NovelToon NovelToon
Suamiku Posesif

Suamiku Posesif

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:10.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: LaSheira

Sebuah novel tentang kebucinan suami bernama Ren pada istrinya Ayana, Ini kisah tentang cinta suami berbeda usia. Ini tentang suami yang jauh lebih muda.

Ayana : Tokoh aku, istri yang bekerja sebagai guru SMU. Dia dipanggil kakak oleh suaminya karena perbedaan usia mereka.
Yang gak suka dan ngerasa aneh dengan panggilan Ren pada istrinya, sepertinya ini novel bukan selera kamu kayaknya ya. Karena keuwunan, keimutan dan kegemasan Ren saat memanggil istrinya kakak menjadi titik poinku dalam menceritakan kebucinan Ren. Kalau kalian gak ngerasa fell imut dan mengemaskannya maka fix kita tidak satu aliran. Aku suka cerita ala noona korea soalnya. Hehe.

Renan : Dia biasa di panggil Ren( cuma aya yang panggil begitu) kenapa? suka-suka kak Aya ya. Biar lebih keliatan imutnya. hehe.

Hanya cerita kebucinan suami dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada konflik menegangkan atau apalah. Apalagi pelakor agresif, jauh-jauh dari mereka. Silahkan di baca dan nikmati alurnya ya ^_^

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaSheira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bias Kak Aya siapa?

Kubiarkan Ren meringkuk di tempat

tidur selepas sholat subuh. Dia tidak akan mengganguku karena tahu ini di rumah

ibu. Pagi ini cuaca cukup hangat, semua orang di rumah ini sudah bangun dan mulai

dengan aktivitasnya masing-masing. Santai di akhir pekan tentunya.

Mungkin ada yang sedikit berbeda di dapur.

Biasanya hanya ada ibu yang sibuk menyiapkan sarapan, jika aku datang, tentu

bersamaku menguasai dapur.

Tapi hari ini lain. Kirana terlihat

membantu ibu membersihkan sayuran di bawah air mengalir. Dia tersenyum padaku

saat melihatku datang. Ah, adikku yang manis. Bukankah menyenangkan sesekali

melakukan hal seperti ini bersama ibu. “Dek kita buat martabak telur yuk.” Aku

mengeluarkan bahan-bahan yang bisa kutemukan di kulkas. Ibu punya persediaan

kulit lumpia. Pasti enak kalau dibuat martabak telur.

“ Ibu ada dada ayam gak?”

sepertinya akan lebih enak kalau pakai daging diadonan isi martabaknya.

“ Ada di frezzer, keluarkan dulu

sekarang. Ibu buatin bumbunya ya.”

“ Ia, ia, siippp.” Aku girang

karena bagian yang sulit dikerjakan ibu. Hehe, jangan ditiru ya.

Sudah tahukan, kalau aku ini tidak

terlalu mahir memasak. Aku memang bisa memasak, tapi kemampuanku standar saja.

Eh, tapi ibu pernah bilang, kalau pada dasarnya setiap perempuan itu punya

kemampuan untuk memasak lho. Fitrahnya, jadi nanti suatu hari jika ada pada

situasi yang mengharuskan perempuan memasak, maka dia akan bisa dengan

sendirinya. Misalnya ketika sudah menikah, mau tidak maukan memasak untuk

suami. Nah pada kondisi semacam itulah kemampuan ghaib yang ntah dari mana bisa

muncul, bahkan bisa jadi masakan kita setara koki bintang lima.

Haha, aku percaya juga. Dulu waktu

masih single aku hanya bantu-bantu ibu sekenanya memasak di dapur, setelah

menikah yang mengharuskanku memasak di dapur, ya, akhirnya aku bisa memasak juga.

Kata Ren masakanku enak kok, itu sudah lebih dari cukup. Toh memang dia yang

menikmati masakanku setiap hari.

Aku sedang meracik isian martabak

telur dibantu Kirana, saat Haikal muncul dari kamarnya. Masih memegang hp. Benda

paling keramat anak muda zaman sekarang.

“ Cieee masak ni, hehe.” Taukan

siapa yang diledek olehnya. Kirana sudah merengut di sampingku.   “ Biasanya bertapa di kamar sibuk streaming, cie, cie mentang-mentang ada kak Aya.”

“ Apa kamu!” Kirana mendelik. Yang

dipelototi malah tertawa.

“ Sini kamu dek.” Tanganku memberi

isyarat agar Haikal mendekat. Kulingkarkan tangan dilehernya, mencekik.  “ Minta maaf sama Kiki sana” aku yang sudah susah payang membujuk adikku agar mau ikut nimbrung di dapur, sudah mau dirusak

saja sama anak ini.

“ Ampun kak, ampun.” Haikal

meringis saat tanganku menekan lehernya. “ Maaf ya Ki mas Haikal salah, kamu

memang rajin kok, setiap hari rajin masak.” Tertawa dia mendengar kata-katanya

sendiri.

“ Ya gak fitnah juga kali.” Kirana melengos.

“ Hahaha, ampun kak.” Aku

melepaskan tanganku dari lehernya setelah dia minta maaf. “ Abang Renan mana

kak?”

“ Masih tidur kayaknya.”

Haikal memilih duduk di dekat kami

membuat martabak telur. Aku mencampur telur, daun bawang, dan tumisan dada ayam

yang sudah dimasak ibu menjadi satu. Setelah semua tercampur baru memasukan

satu persatu ke dalam kulit lumpia. Kirana membantuku melipat adonan. Lumayan,

tampak normal dan bisa dimakan sepertinya.

“ Ki, memang kamu mau bisa masak

biar apa?” mulai deh mas Haikal sama adiknya. Matanya masih sibuk dengan hp,

tapi mulutnya sudah kemana-mana.

“ Biar bisa masak buat suaminya

dong, iakan dek.” Aku yang menjawab.

“ Ah, gak bisa masak juga gak papa,

buktinya kak Aya gak bisa masak juga dapat suami bucin. Hahaha.” Eh, kurang

ajar benar ini adikku satu ini.

“ Apa itu bucin?” ibu ikut nimbrung.

“ Gak papa bu, bahasanya Haikal

itu. Kak Aya bisa masak tahu, masakan kak Aya enak, coba tanya abang kalau gak

percaya.”

“ Bang Renan mah bakal bilang semua

enak, asal kak Aya yang masak. Air putih aja bakal dibilang enak kalau kak Aya

yang masak”

Dasar ini anak, dan kenapa semuanya

tertawa juga tidak terkecuali ibu.

Saat kami masih menyelesaikan

membuat martabak ditemani ocehan Haikal yang bicara kemana-mana, sebuah suara

terdengar yang membuat kami semua saling pandang.

“ Kakak!” eh suara apa itu. Semua

langsung menghentikan gerakan mereka. Semua menatapku.

“ Kakak.” Ren terdengar kembali

memanggilku dengan suara keras dari arah kamar.

“ Bang Renan bangun kak, minta peluk

kayaknya. Hahaha.” Kupukul bahu Haikal, tapi aku juga tidak bisa tidak tertawa.

Apalagi ibu.

“ Sudah sana temui dulu suami kamu,

mungkin butuh sesuatu.” Belum selesai ibu bicara Ren sudah berteriak memanggil

lagi.

“ Mengingau kayaknya bu.” Aku

nyengir. “ Dek coba lihat sana, buka pintu kamar kak Aya terus tanya, kenapa

bang?” Udah gitu aja, aku mau mengerjai Ren. Dia pasti lupa kalau sekarang ada

di rumah ibu. Aku sudah tertawa jahat membayangkan reaksinya akan seperti apa.

Haikal menurut berjalan menuju

kamarku. Suara Ren masih terdengar dengan jelas. Aku mengawasi dari dapur.

Haikal membuka pintu tepat setelah

Ren berhenti memanggil.

“ Kenapa bang? Kak Aya lagi masak

di dapur.” Hening.

Aku cekikikan di dapur bersama Kirana.

Kirana tahu aku sedang menjahili kakak iparnya, dia juga ikutan tertawa

menikmati. Haikal sudah kembali, dia angkat bahu.

“ Belum bangun kak, beneran

mengigau mungkin.”

Aku dan Kirana tergelak, Haikal

yang bingung, duduk kembali di kursinya tadi. Bermain dengan hp. “Ke kamar dulu

sana, lihat suami kamu jangan-jangan butuh apa-apa.” Ibu bawaan sudah kuatir

aja, maklum menantu kesayangan.

“ Gak papa bu, nanti juga keluar sendiri.”

“ Sudah sana, sudah selesaikan,

biar ibu yang goreng martabak telurnya.”

Aku menurut perintah ibu. Mencuci

tanganku dengan bersih, mencuci muka dan merapikan rambutku. Sudah ngambek

dikerjai nanti tambah marah melihatku mengikat rambutku tinggi. Ya, ini memang

di rumah orangtuaku, tapi peraturan tetap berlaku.

“ Sayang sudah bangun belum?” Aku

mengintip dibalik pintu yang sengaja kubuka kecil. “ Sayang.” Ren masih diam

tidak bergerak di bawah tumpukan selimut. Aku menahan tawa, aku yakin dia sudah

bangun dan sedang bergulingan berselimut malu disana.

“ Masuk!”  Katanya singkat. Haha, benarkan dia ngambek.

Dia masih bicara di dalam selimut.

“ Sayang.” Aku berjalan mendekat,

tapi belum mendekati tempat tidur.

“ Kemari!”

“ Ren.” Saat aku mendekat ke tempat

tidur, aku langsung berguling ambruk di atas kasur karena dia menarik tanganku.

“ Kakak sengajakan.”

“ Haha, apa? Awww, jangan Ren minggir.

Berat. Kamu menindih kakiku.” Aku berteriak sambil menendang-nendang kaki,

supaya dia memindahkan kakinya.

“ Biarin.” Katanya cepat dengan

ketusnya. Beneran ngambek dia.

“ Haha, hentikan sayang. Ampun,

ampun.”

“ Tidak ada ampun ya sudah

mengerjai suami sendiri.”

Aku terpingkal pingkal saat dia

mengelitiki seluruh tubuhku.

“ Ampun, ampun sayang.” Aku memeluk

Ren, menempelkan wajahku di dadanya. Berhasil, dia berhenti mengelitiki

tubuhku. “ Bangun yuk.”

“ Gak mau!” menjawab cepat sekali.

“ Di luar ada siapa?”

“ Semuanya ada.”

“ Kakak ini buat aku malu aja.”

Aaaaa, akukan sudah di gelitiki kenapa sekarang menggigit leherku lagi. Hei,

hei, mau apa kamu Ren, ini sudah siang. Dan masalahnya kita di rumah orangtuaku.

“Kakak pikir hukumannya sudah selesai.” Begitu dia berbisik di telingaku. Dan

kami bergumul di bawah selimut sampai beberapa waktu.

- - -

Side story

Kirana mendekat ke ruang tv. Sementara

Renan sudah duduk di karpet, di hadapannya ada dua tumpuk uang yang berbeda

jumlahnya. Kirana mengamati dengan cermat, sepertinya selisih antara keduanya

ada sekitar 5 lembar.

Aaaa, mau apa lagi bang Renan ini.

Dia sudah frustasi sebelum mendekat. Mau ngasih uang jajan selalu ada dramanya

lebih dulu.

“ Duduk.” Renan menunjuk karpet

kosong di depannya. “ Lihat kan?” dia menjentikan jarinya di tumpukan uang. “

Mau yang mana?”

Haha, gila ya, ya mau yang banyak

itu yang sebelah kanan.

Kirana menunjuk tumpukan di bagian

kanan sambil malu-malu. Ialah, lima lembar selisihnya gitu lho.

“ Pinter kamu ki, tahu aja yang

jumlahnya lebih banyak.”

Haha, aku harus bereaksi seperti apa ni.

“ Kak Aya cerita apa semalam.”

Tanya Renan cepat.

Cie ternyata kakak ipar ini sedang

penasaran tentang obrolan istrinya semalam ya. Kirana berdehem, berfikir

sebentar.

“ Gak cerita apa-apa kok bang.”

Menjawab dengan jawaban paling aman.

“ Oh gitu.” Renan sudah meletakan

tangannya ditumpukan uang yang lebih sedikit.

“ Tunggu bang, Ki kayaknya ingat

apa yang diomongin sama Kak Aya semalam.”

Ya Tuhan ampuni hamba, Kak Aya

berikanlah belas kasihmu pada adikmu ini. Aku janji tidak akan bicara yang

tidak-tidak. Tapi lima lembar itu jumlah yang banyak. Hehe.

“ Kak Aya ngomongin apa semalam.”

Mengulang pertanyaannya lagi.

“ Cuma cerita tentang bias bang.”

Gak bohongkan, memang cuma cerita tentang

itukan kak Aya. Ya sama aku disuruh coba dekat sama ibu, gak perlu diomonginkan

yang masalah ini. Akukan juga malu.

“ Apa itu bias?”

“ Idola bang, grup idola, yang

posternya banyak di kamar Ki.” Kirana menjelaskan.

Tanya mesin pencarian aja kenapa.

“ Aku gak pernah masuk kamar kamu.”

Haha, ia bang tahu. Tapi ngomongnya

jangan sengit gitu dong, akukan jadi deg-degan. Lima lembar uang jajanku.

“ Jadi siapa biasnya kak Aya?” nada

suaranya sudah menunjukan tanda tidak suka. Kirana melirik tumpukan uang di

dekat kaki Renan.

“ Bukan biasnya kak Aya bang, tapi biasnya aku.”

“ Hei adik kecil, abang gak nanya

bias kamu, gak perduli juga ya.” Sambil mengibaskan tangannya. Kirana mendelik.

Untung dia sudah paham sifat kakak iparnya yang satu ini. “ Yang abang perduli

biasnya kak Aya.”

“ Kak Aya gak ada bias bang.”

Gimana si, semalam itu kami memang

ngomongin bias, tapi biasnya aku bukan biasnya kak Aya. Kak ayakan gak suka

musiknya, dia cuma nonton dramanya.

“ Jadi kak Aya ngomongin apa?” kok

jadi muter-muter begini. Balik kepertanyaan awal lagi. Kirana berfikir keras

salahya dimana pembicaraan ini. Renan masih menatapnya menunggu jawaban yang

bisa membuatnya puas.

Kirana makin frustasi jadinya,

gimana menjelakan pada suami bucin yang sensitif bawaannya semua urusan

istrinya.

“ Jadi gini bang, semalam itu kami

cuma ngobrolin tentang bias aku. Ki cerita tentang biasnya ki, sambil nunjukin

foto-fotonya aja, udah gitu.”

“ Mana fotonya.”

Kirana mengambil hp di sampingnya.

Membuka akun sosial media, menunjukan akun fans acc yang berisi foto-foto

biasnya.

“ Jelek.”

Aaaaa apa! Kalau tidak ingat

setumpuk uang di atas karpet Kirana sudah ingin memaki kakak ipar di hadapannya

ini.

“ Kak Aya bilang apa, ganteng?”

“ Nggak.” Jujur ini batin Kirana.

“ Seksi?”

“ Nggak.”

“ Terus bilang apa?”

Kak aya bilang imut, tapi sumpah

aku gak akan bilang, kak Aya aku mencintaimu.

“ Kak Aya bilang kalau bang Renan

lebih cakep dari bias Ki.”

“ Haha, ambil ini.”

Renan menyerahkan uang dengan

jumlah yang lebih banyak ketangan Kirana.

Apa! Jadi dia cuma mau dengar ini

doank.

“ Hehe, makasih ya bang.”

“ Sama-sama adiku yang manis, abang

mau cari kak Aya dulu ya. Kangen.”

Haha, apa? Kangen? Gila ya kalian bahkan

baru keluar dari kamar berdua.

BERSAMBUNG

Terimakasih untuk pembaca semua ^_^

1
Ass Yfa
kak...maaf baru nemu
Misbah Elmunir
achh.. jadi teringat kencan ala rakyat jelatanya Saga niah🤭
Misbah Elmunir
aach.... lucunya🤭
Misbah Elmunir
imutt?
menggemaskan?

Achh.. jadi teringat niah🤭
Misbah Elmunir
ahhh.. manisnya(es creamnya loch yaa yg manis) 🤭
Misbah Elmunir
tabok yaa Ren🤣❤
Rlyn
2026 stay lgi dsni smbil nunggu waktu sahur 🤭🤣
Helya Aja
sudah sekian tahun baru kembali dan baca lagi
Meriam Tehupelasury
☺️
dwie 2025
maafkan daku Thor tetep SagaNiah yg dihati dan memiliki ruang di sanubari ini😍🙏
dwie 2025
sekali seumur hidup tolong ijinkan ak dicintai secara ugal2an YA ALLAH 🙏
dwie 2025
Bu Aya imut ya thor pantas banyak yg suka😍
dwie 2025
sampai sini masih tanda tanya...Apa yg membuat Renan tergila gila sama Aya..
dwie 2025
pingin punya suami kaya Ren dan Saga tp sdh terlanjur suamiku org yg cuek sprti orang2an sawah🤭
Ulil Baba
TK pikir pikir renan kalau marah seperti keponakan ku tapi keponakan ku masih paud,tapi renan kn udah nikah, selisih umur berapa tuuhh 🤣🤣🤣
𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱: Halo kak baca juga d novel ku 𝘼𝙙𝙯𝙖𝙙𝙞𝙣𝙖 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙪𝙨 𝙧𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙖 atau klik akun profil ku ya. trmksh🙏
total 1 replies
𝖌𝖆𝖉𝖎𝖘
. aaaaaaaa /Facepalm//Facepalm//Kiss//Kiss//Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
Dwi Cahyaningsih
aku mampir ya kak
Tamao Mirai
andrian kan ibunya udh gak ada. ayahnya nikah lagi. dia gak mau ikut orangtuanya. andrian tinggal sama keluarga ibunya. sepertinya andrian mengagumi ayana sebagai sosok ibu.
Tamao Mirai
masih ada stok gak? laki laki begini.. 🤣🤣🤣
Tamao Mirai
haha.. lucunya pasangan ini..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!