NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: MASUK KE DALAM KODE

Dunia Kai bukan lagi ruangan server yang dingin dan berisik. Dunia Kai adalah kegelapan.

Ketika Raka memeluknya, menahan kejang-kejang tubuhnya yang semakin violent, kesadaran Kai terlempar jauh dari realitas. Dia tidak lagi merasakan pelukan hangat sahabatnya. Dia tidak lagi mendengar suara alarm yang memekakkan telinga. Yang dia rasakan hanyalah sensasi jatuh yang tak berujung, seperti terseret ke dalam sumur digital tanpa dasar.

Dan di dasar sumur itu, masa lalu menunggunya.

Sepuluh tahun yang lalu.

Kai tidak selalu bernama Kai. Dulu, dia hanya "Subjek 7", sebuah angka dalam daftar inventaris perusahaan teknologi bawah tanah bernama Aether Corp. Usianya baru delapan tahun ketika orang tuanya—dua akademisi jenius yang terlilit hutang judi besar—menjual hak asuh dan hak biologisnya kepada perusahaan tersebut dengan imbalan lunasnya utang dan tiket satu arah keluar dari Sektor Kumuh.

Mereka bilang itu demi masa depan Kai. Mereka bilang Kai akan menjadi bagian dari kemajuan umat manusia.

Itu semua bohong.

Kai dibawa ke fasilitas rahasia di bawah tanah, tempat sinar matahari tidak pernah menembus. Di sana, dia bertemu dengan anak-anak lain. Ada Subjek 3, gadis kecil yang bisa menghitung probabilitas cuaca dalam hitungan detik. Ada Subjek 12, bocah laki-laki yang hafal seluruh ensiklopedia dunia sebelum usia sepuluh tahun. Mereka semua "ajaib". Mereka semua terpilih.

"Selamat datang di Project Mind," kata seorang pria berbaju putih steril, suaranya datar tanpa emosi. "Otak kalian adalah prosesor paling efisien di alam semesta. Kami akan membantu kalian mencapai potensi penuh."

Potensi penuh. Kalimat itu terdengar indah di brosur. Kenyataannya? Itu adalah neraka.

Setiap hari, Kai dan anak-anak lain dipaksa masuk ke dalam Neural Link Chamber, sebuah kursi logam yang dingin dan penuh kabel. Helm berat dipasang di kepala mereka, jarum-jarum halus menusuk kulit kepala untuk menghubungkan saraf langsung ke server pusat Aether Corp. Tugas mereka? Memproses data. Jutaan baris kode, transaksi keuangan ilegal, simulasi perang, enkripsi militer. Otak mereka digunakan sebagai CPU hidup karena lebih cepat dan lebih murah daripada membangun superkomputer kuantum.

Awalnya, Kai bangga. Dia merasa spesial. Dia bisa menyelesaikan tugas dalam waktu sepersekian detik. Tapi seiring berjalannya waktu, batas antara dirinya dan mesin mulai kabur. Rasa lapar, haus, dan lelah diabaikan. Jika performanya turun, dia dihukum dengan "sensory deprivation"—dimasukkan ke ruang hampa suara dan cahaya selama berhari-hari hingga dia hampir gila.

Tapi hal terburuk bukanlah rasa sakit fisik. Hal terburuk adalah penghapusan.

Suatu malam, saat Kai sedang terhubung ke jaringan, dia mendengar teriakan. Bukan teriakan lewat telinga, tapi teriakan yang bergema langsung di dalam pikirannya, melalui koneksi neural yang mereka semua bagikan. Itu adalah suara Subjek 3.

"Sakit... tolong... mati..."

Lalu, tiba-tiba, suara itu berhenti. Hening total.

Di dashboard monitoring yang bisa diakses Kai secara ilegal karena kejeniusannya, dia melihat status Subjek 3 berubah dari ACTIVE menjadi TERMINATED.

"Apa yang terjadi?" bisik Kai dalam hatinya, panik.

Esok harinya, kursi Subjek 3 kosong. Seorang teknisi membersihkan noda darah di sandaran kepala dengan cairan disinfektan yang baunya menyengat.

"Subjek 3 gagal," kata teknisi itu pada rekannya, sambil membuang kain berdarah ke tong sampah. "Sinapsisnya terbakar. Otaknya tidak kuat menahan beban data sektor finansial. Buang mayatnya ke insinerator."

Kai, yang duduk di kursi sebelahnya, membeku. Darahnya terasa dingin. Dia melihat ke arah kursi kosong itu, dan untuk pertama kalinya, dia menyadari kebenaran mengerikan: Mereka bukan manusia bagi Aether Corp. Mereka adalah komponen. Dan jika komponen rusak, mereka dibuang.

Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk yang berulang. Satu per satu, teman-temannya "gagal". Subjek 9 hilang karena epilepsi akibat overloading data. Subjek 15 bunuh diri dengan menggigit lidahnya sendiri sampai putus saat sesi pelatihan. Setiap kali ada yang hilang, Kai merasa sebagian dari jiwanya ikut mati. Dia sendirian di dalam jaringan, dikelilingi oleh keheningan teman-teman yang sudah tiada, dipaksa terus bekerja, terus memproses, terus menjadi mesin.

Dia belajar untuk mematikan perasaannya. Dia belajar untuk tidak menangis. Dia belajar bahwa menunjukkan emosi adalah kelemahan, dan kelemahan berarti kematian. Dia membangun tembok es di sekeliling hatinya, mengubur ketakutan dan kesedihannya jauh di dalam sub-konsistensi, agar tidak terdeteksi oleh monitor emosi para penjaga.

Hingga suatu hari, serangan terjadi.

Bukan serangan fisik, tapi serangan siber dari kelompok peretas yang menamakan diri mereka "Aurora". Mereka menyusup ke server Aether Corp untuk mencuri data kejahatan korporasi. Dalam kekacauan sistem yang diakibatkan oleh peretasan itu, kunci elektronik sel Kai terbuka.

Seorang pria muda dengan rambut merah menyala—Raka, meski Kai belum tahu namanya saat itu—menerobos masuk ke ruang server, senjata di tangan, wajah penuh keringat dan determinasi. Dia melihat Kai yang duduk terpaku di kursinya, helm neural masih terpasang, matanya kosong menatap layar hitam.

"Hai, kid!" teriak Raka, melepas paksa helm Kai. "Kita pergi! Sekarang!"

Kai bingung. "Pergi? Ke mana? Aku belum selesai memproses data..."

"Data bejat! Kamu bebas!" Raka menarik tangan Kai kasar namun hati-hati. "Ayo! Sebelum mereka sadar!"

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Kai merasakan udara segar. Untuk pertama kalinya, seseorang menyentuhnya bukan untuk memasangkan kabel, tapi untuk menyelamatkan.

Saat mereka berlari melewati koridor yang gelap, dikejar oleh penjaga bersenjata, Kai melihat Raka menembak kunci pintu, melindungi tubuh kecil Kai dengan badannya sendiri saat ledakan terjadi di dekat mereka. Raka tidak peduli pada data. Raka tidak peduli pada efisiensi. Raka hanya peduli pada nyawa anak kecil yang gemetar di sampingnya.

Sejak hari itu, Kai bergabung dengan Aurora. Dia menemukan keluarga baru. Bimo yang memasak untuknya. Elara yang merawat lukanya. Dan Raka, yang selalu ada, selalu tersenyum, selalu mengingatkannya bahwa dia manusia, bukan mesin.

Tim Aurora adalah "program penyelamat" yang membuatnya tetap waras. Mereka adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut kembali ke dalam kegelapan data. Tanpa mereka, Kai tahu dia akan kehilangan kemanusiaannya. Tanpa mereka, dia akan menjadi hantu digital lagi.

Kembali ke masa kini.

Di dalam kegelapan pikirannya, Kai meringkuk. Suara-suara itu semakin keras. Bukan suara penjaga Aether Corp, tapi suara teman-temannya yang telah meninggal.

"Kai... kenapa kamu meninggalkan kami?" bisik suara Subjek 3, terdengar sedih dan marah.

"Dingin di sini, Kai. Sangat dingin." desis Subjek 9.

"Bergabunglah dengan kami. Di sini tidak ada sakit. Tidak ada penolakan. Hanya data murni. Abadi."

Kai menutup telinganya, meskipun tidak ada tangan fisik untuk melakukannya di dunia mental ini. Air mata digital mengalir di wajahnya.

"Aku minta maaf..." isaknya. "Aku minta maaf aku selamat. Aku minta maaf aku punya teman baru. Tapi aku tidak bisa kembali. Aku tidak bisa..."

"Bohong," geram suara kolektif itu, berubah menjadi dengungan rendah yang menggetarkan tulang. "Kamu milik kami. Kamu adalah Bagian dari Kode. Kembalilah."

Kai merasakan tarikan kuat di dadanya, seolah ada kait besi yang mencengkeram jantungnya, menariknya kembali ke dalam server hitam pekat. Kesadarannya mulai pecah. Ingatan tentang Raka, Bimo, dan Elara mulai buram, digantikan oleh barisan kode biner yang tak berujung.

Di dunia nyata, tubuh Kai mendadak berhenti kejang. Matanya yang tadi liar kini terbuka lebar, menatap kosong ke langit-langit markas. Mulutnya terbuka, mengeluarkan suara statis yang menyeramkan.

"Kai?" panggil Raka cemas, menggoyangkan bahunya. "Kai, jawab aku!"

Kai menoleh perlahan. Tatapannya tidak fokus pada Raka, tapi menembus Raka, melihat sesuatu di belakangnya. Bibirnya bergerak, mengeluarkan suara yang bukan miliknya, melainkan gema dari ribuan data yang tersiksa.

"Kami... menunggu..."

Raka merinding. Dia menyadari bahwa mereka tidak hanya berhadapan dengan virus komputer. Mereka berhadapan dengan arwah digital yang tersiksa, dan Kai adalah pintu gerbangnya. Jika mereka tidak segera melakukan sesuatu, Kai tidak akan pernah bangun lagi. Jiwanya akan tertelan habis oleh masa lalunya sendiri.

Raka menatap wajah pucat sahabatnya, hatinya hancur melihat penderitaan itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri saat itu juga: Aku akan membawamu pulang, Kai. Tidak peduli seberapa dalam kau tenggelam, aku akan menarikmu keluar.

Tapi untuk melakukannya, Raka harus melakukan hal yang paling berbahaya yang pernah dia bayangkan. Dia harus mengikuti Kai masuk ke dalam neraka itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!