NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lumina Orchid

Suasana di dalam kabin mobil mewah itu terasa begitu menyesakkan. Hanya ada suara deru mesin yang halus dan gesekan ban di atas jalanan berbatu menuju kediaman mereka.

Aurora duduk merapat ke pintu mobil, benar-benar menjaga jarak sejauh mungkin dari pria di sebelahnya.

Ia menopang dagu, melempar pandangannya jauh-ke luar jendela, memperhatikan deretan lampu jalan yang mulai menyala di antara bangunan-bangunan bergaya klasik

Ia masih kesal. Sangat kesal.

Bayangan pertanyaan Nenek tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ditambah lagi dengan reaksi Lucien yang malah terlihat... menikmati.

Lucien duduk dengan posisi tegak yang sempurna di sisi lain kursi belakang. Matanya yang tajam sempat melirik ke arah istrinya. Ia bisa melihat bahu Aurora yang menegang dan bibirnya yang mengerucut kecil.

Pria itu sebenarnya merasa sedikit terusik dengan keheningan yang dingin ini. Namun, harga dirinya yang setinggi langit mencegahnya untuk langsung meminta maaf. Baginya, meminta maaf untuk sesuatu yang tidak ia anggap salah adalah hal yang asing.

Lucien berdeham pelan.

Suaranya yang berat memecah kesunyian, ia tetap tidak menoleh ke arah Aurora.

"Aku dengar..." Lucien memulai, suaranya terdengar sangat tenang seolah tidak ada apa-apa.

"Pasar gelap di sektor bawah baru saja mendapatkan kiriman tanaman Lumina Orchid dari hutan terlarang."

Aurora tetap diam, namun telinganya sedikit bergerak. Ia sangat menyukai tanaman langka yang bisa bercahaya itu untuk bahan penelitiannya di museum.

"Kabarnya, bunga itu hanya mekar di bawah cahaya bulan penuh. Dan malam ini adalah puncaknya," lanjut Lucien dengan nada datar, seolah sedang membacakan laporan cuaca.

Ia melirik Aurora dari sudut matanya, menyadari bahwa istrinya itu mulai tidak fokus menatap ke luar jendela.

"Tadinya aku terpikir untuk meminta anak buahku mengamankan satu pot untukmu. Tapi karena kau sedang sangat sibuk 'marah', mungkin aku akan membatalkannya saja. Sayang sekali, padahal warnanya biru... persis seperti kucing yang kau lukis dulu."

Aurora langsung menoleh cepat, matanya melotot. "Lucien! Berhenti membahas kucing itu!"

Lucien menarik sudut bibirnya, sangat tipis hingga hampir tak terlihat.

Kena..batinnya.

Lucien masih menatap lurus ke depan, pura-pura tidak menyadari tatapan tajam Aurora yang seolah ingin melubangi kepalanya.

"Tapi dipikir-pikir lagi..." Lucien menjeda kalimatnya, nadanya kini berubah menjadi sedikit lebih provokatif.

"Cerita Nenek tadi ada benarnya juga. Aku jadi penasaran."

Aurora menyipitkan mata, firasatnya mulai tidak enak. "Penasaran soal apa?"

Lucien akhirnya menoleh. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit yang empuk, menatap Aurora dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Soal kau yang mencoba mengecat kucing itu jadi biru karena ingin punya 'kucing bangsawan'," ucapnya pelan, suaranya kini terdengar lebih rendah dan serak.

"Sepertinya sejak kecil selera estetikamu memang sangat tinggi. Pantas saja sekarang kau berakhir dengan suamimu yang ini."

Aurora mendengus keras, memutar bola matanya. "Percaya diri sekali kau. Hubungannya apa coba?"

"Hubungannya?" Lucien menaikkan satu alisnya.

"Kau menginginkan sesuatu yang terlihat 'mahal' dan sulit diatur, bukan? Persis seperti kucing itu."

Ia lalu sedikit memajukan tubuhnya ke arah Aurora, membuat jarak di antara mereka di kursi belakang mobil itu semakin menipis.

"Atau..." Lucien menggantung kalimatnya, wajahnya menyebalkan tapi juga tampan.

"Kau ingin aku membantumu mewujudkan impian masa kecil itu? Mencari kucing lain untuk kau lukis biru, supaya kau tidak perlu lagi memikirkan soal... 'bermain di kamar' seperti kata Nenek tadi?"

Wajah Aurora kembali memanas. "Lucien! Berhenti mengulangi kata-kata Nenek!"

"Kenapa? Aku hanya memastikan kalau ingatanku masih bagus," jawab Lucien santai, kembali duduk tegak seolah tidak terjadi apa-apa. "Jadi, mau bunga Lumina itu atau mau kucing baru?"

Aurora menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia sangat menginginkan bunga Lumina itu—koleksi langka yang bahkan museum pun sulit mendapatkannya—tapi menjawab "iya" sekarang berarti dia kalah dan memaafkan Lucien begitu saja.

Rasa gengsi dan rasa ingin tahu itu berperang hebat di dalam dadanya.

Lucien yang menyadari keraguan itu hanya diam, menunggu dengan sabar.

"Jadi?" desak Lucien pelan, suaranya yang berat seolah mengelus saraf Aurora.

"Aku harus memberikan instruksi pada sopir sekarang, atau kita langsung pulang dan membiarkan bunga itu jatuh ke tangan kolektor lain?"

Tekanan itu, ditambah dengan senyum tipis Lucien yang terlihat begitu meremehkan, membuat pertahanan Aurora runtuh seketika.

"AKU MAU BUNGANYA! TAPI BERHENTI MENGEJEKKU!"

Teriakan itu pecah begitu saja, menggema di dalam kabin mobil yang sempit. Aurora langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membelalak kaget karena dia tidak sengaja berteriak tepat di depan wajah pria itu.

Suasana mendadak hening.

Sopir di depan bahkan sempat sedikit mengerem karena terkejut, namun segera menstabilkan kemudi kembali seolah tidak mendengar apa-apa.

Wajah Aurora kini bukan lagi merah, tapi hampir ungu karena menahan malu yang luar biasa. Ia segera membuang muka kembali ke jendela, merutuki dirinya sendiri karena telah kehilangan kendali.

Di sampingnya, Lucien sempat terpaku sejenak. Namun kemudian, suara tawa rendah yang sangat jarang terdengar keluar dari tenggorokannya. Bukan tawa mengejek, tapi tawa yang terdengar... tulus.

"Baiklah," gumam Lucien setelah tawanya mereda, matanya berkilat lembut.

"Bunganya milikmu. Dan aku akan berhenti mengejekmu... untuk sepuluh menit ke depan."

......................

Mobil itu berhenti dengan halus di sebuah sudut jalan yang temaram, jauh dari keramaian pusat kota Aurelia. Di sana, beberapa pria berpakaian hitam dengan sikap siaga sudah menunggu.

Salah satu dari mereka mendekat dan membukakan pintu untuk Lucien. Tanpa suara, pria itu menyerahkan sebuah pot keramik tua yang dilapisi ukiran perak.

Di dalamnya, Lumina Orchid itu berdiri dengan anggun. Kelopak-kelopaknya yang berwarna biru safir transparan mengeluarkan pendaran cahaya lembut yang seolah bernapas mengikuti irama malam. Cantik, magis, dan sangat langka.

Lucien menerima pot itu dengan satu tangan, lalu memberikan isyarat agar anak buahnya pergi. Ia kembali masuk ke dalam mobil dan meletakkan tanaman itu di pangkuan Aurora yang masih terdiam kaku.

"Ini," ucap Lucien pendek.

Begitu pot itu menyentuh tangannya, kemarahan Aurora seolah menguap, digantikan oleh rasa kagum yang luar biasa. Cahaya biru dari bunga itu terpantul di matanya, membuat wajahnya tampak bercahaya di tengah kegelapan mobil.

"Kau benar-benar mendapatkannya..." bisik Aurora hampir tak terdengar. Jemarinya yang gemetar menyentuh pinggiran kelopak bunga yang dingin namun terasa hidup.

Lucien memperhatikan ekspresi istrinya dari samping. Kedamaian yang terpancar dari wajah Aurora saat menatap bunga itu membuat keributan di rumah Nenek tadi terasa begitu jauh.

"Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, Aurora," ujar Lucien pelan, suaranya kini kembali dalam dan serius.

Aurora mendongak, menatap mata abu-abu Lucien yang sedang memperhatikannya dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya.

"Dan untuk saat ini," Lucien menjeda, jemarinya bergerak merapikan helai rambut Aurora yang menutupi wajahnya, "melihatmu berhenti berteriak dan menatap bunga itu dengan tenang... jauh lebih berharga daripada harga yang kubayar untuk mendapatkannya."

Suasana di dalam mobil kembali memanas, tapi kali ini bukan karena amarah. Ada sesuatu yang lain yang mulai tumbuh di antara pendaran cahaya biru bunga Lumina itu.

Aurora terpaku sejenak merasakan sentuhan jemari Lucien di rambutnya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia yakin Lucien bisa mendengarnya.

Namun, sedetik kemudian, otaknya seolah mengalami korsleting. Rasa geli, malu, dan panas di pipinya bercampur menjadi satu ledakan emosi.

Aurora tiba-tiba menepis tangan Lucien dengan gerakan panik.

"Ih! Apa-apaan ini?!" serunya dengan nada tinggi, membuat pendaran bunga Lumina di pangkuannya sedikit bergoyang.

Lucien mengernyit, tangannya menggantung di udara. "Ada apa?"

"Kau! Kenapa tiba-tiba bicara begitu?!" Aurora menunjuk dada Lucien dengan jari telunjuknya, wajahnya merah padam.

"Jangan sok manis ya! Geli tahu tidak? Suaramu itu... kata-katamu itu... hih! Kau pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk, kan?"

Lucien hanya menatapnya datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh amukan mendadak itu. "Aku hanya memberimu bunga."

"Ya, tapi tidak perlu pakai acara merapikan rambut dan bicara seperti di novel-novel picisan begitu!" Aurora mendengus keras, berusaha menutupi rasa gugupnya yang sudah mencapai batas maksimal.

Ia memeluk pot bunga itu erat-erat, seolah benda itu adalah tameng pelindungnya. "

Mending kau diam saja seperti biasanya! Jadi patung es atau pria kontrak yang menyebalkan! Jangan bersikap begini, aku... aku jadi tidak selera!"

Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, Aurora sedang berteriak histeris karena merasa Lucien sangat tampan saat bersikap manis tadi.

Lucien menarik kembali tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya dengan tenang. Ia memperhatikan Aurora yang sedang mengomel tidak jelas—sebuah mekanisme pertahanan diri yang sangat transparan di matanya.

"Kau benar-benar aneh," gumam Lucien pelan, namun ada secercah binar geli di matanya. "Diberi bunga malah mengamuk. Kau lebih suka aku mengejekmu soal kucing lagi?"

"TIDAK! Diam saja kau!" sahut Aurora ketus, kembali membuang muka ke arah jendela.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!