NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Memecah Dingin di Balik Selimut

Kamar utama Glanzwald kembali ke sunyi yang semestinya. Tidak ada lagi interupsi dari Ibu atau Nenek Matthew. Hanya ada deru halus AC dan detak jam dinding yang seolah menghitung jarak antara dua bantal yang terpisah jauh.

Malam itu, Daisy tidur di sisi paling pinggir. Ia memeluk gulingnya seolah benda itu adalah benteng pertahanan terakhir. Pikirannya masih kacau; antara rasa muak pada masa lalu Matthew dan fakta bahwa pria itu adalah suaminya yang sah. Ia tertidur dengan perasaan lelah yang luar biasa.

Namun, tubuh manusia punya logikanya sendiri saat kesadaran padam.

Pukul empat pagi, suhu kamar turun drastis. Daisy, dalam tidurnya, mulai merasa kedinginan. Secara naluriah, ia mencari sumber panas. Gulingnya terasa tidak cukup. Ia mulai bergerak ke tengah, mencari sesuatu yang lebih kokoh, lebih hangat.

Saat fajar mulai menyingsing, Daisy perlahan membuka matanya.

Hal pertama yang ia rasakan adalah tekstur kulit yang hangat dan keras. Ia tidak sedang memeluk guling. Tangannya melingkar erat di pinggang seseorang—pinggang yang kokoh dan berotot. Kepalanya bersandar nyaman di atas dada bidang yang naik turun secara teratur. Aroma cendana dan sabun maskulin menyerbu indranya, membuat jantungnya berdegup kencang seketika.

Daisy tersentak dalam diam. Ia menyadari posisinya: ia meringkuk sepenuhnya di pelukan Matthew. Salah satu kaki Daisy bahkan bertengger di atas paha suaminya. Dan yang paling mengejutkan, lengan kekar Matthew melingkar di bahunya, menariknya begitu rapat hingga tidak ada celah udara di antara mereka.

Daisy mendongak pelan, berharap Matthew masih tidur.

Namun, ia justru disambut oleh sepasang mata dark blue yang sudah terbuka lebar. Matthew sedang menatapnya. Bukan dengan tatapan Jenderal yang memerintah, tapi dengan tatapan yang dalam, tenang, dan... sedikit haus.

"Sudah bangun?" Suara Matthew sangat serak, getarannya terasa langsung di dada Daisy.

Daisy ingin segera melepaskan diri, tapi pelukan Matthew justru mengencang. "Lepaskan saya, Jenderal. Ini... ini kecelakaan. Saya tidak sadar."

Matthew tidak bergerak. Ia justru menundukkan kepalanya, hingga ujung hidungnya bersentuhan dengan dahi Daisy. "Kecelakaan yang berlangsung selama dua jam, Daisy? Kau mencari kehangatanku sendiri. Kau yang memulainya."

Daisy merasakan wajahnya memanas hebat. Ia mencoba mendorong dada Matthew, tapi tangannya justru menyentuh kulit telanjang suaminya yang hangat. Matthew memang tidak pernah suka memakai atasan saat tidur.

"Tetap saja, Anda seharusnya mendorong saya kembali ke sisi saya," desis Daisy, mencoba mempertahankan formalitasnya.

"Kenapa aku harus melakukan itu?" Matthew berbisik tepat di depan bibir Daisy. "Aku adalah suamimu. Dan ini bukan pertama kalinya dalam tiga tahun kau memelukku seolah kau benar-benar membutuhkanku."

Daisy tertegun. Apa? Bukan pertama kalinya? Membutuhkannya? Ada nada keputusasaan yang sangat tipis dalam suara Matthew. Pria ini, yang sanggup membunuh di medan perang, sekarang terdengar seolah nyawanya bergantung pada pelukan pagi ini.

"Saya tidak membutuhkan Anda," bantah Daisy, meski suaranya bergetar. "Saya hanya kedinginan."

"Kalau begitu, gunakan aku sebagai pemanasmu," sahut Matthew kaku. "Anggap saja aku adalah salah satu fasilitas di kamar ini yang bisa kau gunakan sepuasnya."

Sifat kaku Matthew memang tidak tertolong. Bahkan saat merayu pun, dia terdengar seperti sedang menawarkan inventaris militer.

Daisy menatap mata Matthew. Ia melihat luka, ia melihat obsesi yang kini ia tahu asalnya, tapi ia juga melihat sesuatu yang baru, rasa takut akan kehilangan. Daisy teringat bagaimana Matthew menggendongnya tempo hari. Matthew tidak tahu cara membujuk dengan kata-kata manis, jadi dia menggunakan tubuhnya sebagai pelindung—atau dalam hal ini, sebagai pemanas.

"Anda pria yang aneh, Jenderal," ucap Daisy akhirnya. Ia berhenti memberontak, tapi ia juga tidak membalas pelukan itu dengan hangat. Ia hanya membiarkan dirinya berada di sana untuk beberapa saat lagi.

"Aku hanya pria yang sedang menjalankan tugas, Daisy," Matthew membalas. Ia mengusap rambut hitam Daisy yang berantakan dengan jemarinya yang kasar. "Tugas untuk memastikan mu tidak membeku di rumah ini sendirian."

Keintiman ini terasa aneh. Tidak ada ciuman, tidak ada kata-kata cinta. Hanya dua manusia yang saling mengunci dalam pelukan kaku di bawah selimut sutra hitam.

"Jangan berpikir ini akan mengubah segalanya," bisik Daisy. "Saya tetap tidak menyukai cara Anda memerintah saya."

"Aku tahu," jawab Matthew. Ia membenamkan wajahnya di leher Daisy, menghirup aroma bakung yang menenangkan. "Tapi setidaknya untuk saat ini, berhentilah memanggil ku Jenderal. Di bawah selimut ini, tidak ada pangkat."

Daisy terdiam. Ia merasakan hembusan napas Matthew yang hangat di lehernya. Untuk pertama kalinya, Daisy merasakan bahwa Jenderal yang menakutkan ini sebenarnya sangat rapuh. Ia merasa seolah sedang memeluk sebuah gunung es yang perlahan-lahan mulai retak dari dalam.

Matahari kini sudah naik sepenuhnya. Matthew perlahan melepaskan pelukannya, memberikan ruang bagi Daisy untuk turun dari ranjang. Ia kembali menjadi pria kaku yang duduk di tepi tempat tidur dengan punggung tegak.

"Sarapan akan siap dalam tiga puluh menit," ucap Matthew tanpa menoleh. "Jangan sampai aku harus menjemputmu lagi ke studio."

Daisy tidak menjawab. Ia segera masuk ke kamar mandi, mengunci pintunya, dan bersandar di sana dengan napas terengah-engah. Ia menatap pantulannya di cermin. Pipinya merona merah.

"Kau gila, Daisy," bisiknya pada diri sendiri. "Kau hampir saja luluh pada pria yang tidak tahu cara meminta maaf."

Di kamar, Matthew menatap bekas lekukan tubuh Daisy di kasur. Ia meraba sisi tempat tidur yang masih hangat. Rasa posesifnya berteriak untuk tidak melepaskan Daisy, tapi rasa takutnya akan masa lalu memaksanya untuk tetap diam.

Pagi itu, mereka sarapan dalam diam yang lebih berat dari biasanya. Dua makhluk asing yang baru saja berbagi kehangatan paling intim, kini kembali dipisahkan oleh meja panjang dan harga diri yang setinggi langit.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!