"Maaf, aku mundur."
"Maksudmu?"
"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."
Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut.
~Sedekat apa pun kamu dengannya, kamu tidak akan bisa menebak isi hatinya. Maka dari itu, tetaplah berbaik sangka.~
☃️☃️☃️☃️☃️☃️
☃️☃️☃️☃️
☃️☃️
Riko baru saja menyelesaikan salat Isya. Ia yang pulang dalam keadaan basah kuyup membuat Dira khawatir. Bahkan maminya itu sampai memarahinya.
"Kamu ini sudah besar, tapi masih main hujan-hujanan!" kata Dira.
Riko hanya menjawab dengan senyuman. Ia tak memberi tahu apa yang telah terjadi. Di dapur, Dira baru saja selesai memasak. Ia berdiri mematung dengan kening berkerut, bingung. Sampai-sampai saat Dika datang pun, ia sama sekali tak menyadarinya.
Dika mendekat, mengamati sang Istri yang melamun di depan meja makan. Matanya mengitari meja yang penuh makanan tersebut. Tidak ada yang aneh.
"Sayang," panggilnya lembut. Dira belum sadar juga, hingga membuat kedua tangan Dika bergerak dan melingkar di pinggang sang Istri. "Ada apa?"
Seketika lamunan Dira pecah. Sentuhan tangan Dika di pinggangnya menggerakkan kepalanya melihat ke belakang. "Mas, malu kalau dilihat anak-anak nanti."
"Lho, memang kenapa? Seharusnya mereka senang, karena punya orang tua yang masih mesra sampai tua," elak Dika.
Dira menggeleng, heran.
"Kamu kenapa, sih, Sayang? Dari tadi aku panggil malah diam aja."
Dira diam sejenak, menghirup udara yang berada di sekitar, lalu berujar kembali, "Mas, aku merasa ada yang aneh sama Riko."
Dika bergeming. Sedetik kemudian lelaki paruh baya yang belum memiliki cucu itu mengerutkan keningnya. "Aneh gimana?"
"Akhir-akhir setiap pulang dari kantor, wajahnya murah," ungkap Dira. Perempuan itu dengan perlahan melepaskan kedua tangan suaminya. Berbalik cepat, hingga ia bisa bertatapan langsung dengan Dika. "Aku enggak tau Riko kenapa, tapi aku merasa khawatir sejak kejadian dua tahun lalu."
"Kamu mau tau sesuatu?" tanya Dika.
"Tentang apa, Mas?"
"Aku pernah bertemu Lily beberapa waktu lalu."
Dira tertegun. "Ya Allah, di mana, Mas?"
"Di rumah sakit, tapi ...." Dika ragu. Ia tak tahu apa yang akan menjadi tanggapan sang Istri tentang ini.
"Tapi kenapa, Mas?"
"Dia ke sana sambil menggendong anak kecil, dan Riki pernah keceplosan bilang kalau Lily juga sekarang bekerja di perusahaan Adnan."
Pernyataan Dika hampir membuat jantung Dira meledak. Ia yang menyaksikan langsung bagaimana prustasinya Riko saat ditinggal perempuan itu. "Mas, enggak bohong?"
Dina menggeleng cepat. "Untuk apa aku bohong, Sayang."
"Sebenarnya takdir seperti apa yang sedang bergulir di kehidupan anak kita, Mas?" Dira diam, menundukkan kepala.
Seketika Dika menariknya masuk ke dalam dekapan. "Jangan terlalu mengkhawatirkan tentang takdir. Baik dan buruk, itu semua tetap harus dilewati. Mas, yakin, apa pun yang terjadi itulah yang Allah pilihkan untuk anak-anak kita."
Dika menenggelamkan wajahnya di dada Dika. Pelukan lelaki itu masih sehangat dahulu. Tidak ada yang berbeda sama sekali. Tanpa mereka sadari, dua pasang mata milik Riko menyaksikan keduanya dari dekat pintu dapur. Ia membatu. Otaknya mencerna semua percakapan kedua orang tuanya. Ia tidak tahu, apa maminya masih bisa menerima Lily atau tidak?
"Bagaimana kalau Riko dan Lily kembali bersatu? Aku rasa itu sangat sulit diterima," ucap Dira.
"Kenapa sulit?" Dika bertanya dengan serius.
"Aku bisa merasakan sakit luar biasa yang Riko rasakan dulu. Lalu, bagaimana mungkin Lily dengan mudahnya kembali tanpa rasa bersalah sedikit pun!"
"Semua orang pernah salah, tidak ada yang sempurna. Wajar, jika kamu merasakan itu. Kamu adalah seorang Ibu. Hati Ibu mana yang tidak akan kesakitan melihat anaknya seperti itu? Tapi ... kita harus tetap berprasangka baik. Barangkali yang kita anggap luka dulu, justru ia adalah kunci utama kebahagiaan yang dinanti."
Dira diam. Hati Dika memang legowo sejak dahulu. Ia masih ingat betapa sabarnya Dika saat ditolak oleh dirinya beberapa kali, hingga menunggu sampai hatinya luluh. Sifatnya ini turun kepada Riko, laki-laki itu begitu setia dengan cinta pertamanya. Sungguh ... tali takdir itu memang tersambung satu sama lain, meskipun kita tidak pernah tahu ia menyambung dengan tali milik siapa.
"Andaikan Lily dan Riko bersama lagi, bagaimana tanggapanmu, Sayang?" tanya Dika.
"Kita belum tau kondisi Lily, Mas. Apa lagi Mas, bilang dia membawa seorang anak. Bisa saja dia sudah menikah," jawab Dira.
"Dia seorang singel parent."
Lagi-lagi jantung Dira dibuat terkaget. Dira melepaskan pelukannya, mengangkat kepala, dan menatap dalam-dalam netra Dika. "Dari mana, Mas, tau?"
Dika diam. Manik-manik indah milik Lily itu memancarkan keterkejutan yang luar biasa. "Dokter Rika. Anaknya Lily punya penyakit jantung bawaan, dan sering berobat. Karena seringnya itu, mereka jadi akrab. Dan, Dokter Rika tidak sengaja menanyakan tentang Ayah Kandung anaknya Lily, dan mendapati kesimpulan itu dari jawaban yang Lily berikan."
Seperti halnya dengan Dira tadi, Riko lebih terkejut. Kedua bola matanya membulat sempurna saat mendapatkan kenyataan lebih banyak kembali tentang Lily.
"Dan ... yang lebih penting. Anak itu bukan anak kandung Lily, karena saat anaknya membutuhkan donor darah. Lily jujur tentang status biologis dirinya dengan anak tersebut," lanjut Dika.
Dira diam mematung, sedangkan Riko bergerak maju dengan perlahan. Ia menghampiri kedua orang tuanya, lalu berkata, "Pa, Ma, aku ingin bicara sesuatu?"
Sontak Dira dan Dika membalikkan badan. Mereka terkejut dengan kedatangan Riko yang tanpa aba-aba.
"Soal apa, Nak?" tanya Dika. Dira masih belum kuat berbicara.
"Riko, berniat melamar Lily kembali. Meneruskan apa yang sempat terputus dua tahun lalu. Sesuai yang Papa katakan tadi sama Mama, Riko pikir ini waktu yang terbaik untuk membicarakannya." Riko berkata dengan tegas tanpa ragu sedikit pun. "Apa Papa dan Mama berkenan menerima Lily kembali di keluarga ini lagi? Restu Papa dan Mama adalah pondasi terkuat untuk langkah yang Riko ambil."
🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧
nikah kq dibuat mainan
begitu sih etikanya
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗