NovelToon NovelToon
Apocalyps Girl

Apocalyps Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Zombie / Ruang Ajaib
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arju na

Sinopsis

Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.

Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.

Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.

Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 18 – SAMPAI PANGKALAN B

Setelah kejadian Luna tercakar zombie, keluarga Lily tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Pangkalan B.

Suasana di dalam campervan terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.

Lily duduk di samping Luna yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Sejak tadi ia terus menggenggam tangan gadis kecil itu.

Tatapannya dipenuhi rasa bersalah.

Sesekali Luna menggeliat pelan seolah sedang menahan rasa sakit. Tubuh kecilnya masih berjuang melawan virus zombie yang sempat masuk ke dalam tubuhnya.

"Luna..."

Suara Lily terdengar lirih.

"Kakak mohon, kamu harus bisa melawan virus itu."

Matanya terasa panas.

Jika saja ia lebih waspada, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.

Kenzo sendiri sudah tertidur karena kelelahan setelah menangis sepanjang sore. Kini bocah itu tertidur sambil memeluk boneka robot kesayangannya.

"Ini semua salah Kakak."

Lily menundukkan kepala.

"Kalau Kakak lebih hati-hati, pasti kamu nggak akan kena cakar."

Penyesalan memenuhi hatinya.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

Saat menoleh, Lily melihat Lea berdiri di sana.

Lea kemudian duduk di sampingnya.

"Lo nggak perlu nyalahin diri sendiri terus."

Lily terdiam.

"Gue juga merasa bersalah."

Lea menatap adiknya dengan serius.

"Waktu kejadian tadi, gue malah lebih fokus melindungi diri gue sendiri."

Lily langsung menggeleng.

"Itu bukan salah lo, Kak."

"Tapi gue sadar satu hal."

Lea menarik napas panjang.

"Selama ini lo selalu berusaha melindungi kami semua sendirian."

Tatapan Lily sedikit bergetar.

"Lo juga manusia, Li."

Lea tersenyum tipis.

"Lo nggak mungkin bisa melindungi semua orang sendirian."

Lily terdiam.

"Karena itu mulai sekarang, belajarlah bekerja sama sama kami."

Lea kemudian menepuk bahu adiknya.

"Jangan bertindak sendiri lagi."

Lily menunduk.

"Gue bukan mau bertindak sendiri, Kak."

Suaranya terdengar pelan.

"Gue cuma takut."

"Tidak mau kehilangan kami?"

Lily tidak menjawab.

Namun ekspresinya sudah menjelaskan semuanya.

Yang sebenarnya ingin ia katakan adalah...

Aku nggak mau kehilangan kalian untuk kedua kalinya.

Namun kalimat itu hanya tersimpan di dalam hatinya.

Lea tidak mengetahui rahasia kehidupan sebelumnya yang dimiliki Lily.

"Lo nggak perlu takut."

Lea tersenyum hangat.

"Gue dan yang lainnya bisa menjaga diri kami sendiri."

Kemudian ia mengacak rambut Lily.

"Jadi berhenti memikul semuanya sendirian."

Mendengar kata-kata itu, pertahanan Lily akhirnya runtuh.

Ia langsung memeluk kakaknya erat.

Lea terkejut.

"Hiks..."

Air mata mulai mengalir dari mata Lily.

"Makasih, Kak."

Lea hanya tersenyum.

"Maaf kalau selama ini gue selalu bertindak sendiri."

Lea membalas pelukan adiknya.

"Nggak apa-apa."

Untuk beberapa saat, suasana di dalam mobil kembali tenang.

 

Waktu terus berlalu.

Jarum jam kini menunjukkan pukul 00.32 malam.

Campervan masih melaju membelah jalanan gelap menuju tujuan mereka.

Di luar jendela, hanya terlihat reruntuhan kota dan sesekali bayangan zombie yang berkeliaran di kejauhan.

Saat semua sedang duduk di atas karpet bulu, Daddy Mike kembali bertanya.

"Berapa lama lagi kita sampai, Nak?"

Lily melihat peta yang ada di tangannya.

"Kalau Lily nggak salah baca, sekitar tiga puluh menit lagi kita sampai di Pangkalan B."

Mendengar itu, semua orang terlihat sedikit lega.

Akhirnya perjalanan panjang mereka hampir berakhir.

Mereka pun mulai membereskan barang-barang yang masih berserakan.

Tiba-tiba Mommy Grace yang sedang melipat pakaian menoleh ke arah Luna.

Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

"Honey..."

Ia menatap putrinya.

"Bagaimana dengan Luna? Dia belum sadar juga."

Mommy Grace menggigit bibir bawahnya.

"Apa dia bisa kita bawa masuk ke dalam pangkalan?"

Ia takut pihak pangkalan akan curiga.

Lily langsung mengangguk.

"Mommy tenang saja."

Ia menunjuk pergelangan tangan Luna.

"Lukanya sudah menutup sempurna."

Berkat air spiritual, bekas cakaran zombie bahkan nyaris tidak terlihat lagi.

"Jadi nggak akan ada yang curiga kalau Luna pernah tercakar zombie."

Mommy Grace akhirnya menghela napas lega.

"Syukurlah."

Setelah itu mereka kembali membereskan barang-barang.

Sementara yang lain merapikan peralatan makan dan persediaan makanan yang tersisa.

 

Beberapa saat kemudian, Lily melihat gerbang besar yang berdiri di kejauhan.

Matanya langsung berbinar.

"Kita sudah dekat."

Ia kemudian menoleh ke arah kursi kemudi.

"Mang Ujang, berhenti di sini saja."

"Hah?"

Mang Ujang sedikit bingung.

"Kenapa, Non?"

"Karena sekitar seratus meter lagi kita sudah sampai di Pangkalan B."

Mendengar itu, Daddy Mike ikut menoleh.

"Kalau mobil ini kita tinggalkan, bagaimana?"

Nada suaranya terdengar sayang.

Bagaimanapun juga, campervan itu sudah menemani mereka selama perjalanan.

"Kita bisa cari kendaraan lain nanti."

Lily tersenyum santai.

"Untuk sekarang tinggalkan saja."

Tentu saja Lily tidak benar-benar berniat meninggalkan campervan itu.

Di dalam hati, ia sudah memiliki rencana.

Mereka pun turun dari kendaraan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Saat seluruh keluarganya sudah berada cukup jauh di depan, Lily diam-diam menoleh ke belakang.

Dalam sekejap...

Campervan itu menghilang.

Ia telah memasukkannya ke dalam ruang dimensi.

Setelah memastikan tidak ada yang melihat, Lily segera menyusul keluarganya.

 

Lima menit kemudian, mereka akhirnya sampai di depan gerbang besar Pangkalan B.

Di depan gerbang, antrean manusia terlihat sangat panjang.

Ratusan orang berbaris menunggu giliran masuk.

Keluarga Lily pun ikut mengantre.

Saat giliran mereka tiba, seorang petugas menjelaskan berbagai peraturan yang berlaku di dalam pangkalan.

Setelah itu, petugas tersebut mengeluarkan lima belas tas berukuran sedang.

"Satu orang satu tas."

Nada suaranya terdengar datar.

"Setiap orang wajib menyerahkan persediaan sebagai kontribusi untuk pangkalan."

Lily menerima tas-tas tersebut.

Kemudian ia berjalan sedikit menjauh dari keluarganya.

Tanpa diketahui siapa pun, ia mengeluarkan berbagai persediaan dari ruang dimensinya.

Makanan kaleng.

Mi instan.

Biskuit.

Air minum.

Dan berbagai kebutuhan lainnya.

Tidak butuh waktu lama hingga semua tas terisi penuh.

Setelah selesai, Lily memanggil Kenzo yang sedang berdiri tidak jauh darinya.

"Kenzo."

Bocah itu menoleh.

"Panggil Mommy dan Daddy, ya."

"Kak Lily yang manggil."

Meski masih terlihat lesu karena mengkhawatirkan Luna, Kenzo tetap mengangguk patuh.

"Baik, Kak."

Tidak lama kemudian Mommy Grace dan Daddy Mike datang menghampiri.

"Ada apa, Sayang?"

tanya Mommy Grace.

Lily menunjuk tumpukan tas di depannya.

"Ini buat kita masuk ke dalam pangkalan."

Kedua orang tuanya langsung membelalak.

"Eh?"

Mommy Grace terlihat bingung.

"Sejak kapan ada banyak makanan di sini?"

Lily tertawa canggung.

"Hehehe..."

Ia menggaruk pipinya.

"Aku bawa tas besar tadi."

Tentu saja itu bohong.

Namun Mommy Grace tidak terlalu memikirkannya.

"Kalau begitu ayo."

Lily segera mengalihkan pembicaraan.

"Kasihan Paman Damar. Dari tadi beliau terus menggendong Luna."

Mereka pun kembali menuju antrean.

 

Saat sampai di area pemeriksaan, seorang petugas memperhatikan Luna yang masih belum sadar.

Tatapan pria itu berubah waspada.

"Maaf, Tuan, Nyonya."

Petugas itu berbicara dengan sopan.

"Boleh saya tahu kenapa adik kecil itu pingsan?"

Pertanyaan tersebut langsung membuat suasana sedikit tegang.

Namun Lily tetap tenang.

"Dia sedang demam tinggi."

Jawabannya terdengar meyakinkan.

"Itu sebabnya dia pingsan."

Petugas itu masih terlihat ragu.

"Jika Bapak tidak percaya, silakan diperiksa."

Petugas itu pun memeriksa kondisi Luna.

Saat menyentuh dahinya, ia langsung merasakan suhu tubuh yang cukup panas.

Karena memang sedang melawan virus zombie, tubuh Luna benar-benar mengalami demam tinggi.

Setelah beberapa saat memeriksa, petugas itu akhirnya mengangguk.

"Baik."

Ia melangkah mundur.

"Maaf atas ketidaknyamanannya."

Petugas tersebut kemudian menunjuk sebuah bangunan besar di dalam pangkalan.

"Sekarang silakan masuk ke ruang karantina terlebih dahulu."

"Untuk memastikan kalian tidak terinfeksi virus."

Keluarga Lily mengangguk.

Mereka lalu berjalan menuju gedung karantina.

Saat melangkah masuk ke dalam bangunan itu, Lily diam-diam menghela napas panjang.

Semoga tidak ada masalah lagi.

Aku benar-benar ingin beristirahat untuk sementara waktu.

Dengan pikiran itu, Lily mengikuti keluarganya memasuki ruang karantina, tanpa mengetahui bahwa kehidupan mereka di Pangkalan B baru saja akan dimulai.

Sorry guys telat soalnya lagi demam aku mungkin kecapean

oke see you next chapter guysss ☺️☺️

1
Eva Akmal
smg sehat slalu n semangat
Cristina Billi
lanjut thor /Determined//Determined//Determined//Determined/
Eva Akmal
smg ibunya lekas sembuh n kita semua sehat aamiin..🤲🏻
Eva Akmal
seru
Cristina Billi
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Anonim
selalu ditunggu up nya.... semangat/Determined/
Wapik
baca dulu ya🤭
bulan sabit: semoga suka ya maaf jelek masih pemula soalnya maklum masih anak kelas 1 SMA
total 1 replies
Cristina Billi
semangat thor/Angry//Angry//Determined//Determined//Determined/
Dania
semangat tor'di tunggu up nya
Dania
I hope your mother gets well soon
Etty Rohaeti
lekas pulih kembali untuk ibu nya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak
bulan sabit: besok atau gak Jum'at ya kak soalnya aku lagi ujian maklum masih sekolah 🤭🤣
total 1 replies
Arju Na
😄😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!