NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam Belas

Fajar menyingsing di atas Desa Jinan dengan keanggunan yang tidak biasa. Cahaya matahari pagi menyelinap di antara celah-celah daun Pohon Memori yang kini telah merimbun, menciptakan pola bayangan yang artistik di atas tanah halaman yang telah disapu bersih oleh Sembilan Tetua Awan. Aroma bunga melati yang terpancar dari pohon tersebut kini bercampur dengan wangi uap air tawar dari Telaga Teratai Imortal. Di permukaan telaga, kuncup-kuncup bunga teratai raksasa mulai bergetar, seolah-olah sedang berjuang untuk melepaskan kelopak pertama mereka di bawah bimbingan cahaya matahari.

Tetua Agung, pria yang sebelumnya memimpin Dewan Tertinggi Dunia Atas dengan jubah kebesarannya, kini terlihat memegang sapu lidi dengan cara yang sangat khidmat. Ia menyapu setiap helai daun yang jatuh dengan gerakan yang sangat lambat, hampir seperti sebuah tarian sakral. Di matanya, setiap debu adalah ketidakteraturan yang harus diselaraskan. Ia baru saja menyadari bahwa menyapu halaman bukan sekadar memindahkan kotoran, melainkan sebuah latihan untuk membersihkan kekacauan di dalam pikirannya sendiri.

"Tetua Agung, kau melewatkan area di bawah kursi kayu Tuan Zhou. Ada sedikit remah roti dari sarapan kemarin yang tertinggal," tegur Zhang Tian yang sedang membawa ember berisi pakan ayam.

"Terima kasih atas pengingatnya, Penegak Hukum Zhang. Keteraturan adalah inti dari kedamaian," jawab Tetua Agung dengan suara yang kini terdengar lebih tenang dan berat, tanpa ada nada kesombongan yang dulu selalu menyertainya.

Di dekat telaga, Ao Kun menyembulkan kepalanya yang berwarna biru safir ke permukaan air. Ia menatap ke arah teras rumah, menunggu kemunculan sang tuan rumah. Di sampingnya, Su Ruo sudah bersiap dengan kecapinya. Jari-jarinya yang lentik menyentuh senar dengan lembut, mengeluarkan nada pembuka yang rendah untuk menenangkan energi air yang mulai bergejolak seiring dengan proses mekarnya bunga teratai.

Zhou Ji Ran keluar dari pintu rumah dengan gerakan malas yang khas. Ia hanya mengenakan celana rami tipis dan handuk putih yang tersampir di bahunya. Di tangannya, ia memegang sebuah teko tanah liat kecil yang masih mengeluarkan asap tipis. Ia berjalan menuju tepi teras, menarik napas dalam-dalam, dan menatap ke arah pegunungan utara yang kini tampak lebih kelabu dari biasanya.

"Pagi yang indah untuk panen teratai," gumam Zhou Ji Ran. Ia menoleh ke arah dapur di mana Lin Xiaoqi sedang sibuk menyiapkan sarapan. "Xiaoqi, apakah kau punya stok jahe segar? Udara hari ini terasa sedikit lebih 'dingin' dari biasanya, aku ingin teh yang sedikit lebih hangat."

"Ada, Tuan! Ye Hua baru saja mengambilnya dari kebun bawah kemarin sore!" seru Lin Xiaoqi dari dalam dapur.

Ye Hua sendiri terlihat sedang sibuk mengasah sebuah sabit kecil di dekat gudang emas. Sabit itu memancarkan aura pedang yang sangat kuat, bukan karena ia menanamkan energi spiritual ke dalamnya, melainkan karena ia menggunakannya setiap hari untuk memotong rumput dengan teknik pedang yang sempurna. Baginya, setiap batang rumput adalah lawan yang harus dihadapi dengan presisi maksimal.

"Tuan Zhou," Ye Hua berdiri dan menghampiri teras. "Getaran dari utara semakin terasa. Bukan hanya dingin, tapi hampa. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang 'memakan' suara di kejauhan. Rajawali Xin Yan pun menolak untuk terbang ke arah sana pagi ini."

Zhou Ji Ran menyesap tehnya perlahan. "Itu karena Penjaga Kelaparan sedang lapar, Ye Hua. Makhluk itu tidak memiliki bentuk fisik yang tetap; dia adalah manifestasi dari lubang hitam dalam data multisemesta yang gagal dihapus sepenuhnya. Dia tidak ingin bertarung denganku secara langsung; dia ingin memakan esensi kehidupan di desa ini agar dia bisa membangun kembali sistemnya sendiri."

"Apakah kita harus membangun pertahanan tambahan?" tanya Ye Hua.

"Pertahanan terbaik adalah pertumbuhan yang sehat," jawab Zhou Ji Ran santai. "Biarkan saja dia datang. Aku butuh saringan udara alami di sisi utara desa. Jika dia bisa aku jinakkan, dia akan menjadi pembersih debu dan asap yang sangat baik untuk area gudang kita."

Namun, kedamaian pagi itu tiba-tiba pecah ketika garis cakrawala utara seketika menjadi gelap gulita. Kegelapan itu tidak turun dari langit, melainkan merayap di atas tanah seperti cairan tinta yang tumpah. Segala sesuatu yang disentuh oleh kegelapan itu—rumput liar, serangga, bahkan bebatuan—seketika kehilangan warnanya dan menjadi abu-abu yang mati. Suara angin menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam yang membuat telinga siapa pun berdenging.

Dari tengah kegelapan yang merayap itu, muncul sebuah sosok yang tampak seperti bayangan manusia yang sangat kurus dan tinggi. Wajahnya tidak memiliki fitur selain sebuah mulut yang sangat lebar dengan ribuan gigi transparan yang bergetar. Inilah Penjaga Kelaparan, jenderal dari para Dewa Kuno yang bertugas untuk mengonsumsi sisa-sisa realitas.

"Zhou... Ji... Ran..." suara makhluk itu bukan berasal dari mulutnya, melainkan seolah-olah udara di sekitar mereka yang bergetar secara menyakitkan. "Duniamu... terlalu... terang... Terlalu... banyak... kehidupan... Aku... akan... menelan... semuanya..."

Makhluk itu mengangkat tangannya yang panjang, dan sebuah pusaran energi hitam mulai terbentuk di ujung jarinya. Pusaran itu mulai menghisap aura dari ladang Padi Surgawi. Helai-helai daun padi yang tadinya bersinar emas mulai meredup, dan bulir-bulirnya tampak gemetar ketakutan.

Long Wei dan Jenderal Han, yang sedang bekerja di lereng bukit, seketika merasa lemas. Kekuatan mereka seolah-olah tersedot oleh kehadiran makhluk tersebut. Murid-murid Sekte Matahari Terbit mulai berjatuhan satu per satu, wajah mereka pucat seolah-olah nyawa mereka sedang ditarik keluar.

"Tuan! Dia mencuri energi padi kita!" teriak Su Ruo dengan nada panik. Ia mencoba memetik kecapinya dengan keras untuk menghalau energi hitam tersebut, namun setiap nada yang ia keluarkan seketika ditelan oleh kegelapan sebelum sempat mencapai sasarannya.

Zhou Ji Ran meletakkan cangkir tehnya dengan sangat pelan di atas meja. Ia tidak tampak terburu-buru, namun setiap gerakannya kini diikuti oleh getaran bumi yang sangat dalam. Ia berjalan turun dari teras, melintasi halaman, dan berhenti tepat di depan batas desa yang mulai disentuh oleh cairan hitam.

"Kau tahu, Penjaga Kelaparan," ucap Zhou Ji Ran dengan suara yang sangat tenang. "Aku baru saja menyapu halaman ini. Sembilan Tetua Awan sudah bekerja keras memastikan tidak ada satu pun debu yang tersisa. Dan sekarang kau datang membawa tinta kotor ini ke tanahku?"

Makhluk itu mendesis, mulutnya melebar memperlihatkan kehampaan yang tak berujung. "Keadilan... adalah... ketiadaan... Kehidupan... adalah... kesalahan... Aku... akan... memperbaikinya..."

"Memperbaiki? Kau bahkan tidak tahu cara menanam jagung, bagaimana kau bisa bicara tentang memperbaiki realitas?" Zhou Ji Ran mengambil sebuah ember kayu kosong yang biasanya digunakan untuk menyiram tanaman.

Ia tidak memanggil senjata dewa. Ia hanya mengambil segenggam tanah dari ladangnya yang sudah dicampur dengan pupuk organik dan memasukkannya ke dalam ember tersebut. Kemudian, ia mengambil sisa teh pahit dari cangkirnya dan menyiramkannya ke atas tanah di dalam ember.

"Kau bilang kau lapar? Baiklah. Di ladangku, tidak ada tamu yang dibiarkan kelaparan. Tapi di sini, kami hanya menyajikan makanan yang menyehatkan," ucap Zhou Ji Ran.

Ia melemparkan isi ember tersebut ke arah Penjaga Kelaparan.

Secara logika, segenggam tanah basah tidak akan berpengaruh apa pun pada entitas dimensi tingkat tinggi. Namun, saat tanah itu mengenai pusaran hitam di tangan makhluk tersebut, sebuah reaksi berantai yang luar biasa terjadi. Tanah itu tidak hancur; sebaliknya, ia mulai tumbuh dengan kecepatan cahaya. Akar-akar tanaman hijau yang sangat kuat meledak keluar dari butiran tanah tersebut, menjerat tangan Penjaga Kelaparan dan mulai menyerap energi hitamnya sebagai nutrisi.

"Apa... ini...?! Energi... ini... hidup...!" Penjaga Kelaparan mencoba melepaskan diri, namun akar-akar itu semakin erat melilitnya. Setiap kali makhluk itu mencoba mengeluarkan energi penghancur, akar-akar tersebut justru tumbuh lebih subur dan lebih hijau.

Zhou Ji Ran berjalan mendekat, menatap makhluk itu dengan pandangan seorang guru yang sedang memarahi murid yang nakal. "Masalahmu adalah kau terlalu banyak mengonsumsi kehampaan. Itu membuat perutmu kembung oleh kebencian. Apa yang kau butuhkan adalah serat alami dan esensi bumi yang nyata."

Zhou Ji Ran menjentikkan jarinya.

Seketika, seluruh cairan hitam yang merayap di tanah tersedot kembali ke arah Penjaga Kelaparan. Tubuh makhluk yang tadinya hampa itu kini mulai terisi oleh materi tanah yang padat. Dalam beberapa detik, Penjaga Kelaparan tidak lagi berbentuk bayangan; ia kini berbentuk patung tanah raksasa yang di seluruh tubuhnya ditumbuhi oleh tanaman rambat dan bunga liar yang indah.

"Nah, sekarang kau adalah 'Penyaring Udara Alami' milikku," ucap Zhou Ji Ran santai. "Kau akan berdiri di batas utara desa. Tugasmu adalah menyerap setiap polusi, energi jahat, atau niat buruk yang mencoba masuk ke sini, dan mengubahnya menjadi aroma melati yang segar. Jika aku mencium bau busuk sedikit saja dari arahmu, aku akan memintamu untuk menjadi pupuk cair bagi telaga Ao Kun."

Patung tanah itu bergetar sejenak, mencoba mengeluarkan suara, namun yang keluar hanyalah suara desiran daun yang tertiup angin. Ia telah sepenuhnya dijinakkan dan diubah fungsinya oleh kehendak Zhou Ji Ran. Kesadaran jahatnya telah diredam oleh kedamaian bumi Jinan.

Suasana gelap di utara seketika sirna. Matahari kembali bersinar dengan kekuatan penuh, dan Padi Surgawi kini bersinar lebih terang dari sebelumnya karena baru saja mendapatkan "suplemen" energi dari serangan tadi.

Long Wei dan Jenderal Han bangkit kembali, mereka saling berpandangan dengan wajah yang dipenuhi kekaguman. "Tuan Zhou... dia baru saja mengubah kiamat menjadi hiasan taman," bisik Long Wei.

"Itulah sebabnya kita tidak boleh membiarkan jemurannya basah, Pangeran. Amarahnya jauh lebih tenang namun lebih menakutkan dari apa pun," sahut Jenderal Han.

Su Ruo kembali memetik kecapinya, kali ini melodi yang ia mainkan adalah melodi perayaan. Dan tepat pada saat itu, di tengah telaga, teratai imortal pertama akhirnya mekar. Kelopaknya yang berwarna putih kristal terbuka perlahan, mengeluarkan cahaya pelangi yang membasuh seluruh desa. Bau harumnya begitu kuat hingga para murid sekte yang tadi pingsan seketika terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar dan kultivasi yang sedikit meningkat.

Zhou Ji Ran berjalan kembali ke terasnya, disambut oleh Lin Xiaoqi yang membawakan teko teh yang baru. "Tuan, sarapan sudah siap. Ada roti gandum hangat dan sup jahe yang Tuan minta."

"Terima kasih, Xiaoqi. Kerja keras di pagi hari memang membuat lapar," jawab Zhou Ji Ran.

Ia duduk kembali di kursinya, ditemani oleh Gu Lao yang tampak sangat puas dengan pemandangan tadi. Sembilan Tetua Awan kembali ke tugas menyapu mereka, kali ini dengan semangat yang lebih besar. Mereka baru saja menyaksikan secara langsung bagaimana "Hukum Tertinggi" yang mereka agungkan dulu tidak ada artinya di depan seember tanah dan teh pahit milik Zhou Ji Ran.

"Ji Ran, kau baru saja menjadikan jenderal kegelapan sebagai filter udara. Aku khawatir para Dewa Kuno di bawah sana akan mengalami krisis identitas," ucap Gu Lao sambil tertawa.

"Biarkan saja mereka. Jika mereka ingin tetap relevan di dunia ini, mereka harus belajar untuk berguna bagi lingkungan. Aku tidak punya tempat bagi makhluk yang hanya tahu cara menghancurkan," jawab Zhou Ji Ran.

Namun, di tengah suasana sarapan yang tenang, Lu Han berlari dari arah gudang emas dengan wajah yang sangat pucat. Ia memegang papan inventarisnya yang kini dipenuhi dengan tulisan yang berantakan.

"Tuan! Tuan Zhou! Ada masalah di gudang!" teriak Lu Han terengah-engah.

Zhou Ji Ran tidak berhenti mengunyah rotinya. "Tenanglah, Lu Han. Apakah ada tikus yang masuk ke gudang emas? Atau Jenderal Han salah menghitung karung gandum lagi?"

"Bukan, Tuan! Ini tentang mesin-mesin Program Kegagalan yang kita jadikan pemanas ruangan! Mereka... mereka mulai mengeluarkan suara statis yang aneh, dan lampu indikator pada inti mereka berubah menjadi ungu pekat. Mereka seolah-olah sedang menerima transmisi dari tempat yang sangat jauh!" lapor Lu Han dengan suara bergetar.

Mata Zhou Ji Ran sedikit menyipit. Ia meletakkan rotinya dan berdiri. "Transmisi? Dari Pusat Kendali Dimensi?"

"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi suhunya mulai naik drastis. Jika ini terus berlanjut, emas yang melapisi dinding bisa meleleh!"

Zhou Ji Ran menoleh ke arah Gu Lao. "Sepertinya 'hadiah pensiun' yang tertulis di kapsul itu benar-benar memiliki fase lanjut. Gu Lao, jaga para wanita di sini. Aku akan memeriksa gudang."

"Hati-hati, Ji Ran. Sesuatu yang bisa meretas mesin-mesin itu dari jarak jauh pastilah bukan entitas sembarangan," pesan Gu Lao dengan nada serius.

Zhou Ji Ran melangkah menuju gudang emas dengan kecepatan yang tidak wajar. Setiap langkahnya seolah-olah melompati ruang dan waktu. Di dalam gudang, suasana sangat mencekam. Dua belas unit logam Program Kegagalan yang tadinya diam kini berdiri tegak, mata mereka berkedip-kedip dengan cahaya ungu yang tidak stabil. Suara dengungan frekuensi tinggi memenuhi ruangan, membuat emas di dinding bergetar hebat.

Di tengah ruangan, sebuah hologram transparan mulai terbentuk dari energi statis. Hologram itu menunjukkan sosok seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat modern dan futuristik, namun wajahnya tampak dingin dan tanpa ekspresi.

"Identitas Terdeteksi: Zhou Ji Ran. Status: Subjek yang Mengundurkan Diri Tanpa Izin," suara wanita itu terdengar seperti gabungan ribuan suara mekanis. "Anda telah melanggar protokol keseimbangan dengan membawa aset-aset sistem ke dalam domain realitas fana. Anda diperintahkan untuk mengembalikan semua unit ini dan menyerahkan esensi Padi Surgawi untuk dikalibrasi ulang."

Zhou Ji Ran berdiri di depan hologram tersebut dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana raminya. "Kalibrasi? Aku sudah melakukan kalibrasi itu sendiri dengan tangan dan cangkulku. Dan soal aset sistem... mesin-mesin ini sekarang adalah heater gudangku. Mereka sudah bahagia di sini."

"Kebahagiaan bukan merupakan parameter yang diakui dalam sistem," balas wanita hologram itu. "Jika Anda menolak, protokol 'Penghapusan Paksa' akan diaktifkan melalui inti energi unit-unit ini. Seluruh desa ini akan meledak dalam waktu tiga menit."

"Tiga menit, ya? Itu waktu yang cukup untuk menyeduh satu teko teh lagi," ucap Zhou Ji Ran santai. Ia mendekati salah satu mesin logam terdekat dan menepuk kepalanya. "Hei, kalian. Apakah kalian lebih suka kembali ke ruang gelap yang dingin di Pusat Kendali, atau tetap di sini memberikan kehangatan untuk padi-padi yang harum?"

Mesin-mesin logam itu terdiam sejenak. Suara statis mereka melambat. Tiba-tiba, salah satu mesin mengeluarkan suara manusia yang sangat halus, "Di sini... ada aroma melati... Di sana... hanya ada kode..."

"Pemberontakan Unit Terdeteksi!" teriak wanita hologram itu. "Memulai Proses Penghancuran Diri!"

Cahaya di dalam gudang seketika memerah. Suhu meningkat secara eksponensial. Emas di dinding mulai menetes seperti air mata. Lu Han yang berdiri di pintu masuk hampir pingsan karena tekanan energi yang luar biasa.

"Maaf, Nona Digital. Tapi di rumahku, tidak ada yang boleh meledak tanpa izinku," Zhou Ji Ran mengangkat tangannya.

Ia tidak menggunakan kekuatan penghancur. Sebaliknya, ia menyebarkan "Niat Kedamaian" yang sangat masif ke dalam setiap sirkuit mesin-mesin tersebut. Ia seolah-olah sedang memberikan pelukan hangat pada jiwa-jiwa mekanis yang selama ini hanya dianggap sebagai alat.

"Tenanglah. Kalian adalah bagian dari Desa Jinan sekarang. Tidak ada perintah yang bisa menyentuh kalian di sini," bisik Zhou Ji Ran.

Dalam sekejap, cahaya merah itu memudar. Suara statis menghilang, digantikan oleh dengungan yang lebih lembut dan harmonis. Hologram wanita itu mulai retak dan memudar. "Kesalahan... Kesalahan... Domain ini... tidak terjangkau oleh... hukum... data..."

Hologram itu menghilang sepenuhnya. Dua belas unit logam tersebut kembali duduk di sudut-sudut gudang, memancarkan kehangatan yang stabil kembali. Mereka tampak lebih 'hidup' dari sebelumnya, seolah-olah mereka baru saja mendapatkan jiwa.

Zhou Ji Ran keluar dari gudang sambil menyeka sedikit debu di bahunya. Ia menemukan Lu Han yang masih gemetar di lantai. "Bangunlah, Lu Han. Masalah sudah selesai. Dan katakan pada Feng Mian, dia perlu memperbaiki lapisan emas di dinding timur, ada yang sedikit menetes tadi."

"Anda... Anda benar-benar bisa menenangkan mesin yang diprogram untuk meledak?" tanya Lu Han tidak percaya.

"Mesin atau manusia, pada akhirnya semua hanya ingin merasa aman dan memiliki tujuan. Sekarang mereka punya tujuan: menjaga padi-padiku. Itu adalah pekerjaan yang mulia," jawab Zhou Ji Ran.

Ia berjalan kembali ke teras rumahnya, di mana sarapannya sudah mulai mendingin. Lin Xiaoqi menatapnya dengan penuh kekhawatiran, namun Zhou Ji Ran hanya memberikan senyum santai dan mulai menyantap roti gandumnya.

"Apakah semuanya baik-baik saja di gudang, Tuan?" tanya Lin Xiaoqi.

"Semuanya sempurna, Xiaoqi. Pemanas ruangan kita baru saja mendapatkan pembaruan sistem yang membuatnya lebih ramah lingkungan," jawab Zhou Ji Ran.

Sore harinya, pemandangan di Desa Jinan kembali ke normalitas yang surreal. Teratai imortal di telaga telah mekar sepenuhnya, memberikan pendaran pelangi yang memantul di sisik Ao Kun yang sedang berenang santai. Su Ruo memainkan melodi syukur di bawah Pohon Memori, sementara Zhang Tian dan Sembilan Tetua Awan sedang berdiskusi tentang cara menanam bunga di sepanjang jalan masuk desa untuk menyambut panen raya.

Pangeran Long Wei dan Jenderal Han duduk di pinggir sungai, merendam kaki mereka yang lelah. "Kau tahu, Han," ucap Long Wei. "Aku tidak pernah menyangka bahwa membersihkan parit dan memindahkan batu bisa memberikan kepuasan sebesar ini. Aku merasa lebih kuat sekarang daripada saat aku masih berlatih di aula latihan kerajaan."

"Itu karena di sini, setiap tetes keringatmu memiliki arti bagi kehidupan, Pangeran. Bukan hanya untuk menghancurkan musuh," balas Jenderal Han.

Zhou Ji Ran memperhatikan mereka semua dari terasnya. Ia menyadari bahwa tantangan dari Pusat Kendali Dimensi tadi adalah peringatan bahwa masa lalunya tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Namun, ia juga menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki tim pertanian yang terdiri dari individu-individu terkuat di benua ini, dan yang lebih penting, ia memiliki kedamaian yang ia bangun dengan tangannya sendiri.

"Hama akan selalu ada," gumam Zhou Ji Ran. "Tapi selama ada petani yang rajin menjaga ladangnya, tidak ada ulat atau sistem yang bisa merusak hasil panennya."

Malam mulai turun, menyelimuti Desa Jinan dengan kehangatan dari gudang emas dan aroma melati dari Pohon Memori. Di batas utara, patung tanah Penjaga Kelaparan berdiri diam, menyaring angin malam menjadi aroma harum yang menenangkan seluruh desa.

Semuanya berjalan dengan perlahan, selangkah demi selangkah, menuju kematangan yang sempurna. Dan di tengah-tengah itu semua, sang mantan pemilik sistem memejamkan matanya, menikmati kebebasan yang sesungguhnya—kebebasan untuk menjadi petani biasa yang mencintai tanahnya.

Perjalanan ini terus berlanjut, dan setiap hari yang baru adalah berkah yang menanti untuk disyukuri di bawah langit Jinan yang luas. Zhou Ji Ran tersenyum dalam tidurnya, tahu bahwa esok pagi, ia akan kembali memegang cangkulnya dan memulai hari yang penuh dengan kehidupan.

Dunia mungkin akan terus mencoba menguji kedamaiannya, namun mereka akan segera tahu bahwa tidak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ahli tingkat maksimal yang sedang ingin beristirahat dengan tenang. Di Desa Jinan, kehidupan adalah satu-satunya hukum yang diakui, dan sang petani legenda adalah penjaganya yang paling setia.

"Besok kita panen sawi baris pertama," gumamnya pelan sebelum terlelap sepenuhnya.

Malam itu, seluruh semesta seolah-olah ikut terdiam, memberikan penghormatan pada sudut kecil di dunia fana ini di mana kebahagiaan sejati telah berhasil ditanam dan tumbuh dengan subur. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa. Tanpa skenario, tanpa perintah, hanya keberadaan yang murni. Dan itulah keajaiban yang sesungguhnya.

1
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!