Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan berdarah
Kicauan jangkrik menyambut kesadaran Dendi yang berangsur pulih. Matanya terbuka, mendapati diri terikat di kursi dalam ruangan bercahaya redup. Ia terbelalak melihat sebuah manekin tepat di hadapannya, wajah manekin itu ditempeli foto dirinya saat menjabat dulu.
"Sudah bangun?" Sebuah suara muncul dari sudut gelap.
"Siapa kamu?!" teriak Dendi panik.
Sosok itu melangkah maju. Pisau di tangannya berkilatan memantul cahaya. Tanpa sepatah kata, sosok itu justru memutus tali pengikat Dendi.
Merasa mendapat celah, Dendi segera memacu kakinya keluar, menembus rimbunnya hutan. Ia tertawa liar dalam pelarian, mengutuk kebodohan penculiknya. "Hahaha! Aku bebas!"
Namun, ia tak sadar bahwa predator tak pernah melepaskan mangsa tanpa alasan.
DOR!
"ARGH!" Pekikan Dendi membelah malam. Sebutir peluru bersarang di betisnya, memaksa tubuh gemuk itu mencium tanah. Ia mengerang, menggigit bibir hingga berdarah demi menahan nyeri yang berdenyut hebat.
SRAK...
SRAK...
Suara langkah sepatu bot menyapu dedaunan kering. Makin dekat, makin dingin.
"Kau bukan anak kecil lagi. Berhenti bermain kejar-kejaran," suara wanita itu terdengar datar, nyaris bosan.
Sosok langsing berbalut pakaian serba hitam itu berdiri kokoh di hadapan Dendi. Di pinggangnya, terselip pistol dan berbagai senjata tajam.
"Gara-gara kau, aku terpaksa membuang satu peluru. Penglihatanku buruk di malam hari, jadi jangan menyusahkanku."
"Tolong...lepaskan aku! Apa pun... aku akan beri apa pun!" Dendi bersujud, harga dirinya luruh di hadapan maut. "Uang! Jabatan! Semuanya milikmu!"
Tawa wanita itu pecah, melengking menyeramkan. "Uang? Kau pikir semuanya bisa dibeli?" Ia melangkah maju, lalu tanpa peringatan, sepatunya menginjak luka di betis Dendi.
"ARGH!"
"Jabatan? Aku tidak tertarik duduk di kursi berlumur kotoran darimu," desisnya. Ia mencengkeram rambut Dendi, memaksa pria itu menatap manik mata cokelatnya yang berkilat kejam.
"P-pihak hukum... relasiku... mereka tidak akan melepaskanmu!" ancam Dendi dengan napas tersenggal.
Wanita itu tersenyum sinis. "Persetan dengan hukum. Aku bisa menghabisimu tanpa jejak."
Sebuah pisau lipat berkarat ditarik keluar. Dendi gemetar, air mata ketakutan mengalir di pipinya. "Siapa kamu? Aku tidak pernah melakukan kesalahan. Kenapa kamu melakukan ini kepadaku?"
"Ssst. Jangan banyak bertanya, nikmati saja detik terakhirmu ini."
CRAT!
Pisau itu menembus tanpa ampun. Wanita itu tampak sangat menikmati setiap tetes darah yang memercik ke wajahnya. Satu tusukan tidak cukup. Ia menancapkan pisaunya berkali-kali secara acak, merobek daging hingga jasad Dendi tak lagi berbentuk.
"Selamat jalan, kelinci gemukku."
...----------------...
Surabaya, 07.00 WIB
Rafan menyesap teh hangatnya sembari menatap layar televisi di ruang kamar. Berita pagi ini dipenuhi horor, ledakan bom di pertemuan partai politik yang memakan lima puluh korban jiwa.
Sebagai Komisaris, Rafan sudah kenyang dengan kasus seperti ini. Namun berita, berikutnya benar-benar menghentikan detak jantungnya.
"Ditemukan mayat pria berusia 60 tahun di hutan bambu. Korban diidentifikasi sebagai mantan Gubernur Jawa Timur, Dendi Hasno..."
Rafan terpaku. Layar televisi menampilkan lokasi kejadian, tanah berdarah di tengah hutan. Mayat yang tersorot kamera tampak mengenaskan dengan luka sayatan di sekujur tubuh.
"Itu benar-benar Pak Dendi," gumam Rafan. Ia mengenal wajah itu, pria yang ditemui saat pelantikan jabatan tahun lalu.
DRT...
DRT...
Ponsel di sofa bergetar. Rafan segera mengangkatnya.
"Selamat pagi, Pak," sapa Rafan normal.
"Selamat pagi, Komisaris Rafan. Pasti kamu sudah dengar berita pembunuhan Dendi Hasno? Kemasi barangmu. Mulai hari ini, kamu dipindah ke Surabaya untuk mengambil alih kasus ini."
Rafan terdiam, seolah disambar petir. Bukan ia enggan bertugas, tapi ia baru saja menutup kasus penculikan kemarin dan sangat butuh istirahat.
"Komisaris Rafan? Kamu mendengarku?
"Siap, Pak! Saya segera berkemas."
Sambungan terputus. Rafan menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan desahan berat. Matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan. Liburan yang ia impikan lenyap begitu saja, berganti dengan bayang-bayang misteri pembunuhan politikus paling berpengaruh di Jawa Timur.