkuk mengenakan topi OB di koridor, kini berdiri tegak dengan aura otoritas yang mampu membuat siapa pun di ruangan itu menahan napas.
Pria itu adalah Mr. Demir, tamu kehormatan dari Turki.
Mr. Demir berjalan mendekat, mengabaikan tatapan bingung para pejabat lainnya. Ia berhenti tepat di depan Rasyid dan Shanum.
Matanya menatap Shanum dengan tatapan rindu yang sangat pedih, seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang hilang selama puluhan tahun.
Tanpa berkata apa-apa, Mr. Demir mengeluarkan secarik kertas kecil dari sakunya dan memberikannya kepada Rasyid.
Rasyid membukanya dan melihat tulisan tangan dalam bahasa Turki yang tegas:
Bu Prensesi koru, yoksa tüm dünyan mahvolur.(Lindungi putri ini, atau seluruh duniamu akan hancur.)
Rasyid, yang memang menguasai beberapa bahasa asing termasuk Turki untuk studi kitab-kitab sejarahnya, langsung membeku.
Ia menatap Mr. Demir dengan tatapan menuntut jawaban.
“Apa maksudnya ini?” tanya Rasyid dalam bahasa Turki yang fasih.
Mr. Demir tidak menjawab dalam bahasa asalnya. Ia justru memilih menggunakan bahasa Indonesia.
Suaranya terdengar berat, dengan artikulasi yang lambat dan kaku seolah lidahnya harus bertarung dengan setiap kosakata asing yang ia ucapkan.
Tekanan pada huruf-huruf konsonannya terasa ganjil, namun volume suaranya yang rendah justru memberikan efek intimidasi yang jauh lebih mengerikan daripada gertakan.
“Jaga Putri itu dengan nyawamu,” ucap Mr. Demir. Kalimatnya pendek, jeda di antara katanya terasa berat seperti beban beton.
“Atau seluruh duniamu akan hancur oleh badai yang tidak bisa kau bayangkan.”
Meski pelafalannya tidak sempurna, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti vonis mati.
Setelah memberikan peringatan itu, ia menoleh ke arah pengawalnya.
Aura kaku saat berbahasa Indonesia tadi lenyap seketika, berganti dengan instruksi bahasa Inggris yang tajam, lancar, dan sangat mendominasi.
“Move out. We’re done here. Secure the perimeter.”(Keluar. Kita sudah selesai di sini. Amankan area sekitarnya.)
15 Menit Sebelumnya
Saat Tuan Bajak Laut sedang menyeret Shanum menuju pintu kargo, “Kakek OB” itu bergerak seperti hantu.
Begitu Tuan Bajak Laut mengeluarkan belatinya, Mr. Demir—yang saat itu masih dalam penyamaran—melakukan gerakan eksplosif.
Ia tidak menggunakan tenaga kasar. Ia menggunakan teknik Systema tingkat tinggi.
Saat Tuan Bajak Laut menikam, Mr. Demir hanya menggeser tubuhnya satu inci, menangkap pergelangan tangan pria besar itu, dan dengan satu sentuhan di titik saraf, membuat belati itu jatuh berdenting.
Mr. Demir menghantamkan sikutnya ke ulu hati Tuan Bajak Laut, lalu melakukan tendangan low-kick yang menghancurkan keseimbangan pria besar itu.
Di saat yang sama, tim bayangan Mr. Demir yang menyamar sebagai teknisi gedung muncul dari balik ventilasi dan koridor rahasia.
Si pemilik rumah bordil yang mencoba melarikan diri pun tidak berkutik saat seorang agen wanita menangkap lehernya dan memberikan suntikan penenang instan.
Semuanya terjadi tanpa suara, tanpa kekacauan, seperti sebuah operasi militer yang sempurna.
“Bawa mereka ke gudang tua,” perintah Mr. Demir dingin saat ia melihat Rasyid mulai mendekati koridor.
“Biarkan sang Kyai menemukan istrinya tanpa gangguan.”
Gedung Tua – Pinggiran Kota
Suasana di gudang tua itu sangat mencekam. Hanya ada satu lampu bohlam yang berayun.
Tuan Bajak Laut dan wanita pemilik rumah bordil digantung terbalik dengan rantai besi.
Darah menetes dari wajah Tuan Bajak Laut, jatuh ke semen yang kotor.
Mr. Demir berdiri di hadapan mereka, memegang sebatang cerutu yang menyala. Ia menatap kedua tawanannya dengan pandangan dingin seorang algojo.
Saat ia mulai bicara, bahasa Indonesia-nya terdengar seperti mesin yang dipaksakan bekerja; patah-patah, kaku, dengan intonasi yang tidak selaras dengan emosi wajahnya yang datar.
“Kamu telah melampaui batas,” suara Mr. Demir bergema.
Ada jeda panjang sebelum ia melanjutkan kata berikutnya, seolah ia sedang menerjemahkan amarahnya di dalam kepala.
“Aku meminta kamu menjaga Tuan Putri, tetapi kamu... malah menyiksanya.”
“Kami... kami tidak tahu siapa dia sebenarnya, Tuan!” Si pemilik rumah bordil merintih.
Mr. Demir tidak peduli. Ia mendekat, menempelkan ujung cerutunya yang panas ke tangan si wanita.
Sambil mendengarkan jeritan itu, ia berbisik dengan suara yang pelan namun penuh penekanan pada setiap suku kata yang ia ucapkan secara kaku.
“Kamu memperlakukannya seperti barang dagangan. Sekarang, biarkan aku mengajarimu arti kegelapan yang sebenarnya.”
Ia berbalik, tidak sudi lagi bergelut dengan keterbatasan bahasanya untuk menghakimi sampah seperti mereka.
Ia menatap anak buahnya yang bersenjata lengkap dan memberikan perintah final dalam bahasa Inggris yang dingin dan otoriter.
“Finish them slowly. Make sure they regret every single second they spent hurting her. Total blackout after this. No mercy, understood?”
(Habisi mereka perlahan-lahan. Pastikan mereka menyesali setiap detik yang mereka habiskan untuk menyakitinya. Harus benar-benar mati setelah ini. Tidak ada ampun, mengerti?)
Anak buahnya serentak menjawab, “Yes, Sir!”
Mr. Demir melangkah keluar dari gudang. Pikirannya melayang pada Rasyid, sang Kyai Albino bermata biru.
Permainan besar baru saja dimulai, dan Rasyid hanyalah bidak yang belum menyadari bahwa ia sedang menjaga jantung dari sebuah kekaisaran yang terlupakan.