ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•Rumah Mas Rizal I•
Tanpa turun dari mobil Mas Rizal bukakan pintu depan untukku. Aku tersenyum sebagai ucapan terima kasih. Aku nggak habis pikir, kenapa Fathir begitu marah dan nggak mau dengar penjelasanku. Cemburu kah dia? Cemburu untuk apa?
"Kenapa?" Mas Rizal mungkin melihat kebingunganku. Aku berusaha tersenyum lalu menggelengkan kepala.
"Lulus kan?" tanyanya lagi. Aku ngangguk.
"Lalu ...." Dia masih penasaran dengan perubahan ekspresi wajahku.
"Aku capek, aku istirahat sebentar ya ...." Mas Rizal melihatku sebentar, mengangguk lalu melepas jasnya.
"Pake ini!" Dia memberikan jasnya. Alisku bergabung.
"Cukup mata dan bibirmu saja yang membuatku terpesona. Jangan ada bagian lain, yang malah membuatku hilang kendali." serunya.
Aku mencari bagian lain yang Mas Rizal maksud, ternyata bagian bawah tubuhku, dress ku sedikit terangkat saat duduk.
"Aku lupa kalau sekarang aku sedang bersama pria dewasa yang normal." Aku letakkan jasnya menutupi pahaku.
"Maksudmu normal?" Aku pejamkan mataku sambil menahan senyum.
"Dasar!" Mas Rizal mencubit hidungku gemes. Aku pejamkan mataku sambil menahan tawa.
'Tiiiin ... Tiiiiin ... Tiiiin ....'
Suara klakson membangunkanku. Aku benar-benar tidur. Posisi tidurku berubah, ada bantal di kepala dan guling berbentuk Doraemon di pelukanku.
Aku tutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku berusaha mengumpulkan kesadaranku. Setelah aku buka mataku, aku terperanjat, tubuhku langsung terduduk setelah melihat bukan Mas Rizal di kursi kemudi tapi dua anak perempuan.
"Hai Tante ...." Suara mereka yang cempreng berhasil membawa kembali kesadaranku.
"Hai." Sapaku dengan senyum malas khas bangun tidur.
"Apa dia sudah bangun?" Suara Mas Rizal dari bagasi belakang, dia mengeluarkan sesuatu.
"Tantenya Om Rizal, kenalin! Aku Mala." Gadis kecil berkulit putih mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya
"Aku Ifah." Badannya lebih besar, mungkin dia kakaknya, tapi wajah mereka beda. Dia juga mengulurkan tangannya, aku juga menyambutnya.
"Ayo masuk, Tantenya Om Rizal!" Panggilan mereka terdengar menggelikan. Mereka turun dari mobil. Aku mengikuti mereka keluar dari mobil.
"Mala, Ifah, ini buat kalian." Mas Rizal memberikan sebuah tas berisi pakaian dan coklat.
"Mala ...." Seorang wanita dengan penampilan modis tetap terlihat seksi meskipun sedang hamil tua berteriak dari depan pintu rumah.
Rumah ini terlihat seperti istana di film animasi Cinderella atau semacamnya. Arsitektur bergaya klasik modern, dengan pilar dan pintu tinggi besar, rumah ini bukan hanya terlihat mewah, tapi berkelas. Ada air mancur di tengah halaman rumah. Beberapa mobil dan motor terparkir rapi di tempatnya.
"Dia Mbak Mika, istrinya Mas Arifin. Ibu menjadikan dia standar calon istri buatku dan menurut Mas Arifin, kamu jauh lebih oke dari dia." Terang Mas Rizal sambil menutup pintu bagasi mobilnya.
"Ngobrolnya di dalam saja, ayo ...." Tiba-tiba Dokter Arifin muncul dari belakang kami.
Aku dan Mas Rizal ngangguk. Mas Rizal menarik pergelangan tanganku, sedang di tangan satunya lagi sibuk dengan beberapa kantong plastik. Eh, kapan dia belanja?
"Kita nggak sedang nyebrang." Aku tarik tanganku, sedikit risih dan yang pasti aku nggak mau yang melihat akan berpikiran lain.
"Sini biar aku bantu Mas." Mas Rizal memindahkan semua tas plastik dari satu tangannya ke kedua tanganku.
"Kapan kamu beli semua ini?" tanyaku. Dia malah menyalakan rokok.
"Apa tadi aku tidurnya nyenyak banget ya Mas?" tanyaku sambil melongokkan kepalaku mencari jawaban. Dengan menenteng banyak tas plastik aku berusaha menjajari langkah Mas Rizal.
"Mas ...." Teriakku karena merasa nggak di gubris.
"Apa? Keberatan?" Mas Rizal malah bicara yang lain. Aku geleng, emang nggak berat tapi dua tanganku penuh.
Seorang ibu-ibu berlari pelan menghampiri kami.
"Permisi nona, biar saya yang bawa." Katanya dengan membungkukkan badannya. Dia meraih semua barang bawaanku. Yaelah, jadi sungkan.
"Oh nggak usah Buk." Aku berusaha membawanya sendiri. Terjadilah semacam perebutan kekuasaan.
"Namanya Bik Yah. Kasih saja sebagian, dia pengen bantuin kamu." Tanpa banyak bicara Bik Yah menyahut semua belanjaan dari tanganku.
"Lho Bik, kok di bawa semua?"
"Nggak papa Non ...." Bik Yah pergi membawa semua tas plastik setelah membungkukkan badannya.
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️