NovelToon NovelToon
Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Ulfa Zahra

Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

"Sayang, kenapa malah nangis?" tanya Ardian lembut memegang wajah istrinya.

"Maaf hubby karena sifat kekanak-kanakan ku. Seharusnya aku tidak marah padamu. Seharusnya aku tidak menyalahkanmu. Maaf." lirihnya dengan suara terisak."Aku hanya merasa bersalah tapi aku malah melampiaskannya pada mu," lanjutnya lagi yang masih terisak."Maaf Hubby...."

"Aku mengerti, sayang. Tapi tolong jangan seperti tadi. Aku merasa sedih jika kamu marah padaku. Kamu boleh kecewa, marah atau memakiku tapi jangan mendiamkan ku. Aku tidak sanggup sayang," ungkap Ardian mengungkapkan keganjalannya tadi saat sang istri bersikap dingin padanya."Disini aku juga bersalah. Aku menyesal dengan apa yang terjadi, tapi tolong jangan menghukumku dengan mendiamkan ku sayang. Aku tidak siap, rasanya duniaku seperti berhenti."

"Maaf." cicit nya lagi lantas memeluk tubuh suaminya dan kembali menangis'. Merasakan istrinya menangis lagi, Ardian tidak berniat untuk mendiamkannya. Pria itu malah membiarkannya. Bukan jahat hanya saja dia sedang membiarkan istrinya melupakan penyesalannya dan juga kemarahannya agar tidak dipendam, karena hal itu akan mengganggu pikiran serta emosionalnya.

Beberapa menit Nalda menangis, kini wanita itu sudah diam. Walaupun masih ada sesenggukan yang terdengar.

Posisi mereka yang tadi berdiri kini telah berpindah ke atas kasur. Lebih tepatnya hanya Ardian yang duduk di atas kasur sementara Nalda berada di atas pangkuan pria itu.

Benar-benar tidak melepaskan suaminya, setelah tadi dia mendiamkan nya.

"Sudah tenang?" tanya Ardian mengusap-usap kepala sang istri yang kini sudah tidak memakai hijab lagi.

"Belum by, nggak tau kenapa air matanya masih saja keluar." jawabnya yang masih saja terisak kecil. Mendengar itu bukan membuat Ardian marah tapi pria itu terkekeh gemas.

Dia sampai melupakan Nalda yang memiliki sifat dewasa kini telah berubah menjadi gadis kecil yang menggemaskan.

Ardian memindahkan posisi tangan nya ke wajah Nalda, setelah itu dengan lembut dan penuh perhatian Ardian mengangkat wajah itu.

"Coba sini aku lihat,” Nalda menatap manik abu-abu itu. Jantung nya berdebar seakan-akan ini pertama kalinya dia menatap wajah tampan itu, padahal mereka sudah menikah dan posisi seperti ini seharusnya sudah terbiasa.

Cup

Cup

Cup

Nalda terdiam saat seluruh wajahnya di ciumi oleh Ardian."Sudah, air matanya sudah aku buang." ucapnya terdengar lucu tapi berhasil menarik sudut bibir Nalda.

"Emangnya bisa by?"

"Bisa, contoh nya sekarang. Kamu tersenyumkan." Sahut Ardian terdengar sangat konyol tapi tetap terdengar lucu.

"Hubby."

"Iyaa, sayang. Kamu butuh sesuatu?" Tanya Ardian penuh perhatian, dia masih saja menatap mata itu tanpa mengabaikannya.

"Aku merindukan mu."

Eh.

Ardian menegang mendengar perkataan sang istri. Tentu saja Ardian mengerti dengan ungkapan itu."Aku juga merindukanmu, sayang." Jawab Ardian tersenyum.

*****

Suara orang-orang memenuhi setiap gedung tinggi karena waktu jam istirahat telah tiba. Langkah demi langkah terdengar, suara tawa memecahkan kelelahan setelah setengah hari bergelut dengan komputer dan angka-angka.

Jika yang lain sedang sibuk keluar mencari sarapan. Maka berbeda dengan gadis berkacamata yang sedang membawa beberapa berkas yang di tumpuk sangat tinggi sehingga menutupi pandangan nya.

"Hay culun bawakan ini!” seru seorang wanita berpakaian minim yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.

"Ah, iya mbak." jawab Nada terbata-bata. Langkahnya mengarah ke arah wanita itu, tapi wanita itu malah dengan sengaja menaruh kakinya di jalan Nada. Sehingga Nada yang tidak melihat langsung tersandung dan jatuh bersama dengan berkas-berkas yang dia bawa.

"Upss, maaf anak magang. Aku tidak tau kalau ada kamu di sana." ucap nya menutup kedua mulut nya seakan-akan terkejut."Ini." Wanita itu malah melemparkan bekas tempat ke wajah Nada.

Nada hanya bisa meringis sakit saat berkas itu memukul wajahnya. Dia tidak berani berteriak selain tertunduk tanpa berbicara apapun.

"Kumpul berkas-berkas itu dan taruh di meja sana. Ingat jangan sampai tertinggal satu pun." lanjut wanita lainnya.

"Iya Mbak." jawab Nada tidak berani mengangkat kepalanya.

Ketiga perempuan itu melangkah meninggalkan Nada, bahkan salah satu dari ketiga perempuan itu dengan sengaja menyenggol kakinya dengan keras.

Sstt

Desis Nada merasa kesakitan pada kakinya."Huuu, gini banget ya magang di kantor besar. Baru saja magang sudah di bully." gumam Nada seraya memungut satu persatu berkas itu. Sebenarnya ini bukanlah tugasnya, tapi karena paksaan membuatnya menurut apalagi dia baru magang di sana tapi malah mendapatkan Penindasan.

Langkah kaki yang terdengar berat membuat Nada tidak berani mengangkat kepalanya. Ia tetap fokus dengan tugas nya sampai sepasang sepatu berhenti di depannya. Nada mengangkat kepalanya dan melihat siapa pemilik sepasang sepatu itu.

"Kak Jabir." Bisiknya tersenyum kaku.

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!