NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Kelahiran Arka Pradipta Junior benar-benar mengubah peta kekuatan di dalam rumah besar keluarga Pradipta. Jika dulu Dewa adalah sosok yang paling disegani, kini posisinya resmi tergeser oleh seorang bayi mungil yang bahkan belum bisa bicara.

Rumah yang dulunya kaku dan penuh protokol itu kini lebih mirip taman bermain dengan sentuhan komedi situasi setiap harinya.

Pagi itu, matahari baru saja mengintip di balik jendela, namun ruang tengah sudah riuh.

Nyonya Widya, yang biasanya tampil anggun dengan sanggul rapi dan baju batik sutra, kini terlihat sedang berlutut di atas karpet bulu. Ia sedang memegang sebuah mainan kerincing berwarna perak bermerek high-end.

"Arka... sayang... lihat Oma. Ini mainannya bunyi, sayang," rayu Nyonya Widya dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.

Aira yang baru saja turun sambil merapikan kuncir rambutnya hanya bisa geleng-geleng kepala. "Ma, Arka baru saja mandi. Biarkan dia duduk di bouncernya sebentar saja, Aira mau siapkan botol susunya."

"Tidak usah, Aira! Kamu istirahat saja. Biar Oma yang jaga Arka," sergah Nyonya Widya tanpa menoleh. "Lagipula, Oma sudah belikan sepuluh botol susu baru yang katanya bisa menghangatkan sendiri. Kamu tidak perlu repot ke dapur."

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari tangga. Dewa turun dengan setelan jas lengkap, siap berangkat kantor. Namun, begitu melihat anaknya, sang CEO itu langsung menjatuhkan tas kerjanya begitu saja di sofa.

"Jagoan Papa sudah bangun?" Dewa langsung menyela Nyonya Widya, mencoba menggendong Arka.

"Dewa! Antre! Mama duluan yang di sini," Nyonya Widya memukul pelan tangan putranya.

"Ma, Dewa ini mau berangkat kerja. Mau minta restu dulu sama Arka supaya saham hari ini naik," canda Dewa sambil tetap nekat mencium pipi gembul Arka yang sedang asyik mengenyot jempolnya.

Aira tertawa melihat dua orang dewasa yang paling berkuasa di rumah itu kini memperebutkan perhatian seorang bayi berumur tiga bulan.

"Sudah, sudah! Mas Dewa, cepat berangkat. Mama, biarkan Arka tenang dulu, dia kalau terlalu banyak yang ajak bicara nanti malah menangis."

Hari Sabtu tiba, yang artinya adalah 'Hari Cucu Nasional' bagi keluarga besar Aira. Sejak jam sembilan pagi, mobil sederhana milik Papa Surya sudah terparkir di halaman. Kini Papa Surya jauh lebih sehat, meskipun masih sering menggunakan tongkat. Ia datang bersama Mama Aira dan Siska.

Kunjungan ini selalu menjadi momen yang campur aduk. Haru karena rekonsiliasi keluarga, namun juga penuh percikan iri manis dari Siska.

"Mana Arka? Mana keponakan Tante yang paling ganteng?" Siska langsung masuk dan mencari keberadaan si kecil.

Siska tampak sangat gemas memeluk Arka. Namun, di balik tawanya, ada guratan kesedihan di matanya.

Sudah dua tahun ia menikah, namun belum juga dikaruniai tanda-tanda kehamilan. Suaminya, yang seorang pengusaha, lebih sering menghabiskan waktu di lokasi proyek di luar pulau atau melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.

"Siska, sabar ya. Nanti juga giliranmu," ucap Mama Aira sambil mengusap bahu putri sulungnya.

"Iya, Ma. Tapi Mas Arvin sibuk sekali. Pulang ke Jakarta saja cuma sebulan sekali, itu pun cuma dua hari. Bagaimana mau punya anak kalau ketemunya lewat video call terus?" keluh Siska yang membuat suasana sedikit canggung.

Papa Surya, yang kini sudah berubah menjadi kakek yang sangat penyayang, duduk di samping Dewa. "Dewa, jaga baik-baik istrimu dan anakmu. Jangan sampai kamu seperti aku dulu, yang baru sadar harta tidak ada artinya saat keluarga sudah hancur."

Dewa mengangguk takzim. "Pasti, Pa. Arka dan Aira adalah prioritas utama Dewa sekarang."

Kehebohan memuncak saat tiba-tiba bau harum menyeruak dari arah Arka yang sedang digendong oleh Siska.

"Aduh! Arka 'bom'!" seru Siska sambil menjauhkan Arka dengan wajah meringis.

Nyonya Widya langsung berdiri. "Hans! Panggil suster! Cepat ganti popok Arka!"

Namun, Aira tiba-tiba menahan Hans. Ia melirik ke arah Dewa yang sedang asyik mengobrol dengan Papa Surya. "Mas Dewa... katanya kemarin sudah belajar di kelas Parenting Ayah Siaga?"

Dewa menoleh, wajahnya mendadak pucat. "Eh... iya, sudah. Tapi kan ada suster, Ai?"

"Tidak ada suster hari ini. Suster sedang izin pulang. Ayo, Mas. Tunjukkan kemampuan CEO Pradipta Group dalam menangani krisis popok," tantang Aira dengan senyum jahil.

Seluruh keluarga besar kini berkumpul di ruang tengah, menonton sebuah pemandangan yang luar biasa. Dewa Pradipta, pria yang ditakuti di dunia bisnis, kini sedang berkeringat dingin di depan meja ganti bayi.

"Mas, jangan terbalik! Itu bagian depannya di sana!" seru Aira menahan tawa.

"Dewa, pelan-pelan! Nanti kulit Arka lecet!" teriak Nyonya Widya dari belakang.

"Ayo Dewa, pasang perekatnya yang kencang, jangan sampai bocor seperti kebijakan perusahaan!" celetuk Papa Surya yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.

Dewa tampak sangat serius, lebih serius daripada saat meninjau proyek apartemen. "Diam semuanya! Ini butuh konsentrasi tinggi! Ai, bedaknya mana? Kenapa kakinya tidak mau diam sih?"

Setelah sepuluh menit perjuangan yang dramatis, akhirnya popok terpasang, meskipun miring sedikit. Dewa menyeka keringat di dahinya dengan lengan jasnya. "Lebih susah pasang popok daripada nego proyek di Singapura, sumpah!"

Arka justru tertawa melihat wajah papanya yang belepotan bedak, seolah mengejek kemampuan sang CEO.

~~

Sore harinya, saat suasana sudah lebih tenang, Aira menemukan Siska sedang duduk sendirian di balkon lantai atas, menatap taman. Aira mendekat dan duduk di samping kakaknya.

"Sis... kamu oke?"

Siska menghela napas panjang. "Aku senang lihat kamu bahagia, Ai. Benar-benar senang. Tapi kadang aku merasa kesepian. Rumahku besar, uangku banyak, tapi Mas Arvin jarang pulang. Aku merasa seperti pajangan di rumah itu."

Aira menggenggam tangan Siska. "Sudah coba bicara jujur sama Mas Arvin? Bilang kalau kamu butuh kehadirannya, bukan cuma transferan uangnya."

"Sudah, tapi dia selalu bilang ini demi masa depan. Masa depan apa kalau kita saja tidak punya waktu untuk buat kenangan?" Siska menghapus air mata di sudut matanya. "Lihat Dewa... sesibuk-sibuknya dia, dia tetap pulang dan mau pasang popok buat Arka. Aku iri, Ai. Tapi iri yang positif."

Aira memeluk kakaknya. "Berdoalah, Sis. Mungkin Mas Arvin perlu disadarkan sedikit seperti Mas Dewa dulu. Nanti aku minta Mas Dewa bicara dari hati ke hati sama Mas Arvin, sesama lelaki biasanya lebih masuk."

Momen itu menjadi sangat mengharukan. Dua saudara yang dulu terpisah karena ego dan keserakahan, kini saling menguatkan di atas kemewahan yang dulu mereka puja-puja secara salah.

~~

Malam harinya, setelah semua tamu pulang dan Arka sudah terlelap di bawah pengawasan Nyonya Widya yang bersikeras mau menemani cucunya tidur, Dewa mengajak Aira ke balkon kamar mereka.

Di sana, tidak ada meja makan mewah. Dewa sudah menyiapkan sebuah meja kecil dengan dua bungkus nasi uduk dan tentu saja bakwan jagung hangat.

"Mas? Kok makannya begini lagi?" tanya Aira sambil tertawa.

"Aku merindukan momen kita yang sederhana, Ai. Meskipun kita sudah punya Arka dan hidup di rumah ini, aku tidak mau kita lupa rasa nasi uduk bungkus kertas cokelat ini," jawab Dewa sambil menarik kursi untuk Aira.

Mereka makan di bawah cahaya bulan, menikmati angin malam Jakarta. Dewa menyuapi Aira bakwan jagung dengan penuh kasih.

"Ai, terima kasih ya. Terima kasih sudah sabar menghadapi Mama yang makin hari makin posesif sama Arka. Terima kasih sudah memaafkan Papa dan Siska," ucap Dewa tulus.

Aira tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Dewa. "Aku yang terima kasih, Mas. Karena Mas, aku belajar bahwa bahagia itu bukan tentang tempatnya, tapi tentang dengan siapa kita melewatinya. Meskipun nanti kita harus kembali ke kontrakan, selama ada Mas dan Arka, aku tetap merasa seperti wanita terkaya di dunia."

Dewa mengecup puncak kepala Aira. "Tidak akan, Ai. Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke sana untuk susah. Tapi aku akan selalu membawa 'jiwa' sederhana itu ke sini. Supaya kita tetap membumi."

Tiba-tiba, ponsel Dewa bergetar. Sebuah pesan masuk dari Hans. Dewa membacanya dan wajahnya sedikit berubah.

"Ada apa, Mas?" tanya Aira cemas.

"Tidak ada apa-apa, sayang. Hanya urusan kantor kecil," jawab Dewa berusaha tenang, namun tangannya sedikit gemetar saat menyimpan ponselnya.

Aira merasa ada yang aneh, namun ia tidak mau merusak suasana romantis itu. Di sisi lain, di luar gerbang rumah Pradipta, sebuah mobil hitam tampak berhenti sejenak sebelum akhirnya melaju pergi.

Siapa yang mengirim pesan pada Dewa di jam seperti ini? Dan kenapa Dewa tampak menyembunyikan sesuatu?

Drama kehidupan Nyonya Muda Aira baru saja dimulai. Kelahiran Arka mungkin membawa kebahagiaan, namun bayang-bayang masa lalu atau tantangan baru di dunia bisnis Dewa tampaknya mulai mengintai di balik kemegahan pagar besi itu.

...----------------...

To Be Continue ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
Dewa baik pasti dapat pasangan baik pula bu... bersyukur lah punya mantu yang tulus g menye"😘😘😘
ρυтяσ kang'typo✨
🥰🥰🥰semangat thor...
Yunita Asep
jngn ad pelakorr ya..
ρυтяσ kang'typo✨
siapa kah tuan'Arthur itu???? masih sodarah kah atau musuh masa lalu🧐
ρυтяσ kang'typo✨
ini g di ulang kan ya🧐kek familiar
Yunita Asep
lucunya y,.. lanjuutt...
Yus Nita
bukan yg jd kk ny si Aira y...
yg di paksa menikah karena adik ny sisia mau menikah duluan. dan melangjahi kakak ny oamali.
tapi sekarang kok siska yg jd kakak.
aneh ny..
Yus Nita
apa kabar tuch dengan surya dan anak songong ny si Siska, msh bernaffas ksh... 😁😁😁
Yus Nita
Aira yg malang
di buang klrga, sendiri, tak di skui klrga susmi
ρυтяσ kang'typo✨
ya Allah 🤣🤣🤣🤣lucu sekali... g kebayang, apa itu Dewa???🤣🤣🤣mau ke kantor malahan jadi badut di depan Arka
Patrish
ada apa gerangan.....semoga dapat dilalui dengan baik
Yunita Asep
thorr bukannya Aira itu kakaknya Siska ya, kn waktu nikahan Siska, Aira lebih dulu di nikahkan..
Yunita Asep
lanjutkan...
Yunita Asep
/Rose//Rose//Rose/
Yunita Asep
ya betul itu , setuju... lanjut thorr...
Yunita Asep
kok Siska masih manggil ppa y, bukannya dulu ayah...
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
ach g kuat😭😭😭terharu...

dan detik berikut q di bua deg"n oleh othor, apa kebahagiaan mereka akan hancur dengan kedatangan masa lalu Dewa
ρυтяσ kang'typo✨
ini nama'y sama kek sebelah juga ya thor... hanya saja disini Arvin sebagai ipar kalo disono dia pemeran utama
ρυтяσ kang'typo✨
ko ya nyesek setelah tau Arvin juga sedih begitu😌😌🥺🥺teryata mereka sama" tersiksa ya dengan keadaan (demi masa depan)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!