[Sedang Mengalami Revisi]
[Sebaiknya baca Modern System selama novel ini direvisi]
"Guru, berarti si cacat Deon tidak akan pernah bisa menjadi seorang Machitis? ... Benar-benar sampah klan Aciel."
Pada awalnya Deon hanyalah pemuda kurang beruntung dari klan terkuat tapi dapat hidup bahagia di kota Nervik.
Semenjak terjadinya suatu peristiwa di kota Nervik kehidupan Deon berubah secara perlahan. Dimulai dari kematian ibunya disusul perubahan sikap seluruh anggota klan kepada Deon.
"Aku memanglah bukan orang pendendam, tapi, aku tidak akan terima jika seluruh anggota klan ku dibantai! Apalagi jika wanita yang paling aku sayangi terluka!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Project, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19 Malam Untuk Lily
Malam hari di kota Vi Intan, terlihat Deon, Felix dan Lily berjalan bersama mengelilingi kota yang berjuluk Permata Isla. Tentunya mereka berjalan-jalan sehabis makan malam bersama.
Dari ketiganya, Lily lah yang paling bersemangat. Kedua bola mata Lily terus mengamati setiap inci keindahan bangunan di kota Vi Intan. Lily bahkan tidak sadar jika Deon dan Felix kelelahan dibelakangnya.
"Dulu aku tidak pernah bisa melihat pemandangan kota secara langsung seperti ini." Ucap Lily dalam hati yang kagum sambil terus berjalan.
"Adik itu jualan apa ya?" Ucap Lily saat melihat anak kecil berjualan di pinggir jalan. "Beli ah..." Lily langsung berjalan mendekati anak itu.
"Hei, adik jualan apa?" Ucap Lily ramah.
"Jual sate, apa kakak cantik mau beli?" Ucap anak itu.
"Ya." Lily.
Setelah membeli sate dari anak itu, Lily kembali berjalan mengelilingi kota Vi Intan sambil memakan sate yang dibelinya.
"Ehm... Deon dan Felix mau gak ya?" Ucap Lily sambil membalikkan tubuhnya.
Terkejut, itulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan Lily saat ini. Lily tidak melihat keberadaan Deon dan Felix. Lily terpisah dari Deon dan Felix.
"Kemana mereka?" Ucap Lily panik.
Lily tidak kenal siapa-siapa selain Deon dan Felix di kota Vi Intan, Lily juga baru pertama datang ke kota Vi Intan, apakah Lily akan tersesat.
Dengan terburu-buru karena panik, Lily langsung berlari sekuat tenaga untuk menemukan Deon dan Felix. Lily tidak tau pasti keberadaan Deon dan Felix ada dimana, Lily hanya mengikuti instingnya membawa kemana.
*****
Beberapa saat yang lalu.
"Lily, pelan-pelan!" Ucap Felix yang kelelahan sendiri mengikuti Lily, dan akhirnya Felix berhenti sejenak mengikuti Lily.
"Hah~ kak Lily terlalu bersemangat." Ucap Deon yang ikut berhenti dan langsung mengelap keringat di keningnya sendiri.
"Iya." Felix.
"Lho, dimana kak Lily?" Ucap Deon terkejut karena tidak melihat Lily.
"Lho, ayo cepat cari Lily, Yon." Felix.
"Siap." Deon.
Mereka berdua langsung berlari menembus lautan massa dihadapan mereka. Deon dan Felix terus mencari Lily kemanapun, celah bangunan, warung soto, angkringan kemanapun itu yang sekiranya ada Lily.
Karena tidak kunjung juga bertemu dengan Lily, Felix berkata kepada Deon. "Yon, bagaimana kalau kita berpencar? Nanti kita bertemu kembali di penginapan."
"Baik." Ucap Deon langsung setuju dengan ide Felix.
"Kamu ke sana, aku ke sana." Tepat setelah Felix mengucapkan kalimatnya, ia dan Deon langsung berpencar detik itu juga.
*****
Kembali ke Lily.
Lily yang terus berlari tanpa tau arah yang pasti, malah membuat dirinya kini berada di jalanan yang sangat sepi. Hal itu tentu saja membuat Lily tambah panik tidak karuan.
"Deon, Felix, kalian di mana?!!!" Teriak Lily sekuat tenaganya. Tapi karena dirinya berada jauh dari Deon dan Felix, kecil kemungkinan, teriakan Lily dapat didengar Deon maupun Felix.
Dengan air mata yang mulai keluar dan dengan bodohnya, Lily malah berjalan masuk ke dalam celah dua bangunan yang tentu saja sangatlah sepi.
"Hiks... Hiks... Deon, Felix, kalian di mana." Ucap Lily sambil menangis tersedu-sedu.
"Maaf, aku meninggalkan kalian, aku janji tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi, tapi tolong aku sekarang. A-aku sangat takut, Deon, Felix, tolong..." Ucap Lily menyesal.
"Hai nona, kenapa kamu menangis?"
Tiba-tiba terdengar suara seorang pria. Lily langsung mencari sumber suara tersebut sambil berteriak. "Yon, Felix, apakah itu kalian?"
Tapi sayang, pemilik suara itu bukanlah Deon atau Felix. Pria itu berjalan mendekati Lily.
Lily berjalan mundur secara perlahan. Lily tidak pernah melihat atau bahkan kenal dengan pria itu.
"Kamu siapa? Jangan mendekati ku!" Ucap Lily yang melawan rasa ketakutannya.
"Nona jangan takut! Namaku Vinson, aku adalah Machitis level Gamma di kota ini, tugas Machitis adalah melindungi orang yang kesusahan, maka dari itu aku mau menolong nona." Pria itu memperkenalkan diri. "Kenapa nona menangis?"
"Ka-kamu Machitis? Apa kamu kenal Felix dan Deon? Aku tersesat, bisakah kamu membantuku mencari mereka?" Ucap Lily berusaha tenang.
"Ya, aku akan membantu nona mencari teman nona, nona, tolong ikuti aku." Tepat setelah Vinson mengucapkan kalimatnya, ia langsung berjalan dan diikuti oleh Lily disampingnya.
"Apa nona ini baru datang ke kota Vi Intan?" Ucap Vinson memulai percakapan.
"Iya, aku baru datang ke kota ini, tadi sama teman-temanku." Ucap Lily yang kini sudah bisa tenang.
"Oh... Pantas nona belum tau jalan di kota ini." Vinson. "Apa teman nona adalah Machitis?"
"Iya, teman-temanku adalah Machitis, bahkan Felix mampu mengalahkan lima pria bertubuh besar dan kekar seperti raksasa seorang diri." Ucap Lily membanggakan kekuatan Felix.
"Oh... Berarti teman-teman nona adalah Machitis hebat ya?" Ucap Vinson memuji.
"Iya lah." Lily.
"Tapi, apa teman nona mampu mengalahkan 20 Machitis level Gamma seorang diri?" Vinson.
"Ehm... Kalau sebanyak itu, aku tidak tau." Lily.
"Oh... Ya sudah kalau begitu, teman-teman, aku bawa satu lagi ini." Tiba-tiba Vinson berteriak tidak jelas.
Dan ternyata, Lily baru sadar, jika Vinson malah membawanya ke tempat yang lebih sepi. Dan yang lebih buruknya lagi, ternyata Vinson dan teman-temannya yang berjumlah 19 orang sedang menelanj4ngi tiga wanita.
Bisa jadi Lily juga akan diperlakukan sama seperti ketiga wanita itu. Tak menutup kemungkinan, Lily dan ketiga wanita itu akan diperkos4 oleh 20 pria hidung pelangi.
"Hahaha, bagus Vinson, jika begini kan bisa lima-lima, kan adil jadinya." Ucap salah satu teman Vinson sambil berjalan mendekati Vinson diikuti tiga orang lainnya.
"Hai, kamu menjebak ku ya?" Ucap Lily kembali panik sekaligus ketakutan.
"Seharusnya kamu tidak mudah percaya dengan orang yang baru kamu kenal." Ucap Vinson sambil menyeringai mesum.
*KEP*
Saat Lily hendak kabur dari tempat itu, Vinson langsung menangkap tangan Lily agar Lily tidak bisa pergi dari tempat itu.
"Lepaskan aku, lepaskan aku!!!" Ucap Lily sambil memberontak sekuat tenaga. Tapi tetap saja, tenaga Vinson lebih besar dari pada dirinya.
Dengan cepat, Vinson langsung berada tepat dibelakang Lily dan menekuk tangan kanan Lily kebelakang agar Lily tidak banyak memberontak.
"Aaaach... Vinson sakit!!!" Teriak Lily kesakitan.
"Vinson, kau terlalu berlebihan." Ucap salah satu teman Vinson sambil membelai wajah Lily.
"Lepaskan aku, le- aaaach." Lily kembali kesakitan karena Vinson mengangkat tangan kanannya yang ditekuk kebelakang.
"Makanya jangan banyak tingkah." Ucap Vinson sambil sedikit mengendurkan kuncian-nya.
"Hiks... Hiks... Hiks... Yon, Fe-" ucap Lily terpotong kembali.
"Aku sudah datang."
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Deon Sword of Darkness" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.
muehehehe