Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
laporan Zoan
📞Varel calling.....
Edho terkejut mendengar suara ponselnya.
"Halo, jawabnya menempelkan ponselnya di telinganya.
"Lo dimana? Masih lama ngak? Kami mau pulang."
"Aduh, maaf tunggu aku kembali." Edho mengakhiri panggilan tersebut, mencuci mukanya supaya tidak terlihat habis menanggis. Sebanyak apapun air yang dia gunakan untuk mencuci muka. Muka nya tetap terlihat sembab, khas orang habis menanggis.
"Maaf kalian sudah nunggu lama." Kata Edho
begitu tiba di ruang rawat bundanya.
"Lo kenapa?" Memperhatikan muka Edho yang terlihat kacau.
"Gue baik-baik saja kok, Kalian baliklah ini juga sudah larut malam."
"Hem, Varel tersenyum, merengkuh Edho dalam pelukannya. "Ceritain ke gue setiap masalah lo, gue selalu siap mendengarkan, jangan di pendam sendiri."
"Kita balik ya Edho."
Merekapun meninggalkan Edho bersama dengan bunda Clara.
Setelah kepergian Varel dan Nasya. Edho menghampiri sang bunda, duduk di samping bunda, meraih tangan bunda dan mengenggam erat.
"Bunda, katakan bahwa apa yang aku dengar hari ini adalah kebohongan. Katakan itu semua hanya mimipi. Edho tidak tahu apa yang harus Edho lakukan. Mungkin semua itu hanyalah masa lalu. Masa lalu yang tidak bisa di ulangi lagi.Masa lalu yang menyakiti hati ayah. Masa lalu yang membuat keluarga kita menjadi begini. Apakah benar bahwa Ayah Baim bukanlah ayah biologisku. Kenapa ayah meragukan ku, padahal aku sangat yakin dia adalah ayahku. Aku yakin bunda bukanlah tipe orang yang seperti itu. Baim berucap dengan air mata jatuh deras membasahi wajahnya.
****
"Edho kenapa? gue merasa aneh, kenapa Paman Baim tidak ikut masuk dan menjaga Bibi Clara?" Tanya Nasya ketika mereka sudah meninggalkan rumah sakit.
"Entahlah, mereka sepertinya mempunyai permasalahan yang cukup rumit."
"Permasalahan seperti apa? Selama ini gue pikir hubungan mereka baik-baik saja."
"Hubungan mereka tidak seindah yang terlihat."
"Ada apa?"
"Entahlah, Edho juga engan menceritakan semuanya padaku. Aku pikir juga itu permasalahan keluarga mereka. Kita tidak
perlu ikut campur."
"Hemm, melihat tangannya yang di genggam oleh Varel.
"Kenapa? Ngak boleh?"
"Lo lupa apa yang Papi katakan tadi di kantor?"
"Hemm, cuma menggengam tangan aja,masa ngak boleh sih."
"hem, Nasya mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Fokuslah untuk mengemudi." Menarik tangannya yang di genggam oleh Varel.
"Peganggan tangan aja," Memasang muka memohon.
"No..no..
"Nasya... "
"Bilangin Papi ya."
Varel terdiam mengerucutkan bibirnya.
"Tampannya hilang kalau mukanya digitukan." Goda Nasya pada Varel.
Varel tetap diam, berusaha menahan senyumnya.
"Kalau mau senyum, senyum aja jangan di tahan-tahan gitu."
"Kenapa lo terus godain gue sih," Mengacak rambut nasya.
Mereka diam sesaat, yang terdengar hanya alunan musik yang mengema mengiringi perjalan mereka menuju rumah.
"Thanks udah ngantar aku pulang. Ngak mampir?"
"Gue langsung pulang aja, udah larut malam juga."
"Hehe, bilang aja takut bertemu papi."
"Ngak juga, aku balik ya, dah...
Masih berdiri menatap Nasya.
"Kenapa?" Binggung pada Varel karena belum beranjak dari tempatnya.
"Masuklah dahulu, kalau lo udah masuk baru gue jalan."
Nasya masuk, melambaikan tangan, salam perpisahan dengan Varel.
"Lagi kasmaran ya begitu kayak orang gila, senyum-senyum sendiri." Tegur Kenzo melihat putrinya yang senyum tidak jelas.
"Papi kayak ngak pernah muda aja," Ikut duduk di samping Maminya yang sedang menonton televisi.
"Papi lagi apa? Kenapa baringnya harus di pangkuan Mami? Paha Mami ngak kecam di jadikan bantal begitu." Giliran Nasya yang protes kelakuan orang tuanya.
"Kenapa kamu yang jadi sewot, Mami mu aja ngak keberatan. Lagian Papi dan Mami sudah menikah. Bermesraan begini ngak jadi masalah. Yang ngak boleh tuh, kamu dan Varel, kalian harus menjaga jarak."
"Kenapa jadi bawa-bawa Varel."
"Pi, kayaknya kak Nasya dan Kak Varel harus di nikahkan secepatnya. Papi tau ngak, Zoan tadi pergoki mereka hampir ciuman di kantor." Zoan muncul entah dari mana, tiba-tiba saja sudah duduk menghadap Televisi.
"Ciuman!" Ucap Kenzo dan Nancy bersamaan.
"Ngak Pi, Zoan tuh salah sangka tadi. Ada kotoran di muka Nasya, Varel lagi bantuin Nasya buang kotoran tersebut." Nasya terlihat gugup dengan muka bersemu merah.
"Masa buang kotoran saling nempel-nempel satu sama lain."
"Zoan," renggek Nasya menatap tajam pada Zoan.
"Nasya, Papi dan Mami udah memperingatkan kamu akan hal ini."
"Iya Pi, Nasya minta maaf."
"Tuhkan betulan mereka mau ciuman.Pi nikahin aja mereka secepatnya." Ucap Zoan acuh terus menatap televisi.
"Mami," Nasya meminta pembelaan dari sang Mami.
"Betul tuh kata Zoan." Tambah Mami tak menghiraukan Nasya.
Sementara Kenzo hanya diam, dia menatap ke arah televisi tetapi pikirannya ketempat lain. Dia memikirkan hubungan antara Baim dan Clara.
"Sayang, lagi mikir apa?" Nancy mengelus lembut pipi Kenzo.
"Masih kepikiran yang tadi siang."
"Ada apa mi?" Tanya Nasya penasaran.
"Tadi Papi dan Mami kerumah sakit menjenguk Clara. Ada sesuatu yang tidak beres antara Baim dan Clara."
"Nasya juga merasa demikian.Selama di rumah sakit, Nasya tidak melihat Paman Baim berada di sisi Bibi Clara. Dia hanya melihat dari jauh."
"Apa perlu kita turun tangan?" Tanya Kenzo
"Aku rasa ngak perlu, sepertinya ini mengenai masalah pribadi mereka. Kita tidak usah ikut campur." kata Nancy
"Iya betul kata mami,kita tidak perlu ikut campur.Tambah Nasya.
"Ting.. ting.. ting... (tanda pesan masuk di ponsel Nasya)
"Kenapa ponsel kak berisik banget sih." Sewot Zoan.
"Iya, perasaan ponsel Nasya berbunyi terus sejak tadi." Tambah Nancy.
"Pesan dari Varel." Ucap Nasya jujur.
"Cepat di balas takutnya dia datang kesini lagi kayak beberapa hari yang lalu." Ucap kenzo, beranjak dari baringnya. "Ayo sayang, kita istirahat." Kenzo mengenggam erat tangan Nancy.
"Aku kekamar dulu, Nasya mengambil tasnya dan memasuk kamar. Meninggalkan Zoan yang masih asik menonton sebuah acara talk show di televisi.
"Sayang, aku sungguh tidak tenang, aku merasa permasalahan antara Baim dan clara ada hubungannya dengan ku." Ucap Kenzo mengeratkan pelukannya pada Nancy.
"Aku juga merasa demikian, apa ngak sebaiknya kita bertanya pada Baim?" Nancy memberi ide. Dia membenamkan Wajahnya di dada Kenzo.
"betul juga, kamu akan menemaniku untuk bertemu dengan Baim. Aku tidak ingin muncul kesalahpahaman lagi." Kenzo berucap mencium puncuk kepala Nancy.
"Sayang...."
Panggil Kenzo.
"Hemm, jawab Nancy masih membenamkan wajahnya di dada bidang kenzo.
"Apa kita perlu membuat adik untuk Nasya dan Zoan?"
"Sayang, jangan ngelantur deh. Ingat umur, kita sekarang hanya menunggu cucu dari anak-anak. Usia kita sudah tidak muda, Lihatlah rambutmu yang mulai beruban."
"Aku menginginkan itu." Tersenyum mesum.
"Menginginkan apa?" Nancy pura-pura tidak tahu.
"Jangan sok polos," Mulai menindih badan Nancy.
Adengan selajutnya silahkan berimajinasi sendiri. Author tak sanggup menulisnya. 🤭🤭