Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Resto cukup ternama sudah terlihat. Danu membelokan mobilnya, lalu mencari parkir disana. Selepas itu keduanya langsung turun bersama.
Di dalam cukup ramai. Juragan membawa Alena di Resto Ramen yang terkenal enaknya se Gunung Kidul.
"Dua ramen! Minumnya air mineral dan jus alpukat. Berikan cemilan tambahan dan dessert!" Juragan Danu tampak antusias saat menyebutkan menu yang dirinya pesan.
"Untuk levelnya, Pak?"
Alena menyahut, "Saya level 5, Mbak!"
"Eh, eh... Jangan, Mbak! Kasih level 1 saja. Istri saya baru saja melahirkan. Saya takut bayinya kepedesan," bantahnya. "Kalau saya level 0 saja."
Setelah mencatat, Pelayan tadi langsung segera undur diri. Di disaat itulah Alena sudah menatapnya sangat tajam.
Juragan berusaha menelan ludahnya. "Orang melahirkan memang tidak di bolehkan makan pedas! Kamu makan pedas, nanti bayimu kalau pup keluar cabenya, Alena!"
Alena sampai melongo mendengar kalimat itu. Tawanya seketika keluar. Bukan tawa bahagia. Tapi tawa penuh ledekan. Bagaiman bisa di jaman sekarang Perjaka tua di depanya itu masih mempercayai mitos Desa.
"Pak Danu, Anda yang waras dong! Masa saya yang makan pedes, anak saya pup'nya cabe?!"
Juragan mendesah lelah. Rupanya pertahanan kakunya untuk seorang Alena terpatah. Wanita di depanya itu tidak hanya pembantah. Tapi cerewet juga.
"Kata Simbah saya gitu. Makannya saya kasih tahu kamu. Bisa nggak sih nurut saja, nggak usah bantah-"
"Nggak bisa! Saya suka membantah apapun yang nggak saya sukai," sahut Alena memotong ucapan Juragan.
Lebih memilih diam, Juragan mengeluarkan maps yang sudah ia bawa dari mobil sejak tadi. Maps bewarna biru muda itu dirinya sodorkan pada Alena.
"Baca dulu! Tidak perlu kamu tandatangani saat ini. Tandatangani setelah kamu benar-benar resmi menjadi Janda!"
Alena melirik sengit. Lalu segera membuka surat perjanjian kontrak itu. Tidak ada sesuatu yang aneh. Isinya hanya perjanjian sesuai ungkapan Juragan waktu lalu. Beberapa dana saham akan di anggap lunas, dan sertifikat Pabrik akan kembali ke tangan Alena lagi. Cukup puas membaca, Alena mengembalikan surat perjanjian tadi kepada pemiliknya.
Tatapan Alena masih memicing. "Pak Danu bilang simbiosis mutualisme? Perjanjian itu menyebutkan ke untungan pribadi saya semua. Lalu? Lalu keuntungan buat Anda apa?"
"Saya tidak lagi di anggap penyuka sesama jenis!" jawab Juragan secara gamblang.
Alena sampai mendelikan mata. "Haaa??? Hanya itu?"
"Hanya karena saya telat menikah, semua orang menganggap saya pria belok," ucap Danu cukup malas. Sementara Alena menanggapinya dengan tawa lepas. "Ini sama sekali tidak lucu?!" kedua alis Danu sudah bertaut.
"Tapi saya rasa warga Desa Anda memang benar. Pak Danu pria bel-lok!" goda Alena menekan kalimat akhrinya.
'Awas saja kamu Alena. Saya akan buktikan sama kamu nanti setelah kita menikah!' balas batin Danu dengan tatapan mengerikan.
Drttt!!!
Baru saja semangkuk ramen tadi habis, gawai Alena di dalam tasnya bergetar. Nama sang suami terpampang jelas bagaikan cubitan dalam hatinya. Wajah cantik itu berubah datar.
"Hallo-"
Kalimat Alena langsung di sambar suara pecah Tiyas di sebrang. "Mbak Lena... Maaf jika Tiyas lancang menghubungi nomor Mbak dari Hpnya Mas Dewan. Begini Mbak, ada yang ingin Tiyas bicarakan."
"Bicara saja. Tidak usah basa basi!" tandasnya. Mendengar suara Adiknya saja rasanya teramat muak.
"Maaf sebelumnya jika Tiyas sama Mas Dewan baru saja melangsungkan akad pernikahan. Aku harap Mbak Lena dapat ngertiin posisiku. Nggak mungkin juga 'kan kita satu rumah dengan berstatuskan sebatas Ipar. Ini cuma menikah secara siri dulu. Aku minta sama Mbak Lena agar segera menggugat Mas Dewan, biar Aku dapat meresmikan pernikahan ini secara resmi, karena aku sudah hamil saat ini, Mbak!" jelas Tiyas tanpa dosa sedikit pun.
Alena tersenyum getir. Dadanya kembali di hantam kenyataan sulit. Adiknya sendiri mengatakan itu seolah dirinya adalah makhluk tak berperasaan.
"Kamu tenang saja! Sebentar lagi Mas Dewan juga akan menjadi milikmu selamanya."
Sementara Juragan sejak tadi mendengarkan dengan seksama. Untuk sementara ia tak dapat berbuat hal lebih.
Alena langsung memutuskan panggilan telfonnya. Napasnya tertahan berat, punggungnya bersandar ke belakang.
****
Sementara di lain tempat, tepatnya di Semarang.
Tiyas cepat-cepat menghapus bekas panggilannya dengan sang Kakak, lalu segera mengembalikan ponsel Dewantara di atas nakas kala mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Dewan mengernyit tipis, Istri sirinya tiba-tiba ada di dalam. "Tiyas? Mau ngapain kamu?"
Tiyas masih mengenakan kebaya putih dan sanggulan seadanya. Wanita muda itu berjalan mendekat penuh tatapan sensual kala mendekati Suami sirinya. Dalam keadaan telanjang dada itu, Dewan merasa risih dengan sikap Istrinya.
"Akhirnya kita dapat menikah, Mas. Sudah lama banget aku menunggu semua ini," tangan Tiyas merayap pada dada bidang Dewan.
Bukan lagi terangsang atau bergairah. Dewan menghentikan gerakan tangan itu. Mencengkram kuat tangan Tiyas. Tatapanya penuh peringatan.
"Saya menikahi kamu sebagai salah satu desakan atas tempat tinggal baru kita, Tiyas! Sebentar lagi saya juga akan mengakhiri pernikahan gila ini. Saya di rumah memiliki anak dan Istri," tekan Dewantara.
Tiyas menajamkan matanya. Setelah mendapatkan tubuhnya, menuruti semua kemauan Iparnya itu. Dewan bak menghempaskan tubuh Tiyas dari atas monas.
"Nggak, Mas... Aku nggak terima! Lagian... Mungkin saja di rumah Mbak Alena sudah mepersiapkan surat gugatan untukmu," sentak Tiyas.
Dewan yang sudah menahan geram langsung mengangkat tanganya.
Plak!
Wajah Tiyas terhempas. "Jangan pernah mengatakan itu di depan saya! Sampai kapan pun saya tidak akan menghendaki perceraian dengan Alena."
Selepas mengatakan itu, Dewan segera mengganti pakaian dan langsung keluar. Tiyas masih membeku di tempat. Rasa kebas dan panas itu tak sebanding dengan kalimat hantaman Dewantara siang itu.
"Aku akan berusaha hamil, agar kamu tetap di sini, Mas! Aku nggak terima kamu masih memikirkan Mbak Alena. Apalagi sampai nggak terima ketika di ceraikan."
Sementara di luar, Dewantara duduk termenung di teras rumah barunya. Sudah hampir 2 minggu itu ia sama sekali tak pernah tahu bagaimana kabar anak serta Istrinya. Dewan ingin pulang, namun Alena masih belum dapat menerimanya.
Terkadang ada perasaan salah menyelinap. Perasaan menyesal yang sudah mengkarat. Semuanya hancur. Masa depan Pabriknya berada di ujung tanduk.
Dan Dewan rasa, ia kini menjadi pria bodoh yang lari dari tanggung jawabnya.
Kling!
Sebuah pesan masuk dari salah satu pekerjanya di gudang yang melihat Istrinya pulang di antarakan sosok pria matang: Yang tak lain Juragan Danu.
"Juragan... Saat ini Ibu Lena baru saja pulang di antarkan Juragan Danu." Bahkan, pekerjanya itu mengirimkan foto yang dirinya ambil secara diam-diam.
Dewantara menajamkan mata. Gawai tadi teremat kuat dalam genggaman tanganya.
"Kurang ajar! Danu pasti mencari kesempatan buat deketin Alena. Aku nggak bisa hanya diam saja," emosional Dewan sudah berapi-api.
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
jangan kecewakan perempuan lain,,
jika dihatimu masih ada Alena
maka buang jauh jauh yaa