"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"
Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.
Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf yang Tersangkut
Hari ini, Leo kembali mengantar aku ke kantor. Lagi-lagi, aku nggak bisa menolak dan sekarang ini jadi rutinitas biasa antara kami.
Mobil Leo berhenti tepat di depan kantor, seperti biasa. “Nanti, aku jemput kayak biasa, ya. Kalau ada lembur, kabarin aja," ucapnya ringan, tanpa beban sama sekali.
Aku cuma mengangguk. Dia jarang memberi ucapan semangat, bahkan sekadar memuji penampilanku pun hampir nggak pernah. Tapi, anehnya, aku merasa aman saat dia memastikan aku baik-baik saja.
Di dalam gedung, suasana terasa biasa saja. Aku berjalan bersama beberapa karyawan dari departemen lain. Seperti biasa pula, nggak ada yang menyapaku atau berusaha berbasa-basi. Tapi, aku lebih merasa nyaman seperti ini.
Hatiku sudah gelisah begitu melihat sosok Raditya berdiri di lorong menuju ruang HRD. Wajahnya terlihat letih. Kantong matanya jelas terlihat, seakan dia nggak tidur setelah perjalanan dinas ke Bandung kemarin.
Begitu melihatku, matanya langsung berbinar, seperti orang yang menemukan keluarga yang lama hilang. “Bu Prita,” panggilnya dengan suara rendah, tapi penuh rasa lega.
Aku pura-pura nggak mendengar. Langkah kakiku semakin cepat. Aku melewatinya yang menunggu di depan pintu ruang HRD dan berjalan lurus menuju meja kerja.
“Bu Prita, tolong … kita perlu bicara,” ucapnya lagi. Langkahnya cepat menghampiri.
Aku merasakan semua pasang mata di ruangan itu memandang kami. Bisik-bisik mulai terdengar. Suara kursi bergeser. Orang-orang pura-pura sibuk dengan pekerjaannya, tapi jelas mendengarkan.
Konyolnya, beberapa orang dari departemen lain justru berkerumun di depan ruangan HRD. Pandangan pensaran mereka jelas terlihat, bahkan komentar nggak menyenangkan mampu aku dengar.
“Saya cuma butuh satu menit untuk minta maaf,” kata Raditya lirih.
Aku menoleh sedikit dengan ekspresi datar. “Saya nggak butuh maafmu, Pak Raditya.”
Ruangan mendadak hening. Bisikan orang-orang semakin terdengar jelas.
“Duh, Bu Prita ini keras banget, ya! Pak Raditya udah minta maaf berkali-kali dari kemarin-kemarin itu, lho,” celetuk seorang wanita dengan nada sinis.
“Pantesan nggak ada yang mau nikah sama dia. Hatinya dingin kayak es,” sahut seorang pria di belakang dengan suara cukup keras untuk kudengar. Tanpa melihatnya pun, aku tahu pemilik suara ini Niko.
“Kasian Pak Raditya, cowok baik malah diperlakukan kayak gitu,” gumam yang lain lagi.
Dadaku terasa sesak. Setiap kata mereka menusuk seperti jarum. Mereka nggak pernah tahu alasan Raditya meminta maaf, tapi sudah menghujatku. Mereka nggak pernah merasakan gimana keresahan berubah menjadi bahan lelucon dalam sekejap, tapi bisa menyimpulkan akulah yang jahat.
Aku berusaha tetap tenang, meski dadaku sudah bergemuruh hebat. Aku bisa merasakan pipiku mulai memanas.
Raditya menatap orang-orang itu dengan tatapan marah. “Cukup!” serunya lantang.
Semua orang terdiam. Sejak kehadirannya, Raditya selalu menunjukkan sikap ramah. Senyum lebar dan sapaan riang pada siapa pun selalu dia pamerkan. Kecuali urusan pekerjaan, Raditya nggak akan pernah menunjukkan ketegasan.
Bukan cuma orang-orang yang menonton saja yang kaget, aku pun nggak percaya Raditya sampai bersuara lantang.
“Kalau kalian nggak tahu apa-apa, jangan seenaknya ngomongin Bu Prita seperti itu. Saya yang salah, bukan dia. Jangan jatuhkan nama baiknya.” Nggak cukup meminta semua orang diam, Raditya justru menjelaskan situasi apa yang terjadi di antara kami.
Suasana semakin senyap. Orang-orang berpura-pura kembali sibuk dengan komputer mereka dan kembali ke ruangan masing-masing.
Aku menatap Raditya karena kaget dengan ucapannya. Selama ini, cuma Mbak Chiki yang membelaku saat ada yang berkomentar buruk tentangku. Tapi, Raditya hadir dan tanpa ragu membela nama baikku walau aku terus mengabaikan permintaan maafnya.
Raditya menunduk sebentar, lalu memandangku dengan mata memohon. “Bu Prita, saya benar-benar minta maaf. Saya nggak akan tenang sampai Bu Prita mau memaafkan saya.”
Aku terdiam. Ada sedikit rasa bersalah melihat dia setulus itu, membela aku di depan semua orang. Tapi, luka yang dia tinggalkan di hatiku belum sembuh. Kata-kata ejekannya soal pernikahan dulu masih menghantam pikiranku.
“Saya harus kerja, Pak Raditya,” kataku singkat, lalu berjalan melewatinya.
Kali ini, Raditya nggak mengikuti. Tapi, aku bisa merasakan tatapannya tertinggal di punggungku. Akhirnya, dia meninggalkan ruanganku tanpa mendapatkan maaf dariku.
Apa aku terlalu jahat pada Raditya? Tapi, kalau bukan aku, siapa yang akan membela diriku sendiri?
Sepanjang siang, suasana kantor terasa berat. Bisik-bisik karyawan terus terdengar.
“Udah minta maaf gitu aja nggak dimaafin, jahat banget, sih, Bu Prita.”
“Kayak nggak punya hati. Jangan-jangan beneran terlalu lama jomlo jadi nggak ngerti perasaan cowok.”
"Rata-rata perawan tua emang gitu. Mereka nggak punya simpati gara-gara nggak pernah dijamah cinta."
Aku menahan emosi. Berkali-kali aku menggigit bibir untuk menahan diri agar nggak menangis di depan mereka.
Kenapa semua harus selalu menyalahkan aku yang belum menikah? Bukan aku yang nggak mau menikah. Bukan aku yang ingin menjadi perawan tua selamanya. Tapi, aku bisa apa kalau jodohku pun belum terlihat kehadirannya?
Mbak Chiki menepuk pundakku pelan. “Jangan dengerin mereka, Ta! Mereka nggak tahu apa-apa.”
Aku menoleh. “Gue capek, Mbak. Rasanya semua orang lihat gue jahat banget.”
“Biarin aja! Lo nggak bisa ubah pandangan orang yang terlanjur nggak suka sama lo,” kata Mbak Chiki setelah meletakkan minuman matcha kesukaanku.
"Makasih," ucapku yang langsung menggenggam gelas matcha. Dinginnya menyenangkan.
“Dan soal Raditya .… Dia memang tangguh banget atau nggak tahu diri." Mbak Chiki mengangkat bahu dengan raut bingung. "Dia sampai nanyain lo terus waktu lo nggak masuk, bahkan di Bandung pun masih sempet nanya gue soal lo. Tapi, gue nggak bilang apa-apa. Itu urusan kalian. Gue nggak berhak ikut campur."
Aku terdiam. Ada rasa aneh mendengar kalau Raditya sampai mencariku dengan berlebihan. Aku jadi merasa nggak enak karena nggak menerima maafnya.
Jam pulang kerja, aku buru-buru membereskan meja. Aku ingin keluar sebelum Raditya muncul lagi. Tapi, sialnya, dia sudah berdiri di depan pintu ruang HRD.
“Bu Prita, tunggu.” Wajahnya jauh lebih kusut dari pagi tadi.
Nggak bisa!
Aku belum bisa memaafkannya. Setiap melihat wajahnya, aku terus teringat gimana caranya menjatuhkan perasaanku dengan mudah. Rasa sakit hatiku masih terlalu dalam.
Kali ini, aku akan terus menghindar dari Raditya. Aku menunduk dan mempercepat langkah.
Langkah Raditya di belakangku terdengar semakin cepat. Beberapa karyawan yang baru keluar dari lift menoleh sekilas, lalu pura-pura menunduk. Mereka nggak ingin terlihat terang-terangan menonton, padahal jelas penasaran.
Nggak ada yang terang-terangan menonton dan berkomentar jahat seperti pagi tadi. Mereka cuma berani melirik sambil berbisik-bisik. Walau nggak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan, aku yakin semua komentar jahat itu tetap tertuju padaku.
Seperti biasa, dengan langkah lebarnya, Raditya dengan mudah menyamai langkahku. "Saya nggak akan bosan meminta maaf sampai Bu Prita benar-benar memaafkan saya."
"Saya juga nggak bosan membenci Pak Raditya karena terus berada di dekat saya. Terus mengikuti saya hanya akan membuat luka ini makin parah, Pak Raditya," sahutku tanpa mengurangi kecepatan langkahku. Mataku sudah melihat pintu keluar.
Cahaya matahari sore yang menembus pintu-pintu kaca terlihat seperti malaikat yang turun ke bumi. Harusnya, aku bisa bebas dari Raditya setelah keluar dari pintu itu. Aku mempercepat langkah walau sudah terengah-engah.
Aku akhirnya berhasil menghirup udara bebas. Tapi, Raditya justru menarik tanganku. Tarikannya nggak kasar, tapi cukup kuat untuk menghentikan langkahku.
“Bu Prita, dengarkan saya sebentar saja. Saya janji cuma sebentar. Saya nggak bisa tidur mikirin Bu Prita. Saya akui sudah melakukan kesalahan fatal. Saya bodoh.” Raditya mengatakannya dengan wajah frustrasi, seakan-akan cita-cita terbesarnya baru saja gagal setelah dia perjuangkan setengah mati.
Beberapa karyawan yang juga hendak pulang memperhatikan kami. Bisikan kembali terdengar.
“Ya, ampun! Masih aja cowok ini ngejar Bu Prita. Gila nggak, sih?”
“Bu Prita itu beneran keras kepala. Kasian banget Pak Radit.”
Komentar-komentar itu samar, tapi aku masih bisa mendengarnya. Lagi-lagi, aku yang bersalah di mata mereka.
Aku mencoba menarik tanganku. Tapi, Raditya terlalu kencang menahannya. Dia menatapku dengan mata memohon. Mata yang biasanya memancarkan kepercayaan diri yang tinggi, seolah seluruh dunia bisa dia kuasai, kini kehilangan kekuatannya.
Hatiku mulai goyah. Tapi, di kepalaku terus berdengung kata-katanya yang meremehkan ajakan menikahnya padaku, seakan aku wanita murahan yang memang gampang jadi lelucon.
Tiba-tiba, suara mesin mobil berhenti di depan kantor, nggak jauh dari tempatku berdiri. Leo turun dari mobil dengan ekspresi serius. Pandangannya langsung jatuh pada tanganku yang ditarik Raditya.
“Lepaskan!” suara Leo terdengar datar, tapi penuh wibawa. Dia mendekat cepat, lalu berdiri di hadapanku. Punggung lebarnya menghalangiku dari Raditya. Tangan dinginnya menarik tangan Raditya sampai melepaskan genggaman padaku.
Raditya mengerang tertahan. “Siapa lo ikut campur?" bentaknya.
Aku menarik ujung lengan kemeja Leo. Kepalaku sedikit menyembul di balik tubuhnya. Aku berhasil melihat Raditya yang menatap Leo tajam sambil mengibaskan tangan kiri, yang tadi dia gunakan untuk menarik tanganku.
Leo nggak surut melihat tatapan Raditya yang mengancam. "Siapa pun gue, nggak seharusnya lo kasar sama cewek, Bos," sahut Leo. Baru kali ini, aku mendengar nada suaranya tegas dan serius.
"Apa hubungannya sama lo?" bentak Raditya lagi. Entah kenapa amarahnya semakin naik.
Ada ketegangan aneh di udara. Beberapa karyawan bahkan berhenti pura-pura sibuk dan menonton dari jauh. Ada dua orang satpam yang menjaga pintu depan mulai mendekat, tapi aku mengangkat tangan agar mereka tetap di tempat.
Leo menoleh padaku. “Mbak, ayo pulang,” ajaknya dengan nada suara yang lebih lembut.
Aku mengangguk. Memang seharusnya aku segera pulang sebelum suasana semakin nggak terkontrol lagi. Aku menarik lengan Leo menuju mobil.
Sayangnya, Raditya justru menghalangi langkahku. Napas Raditya memburu. Tangannya mengepal di samping tubuh dan tatapan matanya menusuk Leo, seperti siap meledak. "Apa hak lo bawa Prita pulang?"
Aku memejamkan mata. Ini nggak akan selesai dengan mudah.
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya