DISKRIPSI
Tersebutlah di Distrik Ahinan Dusun Be jie
ada sepasang suami istri yang telah dikaruniai seorang Anak perempuan yang bernama Mey Ling. Dan anehnya di punggung Mey Ling seperti ada tatto yang bertuliskan Lady Ma,seorang selir dari masa Dinasty Ming
.
Pada saat berumur 12 tahun anak ini bermimpi di ajak ke sebuah goa oleh sang nenek dan di wariskan harta karun. Tersebarnya berita itu membuat banyak pihak memburu harta ini.
Suatu hari berita ini sampai keKaisaran, yang menyebabkan Mey Ling menjadi rebutan para pendekar dan para Prajurit Kekaisaran. Untuk mencari harta karun banyak terjadi pertempuran dan pertumpahan darah. Merasa menjadi ujung tombak permasalahan ini, May Ling akhirnya melarikan diri dalam kegelapan malam di sebuah hutan bambu.
Tapi sesuatu telah terjadi ke pada May Ling
Apakah Itu??
Silahkan Reader baca kelanjutan kisah Mey Ling Reinkarnasi Lady Ma.
Reader akan di ajak bernostagia di Negara Tirai Bambu, Mengenal gunung yang indah...
Lembah yang seperti sorga atau Sungai yang airnya bening berwarna hijau seperti permandian bidadari Sorga.
💜💜💜💜💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendaki Gunung Himalaya.
Bab.19
Sebagai salah satu pewaris ilmu silat
dari Lembah Pujian, Fang Yin dengan mudah mengalahkan lawan. Belum ada
dua puluh jurus lawan sudah tergeletak bersimbah darah. Fang Yin mendekati Wanita yang memeluk Putrinya sambil menangis.
"Bibi, tolong ceritakan kenapa bisa Putri
Bibi di culik oleh Mereka?" tanya Fang
Yin menatap Wanita itu dengan prihatin.
"Semua anak Gadis di Desa Kami diculik
Oleh suruhan Kaisar," sahut Wanita itu bersedih.
"Bibi, tidak mungkin Kaisar yang menyuruh menculik, Kaisar baru saja diangkat dan masih muda, Aku berpikir yang menculik adalah suruhan seorang Germo yang mengatas namakan Kaisar," kata Fang Yin lagi.
"Kami tidak mengerti Tuan, semua terjadi diluar kuasa Kami. Kalau bisa Tolonglah
Warga Desa Kami Tuan, karena banyak
anak Gadis Mereka hilang," sahut Wanita
ibu sambil menjura.
"Ya, Kami akan mengantar Bibi pulang sekalian Kami melihat keadaan Desa Bibik" Kata Fang Yin. Mereka mulai
berjalan dan tempatnya juga tidak jauh
dari tempat Fang Yin berteduh tadi.
Mereka kemudian menuju ke Lembah
yang tidak begitu terjal. Hari sudah
gelap ketika Mereka sampai di Lembah. Fang Yin dan Fao Shin menurunkan Wanita itu dari pelana Kuda, kemudian menambatkan Kudanya di Batang
pohon yang ada disitu.
"Tuan berdua silahkan duduk disini,
Kami akan menyiapkan makan untuk
Tuan berdua," kata Wanita itu datar.
"Terimakasih Bibik, tapi Bibik tidak
usah repot-repot karena Kami sudah membawa bekal," sahut Fao Shin yang dari tadi cuma diam saja.
"Kenapa Kamu baru bersuara dari tadi
diam saja, Kita beruntung mendapat
tempat untuk berteduh," bisik Fang Yin senang.
"Aku merasa ada yang aneh, badanku daritadi merinding, makanya Aku diam
sajabmemandang Wanita itu," bisik Fao
Shin.
"Kamu kebanyakan mengkhayal makanya
Badanmu merinding," sahut Fang Yin.
"Apa Kamu tidak merasa aneh, katanya
disini Desa tapi yang ada cuma Mereka berdua yang lain mana," kata Fao Shin
sambil melirik kesana kemari.
"Mungkin ada dibawah lagi, sudah gelap mana Kita tahu," sahut Fang Yin berusaha
tenang. Gara-gara terpengaruh oleh
ucapan Fao Shin dadanya jadi ikut
berdebar.
"Disini tidak ada penerangan Silahkan
kalian makan sekedarnys," kata wanita
itu dengan suara tenang.
"Tidak apa-apa Bik, Kami bisa melihat,
walaupun samar," sahut Fang Yin sambil
meraba-raba mangkoknya.
"Fang Yin, Aku tidak mau makan, Aku
takut apa yang Dia sajikan, Kita juga
tidak melihat. Bagaimana kalau yang
Dia sajikan adalah Cacing tanah," bisik
Fao Shin .Tangan Fang Yin yang tadi
meraba mangkok reflek Dia tarik.
"Lebih baik Kita tidur supaya besok
pagi bisa bangun," kata Fang Yin merebahkan Badannya di balai-balai yang sudah tersedia. Mungkin karena saking lelahnya Mereka berdua
langsung tertidur.
*****
Mereka terbangun mendengar suara
ringkik Kuda. Fang Yin membuka matanya, tapi cepat Dia pejamkan
lagi karena matanya silau kena sinar Matahari. Fang Yin memiringkan Badannya kekiri, perlahan Dia bangun. Alangkah terkejutnya Fang Yin karena
Dia berada di atas Batu Nisan.
"Fao Shin bangun...bangun...Kita dalam
keadaan.bahaya," teriak Fang Yin membuat Fao Shin meloncat bangun.
"Ada apa.. ... Bahaya bagaimana," teriak
Fao Shin gelagapan.
"Ada apa ini, ohh...ternyata ini kuburan,
Kita tidur di atas Batu Nisan," teriak Fao
Shin ketakutan.
"Berarti Wanita yang kemarin adalah Hantuuu," kata Fao Shin gemetar.
"Walaupun Hantu Mereka tidak jahat
dan tidak mengganggu Kita, malah Mereka memberi tempat istirahat.
Kalau tetap Kita berada diatas bisa
saja ada Binatang buas, Kita ambil hikmahnya saja," sahut Pang Yin.
"Tidak usah takut, Kita bertrimakasih atas pertolongannya memberi Kita tempat tinggal," sambung Fang Yin
lagi melihat Fao Shin yang pucat.
"Aku berterimakasih atas bantuannya
sudah memberi Kami tempat tidur,"
sahut Fao Shin mencakupkan kedua tangannya.
"Ternyata tempat ini dulu sebuah Desa yang menjadi Kuburan. Aku merasa ucapan bibik itu benar, karena pernah
terjadi penculikan perawan pada zaman
idulu atas perintah Kaisar," kata Fang
Yin menebarkan pandangannya.
"Fang Yin apa ini artinya," kata Fao Shin
menunjuk mangkok yang terbuat dari
batok Kepala orang. Fang Yin bergidik, untung Dia tidak makan tadi malam. Walaupun Kepala orang itu bersih, tapi tetap saja membuat mual karena jijik
dan ngeri.
"Apa yang ada di dalam mangkok ini?,
seperti Akar Ginseng merah yang
berusia ribuan tahun," kata Fang Yin memeriksa botol kaca kecil yang berisi akar Ginseng merah.
"Akar ini sangat langka," sambung Fang Yin mengambil botol yang berisi Akar
itu dan memeriksa. Kemudian Dia
simpan di saku Celananya. Begitu juga mangkok Fao Shin berisi Akar Ginseng merah. Mereka sangat senang, karena kasihat dari Akar Ginseng itu untuk memelihara stamina Tubuh.
"Mari Kita naik mumpung masih Pagi," kata Fang Yin beranjak menuju Kudanya.
Setelah mereka menjura berterimakasih Mereka lalu melanjutkan perjalanan kembali.
"Kita akan mencari Sungai atau Danau,"
kata Fang Yin mendahului Fao Shin.
Matahari bersinar terang menyinari
dasar Sungai yang berada di depan
Fang Yin. Air Sungai sangat jernih sehingga terlihat beberapa Ikan berseliweran di dasar Sungai. Fang
Yin ingat Mey Ling sangat lihai menangkap Ikan. Ilmu ginkang Mey
Ling sudah sangat sempurna. Fang
Yin mengakui Walaupun Mereka satu seperguruan, tapi Mey lebih jago dan lebih berkualitas dari pada dirinya.
"Jangan melamun, Ayo nyebur, tangkap
Ikan yang di Sungai," kata Fao Shin
mengagetkan Fang Yin.
"Kita balapan menangkap ikan, siapa yang dapat Ikan paling banyak wajib langsung membakarnya" kata Fang
Yin cekikikan.
"Kita bakar bareng dan makan juga
harus berbarengan," sahut Fao Shin tersenyum.
*******
Tiga orang Tosu yang berada didalam
rombongan inipun seperti yang lainnya tertarik oleh berita bahwa akan ada
pedang pusaka yang akan di perebutkan
Di Dunia Kang-ouw. Pedang ini adalah
Warisan dari seorang Pertapa yang
sudah lama meninggal.
Pertapa ini meninggalkan Surat
wasiat yang berisi catatan bahwa
Pedang Pusaka ini akan diwariskan kepada salah satu yang berunģtung. Kreteria Orang yang bisa ikut adalah semua Pendekar muda. Tanpa sengaja Fang Yin dan Fao Shin ikut rombongan
ini menuju Gunung Himalaya.
Perjalanan ini sangat melelahkan, dan bahayanya tidak kalah besarnya. Apa
lagi Jalannya ada yang licin. mereka merasa cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan dan pada hari itu mereka pagi-pagi sekali telah tiba dibawah tebing yang curam dan mendengar nyanyian merdu.
Agaknya di ujung dunia yang mana pun,
kita selalu akan bertemu dengan orang
yang selalu berkeluh kesah karena merasa hidupnya sengsara dan putus cinta. Nyanyian itu menggambarkan seseorang yang hidupnya hanya untuk membalas dendam.
"Lagu itu penuh keluhan, membuat aku penasaran saja,“ kata seorang pemuda
sambil melihat keatas tebing.
"Ingin rasanya bertemu dengan Wanita
itu, Aku yakin orangnya .pasti cantik.
semoga Kita bisa bertemu Cece," kata
Pemuda yang lain.
*****
tahta, waria, Echa ja yak😜😜
akupun punya Mey..jurus seribu akun🙈🙈🤭