WARNING!!!
Area 21+🔥🔥
HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN YA.
Martin Williams, seorang pemuda berusia 26 tahun dititipkan seorang anak gadis berusia 05 tahun oleh sahabatnya yang meninggal karena menderita penyakit kanker getah bening stadium akhir.
Martin awalnya akan menyerahkan anak gadis tersebut kepada ayahnya yang keberadaannya belum diketahui. Namun, saat ia mengingat kembali ucapan Larissa, ibu dari gadis tersebut, Martin memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Martin, kumohon jaga putriku, aku percaya kamu akan merawatnya dengan baik. Dan aku mohon, jangan sekalipun kamu menyerahkan Ayu pada ayahnya, dia bukan ayah yang baik, aku tidak bisa mempercayakan Ayu pada ayahnya untuk dirawat olehnya. Ku mohon."
Martin pun mau tidak mau mengiyakan dan memutuskan untuk merawat Ayu juga menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Namun, saat usia Ayu menginjak 18 tahun, Martin malah jatuh cinta pada putri angkatnya tersebut dan bertekad akan menjadikan Ayu sebagai wanitanya. Bagaimanapun caranya. Tidak peduli dengan usianya yang hampir menginjak kepala empat.
Bagaimanakah Ceritanya? Yuk kita ikuti perjalanan cinta Om Martin yang penuh dengan kekonyolan.
IG: @el_gazendra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Gazendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-19
Martin sampai di perusahaannya, hari ini ia tidak dijemput lagi oleh David karena memang ia yang melarangnya.
Martin memarkirkan mobilnya di lobby khusus petinggi, setelahnya ia keluar lalu berjalan menuju lift khusus yang diperuntukkan baginya saja.
Tak lama kemudian ia sampai di lantai teratas gedung perusahaan tersebut, ruangan kerja yang super luas yang di dominasi oleh warna cat putih abu-abu.
Martin melangkahkan kakinya menuju kursi kerjanya, tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar dan David pun masuk tanpa menunggu jawaban sang atasan. Karena memang sudah menjadi kebiasaannya, tentunya atas titahan Martin.
"Selamat pagi Bos." Sapa David yang hanya dibalas anggukan serta deheman oleh Martin.
"Hari ini jadwal saya apa saja?" Tanya Martin seperti biasa dengan nada datar tanpa melihat pada David.
"Hari ini jadwal Bos adalah pukul 09.00 menghadiri meeting penting untuk membahas proses pembangunan Mall yang saat ini tengah berjalan pembangunannya bersama Tuan Angga juga jajaran lainnya yang juga ikut andil dalam pembangunan ini, selanjutnya pukul 13.15 ada pertemuan dengan Tuan Baskoro karena kemarin Tuan Baskoro sempat mengatakan ingin bertemu langsung dengan Bos. Semalam saya lupa menyampaikannya dan maaf hehe. Sudah hanya itu saja Bos." Ujar David panjang lebar yang hanya di respon anggukan oleh Martin.
Yeee si Bos, ngangguk-ngangguk mulu kayak orang bisu.. Batin David sebal.
Martin mendengus pelan, pasti ada saja kelakuan menyebalkan asistennya tersebut. Tapi bagi Martin kekonyolan David ada manfaatnya juga untuk menghibur dirinya.
"Baiklah, siapkan berkas-berkas yang harus saya periksa. Dan tolong perintahkan OB untuk membuatkan kopi." Titah Martin seraya membuka laptopnya yang berisikan semua data-data penting perusahaannya.
David mengangguk, "Siap Bos, laksanakan!" Ucap David lalu berpamitan keluar untuk kembali ke ruangannya serta menghubungi pantry untuk menyampaikan titahan Martin.
*****
"OMG Beeeb!! Kamu kemana aja sih? Dari kemarin udah kita telpon, di chat, tapi gak pernah di angkat, kamu gak pa-pa kan?" Tanya Fani, sahabat gesrek Ayu dengan ekspresi cemas nya.
"Iya bener, Lo kemana sih? Bikin khawatir kita aja. Kemarin sempat aku tanya sama Kak Revan, katanya kamu di bawa sama Om-om. Kamu gak di perkosa kan?" Celetuk Dea, sahabat satunya lagi yang sama-sama gesrek.
"Sue Lo! Kemarin itu Daddy aku, aku kemarin kepergok sama Daddy saat lagi jalan sama Revan di Mall. Waktu itu aku di paksa pulang." Terang Ayu memberitahukan.
"WHAT!!" Dea dan Fani berucap serentak.
"Jadi saat Lo di usir sama Bu angsa galak itu, Lo jalan sama Kak Revan?" Tanya Dea dan di anggukki oleh Fani.
Ayu mengangguk dengan santainya.
"Parah Lo ya, jalan gak ajak-ajak. Gue sama Fani kemarin malah kelimpungan kena amukan Bu angsa galak itu, soalnya lupa ngerjain tugas gara-gara nonton Bo-kep-
"Memtfttt.." Fani langsung membekap mulut Dea dengan kedua tangannya. Dea main ceplas-ceplos saja tanpa melihat situasi, untung saja jarak mereka bertiga lumayan jauh dari mahasiswa lain.
"Parah Lo ya! Kalo ada yang denger bisa malu kita.." Ucap Fani menatap kesal pada Dea dengan posisi tangan masih menutup mulut sahabat gesreknya tersebut. Sedangkan Dea hanya cengengesan karena dirinya memang sering keceplosan.
"Maaf..." Ucap Dea setelah bekapan tangan Fani terlepas.
Ayu memutar bola matanya, gara-gara dua manusia laknat tersebut dirinya pun jadi kena hukuman dari Daddy-nya.
"Masih untung kalian.. Coba aku, seharian kemarin aku di kurung tanpa megang HP maupun laptop. Tau kan gimana bosennya?" Ujar Ayu sebal mengingat kembali kejadian kemarin juga semalam tadi.
"What!! Serious?" Tanya Fani dan Dea bersamaan dengan mimik tidak percaya.
"Duarius malahan..." Jawab Ayu.
"Waaah kereeen!!" Sahut Dea bertepuk tangan kecil.
"****** Lo! Temen menderita dibilang keren." Ketus Ayu sembari memutar matanya malas.
"Iya Lo! Gak jelas!" Dukung Fani mendungus sebal.
"Yeee gitu amat, maksud gue itu Lo keren banget bisa ngelewatin seharian tanpa megang HP. Lo gak uring-uringan?" Ujar Dea memperjelas, namun tidak berarti apa-apa untuk Ayu.
"Hampir mati kebosanan yang ada. Mana semalam ketahuan lagi sama Daddy, gue melihara Video bo-kep." Celetuk Ayu yang langsung membuat Dea dan Fani terserang serangan jantung mendadak.
"Su-suer? Terus Lo di apain sama Daddy Lo?" Tanya Dea panik, karena bagaimana pun ia adalah biang keroknya yang suka kirim-kirim video 21+ itu ke grup mereka bertiga.
Grup yang seharusnya dipergunakan untuk membahas tugas kuliah, malah jadi lapak berbagi video dewasa, dengan nama grup bo-kep unyu-unyu yang disingkat jadi BUU.
"Jelas lah kena amukan, mana di ancem lagi kalo aku nyimpen gituan lagi, Handphone sama laptop aku bakalan di sita. Mampus kalo sampe bener-bener di tahan." Ujar Ayu.
"Tapi Lo gak bawa-bawa kita kan?" Tanya Dea lagi masih dengan mimik panik.
Ayu menggeleng. "Enggak, kalian tenang aja. Karena aku adalah teman yang baik dan tidak mengadukan kalian sama Daddy aku, jadi sebagai balasannya kalian harus traktir aku makan pulang nanti."
Huk!
Fani dan Dea bengek, kenapa endingnya jadi seperti ini, pikir keduanya.
"Lah kok gitu sih Beb, tau sendiri kan uang jajan aku lagi di potong satu bulan sama Mama, jadi yang traktir kamu Dea aja ya." Ucap Dea dengan mimik memelas nya.
Dea memutar bolanya malas. "Kok jadi aku sih? Lo mah alasan aja Fan!" Ujar Dea tidak Terima.
"Mau gimana lagi," Jawab Fani cuek.
"Hah terserah! Pokoknya pulang nanti di antara kalian harus ada yang traktir aku. Titik!" Ucap Ayu tidak ada bantahan.
"Iya, traktir aku juga ya De hehe." Ucap Fani cengengesan.
"Heleh, Ogah! Habis yang ada uang jajan gue." Jawab Dea mendengus sebal.
Fani ikut mendengus sebal dengan bibir monyong. "Pelit!"
"Bodo amat!" Ketus Dea.
"Udah ah kok malah jadi ribut, kita ke kelas, bentar lagi masuk." Ajak Ayu sembari melirik jam tangannya. Dea dan Fani langsung mengangguk setuju.
*****
Waktu menunjukkan pukul 11.45, setelah berkecamuk dengan mata kuliah yang hampir membuat rambut atas bawah mereka rontok, akhirnya tiga bersahabat itu keluar juga dari ruangan kelasnya.
"Gak lupa kan sama yang aku minta?" Tanya Ayu tiba-tiba saat mereka berjalan menuju parkiran mobil.
"Iya iya enggak kok, emangnya Fani yang banyak alasan." Jawab Dea sembari menyindir.
"Yeee.. Aku bukannya alasan, tapi emang faktanya kayak gitu." Respon Fani tidak mau disalahkan. Padahal dalam hati mengiyakan.
"Udah jangan debat lagi, sekarang aku yang nentuin restorannya. Kita pakai mobil Daddy aku aja, Yok!" Putus Ayu sembari melangkah duluan meninggalkan kedua sahabatnya.
Lumayan, uang jajan aku bisa aku pake buat shopping hihi...
"Hiis main tanggal-tanggal aja," Gerutu Dea.
"Tau tuh!" Sambung Fani.
Lalu keduanya mengikuti Ayu yang sudah berjalan jauh di depan.
"Woy tunggu!" Teriak Dea, keduanya pun berlari menyusul Ayu yang main nyelonong saja.
*****
Ketiganya sampai di restoran tujuan, sebuah restoran yang tidak terlalu mewah namun sangat ramai pengunjung.
Walaupun ketiganya berasal dari keluarga berada, tapi mereka lebih suka makan di tempat kalangan tengah ke bawah. Bahkan pedagang kaki lima pun mereka datangi.
Setelah mengucapkan terimakasih pada sopir, ketiganya segera melangkah masuk karena perut mereka sudah sangat keroncongan.
Ketiganya duduk di salah satu meja yang posisinya berada di pojokan. Dari sana mereka bisa melihat langsung seluruh pengunjung restoran tersebut.
Mata Ayu mengedar, tepat di salah satu titik, ia tidak sengaja melihat seseorang yang sangat di kenali-nya.
Deg!
skip..malas gw baca😪