Bagaimana jadinya seorang Nenek menjelajah waktu ke zaman kuno?
Would you believe that?
Yaa ... Dia adalah seorang Nenek berusia 50 tahun bernama Chan Lya, yang harus menjelajah waktu ke Zaman kuno.
Nenek Chan terbunuh di saat ia menyelamatkan cucu kesayanganya dari pria yang ingin menangkap mereka, dan di saat-saat terakhirnya ... Nenek Chan berdo'a kepada sang dewa jika dia ingin mempunyai kehidupan ke dua, di mana dia adalah wanita kuat dan berkuasa agar semua orang tidak semena mena terhadapnya.
Akan ‘kah Nenek Chan bisa hidup di zaman kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani_aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Kelakuanya.
A Grandmother's Time Trevel•
...🐉🐉🐉...
"Aku telah tidur dengan Putri Shuan, dan aku tidak terlalu ingat bagaimana kami bisa melakukan nya."
Nenek Chan diam mendengarkan.
''Dan sekarang Putri Shuan tengah mengandung anakku.''
Nenek Chan menyengir. ''Lalu? untuk apa kau menjelaskan semua itu padaku.''
''Tentu saja aku harus menjelaskan padamu, karna Putri Shuan menjanjikan aku sesuatu.''
''Dan sesuatu itu apa? Tunggu, biar aku tebak. Anak selir itu pasti menjanjikan padamu jika aku pasti mau menerima dirimu walau kau dan anak selir itu menikah?'' tebak Nenek Chan, yang membuat Pangeran Zhu Quan terdiam.
''Memang itu yang dia janjikan padaku, dan aku hanya perlu membuat mu cemburu agar kau mengakui perasaan mu padaku dan memohon agar aku menikahi dirimu.''
Ahhh ... Nenek Chan jadi teringat ketika pertama kali mereka bertemu, terlihat jika Pangeran Zhu Quan memperlihatkan perhatian yang lebih pada Putri Shuan, dan itu hanya untuk membuatnya cemburu.
''Haha-haha hah ... Dasar Pangeran bodoh! Kau mau saja di janjikan seperti itu oleh anak Selir tidak tau diri itu.'' Nenek Chan tertawa terpingkal pingkal.
''Ma- hahaha ... mana mau aku menjadi selir mu! Apa kau sudah gila? Aku ini Putri Mahkota.'' Pekik Nenek Chan merubah ekspresi nya menjadi dingin..
''Guan'er.''
''Tidak perlu menjelaskan apapun! Karna aku tidak perduli. Lihat itu, calon istri mu datang.'' Tunjuk Nenek Chan dengan dagu nya.
''SEDANG APA KALIAN!'' Bentak Putri Shuan dengan marah.
Nenek Chan mengorek telinganya, ''Ya ampun ... teriakan seseorang membuat telingaku berdengung.''
''Kau! Kau pasti sudah menjelek-jelekan diriku di depan Pangeran Zhu, iya 'kan?''
''Cih, pede sekali anda! Tidak perlu aku menjelekan dirimu di depannya, karna kau sudah jelek dari lahir.'' Nenek Chan pergi begitu saja.
Putri Shuan yang belum selesai berbicara ingin menyusul, namun di cegah oleh Pangeran Zhu Quan. ''Apa apaan kau ini! Kami hanya sekedar mengobrol.''
''Tapi Pangeran... aku tidak suka ka--''
''DIAM! Diam atau aku akan membatalkan pernikahan kita!''
''Pangeran ...'' Putri Shuan melirih dengan sedih.
Pangeran Zhu Quan mencengkram dagu Putri Shuan dengan kencang. ''Dengar! Kalau bukan kau sedang mengandung darah dagingku, aku tidak sudi menikah denganmu.''
Sreet!!
Pangeran Zhu Quan menepis dagu Putri Shuan hingga terjatuh, membuat Putri Shuan meremas hanfu nya dengan kesal.
"Sialaaan! Ini semua pasti gara-gara Guan."
~
~
~
Nenek Chan dan dua dayang nya keluar istana, mereka akan melihat-lihat ke kota untuk menghilangkan kebosanan, karna Kaisar Zhang dan yang lainya belum selesai berbincang.
Ketiga nya sudah sampai di pusat kota, dan melihat aneka barang dari satu toko ke toko lainya ... bahkan mencicipi berbagai makanan khas kerajaan Ning.
"Rupanya makanan di sini tak kalah enaknya."
"Benar Putri.''
Ketiganya mengunyah makanan yang ada di tangan mereka.
''Putri, anda ingin ke mana lagi?" tanya dayang Nienie.
"Ummm aku ingin ...'' Nenek Chan bingung mau kemana lagi, lalu indra pendengaran nya mendengar jika ada yang membunyikan genderang.
Trang ...
...Trang ......
Trang ...
Seseorang membunyikan genderang dari balik kerumunan orang, membuat Nenek Chan penasaran dan melangkah untuk melihat apa yang terjadi.
Nenek Chan melihat jika ada seorang laki-laki memegang genderang dan seorang wanita yang sedang berlutut dengan keadaan tangan dan kakinya terikat.
Pakaiannya lusuh, rambutnya acak-acakan tidak beraturan. Membuat orang yang melihatnya begitu prihatin.
"Perhatian perhatian, cobalah lihat gadis yang aku bawa di hadapan kalian. Dia cantik dan masih bisa bekerja, harganya di buka dengan empat puluh tell perak."
Seketika mata para lelaki hidung belang bersinar, mengalahkan sinar mentari yang ada di atas mereka. Lalu pria bertubuh gemuk maju dan mengacungkan tanganya.
"Delapan puluh tell."
"Seratus tell."
''Seratus lima puluh tell."
"Dua ratus tell."
Dua orang memperebutkan budak yang di jual, hingga mereka tidak ada yang mau mengalah.
"Lima ratus tell perak."
Saingannya merasa geram karna kalah talak, lalu ia pergi karna geram ... sedangkan pria bertubuh gemuk itu tersenyum bangga karna telah memenangkan budak cantik itu.
Sedangkan Nenek Chan berbisik dengan dua dayang nya. "Apa di kerjaan ini masih ada yang menjual budak?"
"Maaf Putri, memang begitulah cara kerjanya. Setiap kerajaan pasti menjual budak, termasuk kerajaan kita."
Nenek Chan membelalakan kedua matanya, "Kalian pun seperti itu?"
Dayang Niyu dan dayang Nienie menunduk.
"Haisss ... benar-benar belum merdeka." Gumam Nenek Chan dalam hati, lalu tersenyum ketika si Ilham memberikan nya ide.
"Ayo ikut aku." Nenek chan pergi dari sana menuju ke tempat di mana si ilham akan beraksi.
~
~
''Kau sangat cantik, kau akan aku jadikan gundik di kediaman ku." Ucap pria gemuk yang berhasil membeli budak cantik itu.
"Jangan Tuan, saya lebih baik menjadi pelayan seumur hidup di kediaman mu. Janganlah kau jadikan aku gundik mu."
"Kau mau melawanku! Kau tidak akan bisa." sentak pria gemuk itu sambil menyeret budak yang baru dia beli.
Sedangkan Nenek Chan mengintip dari balik tembok lalu keluar menubruk pria bertubuh gemuk itu.
BRUG!!
''Awww ...''
''Apa kau tidak punya mata!'' Bentak pria gemuk itu tak suka.
''Maaf, Tuan ... saya begitu terburu-buru.'' Ucap Nenek Chan mendayu dayu, sehingga pria gemuk itu tersenyum senang saat kedua mata keranjangnya melihat wanita cantik.
''Biar aku membantu dirimu.'' Pria bertubuh gemuk itu melepaskan tali budak itu dan menolong Nenek Chan.
Dayang Niyu dan dayang Nienie menarik budak itu tanpa sepengetahuan pria gemuk, membuat Nenek Chan tersenyum senang.
Nenek Chan berdiri dan tersenyum malu-malu di balik kipasnya, membuat pria gemuk itu gemas.
"Siapa nama mu cantik."
"Bulan Tuan.''
''Ahhh Nona Bulan, nama yang cantik seperti orangnya."
"He-he-he ... terima kasih Tuan.'' Nenek Chan tertawa, sambil melipat kipasnya dan memperlihatkan giginya yang hitam serta tompel yang besar di pipinya ... membuat pria gemuk itu tersedak ludahnya sendiri.
''Haiikk.''
''Tuan ... anda baik-baik saja?''
''Jangan sentuh aku! Kau menjijikkan." pria gemuk itu mundur kebelakang, sedangkan Nenek Chan terus maju.
Membuat pria gemuk itu ketakutan hingga terjungkal kebelakang.
''Ahhh Tuan ada kecoa di hanfu mu.''
''Ah ... h ahhh aha ...'' Pria gemuk itu menjerit. ''Di mana ... di mana kecoa itu."
''Itu Tuan.''
BHUUK!!
''Aiiiii telur ku ...'' Pria gemuk itu tercicit kesakitan, saat Nenek Chan menginjak kedua telur serta burung milik pria itu.
''Ya Dewa, Tuan! Anda baik-baik saja? Maaf ... aku sengaja, ehh tidak sengaja.'' Nenek Chan berlari meninggalkan pria gemuk itu yang masih terkapar di tanah, memikirkan burung serta kedua telurnya yang besar kemungkinan pecah tak berfungsi lagi.
•
...🐉🐉🐉...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...