Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Tanah dan Tirai Pengkhianatan
Malam itu, hening desa yang damai tiba-tiba terkoyak oleh suara ketukan keras. Di dalam rumah, semua orang menahan napas. Pintu berderit. Ibu Roki perlahan, dengan sangat santai, membukakan pintu.
"Selamat malam, Bu," sapa orang asing dengan seragam rapi yang tampak mencurigakan.
Ny. Kirana memaksakan senyum ramah yang dingin. "Selamat malam. Ada perlu apa ya, datang malam-malam begini?"
Pria itu, yang mengaku sebagai 'polisi palsu', mengeluarkan dua lembar foto yang buram. "Kami sedang mencari dua orang ini. Apa Ibu pernah melihat keduanya?"
Ny. Kirana menggeleng, sorot matanya yang tenang sama sekali tidak menunjukkan kegugupan. "Saya tidak melihatnya. Siapa kedua orang ini, sampai polisi harus repot-repot datang ke rumah-rumah?"
"Mereka berdua adalah buronan berbahaya yang sedang kami cari," jawab pria itu dengan nada mengancam. "Jika Anda melihat keduanya, tolong hubungi kami segera."
Pria itu, bersama rekannya, berbalik dan berjalan perlahan keluar dari taman depan.
Ny. Kirana menutup pintu dengan perlahan. Wajahnya yang tegang segera muncul di balik tirai jendela. Dia mengintip keluar.
"Kenapa 'polisi' itu masih berjaga di depan rumah?" bisik Ny. Kirana, suaranya tercekat.
Tiba-tiba, dari belakangnya, terdengar suara. Roki sudah berdiri tegak, auranya berubah drastis dari anak rumahan yang polos.
"Mereka bukan polisi, Ma," kata Roki, nadanya tajam dan datar.
Ny. Kirana menoleh cepat, matanya membesar karena terkejut. "Bukan polisi? Lalu bagaimana dengan kedua orang yang bersembunyi di bawah?"
"Sedang dalam pemeriksaan intensif," jawab Roki, langkahnya mendekati tirai.
Ny. Kirana menatap putranya, mata mereka bertemu. Ada gejolak emosi dan pertanyaan yang tak terucapkan. "Roki, sebenarnya apa yang terjadi sampai mereka dikejar seperti itu? Kau menyembunyikan sesuatu yang besar, Nak."
Roki hanya menggelengkan kepalanya dengan penyesalan, namun ia tidak bisa menjelaskan segalanya. Dia menarik tirai kembali, menutup dunia luar dari pandangan mereka. "Kita harus bersikap biasa, Ma. Jangan sampai mereka mencurigai kita."
Mereka berdua mulai melakukan aktivitas malam yang normal, tetapi di bawah ketenangan itu, ada ketegangan yang mencekik.
Di ruang rahasia di bawah tanah, Rendi dan Mizuki berada dalam cahaya lampu darurat yang redup. Bau antiseptik dan tanah basah menyelimuti ruangan.
Mizuki berbaring di meja darurat, wajahnya pucat pasi. Dokter Mio, seorang wanita berwawasan luas dengan mata yang fokus, sedang membersihkan lukanya. Rendi berdiri di samping, tangannya memegang alat medis untuk membantu Mio. Mereka sedang berjuang mengeluarkan peluru dalam perut Mizuki.
"Tahan, Mizuki," desis Rendi, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
Setelah operasi kecil yang mendebarkan, Mio akhirnya berhasil. "Selesai. Peluru sudah keluar. Kita barulah bisa melakukan tindakan selanjutnya."
Mio menyeka keringat di dahinya, tatapannya beralih ke Rendi. "Rendi, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku lihat, Mio," ucap Rendi, fokusnya masih pada Mizuki.
Setelah selesai membalut luka Mizuki dengan perban tebal, Rendi duduk. Mio kemudian beralih ke luka lecet yang didapat Rendi saat dikejar.
"Ceritakan padaku," Mio mendesak, menatap mata Rendi dengan keseriusan penuh. "Aku tidak ingin membahayakan Roki. Kamu tahukan ucapanku tentang menjaga kerahasiaan identitas ini."
Rendi menarik napas dalam-dalam, pandangannya meredup karena pengkhianatan yang baru ia saksikan. "Mio, Hizam dan Marco berkhianat. Mereka bekerja untuk pimpinan mereka, tapi aku belum tahu siapa dia. Kami dikejar mereka ingin nyawa kami berdua agar identitas mereka tidak ketahuan." Suara Rendi penuh kepedihan.
Tiba-tiba, suara tenang dan dingin menyela dari pintu masuk ruang bawah tanah.
"Jika itu yang terjadi, kenapa kalian tidak menyembunyikan diri saja sampai waktunya tiba pimpinan mereka keluar, dan mencari tahu apa yang mereka inginkan?"
Roki muncul dari balik bayangan. "Bos!" Mio terkejut, beranjak berdiri.
Roki mengabaikan Mio, matanya tertuju pada Rendi. "Bagaimana kondisi mereka berdua?"
"Untuk luka sudah ditutup. Mungkin tinggal menunggu Mizuki sadar," jawab Mio cepat.
Tidak lama setelah obrolan singkat itu, Mizuki membuka mata. Pandangannya kabur sesaat sebelum ia melihat sekeliling, lalu menatap punggung Rendi. "Rendi, di mana kita?" ucap Mizuki, suaranya lemah.
Rendi menoleh dan menatap Mizuki dengan kelegaan yang besar. "Bagaimana kondisi kamu?"
"Aku baik-baik saja, hanya saja di mana kita berada," kata Mizuki, sebelum pandangannya menangkap sosok Roki. "Kamu bukannya Roki?"
Roki berjalan santai mendekat, aura Bos besarnya tak terbantahkan. "Kamu tidak usah khawatir. Kamu aman di sini. Jangan keluar atau menemui Bosmu terlebih dahulu, sampai kalian menemukan siapa dalang yang telah mengacaukan semuanya."
Mizuki mencoba bangkit, rasa sakit menusuk perutnya. "Apa maksud kamu?"
"Bukankah kamu sudah tahu apa yang terjadi sebelum kamu tertembak?" tanya Rendi, menatap Mizuki.
Mizuki menatap Rendi dengan tatapan penuh kecurigaan. "Sebenarnya kamu siapa, Rendi?"
"Aku anak buah Martin (Bos Mizuki) dan juga anak buah Roki," jawab Rendi dengan santai, nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
Mizuki menatapnya dengan marah. "Apa kamu menghianati Tuan kamu?"
"Tidak. Untuk apa aku menghianati kedua tuanku? Aku menyembunyikan semua identitas mereka berdua karena aku juga memiliki bawahan yang aku percaya di tempat lain," kata Rendi, nadanya tenang dan penuh kontrol diri.
"Apa maksud kamu?" ucap Mizuki yang benar-benar tidak paham dan merasa dikhianati.
Roki tersenyum kecil. "Begini, biarkan aku menjelaskan. Rendi memang bawahanku, tapi dulu. Sekarang, dia sudah memiliki tuannya sendiri yang dia pilih Tuan Martin. Aku di sini hanya membantu mantan bawahanku yang kesusahan saja. Apa salah?" kata Roki dengan nada santai yang provokatif.
"SALAH!" seru Mio, tidak bisa menahan diri.
"Apa yang kamu katakan tidak salah, hanya saja kamu tidak pernah berubah ya, Roki," kata Rendi, tersenyum, menunjukkan bahwa dia memahami betul sifat mantan Bos-nya.
"Ayolah, aku hanya bercanda," Roki tertawa kecil. "Sebaiknya kalian istirahat saja. Dan satu lagi, Kalian harus memilih dari dua pertimbangan yang aku buat." Roki berhenti, menciptakan ketegangan.
"Pertama, kalian di sini dan menyembunyikan identitas kalian, termasuk kedua Bos kalian tidak boleh tahu siapa aku dan keberadaan kalian. Yang kedua, kalian keluar dan dikejar oleh orang yang akan membunuh kalian berdua." Roki menoleh ke pintu.
"Ohhh, ada satu lagi, tapi tidak sekarang aku mengatakannya," ucap Roki, lalu dia berjalan pergi, meninggalkan mereka dalam keheningan yang berat.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain, mata Mizuki dipenuhi kebingungan dan keputusasaan. Mio, sebagai orang yang lebih dewasa, angkat bicara.
"Pikirkan baik-baik, Mizuki. Mana yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini? Jangan terburu-buru oleh emosi."
Beberapa hari telah berlalu. Selama masa pemulihan itu, Rendi dan Mizuki berdiskusi panjang. Mereka akhirnya sadar bahwa satu-satunya cara untuk melawan musuh tak terlihat adalah menghilang.
Mereka berdua sudah memutuskan untuk menyembunyikan identitas mereka dengan mengubah wajah mereka dengan bantuan Mio yang sudah ahli dalam kedokteran dan teknik penyamaran. Perubahan wajah itu total, menghapus identitas lama mereka.
Roki yang menerima keputusan mereka, membantu mereka. Dia membawa mereka keluar negeri untuk mencari dan menambah wawasan mereka dalam mencari informasi dan melarikan diri dari kejaran.
Sebelum mereka pergi, mereka harus membuat satu perpisahan yang penting. Mereka pergi menemui tuan mereka masing-masing dengan wajah yang baru, memberikan informasi singkat dan samar tentang ancaman internal, tanpa mengungkapkan jati diri mereka yang sebenarnya. Sebuah perpisahan yang penuh emosi terpendam.
Sementara itu, di sebuah markas tersembunyi, Marko berteriak frustrasi. "Bagaimana kalian tidak menemukan kedua orang itu?! Kalian tidak berguna!"
"Kenapa kamu masih marah saja?" ucap Hizam yang muncul dari bayangan, nadanya dingin dan sinis.
"Kenapa kamu di sini?" balas Marko tajam.
"Daripada menguruskan mereka ke mana, lebih baik kita kembali ke posisi. Mungkin saja mereka akan muncul dengan sendirinya," ujar Hizam, memainkan gelas di tangannya.
"Apa yang kamu katakan benar juga," Marko tersenyum licik. "Hanya menunggu saja... sambil menuangkan bumbu untuk keduanya."
Mereka berdua saling tertawa, tawa hampa yang penuh rencana jahat. Tiba-tiba, pintu terbuka. Andre, Bos mereka yang sesungguhnya, masuk.
"Kenapa Anda di sini, Bos?" kata Marko, seketika tegang.
"Aku ke sini ingin menanyakan, Apa tugas kalian membunuh dua orang itu sudah berjalan lancar?" tanya Andre, suaranya rendah dan mengancam.
Mereka berdua kembali gelisah dan saling bertukar pandangan yang panik. "Kenapa kalian diam?" kata Andre dengan tajam, matanya menyala.
Marko memberanikan diri. "Sebenarnya begini, Bos. Kami belum menemukan mereka berdua saat ini. Mereka menghilang tanpa jejak."
"Apa?! Belum ketemu?! Bagaimana jika rencanaku gagal oleh mereka berdua?!" Andre marah besar, membanting gelas di depannya hingga pecah berkeping-keping.
"Bos, tenang dulu," sela Hizam cepat. "Sampai sekarang, mereka belum muncul di hadapan pimpinan mereka berdua. Mereka pasti bersembunyi. Kita masih punya waktu."
"Apa benar itu, Marko?" tanya Andre, tatapannya beralih.
"Apa yang dikatakannya benar, Bos. Sampai sekarang mereka belum muncul. Mungkin mereka sedang bersembunyi di tempat lain," kata Marko, menelan ludah.
"Cepat cari tahu keberadaan mereka berdua! Jangan sampai mereka mengganggu rencanaku! Apa kalian mengerti?!" Andre mulai berjalan pergi, amarah masih terlihat jelas di wajahnya.
Tepat sebelum Andre menghilang, dia menoleh ke arah keduanya. "Jangan lupa membuat keduanya bermusuhan, mengerti?"
Andre pergi. Keheningan jatuh di ruangan itu. "Akhirnya dia sudah pergi," kata Marko, menghela napas lega.
Hizam menatap Marko dengan nada menyalahkan. "Itu salah kamu tidak bisa menemukannya. Bukannya kamu dari awal sudah tahu ke mana Rendi, tapi sampai sekarang masih belum ketemu?"
"Aku sudah melakukan yang sebisa aku lakukan, sampai menghancurkan dan membunuh orang kepercayaannya. Tapi dia tetap tidak keluar," balas Marko, nada suaranya penuh keputusasaan.
"Sebenarnya mereka pergi ke mana, sampai kita tidak menemukannya?" tanya Hizam, frustrasi.
"Mana aku tahu," ucap Marko singkat.
Sampai mereka berdua mendapatkan pesan rahasia untuk berkumpul. Mereka saling pandang. Sudah waktunya.
Mereka yang sudah siap melakukan drama kedua drama untuk membuat Bos Martin dan Bos yang lain bermusuhan berjalan ke tempat pertemuan. Sebelum masuk, Marko dan Hizam saling adu tinju satu sama lain dengan keras, menciptakan luka palsu, mempersiapkan diri mereka untuk sandiwara kebohongan yang akan mereka mainkan. Wajah mereka penuh kebohongan dan ambisi yang siap dilancarkan.