Di usia 35 tahun, Ghufran Arfathan sukses besar memimpin GA Corp. Baginya, wanita hanyalah pengganggu kesuksesan, membuatnya tak peduli dicap "bujang lapuk". Ia percaya harta bisa membeli segalanya, termasuk wanita.
Namun, keyakinan itu runtuh saat ia mengunjungi sebuah desa dan terpikat oleh Zhawa Khalisha (22 tahun). Berbeda dari wanita kota, Zhawa tampil bersahaja dengan gamis longgar dan hijab. Terpesona, Ghufran mencoba menaklukkan hati Zhawa menggunakan kekayaannya lewat berbagai hadiah fantastis.
Sayangnya, Zhawa menolak mentah-mentah karena ia telah memiliki tunangan. Penolakan itu menjadi tamparan keras bagi ego sang miliarder. Ghufran kini sadar, berlimpahnya harta di rekening bank ternyata tidak berdaya di hadapan kesetiaan seorang gadis desa. Perjuangan konyol sang CEO lapuk demi mengejar cinta pertamanya pun dimulai!
Yuk ikuti kisahnya si 'Bujang lapuk' dan jangan lupa berikan dukungannya untuk Author Ramanda ya, terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BIAR WAKTU YANG BERBICARA.
Detik demi detik berlalu di dalam kamar rawat, namun kelopak mata Zhawa masih terpejam rapat. Ghufran yang duduk di kursi samping ranjang melirik jam dinding dengan gelisah. Wajahnya semakin tegang, memancarkan kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Ghufran menoleh ke arah Rian yang sedang bersandar di dekat dispenser. "Yan, panggil dokter lagi sana! Ini sudah hampir dua jam, kenapa Zhawa belum sadar juga? Jangan-jangan obatnya dosisnya ketinggian?"
Rian mendengus, memutar bola matanya malas. "Aduh, Ghufran, maneh mah hobi banget panik, ih. Tadi kan dokter sudah bilang, tubuhnya Zhawa itu memang sudah kelelahan parah. Anggap saja dia sedang tidur pulas karena butuh istirahat. Jangan lebay atuh, Fran."
Sebelum Ghufran sempat membalas, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka. Pak Imran melangkah masuk dengan langkah yang agak tergesa-gesa. Rian memang sengaja mengabari beliau begitu Zhawa dipindahkan ke kamar perawatan. Ghufran seketika terkejut dan langsung bangkit berdiri dari kursinya.
Namun, belum sempat Ghufran menyapa, Pak Imran justru langsung meraih kedua tangan Ghufran dan menggenggamnya dengan sangat erat. Air mata orang tua itu mengalir haru. "Nak Ghufran... terima kasih banyak, Nak. Hatur nuhun pisan. Sampai bapak bingung bagaimana harus membalas semua kebaikanmu."
Ghufran mendadak kikuk, melirik ke arah Zhawa yang masih terbaring, lalu kembali menatap Pak Imran. "Eh, iya, Pak. Sama-sama. Tapi Pak Imran tidak perlu berlebihan seperti ini."
Pak Imran menggelengkan kepala, menatap Ghufran dengan pandangan memohon yang amat sangat. "Bapak mohon, Nak, tolong jangan menolak anak saya lagi. Zhawa itu tulus ingin menjadi istrimu, Nak Ghufran. Dia anak yang baik."
Mendengar ucapan blak-blakan dari Pak Imran, Ghufran tertegun. Ia mengembuskan napas perlahan, mencoba menata kalimatnya agar tidak menyinggung perasaan orang tua di hadapannya.
"Pak Imran, mohon dengarkan saya," ujar Ghufran dengan nada suara yang sangat lembut namun sarat ketegasan. "Saya membantu keluarga Bapak murni karena ikhlas, saya tidak menuntut balasan apa pun. Tolong, jangan pernah memaksa Zhawa untuk menjadi istri saya hanya karena merasa berutang budi. Saya tidak mau melandasi sebuah pernikahan dengan rasa bersalah atau transaksi tebusan utang. Jadi, saya mohon dengan sangat, jangan mengungkit tentang pernikahan ini lagi saat Zhawa sadar nanti."
Pak Imran terpaku mendengar ketulusan dari pria di hadapannya. Beliau akhirnya mengangguk pelan dengan wajah pasrah. "Baiklah, Nak Ghufran, kalau itu memang maumu. Bapak nurut."
"Kalau begitu, saya pamit kembali ke kantor dulu, Pak. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan," kata Ghufran berpamitan, menyalami tangan Pak Imran. Padahal, jauh di lubuk hatinya, ia sangat ingin bertahan di sana sampai melihat Zhawa membuka mata. Namun, karena suasana mendadak menjadi sangat canggung, Ghufran memilih untuk melangkah pergi.
Tak lama setelah Ghufran dan Rian keluar dari ruangan, jemari Zhawa mulai bergerak kecil. Kelopak mata perlahan terbuka, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar rumah sakit yang terang. Pak Imran yang melihat hal itu langsung menarik napas lega.
"Zhawa, akhirnya kamu sadar juga, Nak," ucap Pak Imran sembari mengusap dahi putrinya. "Kenapa kamu bisa pingsan begini, geuning?"
Zhawa berusaha mendudukkan tubuhnya yang masih terasa sedikit lemas. "Zhawa juga tidak tahu, Pak. Tadi tiba-tiba saja kepala Zhawa rasanya pusing sekali, lalu semuanya gelap." Zhawa mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang tampak mewah. "Pak... siapa yang membawa Zhawa ke sini? Terus, ini kan kamar rawat yang mahal lagi."
"Nak Ghufran yang membawamu kemari, Nak," jawab Pak Imran apa adanya.
Mendengar nama itu, jantung Zhawa berdesir aneh. Ia langsung menebak dalam hati. "Pasti dia lagi yang membayar semua biayanya, kan? Coba Bapak tanyakan ke administrasi di luar, apakah biaya rumah sakit ini sudah dibayar atau belum."
Pak Imran menurut, beliau melangkah keluar kamar selama beberapa menit. Begitu kembali masuk, Pak Imran mengangguk dengan senyuman tipis. "Sudah lunas semua, Zhawa. Semuanya sudah diurus oleh Nak Ghufran sebelum dia pergi tadi."
Zhawa terdim seketika, matanya menatap kosong ke arah selimut. "Kita berutang lagi sama Kang Ghufran, Pak. Utang budi kita rasanya semakin banyak dan menumpuk."
Pak Imran duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan putrinya. "Nak Ghufran bisa marah kalau kamu terus-terusan menganggap ini sebagai utang, Zhawa. Dia membantu kita dengan sangat tulus. Dia juga berpesan kepada Bapak agar kamu tidak perlu terbebani, apalagi sampai terpaksa harus menjadi istrinya. Nak Ghufran tidak mau menjalin hubungan pernikahan yang dasarnya hanya karena balas budi."
Zhawa bungkam seribu bahasa. Namun, entah sejak kapan, ada rasa sakit yang tiba-tiba menyelinap di hatinya saat mendengar penolakan tidak langsung dari Ghufran. Perasaan aneh itu perlahan mulai tumbuh, sebuah getaran samar yang membuatnya selalu ingin melihat wajah pria egois namun berhati emas tersebut.
Sementara itu, di dalam mobil SUV yang sedang membelah jalanan kota, suasana terasa sangat hening. Rian fokus menyetir, sedangkan Ghufran di sampingnya hanya terdiam sembari menatap keluar jendela. Pikirannya benar-benar masih tertinggal di kamar rawat Zhawa.
Rian yang tidak tahan dengan keheningan itu akhirnya membuka suara dengan logat daerahnya yang kental. "Yowes, mau sampai kapan maneh merenung begini, Fran? Kalau memang masih cinta, ya langsung dilamar saja secara jantan. Jangan kebanyakan mikir yang aneh-aneh. Lagipula Zhawa sudah bilang bersedia, kan?"
Ghufran tidak bergeming, pandangannya tetap lurus ke luar.
"Nanti lama-kelamaan dia juga bakal mencintaimu, Fran," lanjut Rian mencoba meyakinkan sahabatnya. "Karena seringnya bertemu, cinta itu biasanya bakal hadir dengan sendirinya. Orang Sunda mah bilang, cinta teh bisa tumbuh karena biasa bersama, tahu tidak?"
Bukannya merasa terhibur, Ghufran malah mendengus kasar. "Diam lo, Rian. Elo itu tidak tahu apa-apa tentang apa yang gue rasakan."
"Lho, kok gue malah disuruh diam?" protes Rian tidak terima.
"Iya, gue akui gue memang masih sangat menyukainya," tutur Ghufran dengan nada suara yang melemah, sarat akan keputusasaan. "Tapi gue tahu persis kalau di dalam hatinya, dia masih sangat mencintai almarhum Asep. Dia melihat gua bukan sebagai seorang pria yang dia inginkan, tapi sebagai sosok penolong yang harus dia patuhi. Gue tidak mau pernikahan seperti itu, Rian. Intinya, biarkan waktu saja yang bicara sekarang."
Ghufran membetulkan posisi duduknya, lalu menatap Rian dengan serius. "Gue tidak mau bertemu dengan dia dulu untuk sementara waktu. Kamu atur saja semua proses kepulangan mereka kembali ke desa setelah kondisinya benar-benar pulih. Dan ingat, jangan pernah beritahu mereka kalau gue yang menyuruh lo. Mengerti?"
Rian hanya bisa menghela napas panjang, menahan kekesalannya. "Iya, mengerti, Bos."
Meskipun mulutnya berkata mengerti, otak Rian yang cerdik justru mulai menyusun sebuah rencana baru. Ia tidak akan membiarkan persahabatan dan kisah cinta sepihak ini berakhir tragis hanya karena ego dan gengsi Ghufran. Rian tahu betul, hanya ada satu orang di dunia ini yang perintahnya tidak akan pernah bisa dibantah oleh seorang Ghufran.
Hanya Ibu Ghufran yang bisa menjinakkan anak keras kepala ini. Aku harus secepatnya menemui beliau, batin Rian dengan senyuman penuh arti yang mulai terukir di wajahnya.
terimakasih