Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Menuju Kepastian
Semburat fajar akhirnya memecah kegelapan di ufuk timur perbukitan, membawa secercah harapan yang telah dinantikan sepanjang malam yang melelahkan. Udara pagi itu terasa sangat dingin, dengan kabut tebal yang menyelimuti deretan pohon pinus di sekitar The Dendra Foundation. Namun, di dalam bangunan utama, aktivitas sudah dimulai lebih awal dari biasanya.
Isaac sudah terbangun sepenuhnya—atau lebih tepatnya, ia memang tidak pernah benar-benar memejamkan mata. Wajahnya tampak sedikit kusam dengan bayangan tipis di bawah matanya, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh tekad. Ia segera membasuh wajah dengan air dingin, mencoba mengusir sisa-sisa kelelahan fisik demi tugas besar yang menantinya hari ini: membawa istrinya ke kota.
Di atas ranjang, Luna mulai bergerak perlahan. Meskipun rasa lemas masih menggelayuti setiap sendinya, ia merasa sedikit lebih baik setelah perawatan telaten dari Ibu Sari sepanjang malam. Ia mencoba untuk duduk, dan kali ini, dunianya tidak berputar sehebat semalam.
"Pelan-pelan, Sayang," ujar Isaac sigap, ia segera berada di samping Luna untuk menyangga punggungnya. "Bagaimana perasaanmu pagi ini? Masih mual?"
Luna menarik napas dalam, mencoba merasakan kondisi perutnya. "Masih ada sedikit rasa mual di pangkal tenggorokan, tapi setidaknya aku merasa punya tenaga untuk berdiri. Terima kasih sudah menjagaku semalaman, Mas."
Isaac mengecup kening Luna dengan lembut. "Itu sudah menjadi tugasku. Sekarang, mari kita bersiap. Aku sudah menyiapkan pakaian hangat untukmu. Perjalanan pagi ini akan cukup dingin karena AC mobil harus tetap menyala agar sirkulasi udara tetap segar."
Dengan bantuan Isaac, Luna perlahan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu, Isaac menyiapkan tas kecil berisi keperluan darurat: air minum, biskuit gandum, handuk kecil, dan kantong plastik jika sewaktu-waktu Luna kembali mual di tengah jalan. Ia sangat teliti, memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal.
Di lantai bawah, Ibu Sari sudah menyiapkan sarapan ringan berupa bubur halus dengan sedikit kaldu ayam yang aromanya tidak terlalu tajam.
"Makanlah sedikit sebelum berangkat, Luna," ujar Ibu Sari saat pasangan itu turun ke lantai bawah. "Perutmu tidak boleh kosong saat menempuh jalanan berkelok, tapi jangan makan terlalu banyak juga."
Anak-anak panti yang biasanya riuh saat sarapan, pagi ini tampak jauh lebih tenang. Mereka seolah memahami bahwa ada situasi serius yang sedang dihadapi oleh kedua orang tua asuh mereka. Bumi dan Bimo berdiri di dekat pintu depan, menatap Luna dengan tatapan cemas.
"Kak Luna mau ke kota ya? Apa Kak Luna sakit parah?" tanya Bumi dengan suara kecil.
Luna tersenyum tipis, mencoba memberikan kesan bahwa dirinya baik-baik saja agar anak-anak tidak khawatir. Ia membungkuk sedikit, mengusap kepala Bumi. "Kakak hanya ingin periksa ke dokter sebentar agar cepat sembuh. Kalian jangan nakal ya, dengarkan kata-kata Ibu Sari selama Kakak dan Bapak tidak ada."
"Iya, Kak. Cepat sembuh ya!" sahut anak-anak serentak.
Isaac memberikan instruksi terakhir kepada Ibu Sari tentang operasional panti selama mereka pergi. Ia juga sempat menghubungi Hendra agar bersiap di kota untuk membantu urusan administrasi di rumah sakit nanti. Setelah semua siap, Isaac membimbing Luna menuju mobil SUV hitam yang sudah ia panaskan mesinnya sejak tadi.
Isaac membukakan pintu mobil, memastikan posisi duduk Luna benar-benar nyaman dengan bantal tambahan di punggungnya. "Jika kau merasa pusing atau mual lagi, segera katakan padaku. Aku akan menepi kapan pun kau butuh."
"Iya, Mas. Aku mengerti," jawab Luna lembut sembari menyandarkan kepalanya.
Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan gerbang panti. Jalanan perbukitan pagi itu masih sangat sunyi. Kabut yang tebal memaksa Isaac untuk mengemudi dengan sangat hati-hati, pandangannya fokus pada marka jalan yang sesekali tertutup uap air. Ia memutar musik dengan volume yang sangat rendah, memilih instrumen yang menenangkan agar Luna bisa beristirahat selama perjalanan dua jam ke depan.
Selama tiga puluh menit pertama, suasana di dalam mobil cukup hening. Luna tampak memejamkan mata, tangannya memegang erat sabuk pengaman. Isaac sesekali melirik ke samping, memastikan istrinya tidak sedang menahan sakit.
"Mas..." panggil Luna pelan tanpa membuka mata.
"Ya, Sayang? Kau butuh sesuatu?"
"Aku hanya sedang berpikir. Bagaimana jika nanti dokter mengatakan bahwa ini hanya sakit biasa? Aku merasa bersalah karena sudah membuatmu sepanik ini," ujar Luna dengan nada ragu.
Isaac menghela napas, lalu meraih tangan Luna dan menggenggamnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap di kemudi. "Jangan berpikiran seperti itu. Sakit biasa atau bukan, periksa ke dokter adalah langkah yang paling tepat. Aku tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun jika itu menyangkut kesehatanmu. Dan jika memang benar ada 'kehidupan kecil' di sana, kita harus mengetahuinya secepat mungkin agar bisa memberikan perawatan terbaik."
Luna membuka matanya, menatap profil samping suaminya yang tampak sangat maskulin di bawah cahaya pagi yang temaram. "Kau sangat berharap ini adalah bayi kita, ya?"
Isaac tersenyum, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan namun sangat tulus. "Tentu saja. Siapa pria yang tidak bahagia jika akan segera menjadi seorang ayah dari wanita yang dicintainya? Tapi apa pun hasilnya nanti, yang terpenting bagiku adalah kau kembali sehat dan ceria seperti biasanya."
Perjalanan berlanjut melewati tikungan-tikungan tajam yang menuruni lembah. Setiap kali mobil berguncang karena jalan yang tidak rata, Isaac segera melambatkan kecepatannya, sangat menjaga agar guncangan itu tidak memicu mual di perut Luna. Ketelitiannya sebagai seorang arsitek yang selalu memperhatikan detail kini ia terapkan sepenuhnya dalam cara ia mengemudi.
Saat mereka mulai memasuki pinggiran kota, matahari sudah mulai tinggi, menyinari gedung-gedung pencakar langit yang tampak di kejauhan. Udara sejuk pegunungan berganti dengan udara kota yang mulai hangat. Luna merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Antara rasa takut akan hasil medis dan harapan besar yang membuncah, ia mencoba untuk tetap tenang.
"Kita hampir sampai," ujar Isaac saat mereka memasuki kawasan rumah sakit internasional yang menjadi langganan keluarga mereka. "Hendra sudah menunggu di lobi dengan kursi roda."
"Kursi roda? Mas, aku masih bisa berjalan," protes Luna kecil.
"Tidak ada bantahan untuk kali ini, Luna. Aku ingin kau menyimpan energimu untuk pemeriksaan nanti," sahut Isaac tegas namun penuh kasih.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan lobi rumah sakit yang megah. Hendra segera mendekat dan membuka pintu mobil. Isaac dengan sigap membantu Luna turun, memindahkannya ke kursi roda seolah-olah Luna adalah porselen berharga yang sangat rapuh.
Di dalam lobi yang dingin dan beraroma antiseptik itu, Isaac terus menggenggam tangan Luna. Mereka berjalan menuju bagian spesialis kandungan sesuai dengan saran Ibu Sari sebelumnya. Setiap langkah yang mereka ambil di lorong rumah sakit itu terasa seperti langkah menuju sebuah jawaban besar atas doa-doa yang mereka panjatkan sejak dari pantai.
"Nama Ibu Luna Isaac?" panggil seorang perawat dengan ramah tak lama kemudian.
Isaac berdiri, membantu Luna untuk bangkit. Ia menatap mata istrinya, menyalurkan seluruh kekuatan dan ketenangan yang ia miliki. "Mari kita cari tahu jawabannya bersama-sama."
Luna mengangguk mantap. Rasa mualnya seolah menghilang sejenak, tergantikan oleh keberanian yang datang dari genggaman tangan suaminya. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang periksa, siap menghadapi kenyataan apa pun yang akan mengubah hidup mereka selamanya mulai hari ini. Di balik pintu itu, masa depan mereka sedang menunggu untuk diungkapkan melalui diagnosa medis yang akan menjadi tonggak sejarah baru bagi keluarga kecil mereka di perbukitan.