Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Melarikan Diri
"Bukan, Mas! Astaga...!" Kiano menepuk jidatnya frustrasi. "Gue ini sebenernya cuma manusia biasa, alias anak SMA dari Jakarta yang nyasar ke negeri bunian ini. Apesnya, semua orang di sini malah nyangka gue ini Pangeran Wirasada yang kabur dari kerajaan. Ya... gara-gara muka gue sama dia itu kembar identik mirip pinang dibelah kapak!"
Arum seketika terdiam. Otaknya berputar cepat mencerna pengakuan mengejutkan dari pemuda di hadapannya itu.
'Ini kesempatanku! Kalau aku membantu orang ini, aku mungkin bisa ikut menyeberang ke dunia manusia bersamanya. Penyamaranku juga pasti akan jauh lebih aman jika berada di dekat pemuda manusia bodoh ini dan sosok jin jawara miliknya,' batin Arum menyusun rencana.
Sebuah seringai tipis terbit di bibir manisnya yang tertutup kumis palsu. Ia mengangguk mantap. "Baiklah, aku setuju dengan penawaranmu. Kau butuh berapa buah?"
"Terserah lo deh, Mas. Kira-kira secukupnya aja buat nyembuhin penyakit muntah darah gue ini," sahut Kiano sembari meletakkan kedua tangan di pinggang.
"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana, aku akan ke sana untuk mengambilnya," ucap Arum mutlak.
Wushhh!
Tanpa aba-aba, tubuh mungil Arum melesat cepat dan terbang melayang tinggi, langsung meluncur menuju ke arah pucuk pohon Malaka Hitam yang tengah menjadi pusat badai pertempuran.
"Ck! Mereka benar-benar merepotkan," gerutu Arum saat kakinya mendarat di salah satu dahan kokoh.
Pohon Malaka Hitam itu kini bergoyang dahsyat akibat terkena hantaman sisa-sisa energi sihir dari Ki Saron, Dharma, dan Ki Maung. Beruntung, pohon keramat itu memiliki pelindung gaib alami yang sangat kuat, sehingga buah-buahnya tidak akan jatuh begitu saja meski diguncang badai.
Arum bergidik ngeri membayangkan jika pohon itu tidak memiliki pelindung, tempat ini pasti sudah meledak porak-poranda dan rata dengan tanah akibat ratusan buah bom meteor tersebut.
Tiba-tiba, sebuah ide licik melintas di benak sang putri. Arum menyeringai lebar penuh arti. Dengan gerakan tangan yang sangat gesit dan lincah, ia memetik banyak buah Malaka Hitam sekaligus sebelum aksinya disadari oleh Ki Maung yang sedang mengamuk bodoh.
Arum bergerak taktis. Ia memisahkan lima buah Malaka Hitam dan memasukkannya dengan aman ke dalam saku celana besarnya untuk diberikan kepada Kiano. Sisa buah yang berada di genggamannya kemudian ia lemparkan dengan sekuat tenaga ke arah arena pertempuran ketiga makhluk kuat tersebut.
Pluk! Pluk! Pluk!
Duarrr...! Duarrr...! Boommm...!
Ledakan berantai berskala masif seketika pecah di udara, menciptakan kembang api raksasa dari kilatan cahaya dan asap hitam yang pekat.
Alhasil, tubuh Ki Maung dan Ki Saron ikut terpental hebat akibat hantaman gelombang ledakan beruntun itu. Bahkan, tubuh raksasa harimau purba tersebut sampai tersungkur keras menghantam tanah, menimbulkan dentuman yang menggetarkan bumi.
Sementara itu, Ki Saron terlempar jauh dan berakhir nyangkut secara mengenaskan di dalam semak-semak belukar yang lebat. Wajah tengkorak dan rambut panjang kusut milik jin tersebut seketika dipenuhi oleh ranting dan bunga berduri, membuatnya terlihat sangat berantakan dan jauh dari kesan menyeramkan.
"Sialan! Siapa yang sudah lancang mengambil dan melemparkan buah Malakaku?!" raung Ki Maung murka.
Sepasang mata merah menyalanya berkilat tajam, mengarah lurus ke atas pohon. Tatapan bengisnya tertuju tepat ke arah si pemuda berkumis palsu alias Kalasugih—pemuda jadi-jadian yang justru masih duduk santai dengan kaki berselonjor di salah satu dahan pohon, seolah baru saja melempar kerikil biasa.
"Aku. Aku yang melemparkannya," sahut Kalasugih tanpa beban, nadanya terdengar dingin dan sangat meremehkan.
Ia menatap ke bawah, lalu melanjutkan dengan senyum miring, "Kau, Harimau Tua... sudahlah, mengalah saja dan berikan buah Malaka Hitam ini dengan sukarela. Tidak perlu berkelahi sampai merusak area hutan ini. Kalian tahu tidak? Suara ribut kalian itu sangat berisik dan mengganggu waktu tidurku!"
Sementara itu, nasib Dharma sang pengawal juga tak kalah mengenaskan. Pria yang tadinya bertarung habis-habisan membantu Ki Saron itu kini malah berakhir gosong akibat terkena radius ledakan.
Sialnya lagi, pakaian pengawal kerajaan kebanggaannya sudah compang-camping tak berbentuk. Jin malang itu kini telentang pasrah di dalam kawah bekas ledakan dengan wajah hitam legam penuh jelaga, menyisakan asap tipis yang sesekali mengepul dari ujung rambutnya.
Bruk!
Tanpa rasa takut sedikit pun, Kalasugih melompat turun dari atas pohon Malaka. Ia mendarat dengan mulus dan mantap, tepat di depan tubuh raksasa Ki Maung yang sedang diselimuti aura kemarahan.
"Kau berani menantangku, Anak Muda kurang ajar?! Siapa kau sebenarnya sampai berani berkata begitu padaku?!" raung Ki Maung.
Suaranya yang menggelegar membuat dedaunan di sekitar mereka bergetar. Sepasang mata merah menyala milik harimau purba itu melotot murka, siap mengoyak pemuda bertubuh mungil di hadapannya dalam sekali terkam.
"Aku sama sekali tidak takut denganmu. Bagiku, kau sama saja dengan hewan peliharaan yang butuh dijinakkan," ucap Kalasugih dingin dengan nada yang luar biasa tenang.
Groarrr!
Ki Maung semakin murka, harga dirinya sebagai penguasa hutan diinjak-injak. Harimau purba raksasa itu langsung menerjang maju, membuka rahangnya lebar-lebar siap mengoyak tubuh Kalasugih.
Namun, alih-alih menghindar, Kalasugih dengan santai merogoh kantung celananya. Ia mengeluarkan sehelai bulu merak indah yang diikat dengan seutas tali magis bercahaya keperakan.
Dengan gerakan lambat, ia mengayun-ayunkan bulu merak tersebut di udara, tepat di depan moncong sang harimau raksasa.
"Ayo bermain, Kucing Kecil... Tunduklah padaku," bisik Kalasugih penuh wibawa sihir.
Ajaib! Seketika itu juga pergerakan brutal Ki Maung terhenti total. Sepasang mata merah yang tadinya memancarkan aura membunuh, mendadak berubah menjadi jernih dan berbinar-binar.
Makhluk buas raksasa itu malah menundukkan kepala, mengibas-ngibaskan ekornya yang besar, lalu berguling-guling manja di atas tanah. Jin harimau purba itu mendadak berubah seratus persen menjadi kucing rumahan yang menggemaskan di depan Kalasugih.
Kiano dan Ki Saron yang menyaksikan pemandangan absurd itu dari kejauhan seketika melongo berjamaah. Rahang Kiano hampir saja copot melihat monster mengerikan itu takluk hanya dengan sehelai bulu burung.
Namun, Kiano buru-buru tersadar. Fokusnya langsung teralih begitu melihat Dharma yang masih telentang. Ia harus cepat-cepat menyelamatkan pengawalnya itu sebelum mantra sihir si pemuda berkumis habis dan Dharma berakhir menjadi jin geprek di bawah cakar Ki Maung.
Kiano berlari menghampiri kawah ledakan. "Dharma! Ayo bangun, keluar lo dari situ! Jangan malah rebahan estetik di dalam lubang. Nanti aja rebahannya dilanjut di keraton. Gue bakal minta para dayang buat nyiapin kasur paling empuk plus pijat refleksi buat lo!"
Kiano berteriak sambil mati-matian menahan tawa. Perutnya sampai kram menatap penampilan Dharma yang sudah amburadul mirip ayam tiren gosong kena petir.
Dharma berusaha bangkit berdiri dengan susah payah. Seluruh tulang di tubuh jinnya terasa remuk redam. "Kamu harus tanggung jawab, Kiano...! Saya begini gara-gara mau menolong kamu yang kurang gercep itu!" keluh Dharma dengan suara serak.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Dharma merangkak naik ke bibir kawah dan menyambut uluran tangan Kiano.
"Ayo cepat pergi dari tempat ini!" ajak Kalasugih setengah berbisik, menghampiri Kiano dan kedua jin tersebut. "Sebelum harimau purba itu tersadar dan efek mantra sihirku hilang sepenuhnya."
Alhasil, mereka berempat pun lari kocar-kacir tunggang-langgang. Detik itu juga, wibawa mereka sebagai pangeran mahkota, jin jawara supranatural, pengawal elit kerajaan, hingga putri mahkota yang anggun, langsung ambyar dan menguap ke udara. Gaya lari mereka benar-benar mirip komplotan maling ayam yang kepergok warga sekampung setelah subuh.
Kondisi mereka di sepanjang jalan sudah tidak bisa dibilang manusiawi lagi. Udeng atau ikat kepala khas bangsawan milik Kiano sudah melorot pasrah ke depan wajahnya. Kain itu menutupi mata dan hidungnya, membuat Kiano berlari sambil sibuk mendongak-dongak seperti orang cegukan agar tidak menabrak pohon beringin lain.
Nasib penyamaran Kalasugih pun tidak kalah kritis. Kumis palsu andalannya sudah copot setengah dan miring ke sebelah kanan, berkibar-kibar ditiup angin malam layaknya bendera partai, membuatnya tampak seperti bapak-bapak yang stroke sebelah setelah makan gorengan.
Di sisi lain, Dharma berlari paling depan dengan sisa kemeja pengawal kerajaannya yang robek-robek dari pinggang ke bawah. Sisa kain itu berkibar-kibar heboh ke kanan dan ke kiri layaknya rok mini penari hula-hula dari Hawaii, memamerkan sepasang kaki jinnya yang penuh bulu lebat.
Namun, piala untuk penampilan paling mengenaskan malam itu jatuh kepada Ki Saron. Jin jawara yang tadinya terlihat garang dan ditakuti seantero hutan, kini berlari pincang dengan duri semak-semak yang masih menancap di sela-sela rambut kusutnya. Dengan baju compang-camping dan napas tersengal-sengal, wibawa Ki Saron runtuh total. Ia lebih mirip gembel lampu merah yang sedang dikejar razia Satpol PP gara-gara ketahuan tidur di trotoar.
"Woy, Mas Kumis! Ini kita mau lari sampai ke Jakarta Barat apa gimana?! Kaki gue udah mau copot, nih!"