Cerita berlatarkan negara luar
Meira seorang gadis berusia 21 tahun, ia tinggal bersama seorang ayahnya yang hanya tinggal sendiri karena kedua orangtuanya telah berpisah saat Meira masih berusia 7 tahun. Ibu Meira menikah lagi dengan seorang aktor terkenal, sementara Meira menjalani kehidupan seperti biasa bersama ayah nya yang hanya memiliki satu perusahaan kecil.
"Meira.. tolong teruskan perusahaan itu demi papa." ucap papa Meira, dan menjadi pesan terakhirnya sebelum ia meninggalkan putrinya untuk selamanya.
*
Suatu saat perusahaan mengalami penurunan drastis hingga Meira harus meminta pertolongan pada perusahaan besar yang di pimpin oleh pria dingin.
"Permohonan mu saya terima dengan satu syarat." ucap si pria itu.
"A-apa?"
"Menikahlah dengan ku."
Ucapan itu membuat Meira terkejut bagaikan di sambar petir di siang bolong. Namun rencananya terhalang oleh seseorang.
Simak yuk 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Kampus
Setelah selesai kuliah, Meira berencana untuk pergi jalan-jalan dengan Ayumi, namun niatnya pun gagal ketika seseorang telah menjemputnya dan standby di sebuah parkiran. Langkah Meira seketika terhenti ketika ia melihat seorang pria yang sudah jelas ia kenal. Pria itu melambaikan tangan nya ke arah Meira dengan senyum manisnya.
"pagi tuan muda Alexi, di kampus si ganteng Devan, dan sekarang tuan muda Sakha.. wahh luar biasa, enak banget sih jadi kamu Ra." ucap Ayumi sambil bertepuk tangan.
"ch, apanya yang enak? udah berasa jadi buronan tau gak yang kemana-mana di ikuti polisi!"
"polisinya kayak mereka sih gak papa, kan keren."
"keren mata mu!"
Meira pun mulai melangkahkan kakinya dan berjalan lebih dulu menghampiri Sakha. Pertemuan mereka terlihat jelas oleh Bella yang secara kebetulan dia juga melihat Meira di antar Alexi tadi pagi. "ck, dasar murahan, pagi, siang, malam dengan cowok yang berbeda, lihat kejutan berita kampus besok Meira." gumam Bella yang telah merencanakan sesuatu.
"kamu ngapain disini?" tanya Meira yang telah berdiri di hadapan Sakha.
"jemput kamu lah, gak mungkin aku ngajar atau kuliah lagi kan?" ucap Sakha dalam candaan nya.
"aisshh.. tapi kamu gak perlu melakukan semua ini, terlalu mencolok tau gak?"
"mencolok gimana?"
"orang lain akan beranggapan hal lain tentang kita."
"aku gak keberatan jika hal itu yang ada di pikiran mereka kenapa kita tidak mewujudkannya?"
"maksud kamu?"
"lupakan, ayo masuk aku akan mengantar mu pulang."
"Ayumi. . ." teriak Meira.
"aku akan pulang naik taksi, bersenang-senang lah." teriak Ayumi dari jarak yang cukup jauh.
Meira kembali menoleh ke arah Sakha, dan pria itu hanya memberi kode untuk Meira segera masuk ke dalam mobilnya. Sementara di sisi lain seorang pria memperhatikan kedekatan Meira dengan Sakha yang terlihat begitu akrab di bandingkan dengan nya yang selama ini telah mengejarnya. Ya, siapa lagi orang itu kalau bukan Devan. "apa ini alasan kamu menghindari ku selama ini?" gumam Devan mengepalkan tangannya.
Sebelum mengantarkan nya pulang, Sakha mengajak Meira mengunjungi sebuah tempat dimana pertama kali mereka bertemu dengan kondisi yang sangat memalukan jika Meira mengingatnya. Ya, tempat itu adalah sebuah bar, dimana saat Meira mabuk dan muntah di dada Sakha.
"untuk apa mengajak ku kesini?" tanya Meira.
"merilekskan diri, aku yakin sekarang pikiran mu lagi kacau dengan beberapa masalah yang kamu hadapi."
"bersenang-senanglah." sambung Sakha sambil menuangkan minuman ke dalam gelas gadis di sampingnya.
"tapi aku lelah, ingin istirahat lagi pula aku gak biasa minum minuman seperti ini."
"jadi itu alasan nya kamu mabuk pada malam itu? karena kamu gak terbiasa minum?" tanya Sakha mengingatkan Meira.
"darimana kamu tau semua itu?"
Sakha hanya tersenyum melihat wajah Meira yang kaget dan terlihat malu.
"kamu ingat dengan seorang pria yang telah kamu. . ."
"stop! jangan lanjutkan." saut Meira memotong ucapan Sakha yang ia sendiri tau kemana arah pembicaraannya.
"aku minta maaf, malam itu benar-benar gak sengaja." ucap Meira yang menundukkan kepalanya karena malu.
"baiklah, aku akan melupakan semuanya, dengan syarat temani aku minum." ucap Sakha.
Tidak ada pilihan lain, gadis itu pun mengangguk dan menemani pria di samping nya hingga ia tidak bisa merasakan apapun karena pengaruh dari minuman itu. Dalam waktu yang bersamaan, Alexi datang untuk menjemput gadis nya. Beberapa orang bawahan Sakha mencoba menghentikan Lexi agar tidak bisa masuk ke dalam, namun bagi pria dingin itu mereka tidak ada apa-apa nya hanya dalam sekejap Alexi busa meluluh lantakkan semuanya dan langsung menerobos masuk.
"ayo pulang!" ucap Alexi menarik tangan Meira yang telah terkapar.
"wow.. siapa ini yang berani mengganggu kesenangan orang lain?" ucap Sakha yang telah setengah mabuk.
"Nino, bawa dia masuk ke mobil." ucap Lexi menyerahkan Meira pada asistennya.
"baik tuan."
Alexi pun duduk di sebelah Sakha dengan tatapan yang begitu tajam hingga membuat orang-orang sekitar takut akan terjadi sebuah perkelahian diantara kedua tuan muda itu. Namun dugaan mereka ternyata salah, Alexi mengambil sebuah gelas dan mengajak Sakha untuk bersulang. Setelah melihat semuanya baik-baik saja orang-orang yang berada di sekitar pun kembali dengan aktivitas nya masing-masing.
"jangan pernah coba bermain-main dengan Alexi jika kamu gak ingin menyesal!" ucap Alexi berbisik pada Sakha.
"heh, kamu pikir aku akan peduli dengan semua ancaman mu? tuan Lexi."
Dengan sangat marah Alexi menggenggam gelas yang di tangannya. Ia kembali menuangkan minuman di gelas Sakha dan juga miliknya, hingga beberapa saat kemudian Sakha pun terkapar dan ia meninggalkannya begitu saja. Alexi keluar dari tempat itu dan langsung masuk ke dalam mobil nya.
"antarkan ke rumahnya." ucap Alexi.
"baik tuan."
Nino pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Meira. Selama perjalanan Alexi hanya terdiam dan terlihat kemurkaan yang ia pancarkan dari raut wajahnya.
"apa semua baik-baik aja tuan?"
"persiapkan pernikahan tiga hari dari sekarang."
"apa semuanya tidak terlalu cepat?"
"aku gak bisa melihat nya masuk ke dalam perangkap pria itu!"
"bagaimana dengan perusahaannya? bahkan non Meira tidak mau memutuskan kontrak kerjasamanya."
"itu masalah belakangan, dia akan sadar setelah mengetahui kebenarannya."
"akan saya persiapkan semuanya."
Tak lama kemudian, Nino pun berhenti di tepat di sebuah rumah, ia bergegas turus dan membukakan pintu untuk Alexi juga Meira yang telah tertidur. Seperti malam sebelumnya ia menggendong Meira dan membawanya masuk kedalam sebuah kamar milik seorang gadis yang berada dalam pangkuan nya. Dari depan rumah hingga akhirnya sampai di sebuah kamar tak hentinya Meira mengigau, dan berulang kali menyebut nama papanya.
"tenanglah, aku ada bersama mu." ucap Alexi sambil menggenggam tangan Meira yang telah terbaring di atas tempat tidurnya.
Pria itu melihat ke sekeliling kamar hingga pandangan nya terhenti ketika ia melihat sebuah foto Meira saat masih kecil bersama dengan kedua orang tuannya, foto itu di ambil ketika mereka bertiga bermain di sebuah taman hiburan. Exo mengambil foto tersebut dan menatapnya dengan begitu dalam, ia mengusap wajah Meira dalam foto tersebut.
"pasti sangat sulit untuk kamu melewati semuanya." gumam Alexi yang masih menatap foto itu dan sesekali melihat ke arah Meira.
"permisi tuan, malam sudah semakin larut, apa tuan tidak berniat untuk pulang?" tanya Nino.
"aku akan disini malam ini, kamu boleh pulang."
"apa perlu saya tugaskan beberapa orang untuk berjaga?"
"sepetinya kau mulai lupa dengan siapa diriku?"
"baik tuan, saya mengerti."
Nino pun menutup pintu kamarnya dan segera kembali ke mansion Alexi.
***
Bersambung. . .
katanya gadis pintar tapi kok bodoh
selalu bertindak tanpa pikiir terlebih dahulu
meski Meira udah 2 kali ke kantor Lexi ttp aja yang pertama kan dia hanya di bagian depanperusahaan