NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA

SUAMI PILIHAN PAPA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rahmania Hasan

Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

CAPTER 18

MENGAMBIL KEUNTUNGAN DARI PERMAINAN ISTRI

Pagi ini masih melanjutkan perdebadan semalam yang belum tuntas, Handphone Naura juga masih dipegang oleh

Hasan tapi dia tidak berani membukanya. Naura yang sudah bangun dari tidurnya dengan ketus meminta Hasan mengembalikan Hondphone miliknya. Namun Hasan tidak menanggapinya dia terus bersiap diri untuk berangkat ke kampus. Kesal karena diabaik an Naura akhirnya menuruti kemauan Hasan untuk melakukan kesepakatan.

“Ok ayo kita bikin kesepakatan.” Ucap Naura.

“Ohhh...kenapa nggak dari tadi malem aja.”

“Udah jangan banyak ngomong...ayo sini cepat!." Meminta Hasan untuk menghampirinya yang masih belum turun dari kasur.

Dengan senang hati Hasan berjalan ke arahnya dan duduk didekat Naura tapi belum juga menyerahkan telepon

genggamnya.

“Kesepakatan apa yang mau dibuat sama aku?.” tanya Naura.

“Hmmm...aku balikin Hpnya tapi kemanapun kamu pergi apalagi ketemuan sama si Andy sipit itu harus bareng sama aku!.”

“Cuma itu doang?!.”

“Kalau kamu sampai berani keluar ketemuan sama dia tanpa aku...,” Tidak melanjutkan.

“Kenapa?." penasaran.

“Aku kasih kamu hukuman!.” Sambil tersenyum licik.

“Hukuman?!.”

Hasan tidak menanggapi lagi, dia tersenyum dan menyerahkan handpohone Naura padanya. Lalu bangkit dari kasur dan kembali kepojok kamar untuk mengambil tas ransel dan memakai jam tangannya.

“Mba kamu nggak mau turun buat sarapan?.” tanya Hasan.

“Hmmm...tunggu bentar aku cuci muka dulu." Jawabnya dan bangkit menuju kamar mandi.

Tidak lama kemudian mereka berdua turun untuk sarapan bersama, terlihat pak Malik sudah duduk manis dimeja makan. dia tersenyum pada keduanya begitu mereka duduk.

“Lho kok masih berantakan?.” tanya pak Malik pada putrinya.

“Tapi kan Tetap cantik Pa!.” Ucap Naura dengan senyum manisnya.

“Putriku emang cantik...iya kan nak Hasan?." Melempar pertanyaan.

Hasan tidak menjawab dia hanya tersenyum tipis pada mertuanya dan menundukkan kepalanya. Karena Hasan tidak menjawab pertanyaan itu Naura menjadi cemberut.

“Kenapa cuma diam...apa buatmu aku nggak cantik!.” Ujarnya kesal.

Hasan langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kesamping dimana Naura duduk, wajahnya nampak kesal.

“Jangan gampang ngambek biar nggak cepet keriput!.” Ujar Hasan.

Bukannya menjawab pertanyaan papanya, Hasan justru menceramahinya dan itu semakin membuat Naura kesal. Dia sudah kehilangan selera makan dan langsung bangkit dari kursi.

“Lho mau kemana Sayang?!.” ujar pak Malik.

“Nggak selera lagi Pa!.” Ucap Naura dingin.

“Jangan gitu...ayo makan kasian suamimu, mau berangkat kerja jangan dibuat sumpek!.” Mencoba menasehati.

“Papa mesti deh bela dia, kayak aku ini bukan anaknya!." Ujar Naura ketus.

“Bukan gitu Sayang!.”

“Kenyataannya emang gitu kok Pa!.” Bangkit dan melangkah pergi.

“Mba nya sini duduk....” Ucap Hasan sambil bangkit dan menggenggam pergelangan tangan Naura.

“Lepasin tanganku!." Sentak Naura.

Hasan tidak mengindahkan perkataan Naura, dia justru mendekati istrinya dan berbisik ditelinga Naura.

“Mba nya selalu cantik dan menawan, tapi aku paling suka pas lagi tidur terlihat seperti kelinci kecil yang gemesin.” Bisiknya.

Naura terbelalak mendengar bisikan Hasan ditelinganya, hatinya seketika dipenuhi dengan bunga sakura yang bermekaran. Bahkan sosoknya menjadi wanita penurut ketika Hasan menuntunnya kembali kemaja makan dan memintanya duduk.

Pak Malik penasaran dengan apa yang dibisikkan menantunya ke telinga Naura yang bisa menyulapnya jadi cewek

manis.

----

Didalam kamar

Naura yang hari ini berencana untuk tidak ke butik, kembali ke kamar begitu selesai sarapan. Bingung harus ngapain dia teringat dengan buku yang dibacanya dari kemaren-kemaren. Langkahnya penuh dengan semangat ketika mengambilnya dan kembali ke kasur untuk membaca buku itu. Kali ini yang dibaca adalah bab seputar wanita, dia tidak percaya dengan apa yang dipaparkan didalamnya, bahkan dia mengecek dirinya sendiri untuk memastikan. Tiba-tiba terlintas dipikirannya apakah Hasan sudah pernah membaca buku itu, kepalanya memutar otak untuk mencari ide bagaimana memastikan Hasan pernah membacanya atau belum.

“Kalau dia udah baca bisa jadi dia merhatiin aku sambil.” Gumannya dengan gelisah.

Pikirannya mengenai buku itu dan Hasan terhenti setelah telepon genggamnya berdering. Ternyata panggilan masuk dari sepupunya Andy dan mengajaknya keluar.

Naura segera bangkit dan bersiap-siap untuk menemui Andy. Ingat dia sudah membuat kesepakatan, sebelum menyalakan mobil dia mengirim chat pada Hasan.

“Aku lagi mau berangkat ketemuan sama Andy.” Chat terkirim tapi belum dibaca.

Hasan masih berada dikelas menyampaikan materi dan handphonenya berada dalam posisi senyap. Setengah jam berikutnya materi selesai, Hasan membuka handphonenya sambil berjalan menuju ruang dosen. Dia mendapat satu chat dari Naura yang memberitahu bahwa dia sedang janjian dengan Andy.

“Batalin pertemuannya karena sekarang aku masih ada materi.” Chat Hasan.

“Bodoh...suruh siapa nggak bisa!.” Balas chat Naura.

Beberapa lama kemudian Naura sampai ditempat janjian, dia berjalan mendekati Andy yang sudah menunggunya dimeja dibalkon lantai dua kafe. Dia kali ini tidak sendirian melainkan berdua bersama temannya, seorang wanita cantik berambut panjang dengan mengenakan pakian seksi. Andy tidak sengaja bertemu dengannya diparkiran mobil. Wanita itu adalah teman sekolahnya sewaktu SMP yang juga merupakan teman Naura.

Hasan yang merasa terpancing, dengan berat meninggalkan materi berikutnya dengan mengatakan ada kepentingan keluarga yang mendesak. Langkahnya sangat cepat menuju parkiran sepeda motor dan begitu mesin hidup dia langsung tancap gas menuju tempat Naura dan Andy ketemuan.

“Hai Na!.” Sapa Yunita begitu melihat Naura berjalan kearah mereka.

“Lho Yunita!." Ujar Naura sambil memeluk Yunita

“Udah lama ya kita nggak ketemu."

“Iya...gimana ceritanya nih bisa bareng sama dia?.” tanya Naura penasaran.

“Tadi ketemu diparkiran...sekalian deh bareng."

“Aku belum pergi ya...jangan dicuekin." Seru Andy ikutan nimbrung.

Keduanya tertawa mendengar seruan Andy, sambil menunggu pesanan mereka ngobrol dan juga saling bertukar akun instagram masing-masing.

Andy melihat kedatangan Hasan yang berjalan kearah mereka, spontan dia langsung memberi isyarat pada Naura. Naura pun menoleh dan melihat suaminya berjalan kearahnya dengan langkah santai. Senyum manis menghiasi wajah Hasan begitu tiba dimeja mereka. Tak lupa juga memberikan senyum yang ambigu pada Andy, dia pun membalas senyum itu tidak kalah ambigunya.

Tanpa meminta persetujuan Naura, Hasan langsung mengambil posisi duduk disampingnya.

“Lohh...ini siapa Na?!.” tanya Yunita sambil tersenyum manis dan Hasan membalas senyumannya.

“Saya abangnya Naura.” Jawab Hasan cepat.

Naura dan Andy terkaget mendengar ucapan Hasan, dan bahkan Naura memprotesnya dengan mencubit paha Hasan. Namun Hasan tidak terpengaruh, dia dengan sengaja memperkenalkan diri pada Yunita.

“Kamu mau pesan apa? ” tanya Naura sambil memandang Hasan dengan tatapan mengancam.

“Samain kayak kamu aja.” Jawab Hasan santai.

Sepertinya Yunita tertarik pada Hasan, dia bahkan dengan berani menanyakan kegiatan Hasan dan hal lain tentang Hasan untuk membuatnya lebih mengenalnya. Dan Hasan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin untuk membalas Naura.

Andy yang melihat Naura mulai marah tepatnya cemburu, segera mengambil tindakan. Dia juga terus mengajak

bicara Yunita meski ujung-ujungnya tetap melempar pembicaraan pada Hasan. Tidak tahan dengan keakraban yang dipertontonkan Yunita dan suaminya, Naura mengajak pulang dengan alasan

dia masih punya janji sama sesorang.

Begitu Naura bangkit Hasan juga undur diri, namun langkahnya terhenti karena Yunita memanggilnya. Wanita itu meminta nomor telepon Hasan dan dengan berat Hasan bertukar nomor degannya. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, Naura terus mengamati keduanya dengan tatapan tajam. Sebenarnya melihat kemarahan istrinya, hati Hasan tidak tega namun dia sudah mantap untuk memberikannya pelajaran agar sikap angkuhnya bisa berkurang.

----

Dikediaman pak Malik

Meski tidak janjian Hasan dan Naura pulang ke rumah bersamaan, dengan ekspresi kesal dia berjalan masuk dan diikuti oleh Hasan dari belakang. Sementara itu telepon genggam Hasan terus berbunyi sepertinya ada banyak chat masuk tapi dia enggan membukanya karena tahu chat itu dari Yunita.

“Buka dulu itu chat biar nggak bunyi terus...baru tadi siang udah keganjenan!.” Ucap Naura ketus.

“Siapa Na yang keganjenan?.” suara pak Malik kengagetkan keduanya.

“Siapa lagi...kalau bukan mantu kesayangan Papa.” Jawab Naura kesal.

“Nana jangan bilang gitu soal suamimu!.”

“Teru aja dibela...emang kenyataannya gitu!.”

“Maaf mba yang ngenalin ke aku siapa?.” ucap Hasan menyela.

“Emang siapa yang ngenalin...dianya aja langsung ngajak kenalan." Ucapnya ke Hasan.

“Kalau gitu aku nggak keganjenan dong Mba.”

“Kalau nggak keganjenan ngapain diladeni?!."

“Maaf Pa saya ke atas dulu.” pamit Hasan pada mertuanya dan berjalan meninggalkan Naura.

Sementara itu dibawah Naura masih berdebat dengan papanya, apapun yang menjadi nasehat pak Malik selalu disanggah oleh Naura dan menganggap nasehat itu adalah pembelaan buat suaminya. Naura terus membantah papanya sebelum dia teringat akan buku yang dia baca pagi tadi masih diatas kasur. Sambil berlari dia menaiki tangga dan mecoba menyusul Hasan, berharap dia belum masuk kamar.

Naura yang melihat Hasan hendak memutar gagang pintu semakin mempercepat larinya sampai-sampai dia tidak menyadari tali sepatunya sebelah terlepas dan kakinya menginjak tali itu. Lalu dengan kerasnya dia terjatuh kelantai, Hasan yang mendengar seseorang terjatuh langsung menoleh ke belakang. Begitu tahu kalau yang terjatuh adalah istrinya dia cepat berlari ke Naura. Kembali lutut Naura terluka bahkan sikunya juga terluka.

“Kenapa bisa jatuh mba?.” tanya Hasan.

Naura tidak menjawab dia malah berusaha bangkit dengan menahan rasa sakit. Hasan hanya bisa mengamati istrinya yang susah payah berdiri dan berjalan ke kamar. Naura berusaha mempercepat langkahnya menuju tempat tidur, takut Hasan segera berada dibelakangnya, Naura melempar tas yang dia pakai ke kasur, tepatnya kearah buku.

“Syukur deh...nyaris aja ketahuan.” Gumannya dihati.

“Mba sini aku bantu.” Ucap Hasan namun Naura menggelengkan kepalanya.

Dengan susah payah dia mencoba duduk ditepi kasur dan selagi Hasan berjalan ke sofa untuk menaruh tas ranselnya, Naura menyelipkan buku itu dibawah kasur agar tidak terlihat oleh Hasan.

Lalu dia mengambil kotak obat dilaci meja riasnya, namun ketika dia hendak membuka kotak obat itu Hasan sudah mengambil alih. Dan bertindak sebagai juru rawat untuk istrinya.

“Mba nya jangan ceroboh...lama-lama habis ini lutut!."

“Aku nggak pernah ceroboh sebelum ada kamu!.” Ucap Naura membela diri.

“Ohh...jadi ceritanya ini aku penyebabnya!." Sambil membersihkan luka.

“Kalo bukan kamu terus siapa?!."

“Mba nya pindah kesana yuk....” Sambil menoleh ke kasur.

Detik berikutnya Hasan bangkit dari posisi jongkoknya dan menuntun Naura ke kasur. Lalu lanjut membersihkan luka Naura tanpa memperdulikan telepon genganggamnya yang terus berbunyi.

“Lihat dulu itu Hpnya!.” Ujar Naura dengan nada kesal.

“Biarin aja...ada hal yang lebih penting dari itu.” Tetap sambil merawat luka.

“Ohh benarkah...apa itu?.” tanya Naura.

“Tentu merawat lukamu ini Sayang....” Ucap Hasan santai.

“Uda dibilangin jangan panggil aku pakek itu!.” Kesal karena merasa Hasan menggodanya.

“Ok kalau gitu panggilan sayang itu aku lempar ke yang lainnya yang tentunya dengan suka hati mau nerimanya.”

“Kamu itu ya emang keganjenan!." Sentak Naura.

“Lohh...kan Mba nya nggak mau, biar impas mba nya kan udah ada si sipit Andy itu dan aku akan mengambil kesempatan biar bisa mengenal Yunita lebih dekat lagi.” Kembali bermain dengan emosi istrinya.

“Sana!.” Sambil menepis tangan Hasan dengan tangannya.

“Belum selesai?."

“Aku bisa sendiri...mending gunakan waktumu dengan baik biar bisa deket sama dia!.”

“Ok...makasih atas waktu yang diberikan!.” Lalu bangkit dan berjalan ke sofa.

Begitu menjatuhkan badan di sofa telepon genggamnya berbunyi dan sepertinya kali ini adalah panggilan masuk bukan notifikasi lagi. Alih-alih ingin menggoda kemarahan istrinya, panggilan masuk yang sebenarnya dari Ilham malah dijawab seolah bicara dengan Yunita.

“Hallo Mas....” Suara Ilham.

“Iya mba...” Jawab Hasan.

“Kok mba sih Mas...denger suaraku nggak Mas?!.” protes Ilham.

“Ya dengerlah Mba...suara lembut kayak gitu bikin adem yang dengerinnya.” Lanjut akting.

“Weeiii Mas...ini aku Ilham, jangan mendem Mas.”

“Iya mba ada apa?."

“Tambah nggak nyambung.”

“Ohhh bisalah...tapi saya bisanya sore jam tiga keatas soalnya jam saya penuh.” Lanjut dengan kegilaannya.

“Kayaknya Mas ini udah mulai edan deh...nggak nyambung lagi!.” Ucap Ilham dan menutup telfon.

“Gimana Ham katanya Mas?.” tanya Ilyas begitu sambungan dimatikan.

“Gimana apanya...kayaknya mas Hasan tinggal disana jadi setres, masak aku dipanggil mba!." Ujar Ilham.

“Lagi ngelindur paling pas ngangkat telepon.” Ujar Andik.

Satu chat dari Hasan segera masuk dilayar telepon genggam Ilham, dengan sigap dia langsung membukanya.

“Kenapa dimatiin kemarin menawarkan diri buat bantu, mas lagi ngerjain istrinya mas cepat telepon lagi mau ngomong apa?.” isi chat Hasan.

Ilham tersenyum ketika membaca isi chat itu dan tanpa jedah dia langsung menelfon kembali Hasan. Sesuai instruksi Hasan mereka mengobrol dengan lancar meski diseberang sana memanggilnya dengan sebutan mba. Ilham sengaja mengeraskan suara panggilan agar kedua temannya mendengar obrolan mereka dan akting mas Hasan buat godain istrinya. Tak pelak hal konyol itu membuat tawa mereka bertiga ketika sambungan diakhiri.

“Mulai kreatif Masku itu!.” Guman Ilham dan kembali tertawa.

Tidak cukup disitu Ilham dan Hasan saling chat, mereka tersenyum bahkan tertawa ketika membaca ataupun membalas chat. Tema yang dibicarakan dalam chat itu adalah Naura yang dapat serangan balasan dari Hasan.

“Apa Mas udah mulai jatuh cinta sama mba Naura?!.” chat dari Ilham yang membuat Hasan terdiam lama untuk membalasnya.

“Sebenarnya mas udah jatuh cinta sama dia sejak pertama kali ketemu." Akhirnya mengungkapkan kebenaran.

“Emang dimana ketemuannya Mas...apa pas dijodohin itu?.” balas Ilham.

“Bukan tapi sebelum perjodohan aku ketemu dia sepulang dari kampus.”

“Itu artinya mba Naura jodohmu Mas.” Balasan chat dari Ilham.

Hasan tersenyum ketika membaca isi chat itu dan dengan segera dia mengetik balasan untuk Ilham.

“Udah ya lanjut besok.”

Dilantai bawah pak Malik meminta bik Siti untuk segera memanggil anak dan mantunya turun. Dengan sigap bik Siti langsung naik keatas dan mengetok pintu, setelah dua kali mengetok akhirnya pintu dibuka oleh Hasan dan bik Siti segera memberitahu kalau pak Malik sudah menunggu untuk makan malam.

Begitu bik Siti tidak terlihat lagi, Hasan mengajak Naura turun namun istrinya itu menolak dan mengatakan kalau dia akan makan diatas. Dengan berat hati Hasan pun turun sendiri kebawah untuk makan malam.

“Lo Nana mana Nak?!.”

“Katanya mau makan diatas aja...biar nanti saya bawakan”

“Kenapa lagi  ma dia?.”

“Tadi habis jatuh Pa.”

“Pakek lari sih jalannya...emang ada apa Nak?.” tanya pak Malik penasaran.

Karena tidak ingin membuat kesalah pahaman Hasan terpaksa menceritakan pertemuan tadi siang pada pak Malik. Termasuk teman Naura yang meminta nomor teleponnya dan larangan Naura untuk mengungkap hubungan mereka dipublik.

“Maafin Nana ya Nak....” Ucap pak Malik dengan nada lemah.

“Jangan minta maaf Pa... Adek juga nggak sepenuhnya salah, saya yang salah dalam hal ini...saya janji akan membenahinya tapi sebelumnya saya ingin memberikan pelajaran buat istri saya...kalau saya menasehatinya

pasti dia akan berdebat.”

“Jangan khawatir Nak papa mendukungmu...sesekali Nana memang harus disitrum dulu biar bisa menghargai pasangannya.” Ucap pak Malik.

“Terimakasih Papa udah percaya sama saya.”

“Tolong jagain Nana dan juga ayomi dia.” Pinta pak Malik.

“Inshaallah Pa....” jawab Hasan.

Setelah selesai makan malam, Hasan meminta tolong pada bik Siti untuk menyiapkan makan malam Naura dipiring.

Tidak  butuh waktu lama makan malam Naura sudah siap. Hasan membawa nampan itu dengan penuh ketulusan.

“Mba nya bangun dulu buat makan malam.” Ucap Hasan begitu masuk kamar.

“Hmmm....” Malas menjawab.

“Ayo Mba...makannya disini aja biar kasurnya nggak kotor.” Pinta Hasan.

Namun Naura tidak menjawabnya, dia justru menarik selimut lebih ke atas.

“Makan dulu terus ganti baju baru tidur.” Menjelaskan seperti seorang guru.

Karena melihat posisi istri masih tidak mau bergerak, Hasan pun membawa nampan ke kasur, meletakkannya dimeja samping tempat tidur dan membangunkan Naura dengan menyentuh pundaknya. Naura berusaha menepis tapi Hasan tetap mengulanginya lagi.

“Ayolah bangun....” Pintanya dengan suara melas.

Naura yang tidak tega mendengar suara itu akhirnya mengalah, dia membalikkan badan dan bangun daribtidur. Senyum diwajah Hasan segera terlukis, tangannya dengan cepat mengambil piring dan tanpa perintah menyuapi istrinya dengan tulus. Seperti kelinci kecil yang jinak Naura membuka mulut untuk menerima suapan itu.

“Orang ini tiap hari ngeselin tapi kadang perhatian...bingungin orang aja.” Guman Naura dalam hati.

1
F2h 29
Lumayan
Bungatiem
aku baca udah ke 4x. tapi pas cerita nya udah mulai melintir ga karuan aku ga lanjutin lagi.
Triwoel Andari
Hasan ngasih mahar ke Naura d episod ke brapa yah.. apa aku yg kelewatan ngebaca nya atau gimana yah...???
Hani P Hani
soweet jadi penggen jadi naura😍😍😍
Hani P Hani
ahirnya mereka bersatu semoga ini menjadi awal yang baik
Hani P Hani
alhamdulilah
Myra Azmoro
Si naura kelewatan ,, Hadeeww episode ini banyak mengadung bawang bikin hati sesak
Yuni
i
나의 햇살
gimana cowok suka sama kamu, orang kamu aja calon pelakor karena kalah saing sama Naura
Jusmiati
enaknya Naura, masak suaminya terus yg berjuang, kalau sy jadi Hasan, sdh sy tinggalin tuh nauranya, cari wanita yg lebih berfikir dewasa....😔😔😔
Yeni Rubianti
berbagi ilmu
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Bagus bgt critanya,dr tadi bikin mewek mulu 😭😭😭
Linda Erma
Critanya bikin aku mewek bgt 😭😭😭
Linda Erma
Sedih bgt ya 😭😭😭
Linda Erma
Yahhh aku nangis,Naura harusnya bersyukur punya suami yg sabar kyk hasan
Muda MACMUDAH
bagus thor cm sayang kurang lengkap klo g ada ilham jg
Muda MACMUDAH
yg cewek kurang cantik kak soalnya yg cowok tampan abis🤭
Heny Purwati
naura knp egomu tinggi...sampai" tak menyakini ketulusan suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!