NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Kunjungan Mertua Ke Menantu

"Ini seriusan ayah sama bunda mau kesini? Nginep? Bas, yang bener, lho!" ucap Aira setengah panik.

Baskara menatap Aira. Ekspresi panik istrinya membuat Baskara tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Aira mengerutkan dahi.

"Ih! Kamu serius nggak sih?" tanya Aira kesal.

Baskara berhenti tertawa karena perutnya terasa kram. Dan Aira tahu ada yang tidak beres.

"Kamu bohong ya?" tanya Aira. Ia menghampiri Baskara dan mulai mencubit kecil perut Baskara.

Baskara berusaha menghindar, tapi gagal. Aira terlanjur menghampiri tempat duduknya dan mencubitnya. Karena berusaha menahan tangan Aira, Baskara terjatuh ke atas sofabed. Hal itu membuat kaki Aira tergelincir dari bibir sofa dan tubuh Aira menimpa Baskara.

"Aww ...."

Rambut Aira yang basah menjuntai menutupi wajahnya, sementara tangan Baskara yang semula menahan tangan Aira kini refleks melingkar di pinggang ramping gadis itu.

Mata Aira beradu dengan Baskara. Mereka saling memandang satu dengan yang lainnya. Sejenak, keduanya terpaku. Baskara tersenyum tipis saat melihat Aira mulai panik ketika menyadari posisinya begitu dekat dengan Baskara.

Aira cepat-cepat berdiri. Ia berdehem beberapa kali dan menatap Baskara yang masih terlentang di atas sofabed.

"Ehem ... sorry, nggak maksud ...."

Baskara bangkit dari tempatnya. Sementara itu, karena menahan malu Aira pun segera kabur masuk ke kamarnya. Hal itu membuat Baskara kembali tersenyum tipis.

Aira berdiri di balik pintu dan memegangi bagian dadanya yang bertalu-talu.

Astaga, gila! Satu senti lagi ciuman gue sama Baskara. Ihh! Airaaaa ... nggak usah aneh-aneh, deh! Batin Aira.

Aira mengerutkan dahi manakala mendengar beberapa mobil yang berhenti dan parkir di depan rumahnya. Aira sedikit berlari ke arah jendela, mengintip dari sela-sela gorden. Matanya membulat saat melihat Gunawan turun dari mobil bersama Sita.

"Hah? Om Gun sama Tante Sita? Lho, beneran ke sini?" ujar Aira panik. Ia pun segera melepaskan handuk di kepalanya dan mengambil pakaian yang pantas. Sebuah dress midi yang terlihat santai. Cepat-cepat ia menyisir rambut, menggunakan pelembab wajah, sedikit fondation, dan pelembab bibir agar terlihat segar.

Aira keluar dari kamarnya usai berdandan kilat. Ia melihat Baskara juga sudah mengganti pakaian dengan kaos dan celana panjang yang lebih sopan.

"Beneran ayah sama bunda kamu ke sini?" tanya Aira panik.

Baskara mengangguk. "Kan, tadi sudah bilang."

Aira kembali panik. Perutnya tiba-tiba terasa mulas.

"Aduh, gimana, aku,kan, belum sempet beberes rumah, Bas ...."

Baskara tersenyum. "Udah aman. Santai aja."

Baskara membuka pintu. Aira pun sudah mengembangkan senyumnya meski masih sedikit panik. Gunawan yang bergandengan dengan Sita itu pun menghampiri dan mulai menyapa putra beserta menantunya.

"Halo, Sayang maaf ya mendadak bunda datangnya. Soalnya kepingin banget mampir kesini sebelum lanjut," ucap Sita seusai mengecup kedua pipi Aira.

Baskara yang melihat kedekatan bundanya dengan Aira pun tersenyum. Ia mempersilakan kedua orang tuanya masuk. Sementara itu, beberapa pengawal dan ajudan KSAD tetap berjaga dan menunggu di luar rumah.

Aira pun segera membuatkan teh dan mengambil minuman dingin di dalam kulkasnya untuk para pengawal dan ajudan KSAD.

"Kalau lihat rumah dinas begini jadi ingat waktu awal-awal kita menikah dulu, ya, Mas," ucap Sita usai melakukan room tour.

Gunawan tersenyum. Ia menatap rumah dinas putranya sepintas, lalu mengangguk.

"Aira, betah, kan, tinggal di rumah dinas?"

Aira yang baru saja selesai membuat minuman itu pun tersenyum. Ia membawa nampannya ke meja tamu dan menyuguhkan minumannya.

"Betah, kok, Om ... eh, Ayah," jawab Aira seraya tersenyum. "Maaf, ya, karena nggak ada persiapan jadi Aira nggak ada suguhan apa-apa di rumah selain minuman," lanjut Aira.

Sita tersenyum dan menggenggam tangan Aira.

"Aduh, nggak usah repot, Nak. Bunda tadi yang tiba-tiba kepingin mampir. Lihat anak sama menantu. Kan, tadi siang waktu kunjungan kita belum sempat ngobrol."

"Aduh, Aira jadi nggak enak juga ni, Bunda. Soalnya setelah menikah, Aira sama Bas ... ehem... Mas Baskara belum sempat berkunjung ke rumah Ayah sama Bunda," jawab Aira.

Baskara sedikit terkejut dan menatap ke arah Aira saat ia mendengar Aira menyebut kata 'mas' di depan namanya.

Gunawan mengangguk-angguk. Sesekali ia menatap putranya yang tampak menahan senyum seraya melihat Aira.

"Nggak masalah. Waktunya yang memang belum cocok. Kerjaan ayahmu nggak berhenti-berhenti dari kemarin. Keliling terus," ucap Sita.

Gunawan tertawa. "Akhir minggu depan agendanya kosong. Kalian datanglah ke rumah. Kita makan malam sama-sama. Nginep saja sekalian. Kita weekend ke villa yang dipuncak," ucap Gunawan.

Baskara mengangguk diikuti oleh angkukan Aira.

"Baskara kalau malam masih suka begadang, Aira? Ini lagi musim pertandingan bola, suka nobar sama anggota juga dia?"

Aira tersenyum. "Sejauh ini, sih, Mas Baskara kalau malam dirumah, sih, Ayah," jawab Aira seraya sesekali melirik pada Baskara.

"Ya, nggak tega kalau ninggalin Aira sendirian di rumah. Anak-anak sih tetap nobar," jawab Baskara.

Gunawan tersenyum. "Nggak tega atau efek pengantin baru?" Godanya sebelum kembali tertawa.

Baskara dan Aira pun hanya tersenyum simpul sulit menyembunyikan wajah mereka masing-masing yang memerah.

"Nggak usah denger ucapan orang soal momongan. Nikmati aja dulu. Lagian masih beberapa bulan juga nikahnya. Kalau ayah sama bunda, mungkin Mba Rahma juga inginnya cepet-cepet nimang cucu, tapi, kan, kami nggak bisa maksa kalian juga. Jadi, dibawa santai aja," ucap Sita.

Wanita setengah baya itu masih terus menggenggam tangan Aira.

"Baskara nggak galak, kan, sama kamu Aira?"

Aira yang sejak tadi sudah memerah wajahnya hanya menggeleng sambil tersenyum.

"Jangan galak-galak sama istri!" ucap Sita.

"Enggak, Bunda."

"Iya. Mas Baskara nggak galak kok, Bund."

"Ayah sama Bunda mampir selain ingin menjenguk kalian secara langsung juga ingin melihat kondisi kalian berdua. Kami juga tahu soal masalah yang sedang menimpa Baskara. Ayah harap, Aira bersabar sebentar ya," ucap Gunawan lembut.

Aira tersenyum, lalu mengangguk.

"Sabar ya, Aira. Bunda tu khawatir sekali waktu dengar beritanya dan lihat langsung vidionya. Kaget dan langsung kepikiran Aira. Sebagai istri pasti juga merasakan berat menghadapi masalah seperti ini. Bunda yakin, Baskara juga sedang mengusahakan agar masalah ini cepat selesai," ucap Sita lembut.

Aira kembali tersenyum. Matanya tampak berkaca-kaca, lalu tak lama mengangguk.

"Aira percaya sama Mas Baskara, Bunda ... ayah ... Aira rasa itu hal paling penting saat ini," jawab Aira seraya menatap Baskara.

Gunawan dan Sita bernapas lega usai melihat sendiri hubungan antara anak dan menantunya ini. Kunjungan mertua ke menantu pun usai. Gunawan dan Sita berpamitan.

"Sampai ketemu akhir minggu ini ya. Kita liburan ke villa sama-sama," ucap Sita. "Oh, iya, Aira itu Bunda bawakan rendang daging, kering kentang, dan sambal bumbu hitam. Semua kesukaan Baskara. Bunda belum tahu kesukaan kamu apa. Bilang sama Bunda kamu sukanya apa nanti bunda kirim."

Aira menatap Sita sejenak. "Bingung, Bunda. Aira suka semua soalnya hehe. Terima kasih ya, Bunda sudah bawakan masakan itu buat Aira sama Mas Baskara."

Gunawan dan Sita masuk ke mobil. Dan rombongan pun meninggalkan rumah dinas Baskara. Aira melambaikan tangan dan menatap iring-iringan mobil itu hingga tidak tampak lagi.

"Ayah sama bunda kamu pasti kepikiran soal masalah ini juga ya."

Baskara mengangguk. Tangannya tanpa sadar melingkar di pinggang Aira, membuat Aira sedikit kaget dan segera menatap Baskara.

"Seperti ayah dan bunda, aku pun lega kamu percaya sama aku, Ai. Seperti yang kamu bilang, itu hal terpenting saat ini."

Aira dan Baskara saling menatap dengan sorot yang sulit diartikan. Tangan Baskara terulur ia membelai lembut kepala Aira sambil tersenyum.

"Izin, Let ...."

Baskara menoleh saat melihat ajudan Kolonel Haryo sudah berdiri di belakang mereka entah sejak kapan. Baskara mengerutkan dahi. Ia menatap ajudan itu usai membalas hormat dari sang ajudan.

"Izin, Let ditunggu komandan dikantor."

___________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!