Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obat
Mega dan Harry yang baru masuk ikut membeku di tempatnya, dengan gerakan slow motion mereka saling pandang.
Sepertinya tidak bisa dilanjutkan, karena Aura di sekitar mereka menyeramkan, Kedua petinggi perusahaan sepertinya akan adu otot sebentar lagi.
Bahkan suhu AC di ruangan itu seolah mati, pelan tapi pasti berubah panas dan siap meledak sebentar lagi
"Maaf, sepertinya bukan saat yang tepat" Harry segera berbalik dan pergi.
"Saya akan memastikan mobil kita siap Nona" Sahut Mega segera mengikuti Harry yang lebih dulu meninggalkannya.
Harry merasa lega saat berada di luar, menghela nafas dan mengusap dadanya perlahan, rasanya bisa selamat dari uap api neraka saja.
Begitu juga dengan Mega, bahkan kini terasa plong nafasnya, setelah beberapa detik lalu lehernya seperti terjerat tali untuk gantung diri.
"Gila, aku tidak mau mati disana" ucap Harry melihat ke arah Mega.
"Aku juga" sahut Mega kini bisa mengatur nafasnya kembali.
Satu orang seperti Graven saja sudah cukup membuat udara dalam ruangan kadang sedingin di kutub Utara, di tambah lagi satu wanita yang lebih mirip putri salju sedang murka sesaat tadi, NGERI!
Keduanya lalu segera pergi terburu ke tempat yang berbeda, Mega pergi ke lantai dasar untuk menunggu mobil jemputan dari perusahaannya, sedangkan Harry kembali ke ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara di dalam sana, keadaan semakin terasa horor, saat Sera bersiap dengan perlawanan yang akan di berikan, tentu saja dia tidak setuju sama sekali.
"Kamu sudah punya email perusahaan, Nomer ponsel sekretaris pribadiku, bahkan Email dan Nomer kontak pribadiku, apa masih kurang caramu ikut campur kehidupanku hingga harus bekerja saja juga nempel padaku?!" teriak Sera murka.
"Aku butuh konfirmasi yang cepat"
"Telpon aku dan bahkan hanya sepersekian detik aku akan menjawab mu" sahut Sera.
"Itu tidak cukup"
"Tolong Tuan Graven yang terhormat, beri satu alasan logis kenapa saya harus menyetujui ide gila mu?!"
"Karena akan lebih efektif dan menghasilkan keputusan yang cepat saat kita bisa langsung diskusi dengan cepat, face to face" Graven dengan tenang menjelaskan.
"Apalagi kita akan bekerjasama di waktu yang sangat lama, emosi yang tidak stabil dan keadaan yang kita tidak tau akan mempengaruhi keputusan, kecuali kita bicara langsung berhadapan, jadi bisa saling mengontrol, iya kan?" sambung Graven meyakinkan alasannya.
"Alasan yang gak masuk akal!"
"Jika begitu buka pikiran mu, agar apa yang aku jelaskan bisa masuk dengan baik ke otak mu"
"Tetap saja itu keterlaluan, kamu seperti bukan mau bekerjasama, tapi mau merenggut perusahaan ku, juga hidupku!" teriak Sera.
"Kita coba saja, dan aku pastikan kamu akan menerima hasil positifnya, sekalian aku bisa mengajarimu bagaimana menjadi CEO yang handal dalam mengkontrol semua pekerjanya"
Sera berusaha mengkontrol emosinya, mengatur nafasnya dan_
"NGGAK!"
Sera menolak dengan tegas.
"Aku butuh akses langsung ke CEO Megatan Company Sera" ucap Graven dengan wajah seriusnya.
"Dan aku sebagai CEO Megatan Company tidak mengijinkannya" jawab Sera tak kalah seriusnya.
"Kalau begitu, sepertinya kamu butuh saran dari Nyonya Alena selaku pimpinan sebelumnya"
"Apa?!"
"Iya, aku mendapat akses langsung pada beliau, dan akan aku gunakan jika mengalami kesulitan"
Sial, kenapa juga ini orang bawa-bawa nama Omanya, jelas saja dia akan kena getahnya.
"Okey, begini, koordinasi dengan ku tidak harus bertemu langsung apalagi sampai harus bangun pos ronda di perusahaan ku" ucap Sera.
"Aku bukan satpam Sera"
"Maksudku bukan seperti itu!" Sera makin kesal saja ngomong sama orang modelan anak iblis yang keluar dari neraka tanpa ijin, berbuat semuanya dan menyesatkan manusia.
"Aku hanya minta satu ruangan saja, untukku dan tim, jadi memudahkan kita saat akan mengadakan meeting dadakan dan juga observasi pekerjaan"
Sera merasa aneh dengan kalimat terakhirnya, mengerutkan alis dan_
"OBSERVASI?" tanya nya pelan untuk memastikan.
Graven mengangguk pelan.
"Hem, untuk mengontrol proyek yang kita jalankan, semua bisa di lakukan bersama-sama dengan dua perusahaan, aku dan kamu"
Jika Grevan tersenyum penuh kepastian, Sera sebaliknya, tersenyum seolah siap menghadapi kematian.
"Jadi dengan kata lain kamu membangun pusat nuklir di perusahaan ku dan siap kamu ledakkan kapan saja, begitu?"
"Itu terlalu negatif Nona Sera, ber positif thinking lah agar kau bahagia"
Apa dia bilang?, bahagia?, bahagia pala mu!, dia dengan santai sudah memporak porandakan hidupnya dan sekarang malah bilang suruh bahagia, lama-lama Sera pengen gelut juga sama laki-laki di depannya.
Bernafas dengan pelan, Sera berusaha sekuat tenaga mengendalikan dirinya.
"Okey, aku setuju soal semua yang kamu katakan itu, kamu sekarang CEO hebat, bukan hanya lintas kita tapi juga lintas negara, tender yang kau pegang tidak ada yang kecil, hampir semua gede dan berhasil dengan baik, tapi tolong, nggak harus ngatur ruangan kerja kan?"
Ada anggukan pelan dan juga senyuman.
"Aku rasa tidak perlu di perdebatkan lagi, aku sudah mendapat ACC dari Oma kamu tercinta" Graven menunjukkan pesan masuk di email-nya.
"TIDAK!"
Sera melihat isi email itu dengan jelas di ponsel Graven yang di tunjukkan, sungguh tak dapat di percaya, Sera sampai ternganga melihatnya.
"Mungkin kau bisa duduk dulu Nona Sera, untuk menenangkan diri mu" ucap Graven, lalu dia berjalan pelan menuju meja di pojok ruangannya, menyeduh coklat panas dua gelas, lalu dengan langkah pasti membawa kembali.
"Minum?" ucap Graven menyodorkan satu cangkir di depan Sera.
Sera yang masih tak percaya dengan keadaan yang ada, hanya terdiam, menatap cangkir yang di terimanya pelan.
"Minumlah" ucap Graven sekali lagi.
"Ini apa?, Sianida?" tanya Sera pelan.
Graven menaikkan satu alisnya, lalu tersenyum tipis, merasakan tekanan yang di rasakan wanita di depannya.
"Aku bermain aman, sianida masih bisa dilacak dengan mudah, bisa ketahuan"
Sera hanya menghela nafasnya, memangnya dia bisa apalagi sekarang, bahkan sang Oma saja berada di pihak lawan, benar-benar tidak bisa di andalkan, batinnya.
Bau Coklat kesukaannya, Sera sangat bisa menciumnya, lumayan juga selera laki-laki yang pengen di bunuhnya kali ini, dan Sera meminumnya perlahan.
"Coklat hangat dan sedikit campuran obat yang membuat libido meningkat" ucap Graven tiba-tiba.
Sera terkejut, matanya seketika melebar dan detik berikutnya_ MUNCRAT!
"Graven, apa kamu bilang?!" teriaknya.
Justru hal itu, sisa coklat yang tumpah tak beraturan di mulutnya, membuat pemandangan panas di otak Graven saat itu juga, perlahan mengambil tissue dan mendekati Sera yang kini sudah terdorong ke belakang hingga membentur tembok.
Membersihkan bibirnya pelan, Graven menikmati semua pemandangan yang memabukkan dan berbisik_
"Apa obatnya sudah mulai bekerja?"
GRAVEN SIALAN!
Bersambung.
Komen yang banyak ya, tolong dukungannya.
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭