Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Amarah Suami Dadakan
"Nggak ... Nggak mungkin ..." Lova membekap mulutnya sendiri.
Rumah itu ... hancur lebur.
Sofa ruang tamu terjungkir balik dengan kain yang tercabik-cabik. Foto almarhum ayah dan saudara Lova yang biasanya dibersihkan sang ibu setiap pagi, kini pecah berkeping-keping di atas lantai marmer, wajah di foto itu dicoret dengan cat semprot hitam secara brutal. Semua isi laci dilempar acak ke lantai.
Ini jelas bukan sekadar pencurian biasa. Ini adalah sebuah pesan penuh dendam dari seorang yang membenci keluarga ini.
"Ma!!! Mama di mana?!" jerit Lova histeris. Air matanya tumpah, merusak polesan makeup tipis yang baru saja dibuat Arnold. Ia melupakan semua ketakutan dan traumanya, berniat berlari masuk ke arah dapur dan kamar ibunya.
"Lova, diam di sini!" Arnold menangkap tubuh Lova dengan sigap, mendekapnya erat dari belakang untuk menahan gadis itu agar tidak menginjak pecahan kaca yang berserakan.
Mata tajam dr. Arnold bergerak awas, menyisir setiap sudut ruangan yang porak-poranda itu dengan kilat amarah yang membunuh. Ia bersumpah dalam hati, siapa pun yang melakukan ini akan merasakan balasan yang jauh lebih mengerikan dari yang mereka tahu.
Lova meronta-ronta dalam dekapan Arnold. Suara tangisnya pecah, menyatu dengan kesunyian rumah yang kini terasa mencekam. "Mama, Kak ... Mama di dalam! Lepaskan saya!"
"Zarisha, tenang lah!" Arnold sedikit membentak. "Jangan gegabah. Kita tidak tahu apakah orang-orang itu masih ada di dalam atau tidak. Tetap di belakangku!"
Arnold melepaskan dekapannya, namun tangan kirinya tetap menggenggam erat jemari Lova yang terasa dingin dan bergetar hebat. Tangan kanannya merogoh saku kemeja mengeluarkan ponsel. Dengan satu gerakan cepat, ia mengirimkan pesan singkat ke seseorang, rahangnya tampak mengeras, berbanding terbalik di saat pagi tadi, ketika memakai serba pink.
Langkah Arnold sangat tenang saat melewati sofa yang tercabik. Matanya menyipit melihat coretan hitam di foto keluarga Lova. Ada kilat amarah yang sangat pekat di sana. Baginya, merusak mental seseorang apalagi itu adalah pasiennya, adalah kejahatan yang tak termaafkan.
"Ma ... Mama di mana..." Lova berbisik lirih saat mereka sampai di ambang pintu kamar ibunya.
Pintu itu tergantung miring, engselnya patah. Arnold mendorongnya perlahan dengan ujung sepatu pantofelnya yang mengkilap.
Ternyata kosong. Tak ada siapa pun di rumah ini.
Kasur di kamar ibunya sudah acak-acakan. Lemari pakaian terbuka lebar, kain-kain berserakan layaknya sampah. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan sang ibu di sana.
Lova jatuh terduduk di lantai yang dingin. "S-Siapa yang jahat ..." isaknya. Bahunya berguncang hebat. Riasan *makeup* yang tadi dipuji Arnold kini luntur bersama air mata.
Arnold berjongkok di depan Lova. Ia tidak lagi memanggilnya "Bestie". Ia menangkup wajah Lova dengan kedua tangannya, memaksa gadis itu menatap matanya yang tajam dan fokus.
"Dengarkan aku, Zarisha Allova," suara Arnold berat dan rendah, bergetar karena emosi yang ia tahan. "Di sini, masih ada aku, suamimu. Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh merusak apa yang sudah menjadi milikku. Termasuk ketenanganmu."
Arnold berdiri, lalu membantu Lova berdiri. Ia mengambil sehelai kain bersih yang tersisa di atas kasur, lalu menghapus sisa air mata dan riasan yang berantakan di wajah Lova dengan sangat lembut, sangat kontras dengan aura membunuh yang ia pancarkan tadi.
"Kita akan mencari Mama. Dan siapa pun yang menyemprotkan cat itu ke foto keluargamu ..." Arnold tersenyum tipis, tetapi terlihat mengerikan.
"Akan kupastikan mereka akan menjadi pasienku selanjutnya."
Tepat saat itu, ponsel Arnold berdering. Sebuah pesan masuk berisi koordinat lokasi dan sebuah foto plat mobil yang terekam CCTV sekitar rumah ini.
"Oh, ternyata dia," ajak Arnold sambil merangkul bahu Lova dengan posesif. "Waktunya dr. Arnoldy Darmawan MD. Psychiatrist, melakukan operasi mental ..."
...****************...
Range Rover hitam metalik itu berhenti dengan derit halus di depan gerbang mansion megah milik keluarga besar Darmawan. Bangunan itu tampak angkuh dengan pilar-pilar raksasa, seolah sedang memamerkan kekuasaan pemiliknya yang kini sedang terbaring lemah di dalam sana.
Namun, sebelum pintu mobil terbuka, beberapa pria berpakaian serba hitam yang lengkap dengan alat komunikasi di telinga, segera mencegat mereka. Wajah-wajah itu kaku dan dingin, yang tanpa ragu menggunakan kekerasan.
"Kamu harus tetap di dalam! Kunci pintunya," perintah Arnold. Suaranya rendah.
"Tapi Kak, mereka ..."
"Sssttt." Arnold menaruh telunjuk di bibirnya, memberikan senyum tipis yang entah mengapa terasa begitu menakutkan.
"Dokter mau memeriksa pasien bandel yang ada di dalam, sebentar."
Begitu Arnold turun, para penjaga itu meringsek maju. "Maaf, Tuan. Nyonya melarang siapa pun masuk, termasuk Anda."
"Jadi kalian lebih patuh pada ular itu dibanding kepada saya?" Arnold memotong kalimat itu, sambil menaikan lengan kemejanya.
"Sejak kapan asisten rumah tangga yang naik pangkat jadi nyonya palsu itu memiliki wewenang melarang saya?"
Sejenak, pengawal tampak sedikit ragu. "Tuan, silakan pergi atau kami terpaksa—"
Vroom!
Raungan mesin motor sport membelah ketegangan. Sebuah motor hitam berhenti dengan manuver tajam tepat di belakang mobil Arnold, menyipratkan sedikit debu ke arah para penjaga.
Seorang pria membuka helm full face-nya. Wajahnya tegas, dingin, dan tatapannya setajam belati. Dev.
"Arnold, kau telat lima menit," ucap Dev datar. Ia melirik para penjaga itu seolah mereka hanyalah sampah yang menghalangi jalan.
Arnold melirik jam tangan mewahnya. "Maaf. Tadi ada sesi hapus air mata istri dulu. Jadi, bagaimana? Pion-pion ini perlu 'dibersihkan'?"
Dev tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menjentikkan jarinya ke udara.
Tiba-tiba saja, dari balik barisan pohon cemara mewah di halaman itu, muncul sepuluh pria bertubuh kekar.
"Kalau mereka bisa menggunakan ini, kita pakai yang itu," ucap Dev dengan seringai yang membuat bulu kuduk para pengawal ngeri melihat pakaian pria-pria bertubuh kekar itu memakai pakaian cerah yang begitu ketat.
*bersambung*
Halo pembacaku yang baik hati, terima kasih ya sudah membantu meramaikan cerita ini. Jika Kakak semua suka, boleh tekan bintang 5 dan Senin ini bagi Vote-nya yah. Terima kasih 🤲
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣