Disarankan untuk membaca "Cold Woman Itu Istriku" terlebih dahulu sebelum membaca ini.
Sebuah kisah dari Daniel Nandra Sharman pria dingin nan tampan pemegang dua perusahaan besar sekaligus dengan dua jabatan berbeda harus menikah dengan wanita yang mengaku telah mengandung anaknya padahal ia sama sekali tidak pernah melecehkan atau menyentuh wanita manapun. Termasuk wanita tersebut, ia mengenalnya saja tidak.
Khanza Adelia Dinata, perempuan cantik yang berasal dari keluarga kurang mampun. Ia merupakan tulang punggung bagi keluarganya. Orang tuanya yang sudah berumur memaksa dirinya untuk bekerja keras tapi dua kali ia harus dipecat gara-gara seseorang. Ia memiliki dua adik laki-laki, adik bungsunya menderita sakit ASMA membuatnya harus ekstra kerja keras untuk adiknya. Suatu ketika sakit adiknya kambuh dan dia sedang tidak memegang uang sama sekali begitu juga dengan kedua orang tuanya.
Ide gila nan kotor muncul di kepalanya begitu saja, dengan cara kotor ia menjebak seorang pria yang telah membuatnya kehilangan pekerjaan menikahinya maka kemungkinan dengan begitu perekonomian keluarganya terjamin dan adiknya tidak akan kesusahan menerima pengobatan.
Apakah harapannya itu akan sesuai dengan apa yang ia perkirakan sebelumnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ansifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Daniel duduk di ruang tengah saat ini, dia menonton tv, bayangan tadi tiba-tiba muncul di kepalanya. Dimana saat dia berada di atas Khanza,
Mulutnya yang asal bicara tadi membuat dirinya sendiri berdebar, perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Apa aku sakit? kenapa jantungku berdetak kencang" ucapnya memegang dadanya sendiri saat ini.
Bersamaan dengan itu perkataan Dena padanya kembali terngiang di kepala Daniel saat ini.
"Apa harus? tapi perempuan itu licik" gumamnya seorang diri tanpa fokus menonton televisinya saat ini.
"Tidak, untuk apa aku membuka diri pada perempuan licik itu. Jika memang dia hamil aku akan menceraikannya setelah bayi itu lahir. Karena aku yakin itu bukan anakku, aku tidak pernah merasa mengeluarkan benihku" ucap Daniel masih ragu dengan kehamilan Khanza, ia merasa perempuan itu bohong soal kehamilan. Dan dia juga ragu kalau benar hamil itu anaknya, mana bisa satu kali langsung jadi.
"Hei tuan kutub, sedang apa kau bicara sendiri di situ?" ucap Khanza yang baru saja turun dari tangga melihat Daniel duduk sendiri didepan tv sambil bicara seorang diri.
"Bukan urusanmu" ketus Daniel tanpa menatap Khanza sedikitpun.
"Ayo makan, aku lapar tahu. Sedari tadi aku menunggumu" pungkas Khanza mendekat kearah Daniel.
"Makan saja sendiri"
"Issh, kamu nggak asik ya. Ayolah, kita ini suami istri kalau aku makan kamu makan. Masa aku makan sendiri, padahal aku yang memasaknya untukmu tadi" ucap Khanza berdiri didepan Daniel.
"Bisa minggir, kau menghalangiku" ucap Daniel meminta Khanza untuk minggir dari hadapannya.
"Tidak, sebelum kamu mau makan denganku"
Daniel menarik nafas kasar, sungguh dia muak dengan apa yang dialaminya saat ini.
"Ayo makan," entah apa yang mendasari dirinya yang biasanya keras kepala akhirnya mau dengan ajakan Khanza. Daniel berjalan lebih dulu ke meja makan saat ini.
Sementara Khanza tersenyum puas karena sudah berhasil mengajak pria itu makan.
"Hahaha, akhirnya dia mau juga. Tenang Dena, aku akan membantu adikmu yang depresi ini" ucap Khanza puas. Janjinya pada Dena akhirnya satu-satu berhasil.
………………
"Matamu mau aku tusuk dengan jarum" ucap Daniel dengan kejam karena sedari tadi Khanza berpangku tangan menatap dirinya yang tengah makan.
"Jahat banget sih," ucap Khanza lalu melanjutkan makannya.
"Oh iya nanti antar kan aku ya?" ucap Khanza lagi menatap Daniel yang langsung menatapnya saat ini.
"Kemana?"
"Ke dokter kandungan, kau tidak percayakan kalau aku hamil. Lihat sendiri anakmu di dalam perutku"
"Jangan pernah menyebut itu anakku," sinis Daniel.
"Aku sudah selesai makan. Kau puas,?" Daniel langsung berdiri dari duduknya saat ini.
"Aku tahu aku salah tapi kamu tidak seharusnya menolak anak ini. Ini anakmu mau bagaimanapun ini darah daging mu," Khanza juga ikut berdiri dari duduknya menatap Daniel yang menghentikan langkahnya.
"Apa buktinya itu anakku?"
"Satu kali melakukan masa sudah langsung hamil tidak masuk akal" sinis Daniel.
"Kata siapa tidak masuk akal? aku baru melakukannya pertama kali denganmu? Apa waktu itu kau tidak melihat ada noda darah diseprei hah"
Daniel terdiam, dia mencoba mengingatnya soal itu. Benar ada waktu itu dia bangun melihat noda darah di seprei nya tapi ia tidak tahu itu apa jadi mengabaikannya saja karena waktu itu ia tidak ingat dan bangun seorang diri di dalam kamar.
"Nanti ikut aku pokoknya," putus Khanza.
"Tidak untuk apa?"
"Biar kamu mendengar dan merasakan ikatan batin mengerti" Khanza yang kesal langsung pergi dari hadapan Daniel saat ini pria itu menyebalkan dan susah sekali diajak bicara baik-baik.
"Kamu dengarkan, nanti ikut aku ya. Awas kalau kamu tidak ikut, aku adukan kamu pada kembaran mu" seru Khanza saat Daniel berjalan menaiki tangga.
°°°°°
"Jadi tidak," Daniel sudah rapi dengan kemeja polos berwarna biru navy dengan lengah yang ditekuk ke atas. Serta celana gari berwarna senada.
Khanza yang duduk di kursi meja makan langsung berdiri seketika melihat Daniel.
"Keren, tapi sayang nggak punya ekspresi" cibir Khanza melihat Daniel.
"Banyak omong, jadi nggak. Buang waktu saja" ketusnya menatap Khanza.
"Jad.."
Hueekkk,.
Khanza muntah tepat di baju Daniel saat ini, membuat pria itu melihat bajunya yang kotor karena muntahan Khanza.
"Dasar Wanita Kurang Ajar" ucap Daniel kesal, dia benar-benar marah dengan apa yang dilakukan Khanza padanya.
Hueekk
Khanza akan muntah lagi tetapi dia berhasil menahannya.
"Kamu pakai parfum apa sih? baunya nggak enak banget" ucap Khanza menatap kesal Daniel.
"Kenapa malah kau yang kesal hah"
"Sana-sana pergi, aku tidak tahan dengan bau mu" usir Khanza dengan menutup hidung serta tangannya yang menyuruh Daniel pergi.
"Kau memang wanita tidak waras, hah. Gara-gara muntahan,.." ucap Daniel seakan jijik melihat muntahan Khanza di bajunya.
Dengan segera dia melepas baju itu begitu saja.
"Mbak Wati,. Mbak Wati" teriak Daniel memanggil-manggil asisten rumah tangganya.
"I..iya den" Mbak Wati yang kaget terlihat gugup saat menghadap Daniel saat ini.
"Cuci kan baju ku ini, yang bersih" Daniel memberikan kasa bajunya dan melihat Khanza yang menjauh.
"Rasanya aku ingin membunuhmu" tukas Daniel pada Khanza, menatap perempuan itu dengan tajam.
"Apa? Sana pergi mandi sana terus kebawah lagi. Pokoknya antar kan aku" ucap Khanza.
Daniel langsung pergi tanpa mengenakan baju atasan dia berjalan sambil menatap Khanza menahan emosi.
"Dia sengaja muntah atau memang benar. Berati dia benar-benar hamil" ucap Daniel seakan masih ragu.
………………
Dua orang itu saat ini sudah sampai di dokter kandungan. Daniel duduk disebelah Khanza, mereka sedang menunggu giliran untuk masuk.
Daniel sedari tadi memperhatikan sekitar melihat para ibu hamil yang datang dengan ditemani suaminya masing-masing. Ia menelisik benarkah itu orang-orang hamil atau rekayasa perempuan licik ini saja yang menyuruh orang untuk berakting.
"Kenapa kau? heran" ucap Khanza melihat Daniel.
"Mereka orang-orang yang kau bayar untuk pura-pura berakting hamil"
"Maksudmu? kau mengira aku membayar mereka. Otakmu ini bodoh sekali ya, biasanya orang dingin itu pintar tapi tidak berlaku denganmu" ucap Khanza dengan berani menoyor kepala Daniel membuat pria itu langsung melihatnya.
"Kau berani denganku?"
"Kenapa tidak berani kau manusia kan? bocah lebih muda juga dariku. Kenapa aku tidak berani"
"Asli kau perempuan menjengkelkan. Aku memang lebih muda dari mu tapi aku suamimu mengerti. Seorang istri harus hormat dengan suami tidak kurang ajar sepertimu" kesal Daniel berbicara sedikit panjang dari biasanya.
Mendengar itu membuat Khanza terpukau.
"Wow es kutub, kau tertangkap basah saat ini. Kau menganggap ku istri hahaha kemakan omongan sendiri kalau begitu, aku istrimu ya hehehe es kutub sadar juga kalau punya istri"
"Bisa diem,." sinis Daniel.
"Nggak aku punya mulut jadi ngomong aja, jadi aku is.."
"Nyonya Khanza Adelia, silahkan masuk"
"Sana masuk" Daniel mendorong pelan Khanza.
"Ayo, kamu juga" Khanza menarik Daniel saat ini mengajak pria itu juga ikut masuk.
Dengan terpaksa dan karena tarikan Khanza membuat Daniel terpaksa berdiri dan berjalan masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.
°°°
T.B.C
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa