"Boleh saya bicara?" tanya Monika sambil mengangkat tangannya. Kedua laki-laki itu menoleh.
"Apa?" tanya dua pria beda warna mata itu.
Monika nyengir sebelum bicara."Apa tidak ada yang bertanya pendapat saya gitu, yang mau nikah kontrak itu saya lho. Bisa bicara lho, masih idup seger buger di sini."
"Yang bilang kamu mayat hidup siapa?" tanya Yoonji balik.
"Kamu tidak ada hak bicara, mau atau tidak kamu akan menerima pernikahan kontrak ini selama satu tahun, gaji kamu tiap bulan 10 juta dengan kompensasi 1 milyar jika kontrak berakhir, paham!"
Monika tak dapat lagi berkata-kata, angka-angka itu berlari dengan riang mengelilingi kepala. Yoonji tersenyum miring, melihat ekspresi gadis itu yang terkejut sekaligus bahagia. "Semua wanita sama saja, kalau dengar uang langsung ijo."
Melamar sebagai OB malah jadi sekertaris, di paksa nikah pula sama yang punya perusahaan.Begitulah mujur Monika Anggraeni, mujur apa buntung kita simak. kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Pak Karta
Sementara saat sang suami sedang kesal karena ucapah Haru, Monika yang selesai dengan urusanya di kamar mandi. Memutuskan untuk berjalan-jalan di taman yang ada di samping hotel, percuma uga dia kembali ke sana. Monika hanya duduk di seperi kambing yang tidak tahu apa-apa.
"Ehm segernya, jadi kangen kampung kalau kayak gini." Monika merengangakan kedua tangannya, menghirup dalam udara pagi yang terasa sejuk.
Monika diantar ke hotel saat malam dan langsung diam di kamar yang Yoonji sediakan untuknya. Gais itu hany abia melihat taman ini dari balkon, karena Yoonji melarang dia keluar kamar sampai acara pesta pernikahan mereka.
Beraneka bunga yang di tata dengan rapi, dengan kolam air mancur yang menambah kesan asri sungguh membuat Monika betah berlama-lama di sana. Andai saja dia punya ponsel, pasti Monika akan mengambil swag foto di sana.
Dengan riang Monika melangkah ke ayunan kayu yang ada di sana. Gadis it duduk dengan santai, menikamati pemandangan hijau yang ada di sekitar, dia lupa jika suaminya sedang menunggu.
"Monik?" gumam seorang laki-laki tampan memakai kacamata hitam berdiri tak jauh dari Monika.
Pria itu tersenyum, kakinya terayun ringan ke tempat gadis yang sedang duduk di ayunan kayu.
"Kamu Monik kan? Monik anaknya pak Djarot?" Tanya pemuda tampan itu memastikan.
Monika menghentikan kakinya yang terayun, alis gadis itu menyatu menatap pria tampan berbaju biru yang tersenyum lebar padanya.
"Anda siapa? Kenapa bisa tahu nama Bapak saya?" Gadis itu berdiri, menatap pria itu dengan penuh selidik.
"Ya Ampun masa kamu lupa sama aku, Mon? Aku Dimas, Dimas Anggara anaknya pak Karta!" jawab Dimas sambil melepaskan kaca mata yang menutupi wajahnya yang tampan.
"Astaga, Dimas!" Pekik Monika terkejut, matanya melebar, tangan Monika menutup mulutnya yang mangap karena terkejut.
Siapa yang tidak kenal Pak Karta, juragan sapi paling kaya di kampung halaman Monika saat itu. Monika menepuk-nepuk pipi Dimas untuk memastikan ini bukan mimpi.
"Duh Mon, sakit tau!" Pekik Dimas sambil mengusap bekas tepukan rasa tamparan di pipinya.
"Jadi ini bener bukan mimpi," ucap Monika tanpa rasa bersalah, ia malah mencubit keras lengan kekar laki-laki itu.
"Iyalah, bisa nggak kamu cubit diri kamu sendiri. Sakit tau," ujar Dimas mengusap lengannya yang memerah.
"Heheheh .... jangan dong, ntar aku lecet gimana." Monika menyerngir kuda.
Dimas hanya menggeleng, melepaskan kaca mata hitamnya agar bisa melihat wajah wanita yang lama ia rindukna.
"Sumpah kayak mimpi ketemu kmu lagi Dim, waktu kamu berangkat ke Jogja dan ngasih kabar aku udah pasrah, kamu pasti lupa sama aku. Kamu pasti udah banyak temen di sana jadi lupa sama aku," ucap Monika panjang lebar.
Dimas dan Monika berteman sejak sekolah dasar hingga SMP, sayangnya Dimas harus melanjutkan sekolah di Jogja. Sejka itulah Monika tak lagi bisa bertemu Dimas, padahal Dimas adalah teman satu-satunya Monika.
Laki-laki itu terdiam, ia merasa bersalah melihat kesedihan di mata Monika. Dia memang sengaja tidak memberi kabar pada teman kecilnya itu, ada sesuatu yang Dimas sadari saat jauh dari Monika. Sebuah perasaan yang lain yang tumbuh tanpa dia sadari.
Rasa Rindu yang terus menusuk hati kala ia memanadang foto sahabatnya, semua tingkah Monika yang sungguh membuat dimas gemas saat mengenang, ingin rsanya dia mmeluk tubuh mungil Monika dengan sayang. Ya, teryata Dimas mencintai Monika sejak lama. Hanya saja dia baru menyadari rasa iru kala jarak memisahkan mereka.
"Maaf ya Mon. aku sibuk banget di sana. Budhe sama Pakde aku juga nggak ngasih aku pegang ponsel," kilah Dimas, dia tak ingin Monika tahu kalau dia berusaha menahan gejolak ridu yang kian hari kian menggebu.
Tak terbayangkan jika dulu dia mendengar suara manis Monika, mungkin dia bisa hilang akal dan langsung meminta pulang.
"Ehm .. ya sudah, lagi pula aku dulu juga nggak punya telepon. Mana bisa kamu ngabari aku." Monika tersenyum mencairkan suasana.
Dulu di desa Monika dulu hanya orang-orang tertentu yang punya telepon rumah, seperti pak lurah atau yang punya anak merantaui diluar negeri, juga juragan seperti pak karta. Sedangkan kelurga Monika hanyalah orang biasa.
Dimas memegangi jantungnya yang berdetak begitu kencang sampai terasa sakit, melihat senyum Monika yang manis. Sungguh rasa cinta ini begitu menyiksa Dimas.
"Kamu kenapa Dim? sakit? " tanya Monika khawatir, melihat Dimas meringis sambil memegamgi dada sebelah kiri.
"Nggak kok gatel aja," kilahnya cepat.
"Gatel to, masa?gatel kok sampe meringis gitu."
"Ck, udah aku nggak apa-apa. Kamu kenapa bisa di kota? apa kamu kerja di hotel ini atau lagi jalan-jalan?" tanya Dimas untuk mengalihkan perhtian Monika.
Monika mendudukan tubuh mungilnya di ayunan sambil menghela nafas panjang.
"Kerja apa Dim, aku sekarang tuh pengangguran. Dulu sih aku kerja, tapi nggak di sini," jawab Monika dengan malas, gadis itu menyandarkan kepalanya.
"Terus?" Dimas melangkah semakin dekat, dia berdiri di sisi lain tiang ayunan.
"Kamu tahukan semenjak ayah sama ibu meninggal, aku merantauke sini buat kerja tapi-"
"Apa Pak Djarot meninggal? kapan?" potong Dimas cepat.
Monika mengangguk dengan senyum getir tersungging di bibirnya. Gadis itu menatap jauh, mengenang masa terpahit dalam hidupnya.
"Ayah meninggal setahun yang lalu, kalau Ibu.... Beliau meninggal dia bulan setelah Ayah. "
Dimas tertegun, sungguh tak tega melihat sorot mata Monika yang penuh luka. Pria itu pun melangkah berdiri di depan Monika, tangannya terulur menggenggam tangan wanita yang diam-diam ia cintai.
"Maaf aku tidak ada saat kau sedih, maaf. Maafkan aku." Dimas meremas jemari Monika dengan penuh rasa bersalah.
Selama ini Dinas percaya pada ayah dan ibunya. Tiap kali dia bertanya tentang Monika, mereka selalu mengatakan kalau gadis pujaan hatinya itu baik-baik saja.
Tentu Dimas percaya, tak pernah sekalipun dia berpikir jika orang tuanya akan berbohong. Dimas melanjutkan sekolah di Jogja juga atas paksakan mereka, mereka meminta Dimas untuk menemani Budhenya yang tidak punya keturunan.
"Nggak apa-apa kok Dim, aku ngerti."
Monika menarik nafas dalam, bukan waktunya ia untuk bersedih. Monika menarik tangannya yang di genggam erat oleh Dimas, tentu laki-laki itu tak rela untuk melepas.
"Dim, bisa lepasin nggak enak kalau orang lihat," ucap Monika yang sadar jika punya suami. Dia menarik tangannya tapi dengan kuat Dimas menahan.
"Kenapa? Siapa memang yang akan melihat. "
"Aku yang akan melihat!"
Monika langsung berdiri melihat kulkas sepuluh pintu yang berjalan mendekat. Dimas pun bangkit, menoleh kebelakang. Ia penasaran siapa yang membuat Monika sampai gugup seperti itu.
"Aku mencarimu dari tadi? Kenapa kau keluar tanpa izin seperti ini, hem?" Yoonji bertanya dengan nada suara yang terdengar tak biasa.
Pri itu mengusap pucuk rambut Monika kemudian melingkarkan tangannya di bahu wanita itu.
"Hem, aku hanya bosan di dalam," jawab Monika mengimbangi akting Yoonji.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa bersama istri saya?" Tanya Yoonji dengan sorot mata tajam, seperti singa yang siap mengoyak mangsanya.
Istri. Hati Dimas bagai dipotek- potek jadi lima mendengar orang asing itu memanggil Monika sebagai istrinya.
perjanjian kalian harus dibatalkan