Lika adalah seorang guru SD baru di sebuah sekolah swasta di Bandung, pengalaman sebagai guru sejak ia lulus kuliah membawanya masuk ke sekolah favorit yang cukup bergengsi.
Namun kehidupannya berubah setelah dia bertemu dengan Kezia dan Nando, murid luar biasa yang tak beribu yang selalu membutuhkannya setiap saat.
Melalui Kezia dan Nando, akhirnya Lika menemukan pelabuhan terakhir cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Impian
Lika melihat-lihat desain rumah minimalis di sebuah kantor pemasaran, hatinya langsung terpikat pada sebuah rumah mungil dengan luas 90 meter dan terdapat tiga kamar tidur dengan taman depan yang mungil dan asri.
'Pas 3 kamar, untukku, nenek dan Lia, walaupun tidak seluas rumah nenek dulu, tapi cukuplah buat kami berlindung dari panas dan hujan ...' Gumamnya dalam hati.
Seorang marketing nampak mendekatinya.
"Ada yang bisa saya bantu mbak..." Sapanya ramah, Lika menoleh sambil tersenyum.
"Aku suka model yang ini...bisa lihat rumah contohnya mas...?" Tanya Lika sambil menunjuk model yang dia maksud.
"Oh bisa mbak...kalo mau sekarangpun bisa saya antar ke rumah contohnya, kebetulan disana sedang ada developernya...jadi mbak bisa dengan puas memilih dan tanya-tanya mengenai progress perumahan ini..." Jelas marketing itu panjang lebar.
"Boleh mas..." Angguk Lika.
Kemudian dia mengikuti marketing itu berjalan kearah belakang kantor pemasaran, menuju rumah yang dimaksud.
Sudah banyak rumah yang dibangun disana, bahkan beberapa sudah mulai ada yang ditempati.
Mereka sudah tiba di lokasi, nampak beberapa orang sedang berbincang disana.
"Mari mbak, saya kenalkan dengan developernya, beliau yang akan menjelaskan detailnya, pokoknya mbak gak akan menyesal mengambil rumah disini..." Marketing itu tampak bersemangat.
Seorang laki-laki nampak membelakangi Lika, menghadap sebuah kertas plan, Lika terlihat mengenali laki-laki itu.
"Pak Ricky!" Seru Lika terperangah. Laki-laki yang tak lain adalah Ricky itu menoleh kaget.
"Lho...kok Bu guru ada di sini...?" Tanya Ricky keheranan. Marketing yang sejak tadi menemani Lika nampak kebingungan.
"Oh...mbaknya sudah kenal toh sama pak Ricky...ini yang saya maksud developernya mbak..." Jelas sang marketing.
"Bu guru duduk dulu...dan kamu tolong ambilkan minuman dingin ya..." Perintah Ricky pada marketingnya itu. Dengan cepat sang marketing melesat mengambilkan dua botol minuman dingin.
"Oh...jadi pak Ricky kerja disini..." Ucap Lika. Ricky hanya tersenyum menanggapi.
"Khusus Bu guru aku akan permudah prosesnya, dan akan ku berikan rumah yang spesial...oya, Bu guru minat yang mana nih..." Tanya Ricky, Lika hanya menunjuk model rumah yang dari awal sudah dia taksir itu. Ricky mengerutkan keningnya.
"Hmm...apa tidak terlalu sempit rumahnya Bu...ini saja yang luasnya 150 meter, aku akan kasih harga khusus buat ibu...kalo untuk masalah desain nanti bisa konsultasi ke temanku yang memang mendesain model rumah disini..." Jelas Ricky sambil menunjuk rumah yang dimaksud.
Rumah itu memang bagus dan terkesan mewah, tapi harganya juga mahal.
"Aku sesuaikan dengan budgetnya saja pak...ini juga lagi menunggu pembayaran rumah yang digusur..." Ujar Lika. Ricky menganggukkan kepalanya.
"Baik Bu, untuk Bu guru aku akan prioritaskan...Bu guru pulang naik apa biar saya antar sekalian..." Tawar Ricky setelah pembicaraan selesai. Lika menggelengkan kepalanya.
"Jangan pak...sudah cukup rumor yang beredar di sekolah..." Tolak Lika. Ricky tersenyum simpul.
"Kalau tidak ada yang keberatan kenapa harus pusing dengan gosip murahan itu? Bu guru kan suatu hari pasti akan menikah juga..." Tambah Ricky dengan santainya. Lika tersentak kaget mendengar perkataan Ricky.
"Ah...I..iya...tapi kan bukan sama bapak..." Ucap Lika asal. Mata Ricky melotot kearahnya.
"Kalau anak-anakku menginginkannya bagaimana Bu...apakah Bu guru akan menolaknya?" Lika terkesiap. Seberani itu kah Ricky mengutarakan perkataannya, kenapa situasinya harus dikaitkan dengan anak-anak.
"Maaf pak...saya mau pulang sendiri saja..." Lika berbalik dan segera berlalu, tapi tangan Ricky menahan tangannya, sesaat mata mereka bertatapan.
"Beri aku kesempatan untuk lebih dapat mengenalmu Bu guru..." Ucap Ricky dengan tatapannya yang masih melekat tajam. Lika menundukkan wajahnya.
"Tidak pak...maaf..." Kata itu keluar begitu saja dari bibir mungil Lika.
"Biarlah rumor yang menimpa kita sekalian kita buat kenyataan...supaya setiap orang yang usil itu bungkam..."
"Tidak pak...aku adalah seorang pendidik, tidak pantas rasanya...." Lika menghentikan ucapannya.
"Tidak pantas apa? Aku single...kamu juga single...Kita sama-sama orang bebas...lagi pula...anak-anakku sangat membutuhkanmu..." Sahut Ricky lirih.
"Jadi hanya karena anak-anak membutuhkan..."
"Tidak seperti itu Bu guru....aku mau kita mencobanya dulu..." Ricky menatapnya lembut. Lidah Lika Kelu tak bisa berkata apapun. Dengan bodohnya dia hanya menganggukkan kepalanya.
********
Malam itu di meja makan, saat Lika, Nenek dan Lia makan malam, sambil menonton acara televisi, Lika menyodorkan sesuatu ke arah Nenek dan adiknya itu.
"Coba lihat nih Nek...bagus gak rumahnya...ini posisi paling strategis lho ..dekat kemana-mana..." Jelas Lika sambil menunjuk rumah yang dimaksud.
"Wah...bagus kak rumahnya...kakak pinter milihnya!" Teriak Lia histeris. Nenek hanya memandang gambar itu dengan wajah yang tak mengerti.
"Gambar apa ini...rumah kok macem-macem modelnya, mendingan rumah nenek yang sekarang ...biar jadul tetap di hati..." Lika dan Lia saling berpandangan. Sepertinya Neneknya masih sayang meninggalkan rumah lamanya.
"Tapi biar bagaimana kita kan tetap harus pindah juga Nek..." Kata Lika sambil merangkul bahu neneknya itu.
"Iya Nek...nanti Lia foto-fotoin dulu sebelum pindah deh...biar ada kenang-kenangan...iya kan kan..." Tambah Lia, Lika hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya udah ...terserah kalian lah mau rumah dimana...nenek ikut saja..." Akhirnya Nenek menyerah.
"Nah gitu dong Nek...oya kak...kapan nih kita diajak lihat rumah barunya...udah gak sabar nih ngerasain punya rumah baru..." Celetuk Lia antusias.
"Sabar dulu...jadi mau model yang gimana nih..." Lika kembali menyodorkan brosur itu.
"Yang ini lebih luas kak...tapi agak mahal ya...cukup gak ya uang kompensasinya..." Sahut Lia menunjuk rumah yang lebih besar itu.
"Ehem...tadi juga ada yang menyarankan begitu...rumah yang luasnya 150 meter..."
"Nah betul kan...berarti memang rumah ini yang cocok...kalo kakak menikah nanti kan cukup untuk suami dan anak-anak kakak...jadi gak kesempitan...." Jelas Lia. Lika tercengang.
"Hah...menikah? memikirkan saja aku tidak sempat...kok bisa-bisanya kamu ngomong gitu sih Lia...." Lika mencubit hidung Lia kemudian meninggalkan meja makan itu dan segera masuk ke kamarnya.
Di dalam kamarnya Lika memikirkan kejadian di kantor pemasaran tadi saat dia bertemu dengan Ricky. Entah mengapa setiap kali Lika melihat Ricky, hati Lika selalu berdebar, terlebih saat melihat tatapan mata Ricky yang mendalam terhadapnya. Ada perasaan aneh yang menggelayuti nya, perasaan aman dan nyaman, perasaan damai dan tentram.
'Ah...apa mungkin aku jatuh cinta pada pak Ricky...papanya Nando murid ku...akankah ku terima permintaannya untuk mencoba berhubungan? selisih umur kami tidak terlalu jauh kok...' Batin Lika dalam hati sebelum ia memejamkan matanya.
**********