Malam itu, Alya mendapat pesan dari pacarnya yang memberitahukan jika ayahnya mabuk.
Sebagai Seorang anak, Alya berniat untuk pergi menjemput Ayahnya, tapi siapa sangka di balik itu semua, pacar yang begitu ia percaya dan sangat dia cintai ternyata membohonginya.
Dia di jebak sampai tak sadarkan diri, rupanya Alya di bawa ke sebuah hotel, disana dia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Dan yang lebih sialnya lagi, sadar ia sudah sadar, laki-laki yang bersamanya semalam sudah menghilang entah kemana.
Beberapa bulan kemudian Alya di nyatakan positif hamil, ada dua janin di dalam perutnya, hal itu membuat Alya harus menanggung gunjingan dari orang-orang Sekitar karena kehamilannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? akankah Alya bahagia dengan anak kembarnya? lalu siapa ayah dari kedua anaknya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tebakan Nina
Nina melirik Alya, seketika rasa semangatnya tumbuh, dia berdiri dari kursi, maju kedepan meminta spidol pada gurunya.
"Kenapa tanganku gemetar? Tidak boleh... Nina harus bisa, tidak boleh takut! Buktikan kalau Nina juga bisa sepintar kakak kalau menulis!" dia mencoba menguatkan dirinya.
Goresan tinta hitam di papan tulis mulai terlihat, wali kelas dan Alya serta beberapa murid mulai memandanginya serius.
"Wah... Tulisan Nina cantik sekali!" puji wali kelasnya.
"Makasih bu guru! Aku sudah selesai, aku akan membacanya!" dia berbalik mensrii nafas dalam-dalam, detak jantungnya masih berpacu begitu cepat, Nina masih gugup dia menoleh kearah Alya, disana Alya terlihat memberi semangat.
"Semangat sayang! Kamu pasti bisa!"
Nina mulai menyebut satu persatu angka yang baru saja ia tulis hingga selesai dan disambut meriah oleh semua orang yang ada di kelas.
Begitu pula Alya yang merasa bagga dan bahagia, padahal dia tau bahwa kedua anaknya belajar sendiri dan tak pernah ia masukkan ke sekolah kanak-kanak.
Kakak beradik itu paling menonjol di hari pertama, tidak seperti anak-anak lain yang bahkan ada yang belum bisa menulis nama mereka sendiri.
Alya menunggu sampai mereka pulang, dia duduk di kursi taman dekat pagar, ada juga beberapa orangtua disana.
Saat murid-murid berhamburan keluar kelas, Alya berdiri melihatnya, "Mama!" Nina berlari diantara oara murid, wajahnya berseri-seri sementara Nino berjalan dengan santainya.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh!" tegurnya.
Nina tidak perduli dia semakin berlari dan memeluk kaki ibunya, "Sekolah sangat menyenangkan mama! Aku suka sekolah, bu guru dan juga teman-teman!"
"Baguslah... Anak pintar!"
Alya pulang setelahnya, mereka berdua berjalan kaki menelusuri jalan dibawah sinar matahari yang menyengat kulit.
"Mama aku lapar!"
"Nina lapar? Ya ampun! Maaf mama tidak peka ya? Kalau begitu mama akan bawa kalian ke warung! Mama jamin makanan disana enak-enak!"
Nina begitu antusias mendengarnya, "Mau, Nina mau mah!"
"Kita sudah hampir sampai, lebih baik makan dirumah saja, masakan mama jauh lebih enak!" Nino menyela.
"Apa? Tidak mau! Nina maunya makan di warung, titik!"
"Kalau begitu kau pergi saja sendiri, biar aku dan mama makan di rumah!" ketus Nino.
"Huwaah! Mama, kakak sangat jahat padaku! Huhu!" Dia mengadu pada Alya.
"Nino jangan begitu pada adikmu! Mama setuju kalau kita bertiga makan di warung! Sekali-sekali sayang! Jadi tidak apa-apa!" Alya berucap dengan lembut.
"Baiklah mah! Kalau itu mau mama juga!"
Alya tersenyum simpul pada mereka, dia segera membawa anak-anaknya ke warung tempat ia dulu bekerja.
Rasanya menyenangkan sekali, Alya tak henti-hentinya menatap Nino dan Nina, dia bahagia, sangat-sangat bahagia.
***
Esok harinya Alya kembali bekerja seperti biasa, berangkat pagi setelah mengantar putra-putrinya kesekolah.
Dert... dert... Dert....
Saat di gerbang sekolah dasar itu, ketika Alya menunggu ojek online yang ia pesan lewat aplikasi. Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk.
Alya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, tak ada nama yang muncul selain hanya 12 angka yang ada di layar ponselnya.
"Ini nomor siapa?" dia bertanya-tanya sembari menatap bingung pada nomor itu.
"Halo... Ini siapa?" Alya menerima panggilan tersebut.
Namun tidak ada yang menyahut, "Halo? Ini siapa ya? Apa salah sambung atau bagaimana? Kenapa tidak ada suara? Halo.... "
Tut....
Panggilannya tiba-tiba terputus tanpa ada sahutan dari orang yang menelfon.
"Ini nomor siapa? Apa orang iseng? Astaga! Tapi dari mana dia mendapatkan nomorku?" Alya bingung sendiri memikirkannya.
Tak sempat menelfon balik, ojek online Alya sudah datang, dia harus segera berangkat.
Tiba di toko tempatnya bekerja, ponselnya bergetar lagi dengan nomor panggilan yang sama, setelah mengangkat tidak ada suara sama sekali.
Alya kesal dia mematikan ponselnya karena tak ingin di ganggu, "Pasti orang ini benar-benar kurang kerjaan!" umpatnya.
Berbeda dengan Nino dan Nina, si kembar itu begitu giat mengikuti pelajaran yang di berikan oleh gurunya.
Waktu istirahat pun mereka berdua tetap berdiam diri didalam kelas sambil membaca buku.
Beberapa jam berlalu bel pulang berbunyi, Mereka berjalan kaki, Nino menggandeng tangan adiknya dia bertindak sebagai kakak yang selalu menjaga Nina.
"Kakak, apa papa kita memang masih hidup?"
"Jangan bahas itu lagi! Mama tidak mau membahas itu juga! Kakak kan sudah menyuruhmu untuk tidak bertanya!"
"Maaf kak!"
Nina merajuk, dia melepas tangannya dari genggaman tangan Nino dan berjalan lebih cepat mendahuluinya.
Dia berlari, dengan berlerai air mata, "Cih... Dasar cengeng!"
Mulut Nino memang begitu, tapi pada akhirnya dia juga berlari menyusul adiknya.
Nino masuk kedalam rumah, sepatu dan kaos kaki Nina sudah berserakan di lantai, dia tau adiknya itu sedang marah jadi seperti itu.
Nina memungutnya, menyimpan sepatu Nina di rak sepatu dengan rapi bersebelahan dengan sepatu miliknya.
Tak lupa Nino menutup pintu, dan menguncinya.
"Nina!" panggilnya lirih ketika memasuki kamar dan melihat adiknya tengkurap diatas ranjang dengan seragam sekolah masih melekat ditubuhnya.
"Ganti baju dulu! Bagaimana kalau bajumu kotor? Atau kusut? Itu tidak baik di lihat! Cepatlah... Baru kita makan!" suruhnya membuka lemari pakaian, dan menganti pakaiannya.
"Ini ganti bajumu sekarang!"
Nino mengeluarkan satu set pakaian untuk Nina.
"Tidak mau! Aku membencimu kakak!" Nina menolak.
"Iya, kakak salah! Kakak minta maaf, cepatlah bangun dan ganti bajumu!"
Nina bangun, duduk di atas ranjang, "Kakak benar-benar tulus atau pura-pura?" tanyanya serius.
"Menurutmu?"
"Kakak pura-pura iya kan?"
"Ahh sudahlah Nina, kakak sangat lapar! Kakak mau makan sekarang! Kamu ganti saja bajumu lebih dulu, kakak akan menunggumu di meja makan!"
Nino berjalan keluar meninggalkan adiknya.
"Tuh kan? Kakak memang tidak tulus meminta maaf padaku!" jerit Nina tak terima.
"Kakak tulus!" Nino menoleh dengan senyuman datar.
"Jangan senyum begitu, wajah kakak malah terlihat jelas sangat tidak tulus! Humph.... "
"Aish... Cepatlah, kalau tidak kakak tidak akan menyisakan telur untukmu!"
"Awas saja kalau kakak menghabiskannya!" gerutunya kesal.
Nino menutup pintu membiarkan adiknya berganti pakaian setelah berdebat, dia berjalan ke arah meja makan.
Namun indra pendengarannya tak sengaja mendengar suara mobil berhenti didepan rumah, Nino keluar mengintip ke celah gorden jendela.
Ternyata benar ada mobil mewah, tapi supir mobil tidak bisa di lihat olehnya, mesin mobil juga sudah berhenti tapi orang dalam mobil itu tak kunjung turun.
"Kakak, kakak dimana? Aku sudah mengganti bajuku!"
"Nina kesini sebentar!" Dia memanggil adiknya.
"Ada apa kak?" Nino mengajak Nina untuk ikut mengintip bersamanya, "Itu mobil siapa?"
"Kakak juga tidak tau!" jawab Nino.
"Apa itu orang yang kemarin menemui mama?" Tebak Nina.
"Tidak mungkin!"
Mereka berdua terus memantau dengan sangat penasaran, gelapnya kaca mobil membuat Nino tak bisa melihat masuk wajah pengendara mobil mewah itu.
"Apa Jangan-jangan itu papa kita kak?" Nina kembali menerka-nerka.
nggak sanggup beli peredam suara 🤣🤣🤣🤣
tapi Lo*** atau Pe**c**
pemuas dahaga situan besar..
kayak sprite.. ilangin dahaga tapi bikin candu 🤣🤣🤣
emang perempuan yang tidak memakai cincin emas itu pasti belum nikah ya?🤣🤣🤣
ada korban, pelaku nggak langsung di tangkap dan beri pertolongan pertama kepada korban.. malah dialog panjang n pergi tanpa berikan pertolongan 🤣🤣🤣
😁
👕👍Great!
👖
melapor dulu dgn kirim pesan ini malah bantu maling