Julio Arjuna Lesmana, seorang CEO di perusahaan ternama. Namun sangat manja dengan maminya.
Bella Kasyim, sekertaris Julio yang di pilih untuk di jodohkan dengan Julio.
*
*
Dengan kemanjaan Julio pada maminya membuat Bella merasa tidak yakin jika Julio akan menjadi suami idaman untuknya.
Bella memimpikan seorang suami yang macho dan perkasa, juga bisa menjaganya.
Siapa yang sangka jika seorang pria yang sangat manja dan lemah lembut dengan maminya, memiliki permainan ranjang yang sangat panas bahkan Bella tak bisa mengimbanginya.
Tapi untuk menjaga dirinya, apakah seorang pria yang di julukinya anak mami dan selalu berdiri di belakang maminya, mampu untuk menjaga seorang istri?
*
*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak tahu malu
Ada alasan yang membuat Julio selalu dekat dengan Lila dan selalu bermanja dengannya, sebenarnya Julio tak semanja itu untuk pria yang memiliki IQ di atas rata-rata dan menjabat sebagai CEO di perusahaan sebesar yang dia pimpin saat ini. Alasannya hanya Julio sendiri yang tahu dan tak pernah dia bagi dengan orang lain.
Bella telah meraung-raung nikmat di bawah kungkungan Julio, pria itu sangat pintar mempermainkan wanita di bawahnya.
Julio tak henti-hentinya membolak-balik tubuh Bella hingga dia sudah tak berdaya lagi sampai dia harus meminta ampun kepada Julio.
"Aah, aku sudah tidak kuat lagi." ujar Bella dengan suara yang telah parau.
"Sabar, sayang!! Ini tidak akan lama lagi," ucap Julio dengan terengah-engah.
"Ya, ampun. Cepatlah!" pinta Bella.
Sebenarnya Julio belum ingin mengakhiri permainannya, dia sangat kecanduan dengan tubuh wanita itu, tapi melihat Bella yang tengah lemas dia sungguh tidak tegah lagi.
Julio mempercepat pergerakan pinggulnya dan seketika erangan panjang terdengar di telinga Bella seraya dengan Bella yang menancapkan kukunya di pundak Julio.
"Hah, hah, hah..." suara deru nafas Julio serta Bella saling bersahutan di dalam kamar.
Julio mengecup kening Bella sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Julio sangat bahagia hingga senyumnya tak pernah pudar dari wajahnya, sedangkan Bella tengah memejamkan matanya mengikuti rasa kantuknya karena lelah.
"Bel, kau tidur?" tanya Julio dengan mendwkatkan tubuhnya ke tubuh Bella dan merangkulnya.
"Hm," Hanya itu jawaban dari Bella tanpa membuka matanya.
Julio pun mengikuti Bella dalam mimpinya, tidur menyamping, membawah Bella dalam pelukannya.
*
*
Waktu pukul 05.00 pagi, Bella membuka matanya perlahan.
Badannya serasa remuk karena pertempuran mereka semalam, sungguh tulang-tulangnya terasa terlepas dari persediannya hingga untuk bergerak pun sangat sulit rasanya, apalagi sebuah tangan kekar tertumpu di perutnya.
"Aw!! Sakit semua badanku," aduh Bella pada dirinya sendiri.
"Hm, kau membangunkan yang sedang tidur." ucap Julio dengan mata terpejam.
"Kalau begitu, jangan bangun," kesal Bella yang tak bisa bangun karena tangan Julio tak menyingkir darinya.
"Kau membangunkan yang di bawah sana!" Dengan cepat Julio mengambil tangan Bella, menyeret ke arah daging yang tak bertulang itu.
"Awk!!" pekik Bella, meraba sesuatu keras di antara kedua paha Julio.
"Kenapa?" tanya Julio dengan terkikik.
"Apa itu yang semalam?" Julio menganggukan kepalanya.
"Pantas saja rasanya sakit. Kau menusukku menggunakan benda keras dan sangat besar itu!!" Julio terbahak mendengar penuturan Bella.
"Hahaha... kau lucu sekali!!" seru Julio di sela-sela tawanya.
"Apanya yang lucu? Itu benar!!" ucap Bella.
"Coba ku lihat!!" seru Bella seraya menarik selimut yang tengah menutupinya.
"Owh, ya tuhan... sebesar itu!!" kejut Bella saat melihat senjata Julio yang tengah berdiri tegak.
"Hei, apa yang kau lakukan?" ketus Julio.
"Apa? Aku melihatnya!" jawab Bella.
"Kau tidak tahu malu," ucap Julio lagi.
"Seharusnya yang malu itu aku. Aku wanitanya, kenapa kau yang malu?" ujar Bella.
"Astaga anak ini!! Kau ingin memancingku?"
"Apa!! Memancing? Kau bukan ikan yang harus di pancing."
Perdebatan terjadi di antara mereka dan yang di perdebatkan sungguh hal-hal yang tidak penting sama sekali hingga keduanya berhenti karena kehabisan kata-kata untuk di ucapkan.
"Hahaha..." mereka saling menatap satu sama lain dan akhirnya tertawa bersama, merasa lucu dengan perdebatan mereka.
"Berhenti tertawa! Aku haus," ucap Bella.
"Baiklah, akan ku ambilkan airnya."
"Kenapa tidak pergi juga?" tanya Bella yang merasa tenggorokannya sudah kering.
"Kau sadar?"
"Aku hanya ingin minum!!" Seru Bella tak mengerti dengan ucapan Julio.
"Kau akan melihatku te***jang," ucap Julio.
Di sini seharusnya Bella yang merasa malu, tapi ini adalah kebalikannya. Julio merasa malu jika Bella melihatnya tanpa busana, sedangkan Bella sendiri tak peduli dengan hal itu.
"Dasar kau, tidak tahu malu!!" seru Julio yang akhirnya pasrah dengan keadaan, sedang Bella sendiri hanya cekikikan melihat Julio yang kesal.
"Hihihi...."
"Hentikan tawamu, seperti kuntilanak." kesal Julio.
"Hahaha..." Bella semakin melebarkan tawanya dan mencuil sedikit burung kecil milik Julio yang telah susut.
"Hei!! Astaga, kau memang tidak tahu malu!!" ujar Julio lalu masuk kembali dalam selimut menutupi setengah tubuhnya.
"Ini airnya, cepat minum!" pinta Julio.
Bella meraih gelas dari tangan Julio dan segera meneguk isinya hingga habis. Julio meraih kembali gelas itu dan meletakannya ke atas nakas.
"Bella!! Apa yang kau lakukan?" pekik Julio.
"Aku hanya memegangnya," ucap Bella tersenyum.
"Astaga!! Aku tidak tahan... Iiissshh" ucap julio. "Jangan salahkan aku, jika kau tak bisa berjalan siang ini." ucap Julio yang tengah berada di atas tubuh Bella saat ini.
"Aku suka yang perkasa!!" ungkap Bella dengan senyuman mengembang.
.
.
.
.
Ayo, like-likenya...🤗🤗🤗
kirain apa ...
kuharap othoorrr nya mau up & lanjutin crtanya lg ya,,, semangat 💪💪💪