8 Tahun pernikahan dan di karuniai seorang putri cantik,nyatanya tak mampu meluluhkan hati aldric pada Eveline sang istri.
Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga, Aldric yang mencintai wanita lain namun tak mendapatkan restu dari orang tuanya,dan di desak untuk menerima perjodohan itu akhirnya menerima,namun tak pernah menganggap ada sang istri.
Selama bertahun tahun juga Eveline mengejar cinta Aldric, karena memang dia mencintai laki laki itu sedari lama. Segala cara dia lakukan,bahkan dengan memberikan keturunan bagi Aldric yang dia kira akan membuat laki laki itu menatap ke arah nya.
Namun nyatanya tidak, Aldric tetap sama bahkan setelah ada buah hati di antara mereka. Hingga akhirnya Eveline menyerah mengejar cinta sang suami dan hanya bertahan demi putri mereka mendapatkan figur seorang ayah, walaupun nyatanya tidak Aldric berikan pada putri mereka.
Akankah Eveline benar benar menyerah dan pergi meninggalkan Aldric? atau Aldric akan luluh dan mulai menerima Eve?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon h.alwiah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Hadiah?
Dari kantor sampai kini dirinya dalam perjalanan pulang,pikiran aldric begitu kacau. Pikirannya terus tertuju pada Eveline,di tambah dengan perkataan Satria tadi,membuat pikiran nyabsemakin kacau bahkan di kantor pun dia tak bisa berkonsentrasi.
Percakapannya dengan Satria di kantor tadi terus terngiang. Satria, yang selama ini hanya mengurusi jadwal rapat dan berkas kontrak, mendadak menjadi penasihat emosional nya.
"Satria,menurut mu apa yang harus di lakukan agar orang kembali ke sikap awalnya."
Satria melirik ke kaca spion,melihat raut wajah bos nya itu. Selama dia bekerja dengan aldric,tak pernah aldric uring uringan dan meminta solusi untuk permasalahan yang tengah di hadapinya saat ini.
Satria tentu tidak bodoh,setiap hari dia berada di samping aldric. Dia tau maksud dari perkataan aldric,dan apa yang tengah aldric hadapi saat ini. Dia juga menjadi saksi bagaimana dulu Eveline begitu mengejar ngejar cinta aldric namun terus di abaikan,lalu sekarang setelah Eveline menyarh aldric yang tampak uring uringan.
Sebenarnya satria senang saat melihat Eveline mulai bersikap beda pada aldric, mengacuhkan nya,bodo amat,bahkan kini tak menunjukan ketertarikan lagi pada aldric. Karena menurutnya Eveline dan Sera berhak bahagia,walau itu tanpa aldric.
"jujur ini berat tuan,mengingat kesalahan yang di lakukan itu bukan kesalahan kecil dan dalam waktu sebentar,tentu luka nya sangat besar dan mungkin orang itu sudah berada di titik jenuh nya. Akan sedikit sulit bisa mengembalikan kembali sikap seseorang yang sudah kita sakiti sejak awal. Tapi memang tidak ada salahnya untuk mencoba."
"Menurut saya yang harus di lakukan yaitu mengakui kesalahan,meminta maaf,atau mungkin membelikan sesuatu bisa berupa bunga,atau barang yang disukai. Biasanya wanita akan luluh jika di berikan sesuatu,di tambah dengan pengakuan dan perhatian."Ucap Satria yang langsung membuat aldric terdiam.
Meminta maaf? Mengakui kesalahan? ego Aldric yang setinggi menara perkantoran itu jelas langsung menolak.
'Seperti nya memberikan dia bunga dan barang branded bisa membuat nya berubah. Membeli barang jauh lebih mudah daripada mengecilkan suara untuk meminta maaf.' mungkin itulah yang saat ini terbesit di kepala aldric.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya aldric memutuskan untuk mampir dulu ke sebuah toko bunga dan juga toko perhiasan.
Setelah itu aldric langsung pulang. Namun langkah kaki Aldric terasa lebih berat dari biasanya saat memasuki pelataran rumah. Di tangannya, sebuah buket bunga lili putih—yang menurut penjualnya melambangkan ketulusan—terasa asing dalam genggamannya. Di lengan kirinya, tersampir sebuah tas belanja berisi kotak perhiasan beludru dan kantong pendingin berisi es krim.
Pintu jati besar itu terbuka. Suara tawa Sera yang melengking ceria menyambutnya, sebuah melodi yang biasanya hanya ia dengar lewat telepon atau saat ia pulang dalam keadaan Sera sudah terlelap. Eveline ada di sana, duduk di sofa dengan rambut yang dicepol asal, namun tetap memancarkan keanggunan yang kini terasa berjarak.
"Daddy!" Sera berlari kecil menghampirinya. Langkah bocah itu terhenti sejenak, matanya mengerjap heran. "Daddy... pulang lagi?"
Pertanyaan polos itu menghujam jantung Aldric. Kalimat itu bukan sekadar sapaan, melainkan pengingat betapa seringnya ia absen dalam hidup putrinya. Dulu, kepulangannya adalah kejadian langka yang harus dirayakan, kini rutinitasnya pulang tepat waktu justru dianggap aneh oleh darah dagingnya sendiri.
"Iya, Sayang. Daddy pulang setiap hari sekarang," jawab Aldric dengan suara yang sedikit parau. Ia menggendong Sera, membawanya mendekat ke arah Eveline.
Eveline tidak beranjak. Ia hanya menatap Aldric dengan tatapan yang sulit diartikan—datar, tenang, namun dingin. Tatapan seorang wanita yang sudah terbiasa melakukan segala hal sendirian tanpa bantuan siapa pun.
"Daddy bawa bunga untuk siapa?" tanya Sera, jarinya menyentuh kelopak lili yang segar.
Aldric berdeham, mencoba menata kegugupannya. Ia mengulurkan buket itu kepada Eveline. "Ini... untuk kamu, Eve. Dan ini ada sedikit oleh-oleh," ucapnya sambil meletakkan tas berisi perhiasan di atas meja.
Hening menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Sera tampak antusias, matanya berbinar melihat bunga dan tas bermerek itu. Namun, Eveline tetap mematung. Ia menatap benda-benda mahal itu seolah mereka adalah benda asing yang tidak memiliki makna.
Raut wajah nya tak bisa berbohong,dia merasa aneh dengan apa yang aldric lakukan saat ini. Ini kali kedua dirinya di belikan bunga oleh aldric,pertama di rumah sakit saat Sera jatuh sakit,lalu sekarang. Eveline tampak bertanya tanya,kenapa dengan suaminya ini.
"Tidak mau menerimanya?" tanya Aldric akhirnya, nada suaranya bergetar antara cemas dan defensif.
Eveline mengembuskan napas pendek. Ia mengulurkan tangan, mengambil bunga itu dan meletakkannya di pangkuan. "Terima kasih, Mas," jawabnya singkat. Tanpa senyum, tanpa binar di mata, hanya sebuah kesopanan mekanis.
Aldric kemudian mengalihkan perhatian pada Sera untuk menutupi rasa canggungnya. Ia mengeluarkan es krim cokelat kesukaan Sera. "Ini untuk tuan putri Daddy."
Tawa Sera pecah. Kebahagiaan murni terpancar dari wajah kecil itu saat menerima es krim dan cokelat. Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang hangat merayap di dada Aldric. Sebuah perasaan yang selama ini ia tukar dengan angka-angka di saldo bank, yang ternyata jauh lebih berharga.
Aldric teringat ia membeli dua porsi es krim. Dengan ragu, ia menyodorkan satu cup lainnya kepada Eveline. "Saya ingat dulu kamu suka rasa ini. Makanlah, mumpung belum cair."
Eveline menatap cup es krim itu, lalu menatap Aldric. Ada kilatan memori yang melintas di matanya, namun dengan cepat ia memadamkannya. Ia menerima es krim itu, membukanya perlahan, lalu menyuapkannya ke mulut tanpa kata.
Mereka duduk bertiga di ruang tengah. Secara fisik mereka sangat dekat, namun Aldric merasa ada jurang yang sangat lebar memisahkan sofa yang mereka duduki. Ia menyadari satu hal pahit: bunga bisa dibeli, perhiasan bisa dipesan, namun kehangatan yang telah ia bekukan selama bertahun-tahun tidak akan mencair hanya dengan satu sore yang manis. Aldric duduk di sana, memperhatikan istri dan anaknya, menyadari bahwa perjalanan pulang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kemejanya masih terasa sesak, bukan karena ukurannya, tapi karena beban rasa bersalah yang akhirnya mulai ia akui keberadaannya.
Haiii gayss,up lagi nih. Jangan lupa kencengin lagi vote dan komen nya yah,biar author makin semangat nulis nya. Wkwkwkwk
Seperti biasa kalau ada kritik dan saran kalian boleh bgtt untuk tulis di kolom komentar. Segitu dulu yah dari aku.
Jaga kesehatan nya all
jangan lupa follow Ig aku @H.alwiah_putri.writers
Thanks for reading
See you next chapter 👋
smoga segera launching adikmu