Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Pertemuan di Pinggir Jalan
Setelah panggilan telepon ditutup, keheningan yang panjang mendadak menyelimuti kabin mobil. Mita menyerahkan kembali ponsel itu kepada Sam dengan tangan yang sedikit bergetar. Sam menerimanya dengan perasaan yang campur aduk. Hantaman rasa bersalah dan kebingungan mendadak berkecamuk di dalam dadanya.
"Mita... terima kasih. Dan... maafkan aku karena selalu melibatkanmu dalam masalah ini," ucap Sam tulus, suaranya melunak penuh penyesalan.
Mita menoleh pelan, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis yang terkesan menenangkan. "Tidak apa-apa, Mas. Semuanya akan baik-baik saja. Mas Sam tidak perlu merasa bersalah lagi," jawab Mita lembut. Kalimat sederhana itu entah mengapa seketika membuat hati Sam merasa sangat lega dan tenang, seolah sebagian beban berat yang menghimpit pundaknya selama berminggu-minggu ini luruh begitu saja.
Namun, tepat saat Sam hendak menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya kembali, sebuah mobil mewah mendadak berhenti tepat di hadapan mobil mereka. Sam terkejut dan refleks menginjak rem. Matanya membelalak lebar saat mengenali plat nomor mobil tersebut. Rupanya, itu adalah mobil ayahnya, Baskoro, dan ibunya, Diana.
Pintu penumpang mobil di depan terbuka, dan Diana melangkah keluar dengan senyum semringah. Begitu melihat Sam dan Mita ada di dalam mobil, Diana bergegas mendekat dan mengetuk kaca jendela, membuat Sam buru-buru menurunkannya.
"Loh, ada Mita juga di sini? Mita, kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Diana heran sambil menatap menantunya.
Sam dan Mita pun segera menjelaskan bahwa mereka baru saja dari kios laundry. Diana mangut-mangut lalu menjelaskan kedatangan mereka yang tiba-tiba. "Ini Ibu sama Ayah mau pergi ke rumah kamu, mau main. Habisnya kamu sibuk kerja terus, Sam. Makanya Ayah sengaja meluangkan waktu pagi ini buat nganterin Ibu nemuin menantunya."
Dari dalam mobil depan, Baskoro ikut menurunkan kaca jendela dan menyahut, "Ya sudah, tidak apa-apa. Biar Mita pulang bersama Ibumu saja naik mobil Ayah. Kamu kan harus segera ke kantor, Sam. Biar Ayah antar Ibumu sebentar ke rumah kalian."
"Baik, Ayah," jawab Sam patuh.
Mita kemudian turun dari mobil Sam dengan gerakan yang sangat hati-hati. Namun, begitu Mita berdiri di bawah terik matahari pagi, Diana langsung mengernyitkan dahi saat melihat wajah menantunya dari dekat.
"Loh, Mita... kamu pucat sekali? Kamu... baru malam pertama ya?" tanya Diana blak-blakan dengan senyum menggoda, mengira kepucatan Mita karena urusan ranjang pengantin baru yang tertunda.
Mendengar celetukan istrinya, Baskoro yang berada di balik kemudi langsung menyahut dengan dahi berkerut, "Apa? Malam pertama? Mana mungkin malam pertama. Mereka kan sudah berminggu-minggu menikah, masa baru malam pertama sekarang? Ada-ada saja kamu, Bu."
Wajah Mita seketika menegang sesaat, namun ia dengan cepat berusaha meluruskan situasi agar tidak memicu kecurigaan yang lebih dalam. "Oh, tidak ada apa-apa, Ibu, Ayah. Malam pertama sudah berlalu... Saya hanya sedang merasa kurang enak badan saja hari ini. Makanya wajah saya agak pucat. Setelah ini saya akan segera beristirahat."
Sam yang memperhatikan interaksi itu dari dalam mobil sempat merasa ada sesuatu yang aneh dan mengganjal di hatinya. Namun, ego dan rasa bahagianya mendadak mendominasi. Pikirannya langsung menepis perasaan janggal itu karena ia terlalu senang membayangkan bahwa dalam beberapa hari lagi, setelah makan malam di rumah Baskoro, ia akhirnya akan terbebas dari pernikahan ini dan bisa kembali seutuhnya kepada Vanya.
"Baiklah, Ayah. Kalau begitu aku permisi dulu," ujar Sam.
Setelah berpamitan, Sam menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya membelah jalanan, meninggalkan Mita yang berjalan masuk ke mobil orang tuanya dengan rahasia kelam yang terkunci rapat di dalam hati.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)