Sebuah desa yang penduduknya paling sedikit, berpenghasilan rendah namun hampir semuanya memilki rumah yang bagus, hidup santai dan kehidupan sehari-hari pun terpenuhi.
Tetapi penduduk desa lain enggan tinggal di sana dan mereka mengaku jika memandangi desa itu awalnya tampak indah dan tenang namun semakin lama auranya semakin aneh seperti ditutupi oleh awan gelap.
Tina memilih ikut pindah bersama keluarganya untuk membuka lahan pertanian setelah menyelesaikan kuliahnya dari jurusan agribisnis. Desa itu adalah tempat neneknya dari ayahnya. Dia memliki seorang adik berumur sembilan tahun dan akan pindah sekolah di sana.
Sebagai pendatang Tina pergi ke berbagai tempat di desa itu hingga dia berhenti di sebuah gubuk yang penuh darah dan sesajen. Dengan perasaan tak tenang dia keluar dari sana namun diluar seorang pria dan wanita tua dan pendek menunggunya. Tubuh mereka yang pendek karena tulang punggung yang bungkuk hampir seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna 020, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Berakhir
Sinar matahari yang menembus dari jendela terasa hangat di wajah Tina membuatnya terbangun, dan jam dinding sudah ada di pukul delapan.
Dengan segelas air dingin Tina berjalan ke arah halaman melihat sekitarnya dan sepertinya ada yang berubah.
Terlihat warga saling menyapa di jalan dan tersenyum bahagia, tentu ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Tina memperhatikannya.
"Mba Tina, makanlah...saya masak banyak pagi ini" seorang wanita tetangganya memberikan makanan.
"Terima kasih Bu"
"Ini tidak seperti biasanya, apa yang terjadi" ucap Tina dalam hatinya.
Kejadian malam itu membuat orang-orang yang hadir dalam ritual itu meninggal termasuk Pak Jaya dan istrinya, yang tersisa hanyalah anak-anaknya yang sempat melarikan diri karena mereka berada di atas.
Tak satu orang pun yang melihat kejadian itu, hanya Tina dan Firman lah yang menyaksikan semua. Api itu padam setelah diguyur hujan deras. Tak seorangpun terdengar membicarakan kejadian itu. Tentu Tina sangat berhati-hati dengan ucapannya.
"Saya sangat takut, apa yang harus kita lakukan?"
"Mungkin kalau bukan karena kita mereka semua akan selamat, apa kita harus jelaskan ke pihak yang berwajib?" tanya Tina ke Pak Iman.
"Jangan, itu bukan karena kita. Tidak perlu menjadi saksi, yang ada kita akan dituduh melakukan pembunuhan?" jawab Firman.
"Terus, emang kita penyebabnya kan? Kalau kamu tidak menjatuhkan lilin itu mungkin mereka masih bisa selamat."
"Mereka seharusnya bisa selamat, tapi seorang menutup pintu dari luar dan tidak jelas wajahnya seperti apa?"
"Jadi itu bukan kesalahan kita."
"Benarkah? Kenapa kau tak beritahu?"
"Saya takut Mba akan goyah saat itu?"
"Jadi bagaimana apa mereka sudah musnah dan Ibuku seharusnya sudah baik-baik saja kan?" tanya Tina.
"Seharusnya sudah tidak ada apa-apa, sore ini kita akan jenguk Ibumu" ucap Pak Iman.
Selagi Tina akan menjenguk Ibunya di sore hari, dia membereskan pekerjaan rumah.
"Suasana rumah ini menjadi sangat ngeri dan sepi belakangan ini" ucapnya merapikan kamarnya.
"Ibumu kemana?" Dino tiba-tiba menghampirinya.
"Untuk apa ayah tahu dimana Ibu, toh juga sudah tidak peduli."
"Apa maksudmu tidak peduli? Kamu sudah salah paham dengan Ayah."
"Ayah seperti tidak panik mencari dimana Ibu? Apa aku percaya dengan omongan ayah?"
"Baiklah. Akan ayah buktikan kalau ayah akan mencarinya sampai ketemu" balasnya dan keluar dari rumah itu.
"Kring.. kring... " ponsel Dino berbunyi dengan nama "Si Cantik". Tina menjawabnya tanpa mengucapkan halo.
"Sayang, kapan kita akan menikah. Bukankah kau sudah janji akan menikahi aku secepatnya dan istrimu lama sekali dia meninggal"
"Meninggal? Maksud kamu apa?" sahut Tina.
"Eh ada anak sialan. Dimana ayahmu, kenapa teleponnya bukan dia yang jawab?"
"Aku tanya sekali lagi, apa maksudmu Ibuku akan meninggal? Jangan berharap kau bisa merusak keluargaku wanita ******...!!!!"
"Eh anak bocah, kamu yakin ayahmu mencintai Ibumu?"
"Aku adalah cinta pertamanya. Kamu tahu ngga kenapa dia pulang ke sini? Karena dia ingin menemui aku. Paham kamu? Jadi jangan sebut aku wanita ******."
"Sungguh terlalu percaya diri... Ayahku sudah mempunyai dua anak dan Ibuku yang melahirkan kami. Ceritamu terlalu berlebihan. Aku peringatkan sekali lagi jangan pernah hubungi ke sini."
"Hahaha.... Sungguh polos, sangat polos... Kamu tak tahu apa dilakukan Ayahmu ke Ibumu?".
"Maksudnya?" telepon itu terputus.
"Apa Ayah benar-benar melakukan sesuatu?"
"Aaaaa......!!" teriaknya.
"Saya akan menemui Ibu" gumamnya mengambil jaketnya pergi terburu-buru.
Dalam perjalanan ke rumah Pak Iman beberapa orang memperhatikan dia dengan tatapan aneh.
"Mba Tina, mau kemana?"
"Jumat malam sibuk ngga? Kalau ngga sibuk kamu ikut ya ke acara kumpul-kumpul pemuda di sini" ucap seorang perempuan menghampirinya.
"Itu... itu.. saya lagi banyak pekerjaan di ladang, mungkin lain kali saja mba" jawabnya.
"Baiklah, kalau sempat datang aja ya jam sembilan" sahutnya meninggalkan Tina.
"Ada apa dengan senyuman itu, tak biasanya ada warga yang menyapaku dengan senang" ucap dalam hatinya.
"Seharusnya kamu senang hari ini karena Ibumu mungkin sudah sembuh" ungkap Pak Iman dalam mobil itu.
"Iya, tapi... "
"Tapi kenapa?"
"Apakah semua orang di sini akan menjadi sangat kejam dengan anggota keluarga mereka?"
"Maksudnya?"
"Hanya kuatir saja, sepertinya ucapan Pak Daus benar tentang ayahku"
"Tapi yasudah lah..."
"Ibu... !!" sahut Tina memeluk Sani yang terbaring. Keadaan Sani tidak ada banyak berubah bahkan tubuhnya semakin kurus dan wajahnya sangat pucat, makanan saja sudah susah dikunyah nya.
"Nak, kenapa lama sekali. Ibu sangat merindukanmu" ucap Sani dengan lemas.
Mereka hanya terdiam melihat kondisi Sani, yang harusnya sudah baik-baik saja namun kenyataannya sebaliknya.
"Ibu, apa ayah datang ke sini dan apakah ada yang mengganggu Ibu?"
"Tidak. Hanya saja Ibu mimpi buruk setiap malam. Ayahmu dimana, kenapa dia tidak menemui Ibu"
"Ayah... Ayah lagi sedang ada pekerjaan"
"Ibu jangan khawatir ya, Ibu pasti akan baik-baik saja. Ada Tina dan Dion yang jaga Ibu" ucap Tina tersenyum walau hatinya sakit dan sangat frustasi.
Tina hanya diberikan obat ramuan herbal karena dari rumah sakit sendiri tidak berani memberikan resep untuk penyakit yang tidak terdeteksi.
"Ada apa dengan Ibuku, kenapa dia tidak ada perubahan?"
"Apa Pak Daus berbohong?"
"Pak Daus bilang sebenarnya sakit yang dialami sudah berkurang, namun seperti ada yang lain juga melakukan sesuatu"
"Entahlah ini benar atau tidak dan maaf jika menyinggung perasaanmu"
"Ayahmu.. ayahmu yang menjadikan dia semakin sakit, entah apa tujuannya melakukan itu"
"Dan warga Sabo belum semuanya pulih, itu hanya beberapa orang saja yang sihir itu sudah menghilang."
"Sebagian dari mereka sudah punya kekuatan sendiri dalam tubuhnya namun keluargamu bukan incaran mereka. Pak Jaya lah yang tadinya mengincar kalian"
"Jadi kamu tak perlu khawatir akan warga yang lainnya" jelas Pak Iman.
"Tapi tetap saja tidak nyaman tinggal disitu. Jika Ibuku sudah sembuh kami harus pindah"
"Sampai nyawa saja sudah terancam tapi itu juga tidak bisa menghentikan mereka dari pesugihan itu
"Kepalaku mau pecah... " Tina berbaring di sebelah Sani memandangi Ibunya.
Rasanya dia pasrah dengan keadaan, memikirkan ayahnya Dino saja membuatnya frustasi yang tidak bisa diungkapkan kepada Sani.
"Jika Ibu tahu apa yang sedang ayah lakukan, apa yang terjadi Bu" ucapnya dalam hati dan perlahan matanya mengantuk dan tertidur.
"Hahaha... Biarkan dia mati...!!"
Dino dan Lilis wanita selingkuhannya duduk bermesraan sedangkan Sani duduk terikat dan seperti disiksa seorang wanita.
Matanya hitam, rambutnya panjang, kuku tangannya sangat panjang dan nadi tangannya seperti mau keluar dari kulitnya. Dengan jubah hitam tak henti-hentinya dia membacakan mantra sambil menaburkan seperti debu kepada Tina, namun debu itu hilang begitu saja.
Sani tidak berdaya lagi, dari mata dan telinganya keluar darah dan jelas dia sedang menahan rasa sakit itu. Wanita itu seperti meletakkan sesuatu dibawah bantal tidur Sani.
"Apa yang kau lakukan terhadap Ibuku...!!!" teriak Sani mendorong wanita itu ke api unggun yang disampingnya sedangkan Dino tertawa terbahak-bahas melihatnya.
"Dasar iblis... " Tina melemparkan arang kayu yang masih menyala ke arah Dino.
Namun mereka tetap terbahak-bahak dan tidak peduli.
"Nak, bangun....!!" ucap Sani membangunkannya.
"Ayahmu sedang ad di sini"
Tina melihat Dino tepat di depannya, dia menatap dengan sinis.
"Beraninya kamu ke sini" ucapnya dalam hati mengabaikan Dino.
semangat kak..
jangan lupa mampir ya kak