Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Perdebatan kakak dan adik itu terhenti saat Tita yang membujuk Arra. Kalau tidak dengan bujuk rayu Tita yang meluluhkan gadis kecil itu, mungkin saja gadis itu tidak akan tergerak mandi sama sekali.
Huft...
Helaan nafas lega Angga, kakinya pun melangkah keluar, bersamaan dengar kedua wanita yang disayanginya masuk ke dalam kamar mandi.
***
Pagi sekali, Annisa menyirami tanamannya dengan senyum yang tak pernah luntur. Hari ini, ia sudah menjadwalkan rutinitas paginya dengan sang suami.
Sudah lama sekali sejak mereka menikah dan saat kehadiran anak keduanya-Arra. Annisa sangat jarang bisa berduaan dengan Dimas. Iya hanya berdua, dimana hanya ada Dimas dan Nisa saja, tanpa ada kedua anaknya yang merecoki.
Dimas pun sama, hari ini sesuai dengan jadwal sang istri, ia pun tidak masuk kerja. Lebih meluangkan waktunya sejenak dengan wanita yang telah menemaninya hidup berkeluarga lebih dari 15 tahun itu.
Dimas duduk di taman memerhatikan Nisa yang sibuk merawat tanaman hiasnya. Didekatinya sang istri dan memeluk dari belakang.
"Nisa, mas ngomong serius!" Ucap Dimas. Nisa lalu menolehkan pandanganya, dan juga mematikan keran air dari selang yang ia pegang.
"Ngomong apa Mas? Nisa lagi sibuk ini, bunganya belum semua disirami," jawab Nisa.
"Lepas dulu selangnya, sini ikut mas duduk. Mas mau ngomong serius Nisa. Bulan depan Arra akan berulang tahun yang ke 8 tahun? Kamu mau acaranya di adakan dirumah siapa?" tanya Dimas.
Dari Arra berumur 1 tahun sampai dengan 7 tahun, selalu Rafael dan oma-opanya yang menguasai acara Milad gadis kecil nan imut itu.
Tentu Dimas sebagai ayah dari gadis kecil itu merasa tergantikan perannya sebagai orang tua. Ia hanya ingin ada masa saat perayaan sang putri dari inisiatifnya sendiri, bukan dari orang terdekat lainnya.
"Nisa sih ikut mas aja. Itupun juga kalau nggak keduluan Rafa. Yang terpenting itu sebenarnya doanya Mas. Mau di adakan acara atau tidak Arra pasti tidak akan mempersalahkannya."
"Iya mas tau, tapi mas mau di ultah anak kita ini. Kita yang ambil alih persiapan acaranya, tanpa campur tangan mereka. Jangan Rafa, opa atau omanya terus, gantian kita, mamah setuju kan."
Nisa mengulum senyumnya. Di usapnya lengan sang suami dan menyetujui dengan menganggukkan kepala. "Nisa dukung apapun keputusan mas."
***
Segerombolan pemuda yang masih berstatus pelajar SMA itu, duduk berkumpul di ruang keluarga. Rencananya hari ini mereka akan pulang. Koper, tas ransel yang berisi barang-barang mereka, sudah disiapkan dari kemaren, bahkan sekarang tergeletak bersusun rapih di lantai.
Namun yang menjadi kendala disini adalah Arra. Gadis kecil itu masih heboh dengan segudang mainan dan boneka yang dibelinya tempo hari.
Mainan yang jumlahnya tidak seberapa namun ukurannya yang lumayan besar. Apalagi ada dua boneka tedy bear yang Rafa belikan sewaktu mereka main flying fox di dekat wisata taman matahari.
Kepala Arra mendadak pening, bingung harus menyimpan mainannya dimana lagi? Karena koper dan tasnya sudah penuh semua.
Wajahnya terlihat lesu, jika sampai mainan dan bonekanya tidak dibawa pulang. Namun seketika pula, ia bergegas turun ke lantai bawah. Bahkan kaki kecilnya dengan terampil melangkah cepat keluar dari kamar.
Tita yang kebetulan hendak masuk kamar, terhenyak dengan kelakuan gadis cilik itu yang keluar dari bilik pintu tiba-tiba.